Bab 48: Hasil Tak Akan Mengkhianati Usaha

2467 Kata
Sebuah mobil berwarna merah maron kini tengah terparkir dalam area parkiran di depan sebuah restoran. Pintu depan sebelah kanan mobil terbuka. Mala menurunkan kaki kanannya yang tengah mengenakan sepatu berwarna putih lebih dulu. Belum dia turun, tangan kirinya tak lupa menarik tali berbentuk rantai berwarna emas yang tersambung dengan tas hitam yang tergeletak di atas jok kiri bagian depan mobil. Digantungnya tas itu di atas bahu kirinya, lalu turun sempurna sambil menarik kunci mobil menggunakan tangan kirinya. Kakinya melangkah mundur sedikit dari pintu mobil yang masih terbuka, kemudian didorongnya pintu mobil itu dengan tangan kiri. 'Dubh!' Pintu mobil tertutup rapat. Kedua kakinya melangkah menuju pintu depan restoran. Sebuah kunci mobil masih terlihat dalam genggaman tangan kiri. Ditekannya sebuah tombol pada kunci mobil itu, dan dengan bersamaan kedua telinganya mendengar bunyi dari arah mobilnya berada. "Selamat datang, Nyonya... Silahkan masuk." Seorang pria berpakaian putih hitam menyambut kedatangan Mala dan membukakan pintu restoran untuk Mala. "Terima kasih." Mala tersenyum sambil mengangguk menatap pria yang membukakannya pintu, lalu berlalu di depan pria itu dan masuk ke dalam restoran. Kakinya berhenti melangkah, badannya menghadap ke arah panggung di dalam restoran. Dari kejauhan, kedua matanya menatap ke arah panggung. Kedua keningnya mengkerut, "Andrew mana, ya?!" gumam Mala. Seorang pelayan datang menghampiri Mala, "Silahkan duduk, Nyonya." Mala menatap pelayan itu sebentar dan mengangguk, lalu kembali menatap ke arah panggung. "Maaf, Nyonya? Apa ada orang yang masih Nyonya tunggu?" tanya pelayan yang belum pergi dari hadapan Mala. "I-iya, Mas... Saya masih nungguin temen saya," jawab Mala mengangguk. "Kalau begitu, Nyonya bisa duduk di area tunggu di sana, Nyonya." Pelayan itu menunjuk ke arah kursi panjang yang di atasnya terdapat beberapa orang yang sudah duduk. "Owh iya, terima kasih, Mas." Mala menganggukkan kepalanya, kemudian berlalu dari hadapan pelayan itu menuju kursi panjang yang ditunjuk pelayan tadi. Mala pun duduk di celah kosong kursi panjang, di samping kanannya sudah lebih dulu duduk seorang anak perempuan yang kira-kira usianya hampir sama dengan usia Julliant, dan di samping kiri sudah lebih dahulu duduk seorang wanita setengah baya yang menyambut Mala dengan senyum ketika duduk. Mala pun membalas senyum dari wanita setengah baya itu. "Nungguin seseorang?" tanya wanita setengah baya itu kepada Mala. "I-iya, Bu." Mala mengangguk ragu. Sesekali ia berdiri menghadap ke arah panggung ketika terdengar suara musik awalan sebuah lagu, berharap Andrew ada di sana. Tapi, yang dia lihat bukanlah Andrew. Ia pun kembali duduk. Tangan kanannya meraih sebuah smartphone dari dalam tas hitam yang diletakkannya di atas pahanya. Kedua ibujarinya beradu dengan keyboard virtual pada layar smartphone—mengetik pesan yang akan dikirimnya ke kontak milik Andrew. "Drew, kamu di mana? Ini aku lagi di restoran tempat kamu biasa nyanyi." Namun, pesan balasan dari Andrew tak kunjung muncul. Dengan gelisah Mala kembali berdiri dan menatap lagi ke arah panggung. Diangkatnya smartphone dengan ditopang kedua tangan, lalu... JEPRET! Cahaya putih terang dari smartphone di tangan Mala berkedip. Pada layar smartphone, terlihat sebuah foto yang menangkap gambar area dalam restoran. Mala kembali