Bab 47: Anakku Penyemangatku

2982 Kata
Sambil menelentangkan badannya di atas tempat tidur, Mala memasang headphone di kepalanya, suaranya mengikuti alunan musik yang menyentuh gendang telinganya. Wajahnya terpaku menatap layar smartphone. Rekaman video ketika dia bernyanyi ditontonnya satu per satu. Di pintu depan rumah, Julliant telah tiba bersama Pak Sugeng. "Assalamu'alaikum. Mah!" Julliant mengetuk pintu depan. Di belakangnya, Pak Sugeng juga berdiri menunggu pintu rumah terbuka. Bik Minah sedang bersama anak perempuan majikannya, menemani Clara menonton televisi di ruang tengah. Telinganya mendengar samar ucapan salam Julliant dengan diiringi suara ketukan pintu yang berbaur suara televisi di ruang tengah. "Wa'alaikumsalam... Sebentar!" Bik Minah beranjak berdiri. Segera mendatangi ke pintu masuk. Tangan kanannya membukakan pintu. Julliant melangkah masuk ke dalam rumah. Duduk pada sofa di ruang tamu. Dilepaskannya satu per satu sepasang sepatu dari kedua kakinya, lalu beranjak berdiri. "Masuk, Pak...." Bik Minah mengajak suaminya untuk masuk. "Lain kali aja, Bu. Bapak nggak enak." Pak Sugeng menolak ajakan istrinya. "Udah..." Bik Minah menarik tangan suaminya memasuki rumah, "Non Mala yang nyuruh. Bapak mau minum apa?" "Nggak usah deh, Bu." Pak Sugeng terus memaksa menolak. "Kalau Bapak nggak mau, nanti Non Mala marah loh, Pak," ucap Bik Minah. Julliant melangkah ke ruang tengah dan mendapati adik perempuannya yang sedang menonton televisi. Sementara di ruang depan, Pak Sugeng pasrah menerima ajakan Bik Minah istrinya untuk masuk dan mendatangi Julliant dan Clara di ruang tengah. "Bibik, Mamah mana, Bik?" tanya Julliant menatap Bik Minah. "Nyonya lagi di kamar, Den Julliant," jawab Bik Minah pelan memberitahu. Clara mendatangi kakaknya, "Kak Jull, jangan berisik. Mamah lagi nyanyi, jangan diganggu," bisik Clara. Julliant mengangguk mengerti. Ia tahu bahwa sekarang ibunya sedang membuat video bernyanyi, "Julliant ganti baju dulu ya, Bik," ucap Julliant menatap Bik Minah kemudian menoleh ke arah Clara yang berdiri di sampingnya, "Dedek nonton tv lagi gih." Clara mengangguk cepat, kemudian kembali duduk di depan televisi. Julliant melangkah masuk ke dalam kamarnya untuk berganti pakaian. "Ke dapur, Pak," ajak Bik Minah. Pak Sugeng mengangguk pasrah, kemudian mengikuti istrinya berjalan masuk ke ruang dapur. Ia duduk di salah satu kursi di meja makan. Dilihatnya istrinya yang tengah menyiapkan makanan lalu meletakkannya di hadapannya. Wajahnya masih tampak bingung sambil menatap sepiring makanan dengan lauk yang lengkap telah tersaji di depannya. "Ini, Bu?!" Pak Sugeng menatap istrinya. "Udah, Bapak makan aja, Ibu udah makan tadi," ucap Bik Minah. Pak Sugeng menuruti kehendak istrinya. Disingkirkannya sendok dan garpu dari dalam piring yang sudah berisi nasi. Lauk-pauk dia masukkan ke dalam piring bercampur dengan nasi. Diangkatnya piring itu dengan tangan kiri, lalu mulai menyantap menggunakan tangan kanan. "Bapak mau minum apa?" tanya Bik Minah setelah melihat suaminya yang sudah mulai menyantap makanan. Pak Sugeng menoleh ke arah istrinya yang berdiri di sampingnya, "Air putih aja deh, Bu." "Anget, biasa, atau dingin, Pak?" Pak Sugeng mengerutkan kedua keningnya, "Dingin deh, Bu." "Bentar ya, Pak." Bik Minat menuju kulkas. Dibukanya pintu kulkas lalu mengambil sebuah botol kaca bening berisi air putih. Uap dingin terlihat menyelimuti bagian luar botol kaca itu. Diletakkannya botol kaca bening di atas meja makan tepat di hadapan suaminya. Suaminya langsung meletakkan piring ke atas meja makan, lalu tangan kirinya berniat mengambil botol kaca bening berisi air putih. "Eitsh!" Bik Minah menepis tangan kiri Pak Sugeng yang hampir menyentuh botol kaca itu. "Eh!" Pak Sugeng tersentak dan langsung menoleh ke arah istrinya dan menatap heran. "Jangan langsung diminum, Pak. Ini beda sama rumah kita." Bik Minah menggelengkan kepalanya, "Sebentar, Ibu ambilin gelas dulu." Bik Minah berjalan ke dispenser dan diambilnya sebuah gelas kaca di samping dispenser lalu menyerahkannya kepada suaminya, "Ini Pak." Pak Sugeng mengangguk sambil menerima gelas kaca itu. Diletakkannya gelas itu di atas meja, lalu menuangkan air es dari dalam botol. "Ibu ke depan lagi, ya Pak." Bik Minah izin kepada suaminya untuk mendatangi Julliant dan Clara di ruang tengah. "Iya, Bu." Pak Sugeng mengangguk mengiyakan, bersamaan dengan istrinya yang sudah melangkah ke luar meninggalkannya sendirian di dalam ruang dapur yang tengah menyantap makanan. Ada perasaan gugup yang menyelimuti hari Pak Sugeng ketika sendirian di ruang dapur. Namun, rasa itu ditepisnya dan tetap meneruskan makan. Julliant ke luar kamar setelah selesai mengganti pakaiannya bersamaan dengan Bik Minah yang juga tiba di ruang tengah. Julliant mendapati bahwa suara dari televisi di depan adik perempuannya masih dalam keadaan lumayan nyaring, "Duh! Dedek!" Julliant menggelengkan kepalanya. Ia melangkah mendatangi Clara di depan televisi, "Remot tv-nya mana, Dek?" tanya Julliant. Clara menatap Julliant sebentar. Diangkatnya kedua bahunya sambil menggelengkan kepala, lalu kembali menoleh lurus ke depan menatap televisi. "Bibik ada liat remot nggak?" Julliant menatap Bik Minah "Saya nggak ada liat, Den," jawab Bik Minah yang langsung menggelengkan kepalanya. Julliant menoleh ke kanan dan kiri, pandangannya menyebar ke seisi ruang tengah mencari remot tv, tapi ia tetap tidak melihatnya. Julliant berjalan mendekati sofa di ruang tengah, "Nah! Ini dia!" Julliant berhasil menemukan remot tv yang terselip di celah antara dudukan dan sandaran sofa. Diambilnya remot tv itu, mengarahkan sensor ke arah televisi, lalu ditekannya sebuah tombol pada remot yang fungsinya mengecilkan volume televisi. "Yaah! Kok suaranya dikecilin sih!" Clara mengeluh ketika mendengar suara televisi yang mulai pelan. Julliant langsung mendatangi Clara, "Dek... Nanti kalau Mamah denger, Mamah pasti marah." "Huh! Iya deh...." Clara mendengus kasar. Ia pasrah dan kemudian lanjut menonton televisi. Julliant ikut duduk di samping Clara. *** Sambil terlentang di atas tempat tidur, Mala tersenyum puas setelah selesai menonton delapan videonya ketika bernyanyi. Ia beranjak bangun kemudian menurunkan kedua kakinya yang langsung mendarat di atas sepasang sandal berbulu, kemudian melangkah ke arah pintu kamarnya. Tangan kanannya perlahan membuka pintu. Setelah pintu itu dibuka, Ia melihat Julliant yang sudah pulang dari sekolah. "Kamu udah lama pulangnya, Jul?!" Mala menatap anak laki-lakinya yang tengah duduk di samping Clara. Julliant berpaling ke belakang dan langsung mendatangi Mala ibunya, "Mah, Papah udah berangkat kerja lagi, ya Mah?!" "Iya, Sayang... Tadi siang Papah kamu perginya." Mala tersenyum tipis sambil mengusap puncak kepala Julliant. "Yaah...." Julliant mengeluh kecewa, "Terus, Papah kapan pulang lagi, Mah?" Mala langsung terdiam, dipandangnya mata Julliant. Dengan cepat ia mengerti apa yang dirasakan anak lelakinya itu. Sebuah rasa rindu sama seperti yang dirasakannya dulu. Jantungnya bagai diremas. Kembali merasakan sakitnya hati, bukan karena rasa rindu kepada suaminya, melainkan rasa sakit hati karena anak lelakinya yang merindukan sosok ayah yang sekarang sudah tak lagi seperti dahulu. Kedua mata Mala mulai berembun, tapi tangan kanannya dengan sigap mengusap kedua matanya agar anak lelakinya tidak melihat ibunya menangis. Mala memaksa bibirnya untuk tersenyum di hadapan Julliant, "Papah paling pergi cuman beberapa hari, Sayang." Mala kembali mengelus puncak kepala anak lelakinya. Julliant menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Kedua matanya terpejam merasakan elusan lembut dari tangan ibunya. Dalam hatinya merasakan kehangatan seorang ibu yang begitu menyayanginya. Tanpa sadar, senyum kembali muncul di sepasang bibirnya. Mala mencubit gemas kedua pipi Julliant yang seperti tampak seperti bakpao. "Aduh, aduh, aduh...." Julliant menghindar, melepaskan cubitan dari Mala. Ia berlari dan ibunya mengejarnya, bak seperti bermain tangkap-tangkapan. Clara melihat ibu dan kakaknya tengah bermain. Ia langsung beranjak dari depan televisi dan ikut berlari mengejar kakak lelakinya. Mala benar-benar bisa membuat kedua anaknya bahagia. 'Aku akan membuat anak-anakku bahagia! Walau tanpa kehadiran ayah anak-anakku, aku masih bisa! Pasti bisa!' batin Mala. Bik Minah dan Pak Sugeng yang sedari tadi duduk pada sofa di ruang tamu menengok ke arah dalam—ruang tengah. Mereka berdua tampak ikut bahagia ketika melihat seorang ibu dan dua anak yang tengah bermain. Mala dan Clara terus mengejar Julliant hingga berlari ke ruang tamu. Gelak tawa terus-terusan terdengar dari mulut mereka, dan tak menyadari bahwa sekarang sudah pukul lima sore. Bik Minah dan Pak Sugeng menatap tersenyum ketika melihat majikannya yang begitu bahagia. Julliant berlari ke arah sudut kanan ruang tamu dekat pintu depan. Dilihatnya ibu dan adiknya masih saja mengejar. "Hayo... Mau ke mana kamu...." ucap Mala mengepung Julliant. Clara ikut menutup jalan, "Tangkap kak Julliant!" seru Clara langsung memeluk badan kakaknya. Julliant terpojok di sudut ruang tamu. Nafasnya kian terengah ketika adiknya memeluk badannya sangat erat, "Aduh... Ampun... Julliant nyerah. Capek...." Clara semakin erat memeluk sambil tertawa gelak melihat ketidak-berdayaan kakaknya. "Udah, Sayang ... Kasian kakaknya," ucap Mala. "Yaah... Kok mainnya udahan sih?!" keluh Clara perlahan melepaskan pelukan erat dari badan kakak lelakinya. "Capek tau, Dek!" Julliant masih terengah. "Ya udah, kita nonton kartun lagi yuk!" ajak Mala tersenyum tipis menatap kedua anaknya. "Clara duluan!" seru Clara langsung berlari ke ruang tengah dan lebih dulu duduk di depan televisi. Mala dan Julliant berjalan menyusul Clara ke ruang tengah. "Non Mala..." Pak Sugeng mengambang Mala ketika melintas di depannya. "Iya, Pak?" "Kami izin pamit dulu, ya Non," ucap Pak Sugeng hati-hati. "Ini udah jam lima, ya?" Mala menoleh ke arah jam dinding yang ada di ruang tamu dan mengetahui saat ini sudah pukul lima sore, "Pak Sugeng udah makan?" tanya Mala menatap lelaki paruh baya di depannya. Pak Sugeng dan istrinya saling tatap kemudian kembali menatap Mala. "Udah, Non." Pak Sugeng mengangguk. "Kalau Bibik gimana? Udah makan apa belum, Bik?" Mala menatap Bik Minah. "Saya juga udah, Non... Tadi pas Non Mala dalam kamar," jawab Bik Minah sambil mengangguk. "Owh, iya." Mala tersenyum, "Nanti, kalau mau makan, makan aja, ya Bik, Pak. Nggak usah sungkan." "Iya, Non." Bik Minah dan Pak Sugeng mengangguk bersamaan. "Ya udah, saya sama Bibik pamit dulu, ya Non," ucap Pak Sugeng. Mala mengangguk mengiyakan. Bik Minah dan Pak Sugeng pun berlalu bersama menuju pintu depan dan keluar. Mala mengiringi dari belakang. "Assalamu'alaikum." Bik Minah dan Pak Sugeng serentak mengucap salam. "Wa'alaikumsalam." Mala membalas salam sambil tersenyum tipis dan mengangguk. Setelah melihat Bik Minah dan Pak Sugeng yang menjauh dari kawasan rumahnya, Mala pun masuk ke dalam rumah mendatangi Julliant dan Clara yang sedang. menonton televisi di ruang tengah. Mala masuk ke kamarnya sebentar untuk mengambil smartphone-nya, lalu ke luar lagi dan duduk pada sofa di ruang tengah. Wajahnya terpaku menatap layar smartphone, dan sesekali melirik ke arah kedua anaknya yang sedang menonton televisi. Ibujari tangan kanannya mengusap layar, matanya melihat-lihat barisan video pada beranda di aplikasi hijau. Dibukanya video itu satu per satu, sampai ia menemukan video yang dibagikan Andrew, lebih tepatnya ditayangkan, karena Mala mendapati sebuah kata bertuliskan 'Live' yang menjadi watermark pada video itu. "Hah! Andrew lagi siaran langsung?!" Mala mengerutkan kedua keningnya sambil berdecak dalam hati. Kedua matanya dengan seksama melihat layar smartphone yang menayangkan video ketika Andrew bernyanyi, dengan latar tempat di atas panggung. Mala berpikir sejenak ketika menonton video yang ditayangkan Andrew secara langsung, "Apa aku ke restoran aja, ya, biar lebih seru nontonnya?!" Mala tersenyum tipis. Masih dalam aplikasi hijau, ibujari tangan kanannya menekan tombol virtual berbentuk segitiga di bagian paling bawah layar smartphone lalu menekan nama Andrew untuk mengirim pesan pribadi. "Drew, malam ini aku mau ke restoran tempat kamu nyanyi." Mala menunggu sejenak, berharap Andrew membalas pesan yang sudah dikirimnya. Tapi, pesan balasan dari Andrew tak kunjung muncul. Mala kembali membuka beranda pada aplikasi hijau dan menonton video siaran langsung Andrew yang masih sedang bernyanyi. "Kayaknya Andrew nggak bisa balas chat aku... Ya udah, mending aku langsung samperin dia aja." Mala beranjak berdiri, tapi seketika ia melihat kedua anaknya yang sedang menonton televisi, "Astaga! Kalau aku pergi ke restoran, Julliant sama Clara gimana?!" Mala mengerutkan kedua keningnya sambil memikirkan cara agar dia bisa pergi ke restoran mendatangi Andrew malam ini. Mala terus menatap kedua anaknya yang sedang menonton televisi, dalam pikirannya terlintas nama Sisy adik perempuannya. Entah itu pikirannya sendiri atau bisikan dari seseorang. Ia belum tahu, tapi yang pasti ketika mengingat nama adik perempuannya itu membuatnya menemukan ide. "Gimana kalau aku minta Sisy buat nginep di sini... Kan, bisa sekalian jagain Julliant sama Clara." Mala mengangguk pelan. Layar smartphone masih menampilkan aplikasi hijau. Mala menemukan kontak Sisy adik perempuannya, diketuknya nama Sisy lalu langsung mengetik pesan. "Sisy." "Ada apa, Kak." Sisy langsung membalas pesan Mala. Senyum langsung terpaut di wajah Mala. "Sy, kamu bisa tolong kakak nggak?" tulis Mala. "Minta tolong apaan emang?!" balas Sisy. "Kamu nginep di sini, ya, malam ini." "Loh, kok bisa pas banget sih, Kak?! Ini Sisy lagi di jalan arah ke rumah Kakak." Mala semakin tersenyum, sampai membuat kedua matanya kian menyipit setelah membaca kalimat pesan yang dikirim Sisy kepadanya. "Wah! Ternyata kita sehati, ya... Hehe. Kamu udah nyampe mana, Sy? Apa Kakak minta Julliant aja buat jemput kamu?" "Ini udah di depan rumah. Bukain cepet!" "Iya bentar!" balas Mala. Mala langsung berjalan ke depan dan membuka pintu depan rumahnya. Kedua matanya langsung melihat Sisy yang tengah berdiri di depan pintu. "Masuk, Sy." Mala mempersilahkan adik perempuannya masuk ke dalam rumah. Sisy melangkah masuk, kemudian beriringan dengan Mala menuju ruang tengah. Sisy langsung duduk pada sofa di ruang tengah. Mala pun demikian. "Tumben kamu Sy. Biasanya kamu itu paling males kalau aku ajak nginep di sini?!" Mala menatap Sisy penuh selidik. "Abisnya aku kesel sama ibu, Kak," keluh Sisy. Wajahnya tampak merangut. "Loh, kesel kenapa emangnya?" Mala mengerutkan kedua keningnya. "Masa tiap dua jam aku disuruh ibu beberes rumah melulu, padahal nggak berantakan." Sisy berpaling menatap Kakaknya yang duduk di sampingnya. "Oalah." Mala menggelengkan kepalanya, "Terus, ibu udah tau nggak kalau kamu ke sini?" Sisy mengangguk, "Iya, udah tau kok, Kak." "Kamu udah makan?" Mala menunjukkan rasa perhatian pada adik perempuannya yang sedang kesal. Sisy menggeleng, membuat kakaknya langsung tahu bahwa dia belum makan. "Ya udah, kamu ambil makan gih ke dapur. Kebetulan, tadi bik Minah masak banyak banget." "Masak apa emangnya, Kak?" Sisy menatap Kakaknya. "Kamu liat sendiri deh, enak loh masakannya, Sy." Mala meyakinkan Sisy. Sisy mengangguk, lalu beranjak berdiri dan langsung berjalan ke ruang dapur untuk mengambil makanan. Mala masih duduk di sofa ruang tengah menunggu Sisy mengambil makanan. Lima menit berlalu. Sisy sudah selesai makan. Ia kembali ke ruang tengah mendatangi Mala kakaknya. "Gimana, enak kan, masakan bik Minah?" tanya Mala meminta pendapat. "He'em." Sisy mengangguk pasti, "Enak banget, Kak. Aku aja nyampe tiga kali nambah." Sisy terlihat senang. "Kamu duduk sini." Mala menepuk bagian atas sofa di sampingnya meminta agar Sisy duduk. Sisy pun menurut. "Kenapa, Kak?" Sisy menatap Mala. "Sy, malam ini kakak ada janji sama temen kakak. Kamu mau kan, jagain Julliant sama Clara? Nggak lama kok. Paling, sekitaran jam sembilan kakak pulang." "Emmm... Pasti ngumpul sama kak Rima, nih." Sisy menebak. Mala tersenyum cengingisan, "Hehe, i-iya... Soalnya udah lama nggak ngumpul bareng," jawab Mala berbohong. "Iya deh." Sisy mengangguk bersedia. "Beneran?! Wah... Makasih adikku yang paling cantik!" Mala tersenyum senang sambil dengan gemas mencubit kedua pipi adiknya. "Aduuh!" Sisy menarik kepalanya melepaskan cubitan dari Mala, "Tapi, beneran nggak lama, kan?!" Sisy mencoba memastikan. "Iya... Lagian ngapain lama-lama." Mala meyakinkan Sisy. "Terus jam berapa berangkatnya, Kak?" tanya Sisy. "Pengennya sih sekarang, soalnya temen-temen Kakak udah pada duluan," jawab Mala. "Bukannya tadi kakak bilang malam, ya?!" Sisy mengerutkan kedua keningnya heran. "I-iya... Tat-tadi kan, beda...." Mala tampak gugup bercampur bingung dengan alasan yang dia ucapkan. "Beda maksudnya?!" Sisy semakin heran. Matanya semakin erat dan penuh selidik menatap Mala kakaknya. "Iya beda lah... Kan, sekarang udah ada kamu. Jadi, kakak bisa berangkat sekarang. Kasian kan, kalau temen-temen Kakak lama nunggunya." "Iya, deh." Sisy mengangguk mengiyakan. "Duh... Makin cantik aja adikku ini." Mala kembali mencubit dengan gemas kedua pipi Sisy. "Iya, iya, iya...." Sisy kembali menarik wajahnya dan melepaskan cubitan dari kedua tangan Mala, "Kalau kakak cubit lagi, aku nggak jadi nih!" Sisy mengancam. "Iya, nggak lagi kok...." Kali ini Mala mencubit hidung Sisy. "Kakak!" Sisy menarik tangan Mala. Melepaskan cubitan di hidungnya. "Ya udah, kakak mau siap-siap dulu, ya." Mala beranjak berdiri, dan Sisy mengangguk mengiyakan. Mala langsung masuk ke dalam kamarnya untuk berganti pakaian. Pakaian santai dengan baju kaos putih dan celana denim panjang dikenakannya. Ia berdiri di depan lemari pakaian, berhadapan dengan cermin yang tertanam di salah satu pintu lemari. Dilihatnya dari kepala sampai ujung kaki. "Kan, kalau pakai ini, kelihatan banget kalau aku masih muda." Mala bergaya fotogenik menatap bayangan dirinya di dalam cermin. Setelah puas melihat bayangan dirinya, Mala mengambil sebuah tas kecil berwarna hitam dengan tali panjang berbentuk rantai dengan warna emas, lalu digantungnya tas itu pada bahu kanannya. Tak lupa mengambil smartphone yang tergeletak di atas meja lampu tidur dan memasukkannya ke dalam tas, lalu melangkah menuju pintu kamar. Tangan kanannya menyentuh gagang pintu kamar. Sejenak Mala menghela nafas sebelum membuka pintu kamarnya, "Semoga aja Andrew nggak pulang duluan," gumam Mala sambil tersenyum, lalu tangan kanannya memutar gagang pintu dan ditariknya pintu kamar. Ia melangkah ke luar mendatangi Sisy yang masih duduk pada sofa di ruang tengah dan sambil menonton televisi yang sama ditonton Julliant dan Clara. Sisy tertegun takjub dan membulatkan kedua matanya melihat penampilan kakaknya yang berdiri di depannya, "Wah! Ini beneran Kak Mala, kan?!" "Ya iya lah, terus siapa lagi?!" Mala tersenyum menatap adik perempuannya. Clara menoleh ke belakang dan mendapati ibunya yang seperti hendak pergi. Clara langsung beranjak dan mendatangi ibunya, "Mah, Mamah mau ke mana?! Clara ikut...." "Jangan ikut, Sayang... Mamah sebentar aja kok," ucap Mala mengelus puncak kepala Clara, "Lagian Tante Sisy sama Kak Julliant juga ada kok, nemenin Dedek." "Iya, Clara... Tante malam ini nginep, jadi Clara nggak usah takut." Sisy ikut membujuk. "Tapi, nanti beliin Clara makanan, ya Mah," pinta Clara memberi syarat. "Clara mau dibeliin apa?" tanya Mala menatap anak perempuannya itu. "Emmm." Clara berpikir sejenak. "Mah, Julliant minta dibeliin nasi goreng, ya Mah." Julliant menoleh ke arah sofa di mana ibu, adik, dan tantenya berada. "Clara juga mau nasi goreng, ya Mah." Clara menyamai permintaan kakaknya. "Iya... Nanti Mamah beliin," ucap Mala mengangguk mengiyakan kemudian menatap Sisy, "Kalau kamu minta dibeliin apa, Sy?!" "Nasi goreng juga deh, biar nggak repot belinya, Kak," jawab Sisy. "Iya udah, Mamah berangkat sekarang, ya," ucap Mala tersenyum sambil mengelus kepala Clara dengan lembut. Clara mengangguk pelan. "Yeeey! Nasi goreng, nasi goreng, nasi goreng ...." Clara berteriak kegirangan sambil berlari menuju depan televisi dan kembali duduk di samping Julliant. "Sy, Kakak berangkat, ya." Mala menatap adiknya yang langsung mengangguk. Kedua kakinya melangkah menuju ke pintu depan rumah, lalu membuka pintu rumah dan melangkah ke luar menuju garasi yang terletak di samping rumah di mana mobil berwarna merah maron miliknya berada.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN