Di dalam ruang dapur, Mala sedang berdiri di depan dispenser menunggu air panas di dalam gelas yang dipegangnya terisi penuh.
Mala menggerakkan tangan kirinya menyentuh tengkuk lehernya yang terasa ada yang menempel berat seperti ditekan, sambil tangan kanannya memegang gelas yang masih diisi air panas dari dispenser. Semakin lama, ia merasa beban pada tengkuk lehernya semakin bertambah. Ditengadahkannya kepalanya ke atas, lalu dimiringkan ke kanan dan kiri, meregangkan sendi lehernya yang terasa sedikit penat dan kaku.
"Aw!" Mala menjerit dan melepaskan genggaman tangannya pada gelas karena tidak menyadari bahwa air panas dalam gelas yang dipegangnya meluap karena terlalu penuh. Air panas mengguyur di tangan kanannya, "Sssttt...." Mala mendesis menahan panas dan perih yang dirasakan tangan kanannya.
Mala bergegas masuk ke dalam kamar kecil dan mengambil sebuah handuk. Diusapkannya handuk itu pada tangan kanannya dengan perlahan.
"Kenapa sih, Evant pake acara pulang segala!" Mala mendengus kesal menyalahkan kedatangan suaminya yang tak lagi ia harapkan. Benar, ia sudah mulai membiasakan diri tanpa keberadaan suaminya di sisinya, membuat rasa rindu akan kehadiran suaminya perlahan memudar. Itu bukan semata kesalahannya sendiri, sehingga membuatnya benci kepada suaminya. Suaminya pun juga sama salahnya.
'Kenapa sih, Evant datang pas aku udah nggak ngarapin dia lagi?!'
Mala mendengus kesal. Mungkin ia kesal karena tangannya yang cedera diakibatkan dari air panas, sehingga ia menyalahkan Evant.
Tiba-tiba Mala merasakan angin lembut berhembus yang datang entah darimana dan menyentuh ke sekujur tubuhnya. Seketika ia menarik nafas dengan cepat dan dalam. Anehnya, raut wajah Mala yang tadinya kesal seketika berubah menjadi tersenyum.
Diletakkannya lagi handuk ke dalam kamar mandi yang berada di dalam ruang dapur itu. Kemudian mengambil gelas berisi air panas dari dispenser dan meletakkannya ke atas meja makan.
Di atas meja makan, telah tersusun beberapa piring plastik berukuran kecil yang bertumpuk, beberapa lembar roti tawar di atas sebuah piring kaca yang ukurannya lebih besar, dan di samping piring kaca terdapat sebuah toples kaca berukuran kecil berisi selai coklat.
Mala meraih sebuah piring plastik, lalu meletakkan selembar roti tawar di atas piring plastik itu. Tangan kanannya meraih sebilah sendok yang kemudian digunakannya untuk mengambil selai coklat dari dalam toples kaca dan diolesinya di atas roti tawar, tak lupa diambilnya lagi selembar roti tawar dan meletakkannya tepat di atas roti tawar yang sudah dibaluri selai coklat.
Sebentar Mala tersenyum tipis menatap roti isi coklat di depannya. Ia berpaling dan melangkah menuju lemari dapur yang berada bersebelahan dengan kulkas. Dibukanya lemari itu, lalu mengambil dua toples kaca berukuran sedang. Satu toples berisi bubuk kopi hitam, dan yang satunya lagi berisi gula pasir. Dibawanya dua toples itu dan meletakkannya di atas meja makan, di samping kanan dan kiri gelas berisi air panas. Diraihnya lagi sebilah sendok dan langsung mengambil tiga sendok bubuk kopi hitam, dan ditambahkannya dengan empat sendok gula pasir. Diputarnya sendok di dalam gelas sampai bubuk kopi bercampur merata dengan gula dan air panas. Hidungnya menghirup aroma khas dari kopi hitam.
"Mala...."
Kedua telinga Mala mendengar suara serak seorang perempuan berbisik memanggil namanya. Suara itu berasal dari arah depan ruang dapur. Dengan segera Mala menoleh ke arah asal suara bisikan itu, tapi ia tidak melihat seorangpun berdiri di sana.
Dengan perasaan was-was, Mala kembali menoleh ke depan dan berniat kembali mengaduk kopi, tapi tiba-tiba air kopi di dalam gelas menghilang dengan ajaib. Keadaan gelas seketika kering kerontang.
"Loh, kopinya ke mana?!" Mala menatap tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Air kopi di dalam gelas tiba-tiba menghilang. Ia berpikir keras mencari logika yang bisa diterima akal sehatnya. Menengok bagian bawah gelas yang dipikirnya mungkin gelas itu berlubang. Tapi, ia tak menemukan satupun lubang kecil di bagian bawah gelas. Memikirkan logika yang terjadi, jika gelas yang digunakannya itu dalam keadaan bocor, maka noda bekas kopi pasti akan tertinggal di atas meja makan. Tapi, kenyataan yang dilihatnya tak sesuai dengan logika yang dipikirkannya, setelah melihat bagian permukaan meja makan yang masih terlihat begitu bersih tanpa sedikitpun noda dari air kopi.
"Aneh banget sih?!" Mala bergumam lirih sambil mengerutkan kedua keningnya.
Mala kembali membawa gelas itu ke dispenser dan mengisinya lagi dengan air panas. Kali ini Mala lebih hati-hati agar air di gelas tak meluap. Setelah dirasa cukup, ia kembali membawa gelas berisi air panas ke atas meja dan kembali membuatkan kopi yang nantinya akan dia suguhkan kepada suaminya.
Dengan kedua keningnya yang masih berkerut, ia tak mengalihkan tatapannya pada gelas berisi kopi. Dibawanya segelas kopi itu bersama dengan sebuah piring plastik yang di atasnya sudah tersedia roti lapis berisi selai coklat menuju ruang tengah di mana Evant suaminya menunggu.
"Loh! Kok tidur sih?!" Mala mengerutkan kedua keningnya mengeluh menatap suaminya yang telah pulas tertidur. Ia leletakkan segelas kopi panas bersamaan dengan sebuah piring kecil berisi roti lapis coklat ke atas meja di depan sofa, kemudian perlahan duduk di sebelah kiri suaminya. Badannya menghadap ke arah suaminya yang masih tertidur dalam posisi duduk. Wajahnya menatap wajah Evant yang tampak lelah.
"Kasian Evant... Kayaknya dia kerja keras banget sampai-sampai kecapekan." Telapak tangan kanan Mala mengusap lembut puncak kepala suaminya. Jari telunjuk tangan kanannya dengan lembut berjalan dari tengah dahi dan berhenti di ujung hidung Evant.
Merasakan sentuhan lembut di wajahnya, Evant langsung terbangun dan menatap wajah Mala yang sangat dekat dengan wajahnya.
Kedua pasang itu mata saling tatap. Jari telunjuk Mala masih menempel di ujung hidung Evant.
"Bangun, bangun!" Dengan cepat Mala menggerakkan tangan kanannya mencubit hidung Evant dengan gemas dan menariknya ke kanan dan kiri.
"Aduh, aduh...." Evant menjerit merasakan hidungnya yang ditarik ke kanan dan kiri.
Mala tertawa puas karena berhasil mengusili suaminya.
Sementara itu, Evant tertegun menatap istrinya yang masih tertawa. Ia mengerutkan kedua keningnya, memperhatikan gerak-gerik istrinya.
"Mah, kamu sakit?!" Evant menempelkan punggung tangan kanannya di dahi Mala.
"Hah, nggak kok, Pah..." Mala menggeleng sambil menyimpul senyum menatap Evant.
"Tapi, wajah kamu itu pucat banget, Mah." Evant menggunakan jari telunjuk dan ibu jari tangan kanannya memegang dagu istrinya, lalu menolehkan kepala istrinya ke kanan dan ke kiri, memastikan bahwa wajah istrinya benar-benar terlihat pucat.
"Pah, bukannya Papah bilang kemarin kalau Papah ada rapat, juga bilang masih banyak urusan di perusahaan?! Kok, Papah bisa pulang sekarang sih?!" tanya Mala tersenyum. Ia mengalihkan pembicaraan.
"Sebenarnya ada berkas yang ketinggalan di rumah, makanya aku pulang, Mah," jawab Evant tersenyum tipis menatap istrinya.
Senyum di wajah Mala perlahan memudar, dan menyisakan tatapan dingin menatap wajah Evant, tapi disembunyikannya tatapan dingin itu dengan menundukkan kepalanya. Mendengar jawaban yang sebenarnya tidak diharapkan, membuatnya berpikir bahwa suaminya masih memprioritaskan perusahaan dibanding istri dan anak-anak. Di sisi lain, Mala merasa lega setelah tahu bahwa suaminya tidak akan mungkin mau berlama-lama tinggal di rumah karena tujuan suaminya pulang ke rumah hanya untuk mengambil berkas yang tertinggal. Memikirkan itu, Mala kembali mengukir senyum lalu mengangkat wajahnya dan kembali menatap wajah suaminya.
"Terus, kapan Papah berangkat lagi?" tanya Mala.
"Siang ini, Mah." Evant mengulurkan tangan kirinya meraih gelas berisi kopi yang sudah mulai hangat. Diseruputnya kopi itu perlahan lalu tangan kanannya mengambil roti lapis isi coklat dan langsung melahapnya habis.
"Ya udah, abis sarapan, Papah ke kamar aja, tidur... Daripada nanti ketiduran di sini lagi," ucap Mala beranjak berdiri, "Nanti, kalau udah siang, aku pasti bangunin Papah."
"Mamah mau ke mana?" Evant mengerutkan kedua keningnya sambil meletakkan kembali gelas berisi kopi yang tersisa setengah ke atas meja.
"Aku mau ke depan, nyamperin bik Minah, Pah." Mala langsung melangkah menuju ke depan rumah meninggalkan Evant sendirian di ruang tengah.
Mala tampak tersenyum senang di sepanjang berjalan melewati ruang tamu lalu berdiri di depan pintu rumahnya melihat Bik Minah yang telah selesai menjemur semua pakaian di halaman depan rumah.