duduk, lalu mengirim pesan ke kontak Andrew. Bukan berupa kalimat yang ia kirim, melainkan sebuah foto yang tadi dia dapatkan. Mala masih menunggu pesan balasan dari Andrew, tapi tetap saja tak kunjung muncul. Dilihatnya jam pada layar smartphone yang sudah menunjukkan hampir pukul tujuh malam. Ternyata sudah satu jam lebih ia duduk di kursi tunggu dalam restoran, dan seorang lelaki yang ingin ditemuinya tak kunjung nampak. Wajahnya mulai terlihat khawatir. "Duuh, Andrew mana sih?! Gimana kalau terjadi sesuatu sama Andrew?! pikir Mala. Wajahnya tampak begitu gelisah ketika membayangkan hal yang tidak-tidak tengah dialami Andrew, "Apa aku tanya sama orang-orang di panggung itu aja, ya?! Kan, mereka juga teman kerja Andrew." Mala beranjak berdiri. "Mau ke mana, Dek?" tanya wanita paruh baya yang tadi duduk di sebelah kiri Mala. Ia memegang tangan kiri Mala. Mala menoleh ke belakang menatap wanita paruh baya yang masih memegang tangan kirinya, "A-anu, Bu... Saya mau nanyain salah satu orang di panggung itu dulu, soalnya mereka kenal sama orang yang lagi saya tungguin," jawab Mala. "Sepertinya di dalam badan kamu, ada sukma orang lain." Wanita paruh baya itu beranjak berdiri dan menatap Mala dengan tatapan begitu tajam. Mala tidak mengerti apa yang dikatakan wanita paruh baya itu. Perlahan dilepaskannya genggaman tangan wanita paruh baya itu dari tangan kirinya, "Maaf, Saya nggak ngerti sama yang Ibu katakan," ucap Mala tersenyum bingung menatap wanita paruh baya itu. "Sukma itu akan membuka jalan untukmu," ucap wanita paruh baya itu sambil menyimpul senyum tanpa menghiraukan ucapan Mala. Mala merasa aneh menatap wanita paruh baya di depannya, "Saya mau ke panggung dulu, ya Bu," ucap Mala tersenyum masam dan langsung berjalan menuju panggung menjauh dari wanita paruh baya yang mengatakan hal yang tidak dimengerti Mala. Mala berjalan semakin dekat ke panggung. Tangannya melambai ke arah seorang MC yang juga sedang menatapnya. "Iya, Nyonya? Apa anda mau menyumbangkan lagu?" tanya MC itu menggunakan mikrofon di tangannya. Mala berusaha naik ke atas panggung dan mendatangi MC. "Maaf, apa aku boleh tanya sesuatu?" tanya Mala pelan. MC itu menjauhkan jarak mikrofon dengan mulutnya, "Mau nanya apa, ya Nyonya?" "Kamu kenal Andrew, kan? Kok dari tadi aku nggak liat dia, ya?" tanya Mala. "Owh, Andrew...." MC itu mengangguk pelan, "Kalau hari ini, dia nggak masuk jadwal nyanyi di sini. Hari senin biasanya Andrew nyanyi di kafe," ucap sang MC memberitahu. "Kafe?!" Mala mengerutkan kedua keningnya, "Kafe mana?" tanya Mala seketika. "Dekat kok dari sini." "Di mana?!" Mala kembali bertanya. "Dari depan restoran, kamu ke kanan, terus ada pertigaan, kan?" Mala mengangguk. "Nah, dari pertigaan, kamu belok kiri, ada kafe di sebelah kiri jalan." "Gitu ya, makasih ya udah ngasih tau." Mala tersenyum menatap MC, dan langsung melangkah turun dari panggung, lalu bergegas ke luar restoran. Dengan cepat kedua kaki Mala melangkah menuju parkiran di mana mobilnya berada. Setelah masuk ke dalam mobil, dengan cepat Mala menjalankan mobilnya menuju lokasi kafe yang tadi diberitahukan MC kepadanya. Kurang dari empat menit, Mala berhasil menemukan sebuah kafe yang tadi diberitahukan MC di restoran. Perlahan Mala membawa mobilnya menepi dan masuk ke area parkir di depan kafe, lalu keluar dari mobilnya. Dari samping mobilnya, Mala masih berdiri dan menatap dari kejauhan, menengok melalui kaca bening besar yang hampir mendominasi bagian dinding kafe. Kemudian melangkah dengan cepat menuju kafe pintu kafe. Tapi, tiba-tiba langkahnya terhenti tepat di depan pintu kafe. Dengan seketika sebuah senyuman manis terukir diwajahnya, kedua matanya terpaku pada seorang lelaki yang tengah duduk bernyanyi sambil memetik gitar. "Misi, Mbak. Jangan ngehalangin jalan dong." Seorang perempuan masuk ke dalam kafe melintas dari belakang Mala. Menatap Mala dengan tatapan sinis. "I-iya, maaf." Mala mengangguk pelan menatap perempuan itu. Kemudian berpaling ke kanan dan dilihatnya sebuah tempat duduk kosong berada di paling kanan ujung kafe. Sambil berjalan menuju bangku itu, pandangannya terus terkunci menatap Andrew yang tengah bernyanyi, sehingga membuatnya tidak sengaja menabrak bangku yang hendak dia datangi. "Aduh!" Mala berusaha menahan tubuhnya agar tidak terjatuh, kemudian perlahan duduk di atas bangku yang tadi ditabraknya. Badannya menghadap ke arah Andrew yang masih bernyanyi. Hampir satu jam Mala duduk di sudut kafe tanpa Andrew menyadari kedatangannya, karena ketika Andrew menoleh ke arahnya dengan sigap ia menutupi wajahnya menggunakan sebuah papan menu di atas meja. Ia begitu menikmati alunan lagu yang dinyanyikan Andrew. "Kayaknya Andrew belum sadar kalau aku ada di sini deh," gumam Mala yang masih menampakkan senyum tipis di wajahnya. Mala melihat Andrew yang beranjak berdiri tempat duduknya dan meletakkan gitarnya. Ia merasa bahwa Andrew melihat dirinya. Tangannya yang sejak tadi masih memegang papan menu, langsung melindungi wajahnya menggunakan papan menu itu. "Duh! Tadi Andrew liat aku nggak sih?!" Mala masih menyembunyikan wajahnya di balik papan menu sambil sesekali mengintip ke arah Andrew. "Terima kasih teman-teman semua sudah datang ke kafe ini. Apa di antara kalian ada yang ingin request?!" Terdengar gema suara Andrew memenuhi seluruh sudut kafe. Namun, tak seorang pun yang berani mengajukan request lagu, "Kalau nggak ada yang request, saya akan menyanyikan lagu pilihan saya sendiri." Andrew kembali duduk setelah mengambil gitarnya lalu mulai memetik gitar sambil bersenandung. Mala mendengar ucapan Andrew, seketika terlintas dipikirannya untuk memberi Andrew kejutan karena melihat keadaan tidak ada yang mau mengajukan untuk request lagu. Mala menoleh ke kanan dan kiri, kemudian melihat seorang perempuan yang tadi menatap sinis ketika di depan pintu kafe. Ia beranjak berdiri lalu berjalan hati-hati menghampiri perempuan itu dengan tetap menjaga posisi agar Andrew tidak melihatnya. "Maaf, Mbak..." Mala berdiri di samping perempuan itu. "Eh, Loe lagi... Kenapa?!" sahut perempuan itu. "Ah, nggak... Aku cuman mau minta maaf soal tadi," jawab Mala tersenyum tipis. "Owh, iya... Gue juga minta maaf, soalnya tadi udah natap wajah Loe sinis." Perempuan itu mulai menyunggingkan senyumnya. "Kenalin, nama aku Mala." Mala mengulurkan tangannya. "Nama gue Nasa." Perempuan itu memberitahukan namanya sambil menyambut dan menjabat tangan Mala. "Nah, Nasa... Aku boleh minta bantuan kamu, nggak?" tanya Mala hati-hati. Nasa mengerutkan kedua keningnya, "Bantuan?!" "Iya." Mala mengangguk kemudian mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga Nasa. Nasa tampak menganggukkan kepalanya, seakan mengerti dan setuju dengan apa yang diminta Mala. Nasa beranjak dari bangku bersamaan dengan Mala yang bergegas kembali ke tempat duduknya. Nasa mengangkat tangannya dan Andrew yang melihat itupun langsung menghentikan lagunya. "Iya, apa Nona ingin request lagu?" tanya Andrew berbicara menggunakan mikrofon di tangannya. Nasa mengangguk mengiyakan, lalu berjalan mendatangi Andrew dan membisikkan sesuatu di telinga Andrew. "Baik, sebentar." Andrew mengambil sebuah mikrofon lagi dan diberikannya kepada Nasa. Nasa kembali ke tempat duduknya dengan memegang sebuah mikrofon, bukan lewat jalan ketika tadi dia mendatangi Andrew, melainkan melewati jalan lain dan melintas di depan Mala. Nasa diam-diam menyerahkan mikrofon itu kepada Mala. "Baiklah, lagu ini adalah request dari teman kita yang bernama Mala, lagu duet bergenre pop-melayu yang sekarang sedang viral. Ini juga salah satu lagu favorit saya...." Andrew kembali duduk setelah mengambil gitarnya, "Nona Mala, siap?" Andrew menatap ke arah Nasa. Nasa mengangguk. Sepertinya Andrew tidak menyadari bahwa nama Mala yang disebutnya adalah nama dari orang yang dia kenal, dan Nasa berpura-pura mengaku namanya adalah Mala. Itupun termasuk salah satu rencana Mala untuk memberi kejutan kepada Andrew. Andrew mulai memetik gitarnya. Terdengar begitu lembut alunan musik akustik dari gitar yang dipetiknya, musik aransemennya sendiri. Ia mulai bernyanyi, mendendangkan bait awal untuk laki-laki dari lagu yang saat ini dibawakannya, lalu secara diam-diam Mala menyahutnya di bait perempuan. Andrew merasa tidak asing dengan suara di bait perempuan yang mengira suara itu berasal dari suara Nasa. Kedua keningnya mengerut, namun ia masih konsisten menyanyi. Melihat sebuah kesempatan ketika Andrew lengah dan tak menatap ke arah Nasa. Nasa langsung berpindah tempat dan bersembunyi sehingga membuat Andrew bingung, tapi ia tetap bernyanyi. Tanpa diketahui Andrew, ternyata Mala sudah berdiri di belakangnya. Semua penonton yang melihat hanya diam karena tak ada yang tahu dengan rencana Mala, kecuali satu orang, yaitu Nasa. Ketika digiliran pada bait perempuan, perlahan Mala menyandarkan badannya menempel di belakang badan Andrew. Andrew terkejut merasakan seseorang telah bersandar di belakang badannya. Tetap konsisten bernyanyi, ia perlahan merubah posisi dan berpaling ke belakang. Mala begitu senang memandangi raut wajah Andrew yang tampak terkejut bercampur bingung. Mala dan Andrew terus bernyanyi hingga selesai. Semua penonton terkesima mendengar suara Mala dan Andrew. Satu per satu pengunjung kafe mulai berdiri dan bertepuk tangan. Mereka semua merasa seperti disuguhkan sebuah konser romantis. Seorang pria paruh baya yang mengenakan jas coklat berjalan sambil bertepuk tangan di sepanjang jalan mendatangi Mala dan Andrew. "Luar biasa...." Pria paruh baya itu nampak puas melihat penampilan dari Mala dan Andrew, "Drew, apa wanita ini teman kamu?" "I-iya, Bos." Andrew mengangguk pasti. "Siapa nama kamu?" Pria paruh baya yang dipanggil Andrew Bos mengulurkan jabat tangan kepada Mala. "Mala, Pak." Mala menyambut jabat tangan dari pria paruh baya itu. "Panggil saja saya, Pak Nizam." Pria paruh baya itu memberitahu namanya, "Suara kalian berdua sangat cocok didengar pas lagi duet. Serasi!" "Ah, Bos bisa aja," ucap Andrew tidak percaya. "Iya, Pak Nizam mujinya terlalu berlebihan," tambah Mala tersenyum malu. "Loh! Apa wajah saya ini kelihatan becanda?" Pak Nizam menunjuk wajahnya sendiri yang terlihat begitu serius bercampur senyum, "Coba liat semua ekspresi pengunjung, mereka begitu menikmati lagu yang kalian berdua nyanyikan, bagaimana mungkin saya harus bohong?! Nggak, kan?!" Mala dan Andrew pun sama-sama merasa sedikit malu. "Kalian ini pacaran, ya?" Pak Nizam mengutarakan tebakan tiba-tibanya. Mala dan Andrew saling tatap. Mereka berdua sama-sama bingung harus mengatakan apa untuk menjawab pertanyaan Pak Nizam yang berdiri di depan mereka. "E-e-enggak, Bos. Ka-kami nggak pacaran kok." Andrew ragu-ragu menjawab. "Masa sih?! Kok saya nggak percaya, ya?!" Pak Nizam penuh selidik menatap Mala dan Andrew, "Kalau gitu, Nak Mala mau nggak pacaran sama anak saya?" Mala dan Andrew tidak menyangka mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Pak Nizam. Mala membulatkan kedua matanya, "Be-benar, Pak. Kami berdua pacaran!" Mala langsung menyelipkan tangan kirinya memeluk tangan kanan Andrew. Andrew lebih terkejut ketika Mala memeluk tangan kanannya. Kedua matanya terbelalak tidak percaya menatap wajah Mala. Andrew langsung tak bisa berkata apa-apa, wajahnya mulai memerah. "Nah! Bener, kan?! Kalau saya nggak berkata begitu, kalian berdua pasti nggak bakalan ngaku." Pak Nizam mulai tertawa mendengar pengakuan dari Mala, "Ya sudah, saya mau kembali ke ruangan saya." Pak Nizam berbalik dan mulai melangkahkan kedua kakinya, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti dan kembali berpaling menatap Mala dan Andrew, "Nak Mala. Apa Nak Mala bisa mengisi acara di kafe ini sampai selesai? Bersama Andrew. Tapi tenang, honor pasti saya bayar kok." Mala dan Andrew kembali saling tatap. Andrew mengangkat kedua alisnya dan Mala menggeleng bingung. "Aaa, begini, Bos." Andrew menelan salivanya, "Pacar saya nggak dibolehin pulang terlalu malam, jadi kayaknya nggak bisa deh, Bos," ucap Andrew dengan menekankan nada pada kata pacar. "Owh, begitu ya. Sayang banget ya." Pak Nizam mengangguk pelan, "Jadi, sampai jam berapa kamu bisanya?" tanya Pak Nizam menatap Mala. "Kan, dia nggak...." "Jam setengah sembilan," pungkas Mala dengan cepat sehingga membuat Andrew terdiam. "Baiklah, sampai jam setengah sembilan juga tidak masalah." Pak Nizam mengangguk pelan, kemudian lanjut melangkah untuk kembali ke ruangannya. Andrew merasa bingung sambil menatap wanita yang berdiri di sebelahnya setelah Pak Nizam sudah menjauh pergi. Mala mengangkat kedua alisnya, "Emangnya kenapa?! Nggak boleh, ya?" "Bukan nggak boleh, tapi apa nggak ngerepotin kamu?" "Aku nggak ngerasa repot sama sekali kok," jawab Mala tersenyum menatap Andrew, dan meyakinkan Andrew. "Nyanyi lagi dong!" seru seorang pengunjung kafe meminta agar Mala dan Andrew kembali bernyanyi. Mala dan Andrew menatap ke arah seluruh pengunjung kafe, lalu kembali saling tatap satu sama lain. Mereka sama-sama tersenyum. Andrew menganggukkan kepalanya, dan Mala membalas anggukan itu sambil tersenyum manis. "Nyanyi! Nyanyi! Nyanyi!" Beberapa pengunjung lain bersorak ikut mendukung. Mendengar sorak-sorai pengunjung kafe, Mala dan Andrew pun kembali bernyanyi, menyanyikan lagu duet. Semua pengunjung kafe begitu menikmati lagu yang dinyanyikan Mala dan Andrew. Dari luar kafe, tampak pengunjung baru mulai berdatangan karena mendengar suara merdu dari Mala dan Andrew, membuat semua tempat duduk di dalam kafe penuh, bahkan ada yang rela untuk duduk berjongkok agar bisa jelas mendengar dan melihat lebih dekat Andrew yang berduet dengan Mala.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN