Bab 46: Kebahagiaan Tak Bisa Dibeli

2108 Kata
Hamparan langit nan biru begitu luas, hanya terlihat beberapa gumpalan awan putih yang jaraknya jarang. Suara siul burung-burung yang terbang terdengar bersahutan menambah keindahan suasana pagi yang begitu cerah. Mala masih berdiri di depan pintu rumahnya menatap ke arah Bik Minah yang berdiri membelakangi jemuran pakaian sambil mengangkat sebuah keranjang yang sudah kosong. Mala menyisir pandangan menatap ke luar pagar rumah dan melihat seorang wanita tua tengah berdiri di luar pagar rumahnya dan terlihat seperti sedang menatap Bik Minah. Mala mengerutkan kedua keningnya. Ia merasa tidak asing melihat wajah wanita tua yang tengah berdiri di luar pagar rumahnya itu. Wanita tua itu menggerakkan sepasang bibirnya seperti memanggil Bik Minah. Mala tidak mendengar suara wanita tua itu karena jarak antara rumah dengan pagar rumahnya cukup jauh, tapi masih bisa mengerti dengan membaca pergerakan bibir wanita tua itu. Bik Minah berada dekat dengan pagar, dan mendengar panggilan dari wanita tua itu. Ia berpaling menatap wanita tua yang berdiri di luar pagar lalu berjalan mendekatinya. Ia dan wanita tua itu nampak mengobrol. Mala mengerutkan kedua keningnya menatap ke arah Bik Minah yang tengah mengobrol dengan wanita tua di luar pagar rumahnya. Ia penasaran dengan apa yang sedang dibicarakan oleh kedua wanita yang dilihatnya. Karena wajah wanita tua itu terhalangi oleh badan Bik Minah yang cukup gemuk. Bik Minah sesekali menoleh ke belakang menatap Mala yang berdiri di depan pintu rumah sambil terlihat berbincang dengan wanita tua itu. Mala semakin penasaran dengan apa yang tengah dibicarakan oleh Bik Minah dan wanita tua itu. Ia merasa kalau kedua wanita yang dilihatnya sedang membicarakan sesuatu yang berhubungan dengannya. Tampaknya kedua wanita itu sudah selesai mengobrol karena melihat Bik Minah berpaling badan dan menatap ke arah Mala yang masih berdiri di depan pintu rumah. Bik Minah melangkah mendatangi Mala. "Bik, itu siapa?" tanya Mala penasaran. "Owh, itu Nenek Tiara, Non." Bik Minah menjawab sopan. "Owh iya! Astaga... Kok aku bisa sampai lupa sih?!" Mala pelan menepuk bagian wajah di antara kedua matanya. Mala mulai ingat bahwa wanita tua yang berdiri di luar pagar rumahnya adalah wanita yang menawarkan rumah yang sekarang ini ditempati Mala. "Gini, Non... Nenek Tiara mau izin sama Non Mala," ucap Bik Minah hati-hati. "Izin?!" Mala mengernyitkan kedua keningnya. "Nenek Tiara mau nanem tanaman di luar pagar rumahnya Non Mala, tapi itu kalau Non Mala ngizinin." Bik Minah menyampaikan dengan penuh hati-hati. "Owh...." Mala mengangguk pelan dengan masih menetapkan senyum di wajahnya, "Nggak apa-apa sih, Bik... Toh kan, itu bagus... Sekalian nambah pemandangan juga." Mala tetap tersenyum menatap Bik Minah lalu menyeret senyumnya ke arah Nenek Tiara yang masih berdiri di luar pagar rumahnya. Melihat senyum itu, Nenek Tiara membalas senyum Mala. "Kalau gitu, saya bilangin ke Nenek Tiara dulu, Non." Bik Minah pamit lalu berbalik dan mendatangi Nenek Tiara. Mala kembali melihat Bik Minah mengobrol dengan Nenek Tiara. Tampaknya Bik Minah menyampaikan amanat dari Mala yang mengizinkan Nenek Tiara untuk menanam tanaman di luar pagar rumahnya. Mala melihat pergerakan sepasang bibir Nenek Tiara yang diyakininya mengucapkan kalimat 'Terima kasih'. Dan Mala pun mengangguk sembari melemparkan senyum tipis kepada Nenek Tiara. Tampak Nenek Tiara yang mulai berjalan menjauh dari depan pagar rumah bersamaan dengan Bik Minah yang kembali mendatangi Mala. "Kok Nenek Tiara-nya pulang sih, Bik?" tanya Mala. "Iya, Non... Katanya sih mau ngambil peralatan berkebun dulu di rumah," jawab Bik Minah. "Owh gitu...." Mala mengangguk pelan. "Ya udah, saya lanjut ke dapur ya, Non." Bik Minah izin pamit. Setelah Mala mengangguk mengiyakan, Bik Minah pun melangkah masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ruang dapur untuk melanjutkan pekerjaannya yang masih belum selesai. Mala tersenyum begitu tulus. Menghela nafasnya sejenak. "Oh iya, aku mau liat Clara dulu deh...." Mala berpaling dan masuk ke dalam rumahnya. Ketika tiba di ruang tengah, Mala mendapati bahwa Clara sudah duduk di depan televisi yang menayangkan acara kartun kesukaan Clara. Mala tersenyum tipis menatap Clara yang begitu tegang menatap televisi. Melihat wajah polos Clara yang tengah menatap televisi, dalam sekejap Mala kembali termenung. Dalam pandangannya tergambar jelas ketika Evant suaminya sedang menemani Clara menonton televisi. Sesekali Evant bercanda dengan Clara, membuat Clara begitu riang karena candaan dari ayahnya. Detik berikutnya, Mala segera membuyarkan lamunan, karena mengingat akan hal itu tak mungkin terjadi lagi. "Kayaknya kehangatan itu nggak bakal terjadi lagi di sini, di ruangan ini. Evant sekarang udah berubah, nggak peduli lagi sama kami. Nggak penting banyaknya uang yang dia kasih sama aku. Kehangatan itu nggak bisa dibeli dengan uang, berapapun banyaknya uang itu." Mala membatin. Tanpa sadar air matanya menetes, tapi langsung disapunya dengan tangan kanannya. Mala menghela nafas, menurunkan emosi yang tadi hampir pecah. Perlahan mengembalikan senyum di wajahnya sambil duduk pada sofa di ruang tengah, ikut menonton televisi bersama Clara. Sebentar duduk, tiba-tiba Mala teringat dengan smartphone miliknya yang ia tinggal di dalam kamar dengan kondisi sedang di-charge. Kekhawatiran tampak di wajahnya. "Duh! Gimana kalau Evant ngebuka ponselku?! Gimana nanti dia tau kalau aku lagi dekat sama seseorang?!" Mala bergumam cemas. Mala beranjak berdiri lalu berjalan sampai di depan pintu kamarnya. Tangan kanannya dengan sangat perlahan dan hati-hati membuka pintu kamar. Clara yang tadi menatap televisi langsung menoleh ke arah Mala, menyadari kalau ibunya berpindah posisi di depan pintu kamar. "Mamah..." panggil Clara ketika Mala belum membuka penuh pintu kamar. Mala terkejut dan sontak kembali merapatkan pintu kamar, tapi belum tertutup sempurna. Ditatapnya anak perempuannya itu sambil menempelkan ibujari tangan kanannya di depan bibirnya lalu berdesis, memberi isyarat agar Clara tidak berkata apapun. Clara beranjak berdiri mendatangi ibunya, "Memangnya kenapa, Mah?" bisik Clara bertanya dengan polos menatap Mala. "Dedek jangan berisik, ya. Soalnya Papah sekarang lagi tidur. Nanti kalau Papah bangun gimana? Kasian kan, Papahnya masih capek, Sayang," bisik Mala kepada anak perempuannya itu. "Owh...." Clara membulatkan mulutnya sembari mengangguk, lalu kembali ke depan televisi dan duduk menatap televisi yang menayangkan acara kartun kesukaannya. Mala memusut d**a sambil menghela nafas, lalu melanjutkan aksinya. Didorongnya pintu kamarnya dengan sangat pelan dan hati-hati. Kaki kanannya lebih dulu memasuki kamar dan disalip oleh kaki kirinya, berjalan jinjit masuk ke dalam kamar, menyisir tepi tempat tidur yang di atasnya terlihat suaminya yang masih tertidur. Mala dengan hati-hati mendatangi meja yang letaknya di sisi kiri atas tempat tidur di mana smartphone-nya yang masih di-charge tergeletak. Kedua tangannya saling bekerja-sama, meraih smartphone sambil melepaskan sambungan kabel yang tertancap di smartphone-nya. Tiba-tiba Evant berpaling ke samping kanan tepat menghadap ke arah di mana Mala berdiri, membuat Mala langsung gugup. Mala refleks mematung dan menahan nafas. Benar-benar diam agar tidak membuat suara walau sekecil apapun. Melirikkan matanya melihat Evant yang masih tidur dalam posisi miring menghadap ke arahnya, "Duh... Evant udah nyenyak apa belum sih?!" ucap Mala dalam hati. Setelah benar-benar yakin bahwa suaminya sudah tertidur nyenyak, Mala perlahan memutar tubuhnya ke arah pintu kamar, lalu berjalan pelan menuju jalan keluar satu-satunya di kamarnya. Mala sekarang sudah berhasil tiba di depan pintu kamarnya. Ia berpaling lagi menatap ke arah dalam kamarnya. Tangan kanannya dengan pelan meraih gagang pintu kamar, perlahan menarik pintu itu sampai kembali tertutup. "Huuh...." Mala bernafas lega. Ia berhasil mengambil smartphone miliknya dari dalam kamar tanpa mengganggu tidur Evant. Mala sedikit lama menekan sebuah tombol kecil di sisi kiri smartphone-nya. Layar smartphone menyala pun menyala. Ia menunggu sejenak sampai logo awal pada layar smartphone-nya menghilang. Hampir setengah menit berlalu, smartphone milik Mala akhirnya sudah bisa digunakan. Mala mengutak-atik smartphone-nya. Senyuman tipis terlihat dan sesekali dia tertawa pelan ketika menatap layar smartphone-nya. Membaca pesan dari beberapa teman-teman grup yang terbilang penuh dengan candaan. Ia juga ikut berbaur dengan teman-teman grup dalam aplikasi hijau yang ter-install pada smartphone-nya. Sesekali tawanya terdengar. Kedua matanya terpaku pada layar smartphone. Delapan jari tangannya saling berkait menopang smartphone ketika kedua ibujari tangannya terus beradu dengan keyboard virtual pada layar smartphone-nya. Mala begitu terlarut dalam kesenangan. Karena terlalu lama menunduk, ia merasakan batang lehernya yang mulai penat. Mala memalingkan wajahnya ke kanan dan kiri, ke bawah, lalu menengadah ke atas menatap langit-langit di ruang tengah yang terkesan mewah dengan hiasan gypsum berukir bak bunga. Setelah merasa penat pada batang lehernya berkurang, ia kembali menatap layar smartphone, dan tak sengaja melihat jam besar yang menempel pada dinding dengan jarak sekitar satu meter di atas televisi yang tengah ditonton Clara. Jam dinding itu menunjukkan pukul setengah duabelas siang. "Astaga! Udah siang!" Kedua mata Mala membulat. Diletakkannya smartphone ke atas meja kemudian segera beranjak dari sofa dan bergegas melangkah masuk ke dalam kamar. Melihat Evant yang masih tertidur begitu nyenyak membuatnya ragu untuk membangunkan Evant. Tapi, dia ingat dengan janjinya yang memastikan akan membangunkan suaminya ketika sudah siang. Kedua kakinya melangkah mendekati tempat tidur. Mengangkat kaki kanannya bertopang di atas tempat tidur dengan lutut dan kaki kirinya menjuntai di samping tempat tidur. Kedua tangannya menarik dan mendorong badan Evant terus menerus, "Pah! Bangun, Pah! Udah siang nih!" "Hmm." Badan Evant menggeliat bersamaan dengan kedua matanya yang perlahan mulai terbuka, dan istrinya berhenti merarik dan mendorong badannya. Pandangan Evant masih buram, tapi perlahan terlihat jelas wajah Mala istrinya. Orang pertama yang dia lihat setelah terbangun dari tidurnya. "Pah! Bangun! Udah jam setengah duabelas, Pah!" ucap Mala sedikit nyaring. "Hah!" Evant langsung beranjak bangun dan duduk. Kedua tangannya mengucak mata yang masih terasa berat dan perih. "Udah siang, Pah! Jam setengah duabelas!" ucap Mala kembali mengingatkan. "Owh, iya!" Evant langsung turun dari tempat tidur kemudian membuka lemari pakaian. Dari dalam lemari, diambilnya selembar jas berwarna abu-abu, selembar kemeja putih, dan tak lupa dengan celana hitamnya. Kemudian segera mengenakan semua pakaian itu. Mala heran menatap suaminya yang begitu tergesa-gesa, "Pah... Apa sebaiknya Papah mandi dulu?" tanya Mala. "Udah nggak sempet, Mah," jawab Evant sambil mengambil tas kantornya yang tergeletak di dekat pintu kamar, kemudian berdiri di depan istrinya yang tersenyum tipis menatapnya, "Aku berangkat, ya Mah." Mala mencoba meraih tangan kanan Evant, tapi sepertinya Evant tidak melihatnya. Evant melangkah ke luar kamar lebih dulu. Mala mengiringinya dari belakang. Sepasang suami-istri itu kini berhenti tepat di teras rumah. Sedangkan Clara tidak menyadari kalau ayahnya hendak berangkat kerja lagi. "Oh iya, Pah. Hampir aja aku lupa," ucap Mala menatap suaminya. "Lupa apa, Mah?" tanya Evant yang sedang memasang sepatu hitam di kedua kakinya. "Anu... Stok air minum di rumah udah mau habis, Pah. Sisa satu galon," jawab Mala, "Papah kasih tau sama orang yang biasa ngantar galon ke sini, ya Pah," pinta Mala sambil menetapkan pandangannya pada Evant yang tengah siap untuk berangkat. Evant menganggukkan kepalanya, "Iya, Mah." Diambilnya smartphone dari dalam kantong sebelah kanan celananya, lalu mengutak-atik smartphone itu sebentar, "Aku udah bilang sama orang yang biasa ngantar galon ke sini, Mah. Udah aku bayar juga. Jadi, kalau nanti dia masih minta uang, jangan dikasih." Mala mengangguk pelan sambil tetap tersenyum tipis menatap suaminya. "Ya udah, aku berangkat, ya Mah." Evant langsung melangkah menuju mobil berwarna hitam yang terparkir di halaman depan rumah. Mala langsung masuk ke dalam rumah dan tak lupa menutup pintu depan rumahnya setelah melihat mobil yang dikendarai suaminya sudah menjauh. Ia kembali duduk pada sofa di ruang tengah dan kembali melihat Clara yang masih terpaku pada layar televisi. Tangan kanannya meraih smartphone yang tergeletak di atas meja, kemudian melanjutkan aktivitasnya, yakni chatting dengan teman-teman grup di aplikasi hijau yang ada pada smartphone-nya. Beberapa menit berlalu, satu per satu anggota grup mulai melanjutkan urusannya di dunia nyata, membuat Mala mulai bosan karena rasa sepi kembali menyelimuti hati dan pikirannya. Mala menarik nafas lalu menghembuskannya dengan raut wajah mengeluh, "Ngapain ya, biar nggak bosan?!" Mala termenung sambil ikut menonton televisi. Di layar televisi, Mala melihat iklan seseorang menyanyikan lagu plesetan. "Nah! Aku ada ide!" Mala langsung tersenyum. Ia beranjak berdiri lalu mendatangi Clara yang tengah duduk di depan televisi, "Sayang...." Clara menoleh menatap ibunya, "Iya, Mah?" "Clara di sini aja, ya... Nonton televisi," pinta Mala. "Emangnya Mamah mau ke mana?" tanya Clara dengan polosnya. "Mamah mau ke kamar dulu... Clara jangan berisik, ya." Clara mengangguk patuh, kemudian kembali menatap televisi. Mala menoleh ke arah ruang dapur, "Bik!" seru Mala. "Iya, Non." Terdengar samar suara seru bik Minah dari arah dalam ruang dapur. "Aku mau ke kamar dulu, ya Bik! Tolong sebentar jagain Clara!" seru Mala lagi. "Baik, Non...." Bik Minah bergegas keluar dari ruang dapur dan mendatangi Mala di ruang tengah. "Nanti, pas saya udah di dalam kamar, Bibik jangan berisik, ya," pinta Mala, "Soalnya saya mau bikin video nyanyi," sambung Mala memberitahu, "Oh iya, nanti kalau suami Bibik sama Julliant udah dateng, suruh aja suami Bibik buat makan sama minum dulu. Kasian kan, capek di jalan, Bik." "Baik, Non." Bik Minah hanya mengangguk mengiyakan. "Ya udah, aku masuk dulu ya, Bik." Mala melangkah masuk ke dalam kamarnya. Dua jam berlalu. Di dalam kamarnya, Mala sudah selesai membuat delapan video yang sekarang sedang diunggahnya pada aplikasi hijau di smartphone-nya. Satu per satu video menyanyi yang tadi diunggahnya diputarnya kembali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN