Bab 44: Masih Jadi Rahasia

1911 Kata
Seberkas cahaya matahari menyinari ruang kamar, masuk melalui celah tilai yang tersingkap menggantung di jendela kamar. Sebentar Mala merapatkan kedua matanya yang masih terpejam, merasakan hangatnya cahaya matahari yang menyentuh wajahnya dan menyilaukan matanya. Mala perlahan membuka kedua matanya, tapi tetap sipit untuk menahan silaunya cahaya menerpa penglihatannya. Nafasnya dia tarik bersamaan dengan membuka mulutnya yang perlahan melebar, dan dengan bersamaan pula Ia menutup mulutnya memakai telapak tangan kanannya. "Hoamh." Mala membentangkan kedua lengannya dengan posisi telapak tangan mengepal bersamaan dengan badannya yang menggeliat. Lalu merasakan tangan kirinya tak sengaja menyentuh sebuah benda persegi panjang dan tipis. Dia sadar kalau benda itu adalah smartphone miliknya. Smartphone yang tergeletak ketika ia tertidur ditemani Andrew yang menelponnya tadi malam. Mala menyimpul senyum sambil meraih smartphone, lalu menghadapkan layar smartphone kewajahnya sehingga kelihatan wajahnya dari pantulan kaca layar smartphone bak sebuah cermin. Ia melihat wajahnya yang tersenyum, kemudian langsung teringat jelas tentang apa yang dia bicarakan melalui telepon bersama Andrew tadi malam sehingga membuat wajahnya merah merona. Namun, tiba-tiba Mala mengerutkan kedua keningnya. Mengingat sesuatu yang sebenarnya ingin dia tanyakan kepada Andrew, yaitu tentang kejadian tadi malam ketika di parkiran Mall. Mala dengan sigap menekan satu tombol di sisi kanan smartphone, layar smartphone pun menyala, dan bayangan wajahnya menghilang. Mala menggerakkan ibu jari tangan kanannya mengusap layar smartphone, menggambar sebuah pola rumit yang saling terhubung pada sembilan bulatan kecil pada layar smartphone-nya. Dan kunci layar terbuka. Ibu jari kirinya mengetuk layar smartphone tepat pada sebuah gambar persegi berwarna hijau dengan nama dari aplikasinya yang berwarna putih, logo khas dari aplikasi yang membuatnya kenal dengan Andrew. Mala membuka panel pesan Andrew. Kedua ibu jarinya beradu dengan keyboard virtual pada layar smartphone—mengetik pesan: 'Drew, aku sudah ingat apa yang pengen aku tanyain sama kamu tadi malam.' Namun, sebelum Mala sempat menekan tombol untuk mengirim pesan, tiba-tiba terdengar bunyi peringatan yang menandakan bahwa smartphone-nya kehabisan baterai. "Yaaah..." keluh Mala lirih, "Aku lupa nge-charge hp tadi malam. Hadeh..." Mala menepuk dahinya sambil menghela nafas. Sejenak ia menetapkan posisi tubuhnya untuk tetap terlentang di atas tempat tidur, lalu perlahan berbalik ke arah kanan sambil menggeser tubuhnya sampai ke tepi kanan tempat tidur. Sambil beranjak bangun, kedua kakinya turun bergantian dan mendarat tepat di atas sepasang sandal berbulu lembut. Kemudian ia berdiri dan langsung berjalan ke arah meja rias mengambil alat charge, lalu berjalan lagi menuju sebuah meja yang letaknya di sebelah kiri atas tempat tidur. Dihubungkannya ujung kabel ke smartphone setelah mencolok adapter ke lubang listrik yang berjarak sepuluh inci di atas meja. Mala berdiri di dekat meja sambil kepalanya menoleh ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan tepat pukul delapan pagi. "Hah! Udah jam delapan!" Kedua mata Mala membulat, lalu menuju pintu kamar dan membukanya dengan tergesa-gesa. Kedua kakinya melangkah cepat menuju kamar anak laki-lakinya, yaitu Julliant. Mala memegang gagang pintu kamar Julliant. Ia bersiap memutar gagang pintu dan mendorongnya. "Mah." Mala mendengar sapaan lembut dari arah belakang, suara yang tak asing di telinganya. Kedua matanya membulat, karena terkejut mendengar suara khas dari Evant yang menyapanya. Mala perlahan membalik badan ke belakang. Dan benar, dia mendapati posisi tubuhnya yang langsing saling berhadapan dengan Evant. Matanya dan mata Evant saling tatap. Wajahnya memucat ketika tahu bahwa suaminya sudah pulang tanpa memberitahunya lebih dulu. Bukan tanpa alasan wajah Mala menjadi pucat. "Astaga! Apa Evant sudah lama sampai di rumah?! Apa dia udah buka hp aku?! Bodohnya aku! Gimana kalau Evant sampai tau kalau aku chatting ... apalagi telponan sama Andrew?!" bisik Mala dalam hati dengan wajahnya yang sedikit cemas. "Pah...." Mala tertegun menatap wajah Evant, "Pa-papah kapan pulangnya?!" tanya Mala gugup langsung berpaling menghindar dari hadapan Evant dan melangkah ke arah sofa di ruang tengah. Ia merasa suaminya mengiringinya dari belakang. "Baru aja, Mah. Tadi barengan pas Julliant berangkat sekolah." Evant menjawab lembut bersamaan dengan istrinya yang duduk pada sofa. Ia pun ikut duduk tepat di samping kanan istrinya. "Kok nggak ngasih kabar sih?! Berubah banget!" Mala ketus berkata, berpura-pura kesal sambil memalingkan wajahnya ke kiri menatap jalan yang menuju ruang dapur. Sebenarnya dia masih enggan melihat wajah Evant. Ia menyembunyikan wajahnya yang masih terlihat cemas, cemas jika suaminya tahu kalau dia chatting atau telponan dengan lelaki lain, dan lelaki itu ialah Andrew. "Sebelum nyampe rumah, aku telpon Mamah terus, kok. Tapi, Mamahnya aja yang nggak ngangkat telpon. Aku udah telpon Mamah puluhan kali sampai nomer telpon Mamah nggak aktif," jawab Evant menjelaskan, "Pas nyampe rumah, terus masuk kamar, aku liat Mamah masih tidur. Aku sengaja nggak bangunin Mamah, soalnya Mamah tidurnya pulas banget. Aku nggak tega bangunin Mamah." Evant lebih detail menjelaskan. Mala menghela nafas pelan membuang perasaan cemas yang tadi sempat menyelimuti hati dan pikirannya. Ada perasaan lega yang dia rasakan, "Huh... Untung aja hp-nya abis baterai. Aku nyangkanya kalau Evant udah tau," bisiknya dalam hati. Kemudian dengan wajah santai Mala berpaling ke kanan menatap suaminya yang duduk di sebelahnya, "Terus, yang bukain pintu buat pak Sugeng sama bik Minah, siapa?" Evant mengangkat kedua bahunya sambil menggelengkan kepalanya, "Aku nggak tau, Mah. Kan, aku baru aja pulang." Bik Minah membawa sekeranjang pakaian yang masih sedikit basah melintas di depan Mala dan Evant yang duduk pada sofa di ruang tengah. "Bik," panggil Mala menatap Bik Minah. "Iya, Non?" Bik Minah segera berhenti, mengangguk sebentar menatap Mala. "Anu Bik, tadi pagi yang bukain Bik Minah pintu, siapa?" tanya Mala dengan simpul senyum yang sopan menatap Bik Minah. "Masa, Non Mala lupa sih?!" Bik Minah menatap heran ke arah Mala, "Bukannya tadi pagi, Non Mala sendiri yang bukain saya pintu, tapi kalau suami saya ..." Bik Minah mengangkat bahu dan menggelengkan kepala, "... saya nggak tau, Non. Kan, saya datangnya nggak barengan." Mala pun sama merasa heran karena mengingat kalau dirinya saja baru bangun dari tidur, bagaimana bisa dia membukakan pintu untuk Bik Minah. Raut bingung tampak jelas di wajah Mala. "Loh, saya aja baru bangun, Bik." Mala mengerutkan kedua keningnya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Bibik salah liat kali... Mungkin tadi pagi, Sisy yang bukain Bibik pintu, terus Bibik mengira kalau Sisy itu saya." "Emm...." Bik Minah menopang dagunya dengan jari telunjuk kanan. Kedua bola matanya melirik ke kanan atas. Mulai berpikir, mencoba mengingat-ingat lagi ketika tadi pagi ia datang dan disambut oleh wanita yang dilihatnya adalah benar-benar majikannya, "Apa mungkin non Mala ngigo kali, ya?!" batin Bik Minah kemudian menggerakkan kedua bola matanya melirik ke kiri atas, "Emm... Iya-in aja deh." Bik Minah mengangguk pelan lalu menatap wajah wanita yang merupakan majikannya, "Mungkin sih, Non... Maklum saya udah tua, jadi mata juga udah mulai rabun, Non," ucap Bik Minah tersenyum dan cengingisan. "Sy....!" seru Mala berteriak sedikit nyaring sambil mengarahkan wajahnya tepat pada pintu kamar tamu. Tak ada jawaban dari Sisy. Mala menatap Bik Minah yang masih berdiri di depannya, "Bik, Sisy ada di dapur nggak?" tanya Mala. "Nggak ada, Non." Bik Minah menggeleng. "Mungkin Sisy udah balik ke rumah ibu, Mah, barengan pas bukain pintu buat pak Sugeng," ucap Evant mengutarakan pendapatnya. "Iya, Non... Kayaknya Non Sisy udah pulang." Bik Minah membenarkan pendapat Evant. Mala mengangguk pelan sambil mencerna pendapat yang dikatakan suaminya dan diyakinkan dengan pembenaran dari Bik Minah. Di sisi lain, rasa khawatir dalam hatinya sirna karena ia merasakan tenang dan begitu yakin bahwa Evant tidak tahu sesuatu tentang dirinya, tentang hal yang disembunyikan lebih tepatnya. "Ya udah, saya izin mau jemur pakaian dulu, Non... Tuan..." Bik Minah dengan sopan menatap kedua majikannya bergantian. "Iya, Bik... Maaf, ya Bik kalau udah gangguin kerjaan Bibik." Mala merasa tidak enak hati karena sempat tidak percaya kepada Bik Minah. "Iya... Enggak apa-apa, Non..." Bik Minah mengangguk pelan menatap kedua majikannya, kemudian lanjut melangkah membawa sekeranjang pakaian melintasi ruang tamu dan langsung ke luar rumah untuk menjemur pakaian. Evant menyandarkan badannya pada sofa, wajahnya menengadah ke atas menatap langit-langit rumah yang dihiasi gypsum dengan ukiran yang indah. Ia menghela nafas pelan. Kedua matanya hampir saja terpejam. "Kamu udah sarapan?" Mala tersenyum tipis menatap Evant. Evant mengangkat kepalanya dan langsung menatap Mala, kemudian menggeleng, "Belum, Mah," jawabnya sambil tersenyum dan tertawa pelan. "Ya udah, kita sarapan yuk," ajak Mala sambil beranjak berdiri, Evant pun ikut berdiri, "Udah... Papah tungguin di sini aja. Biar nanti aku yang bawain sarapannya ke sini," ucap Mala lembut sambil memegang kedua pundak Evant menggunakan kedua tangannya kemudian menekannya agar suaminya kembali ke posisi duduk, "Tapi, sebelum bikinin sarapan, aku mau nge-cek ke kamar Clara dulu, ya Pah." Evant mengangguk dengan sepasang bibirnya yang terkatup rapat. Tatapannya mengiringi istrinya yang melangkah mendatangi kamar anak perempuannya. Mala membuka pintu kamar Clara dan mendapati bahwa anak perempuannya itu sudah bangun dari tidur, bahkan sudah mengenakan pakaian bersih, dan terlihat sedang duduk di atas tempat tidur sambil menyantap camilan. "Mamah..." sapa Clara dengan lembut menatap wajah ibunya yang tertegun di depan kamarnya. "Itu, camilannya siapa yang bikin, Sayang?" tanya Mala tersenyum lembut. "Tadi Bibik yang ngasih, Mah," jawab Clara polos. Mala mengangguk pelan, "Dedek nggak mau ke luar kamar? Itu Papah ada loh...." "Nanti aja, Mah...." Clara mengangkat bahunya, "Kalau Dedek ke luar kamar, bisa-bisa camilan Dedek nanti diembat sama Papah, hihi." Clara berkata dengan ekspresi wajahnya yang tersenyum lucu dan tetap mempertahankan kepolosannya. Mala tak mampu menahan rasa gemas melihat tingkah anak perempuannya itu. Kedua kakinya langsung melangkah masuk lalu duduk bersila di atas tempat tidur dengan posisi berhadapan dengan Clara. "Dedek udah mandi?" tanya Mala sambil mencubit kedua pipi tembem anak perempuannya itu. "Udah, Mah... Tadi, Bibik yang mandiin," jawab Clara polos mengangguk. "Ya udah... Kalau gitu, Mamah mau bikinin sarapan buat Papah kamu dulu, ya...." Mala mengusap rambut Clara, lalu turun dari tempat tidur dan berjalan ke depan kamar. Ditutupnya lagi pintu kamar anak perempuannya itu, kemudian berjalan menuju ruang dapur melintas di hadapan Evant yang terus tersenyum menatapnya sambil duduk pada sofa. Mala melintas sambil balas tersenyum menatap Evant, dan Evant pun beranjak berdiri dan berniat mengiringi istrinya. "Eits!" Mala mengarahkan jari telunjuk tangan kirinya menunjuk ke badan Evant, kemudian telunjuk itu mengarah pada sofa memberi isyarat perintah agar Evant kembali duduk. Evant pun hanya duduk pasrah sambil tersenyum tipis menoleh ke arah kiri melihat istrinya dari belakang yang terus melangkah menuju ruang dapur. Ia memerhatikan penampilan istrinya yang begitu berbeda dari biasanya. Merasa tak lagi kenal dengan istrinya yang biasanya dulu selalu berpakaian rapi dan tertutup, tapi tetap tampak anggun. Sedangkan sekarang, ia melihat penampilan istrinya yang sedikit terbuka dan cukup mencolok. Sejenak ia teringat dengan sosok seorang wanita yang juga memiliki gaya berpakaian sama seperti pakaian yang dikenakan istrinya, wanita itu tidak lain adalah Kamelia, kekasih gelap Ari rekan kerjanya. Evant tetap mengunci pandanganya sampai ia melihat istrinya yang tiba di depan ruang dapur dan menoleh sebentar menatap ke arahnya. Tatapan itu penuh arti, begitu menggoda dan mengundang hasrat, sangat berbeda dengan tatapan yang biasa ia temukan di wajah istrinya. Evant mengerutkan kedua keningnya merasakan tatapan yang begitu akrab, bukan tatapan yang biasa dilihatnya pada wajah istrinya, melainkan tatapan dari wanita yang merupakan kekasih gelap Ari rekan kerjanya. Evant tenggelam dalam bayangan yang tergambar dalam pandangannya. Tapi, setelah melihat istrinya berpaling dan sudah memasuki ruang dapur, lamunan itu langsung sirna. Ia merasakan hatinya berkecamuk, antara penasaran dan bingung ketika mengingat perubahan penampilan dan sikap istrinya yang terbilang drastis. Evant kembali menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa yang empuk. Kepalanya menengadah ke atas menatap langit-langit ruang tengah yang berhiaskan gypsum dengan ukiran terkesan mewah. Kedua matanya dirasa sedikit berat, mungkin karena kelelahan. Dari arah pintu depan rumah yang dibiarkan terbuka, menghembuskan angin lembut yang membuai dan menyentuh tubuhnya. Begitu nyamannya, sampai membuatnya tak tahan dan akhirnya terlelap dengan posisi duduk pada sofa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN