Bab 43: Cukup! Aku sudah bahagia

2388 Kata
Di dalam kamar tamu, Sisy sedang merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, wajahnya tampak gelisah. Ia masih berusaha mencerna kejadian janggal yang tadi dialaminya, yaitu melihat Mala kakaknya yang ada dua ketika di depan ruang dapur. Rasa takut menyelimuti hatinya. Diambilnya selimut yang masih terlipat, lalu dengan cepat menggelar selimut itu untuk menutupi seluruh tubuhnya dari kaki hingga ujung kepala. Sementara di luar kamar tamu, Mala duduk sendirian pada sofa ruang tamu sambil mengutak-atik smartphone-nya. Diletakkannya smartphone di atas meja. Kepalanya menoleh ke kanan tepat ke ruang dapur, "Tadi kan, kata Sisy, dia udah bikinin aku kopi?! Apa kopinya Sisy tinggal di dapur, ya?!" gumam Mala, "Aku liat deh." Mala beranjak berdiri. Kaki kanannya lebih dulu melangkah bergeser ke kanan di celah antara sofa dan meja, lalu berjalan melewati ruang tengah menuju ruang dapur. "Nah, itu dia kopinya." Mala melihat segelas kopi di atas meja makan. Diambilnya kopi itu, lalu kembali lagi ke ruang tamu dan kembali mengutak-atik smartphone-nya. Kedua ibu jarinya beradu dengan keyboard virtual pada layar smartphone—mengetik pesan kepada Andrew. "Drew, kamu udah pulang?" tulis Mala, lalu dikirimnya pesan ini kepada Andrew. Beberapa menit berlalu, tapi Mala tak kunjung menerima pesan balasan dari Andrew. Mala kembali mengetik pesan yang akan dikirimkan kepada Andrew. "Drew, ada yang pengen aku tanyain nih." Sambil menunggu pesan balasan dari Andrew, Mala lanjut chatting dengan teman-teman grup dalam aplikasi hijau di smartphone-nya. Awalnya Mala merasa senang karena masih ditemani teman-teman di grup chat-nya. Tapi, selang beberapa menit satu per satu teman-teman di grup mulai tidur sehingga membuat Mala kembali merasa sepi. Ibu jari tangan kanannya mengusap dan mengetuk layar smartphone. Tampak ia kembali memeriksa panel pesan dari Andrew dengan harapan menerima pesan balasan. "Duuh! Kok Andrew masih belum aktif, ya?!" gumam Mala mendengus kesal, "Padahal aku mau mastiin apa yang di parkiran Mall tadi bener-bener dia apa bukan!" Mala menekan tombol bergambar segitiga pada bagian kiri bawah layar smartphone. Lalu membuka aplikasi pemutar musik. Diusapkannya ibu jari kanannya ke arah atas, menggeser daftar lagu pada layar smartphone. "Nggak ada lagu yang cocok buat ngegambarin hati aku sekarang. Huh!" Mala kembali mendengus. Tidak sengaja ia melihat pintu depan rumahnya yang masih dalam posisi tidak tertutup. Ia meletakkan smartphone di atas meja, lalu beranjak berdiri, berjalan ke arah pintu depan, dan langsung menutup pintu itu. Wajah Mala terlihat tidak bersemangat ketika hendak kembali menuju sofa. Kepalanya menoleh ke arah kiri menatap pintu kamar tamu di mana Sisy yang ia kira sudah tidur, "Mana Sisy udah tidur, lagi!" Mala menghela nafasnya. Tidak jadi duduk di sofa, ia malah berjalan menuju ruang tengah. Ketika tiba di ruang tengah, tubuhnya terhenti. Pandangannya langsung menyebar ke seisi ruang tengah. Ia melihat bayangan masa lalu ketika suaminya tidak bersikap seperti sekarang, saat Evant menemani Clara bermain boneka, saat Evant dan Julliant saling merebutkan satu remote tv. Dalam pandangannya, Mala merasakan suasana yang begitu hangat. Wajahnya tampak tersenyum dengan sendirinya mengingat kenangan yang menjadi bayangan di dalam ruang tengah, yaitu ruangan yang biasa digunakan berkumpul bersama suami dan kedua anaknya. Tiba-tiba raut wajah Mala kembali murung. Ia sadar bahwa yang dilihatnya hanyalah lembaran kenangan. Mengingat sikap suaminya sekarang yang sudah kurang perduli dan jarang pulang ke rumah walau hanya sebentar. Kedua matanya mulai berair, pandangannya sedikit buram. Dipejamkannya perlahan kedua matanya, sehingga tampak air mata menganak sungai yang mengalir di pipi kanan dan kirinya. Mala tak mampu membendung air matanya yang hendak keluar. Dalam lirih Mala berharap semua ini tidak pernah terjadi. Suasana dingin malam tak mampu dihangatkan dengan rasa yang berkecamuk di hatinya. Memikirkan adanya kekurangan dirinya, apa mungkin ada hal di dirinya yang membuat Evant suaminya sehingga jarang pulang ke rumah. Salah apa aku! Kenapa Evant tidak perduli sama aku dan anak-anak! Mala ingin mengerang, tapi ditahannya. Kebahagiaanku bukan hanya hidup yang serba cukup bahkan berlebihan! Aku juga ingin Evant di sini, bersama-sama seperti dulu! Apa aku tidak pantas bahagia! Apa bahagiaku hanyalah mimpi yang tak bisa jadi nyata! Saat ini Mala berharap Evant datang dan mengusap air matanya, tapi itu tidak mungkin. Kenyataannya, Evant lebih mementingkan urusan perusahaan dibanding istri dan anak-anaknya, bahkan kepentingan dirinya sendiri pun dikesampingkannya demi kemajuan perusahaan yang kelak akan diwariskan ayahnya kepadanya. Mala perlahan menghela nafas, menahan tangisnya yang hampir meledak. Tangan kanannya mengusap pipi kanan dan kiri yang sudah cukup basah. Tidak lagi! Kebahagiaanku bukan karena adanya Evant! Cukup! Aku sudah bahagia walau hanya bersama Julliant dan Clara! Mala melangkahkan kedua kakinya menuju ruang dapur. Di depan ruang dapur, langkahnya kembali terhenti. Mala melihat bayangan dirinya sedang duduk di meja makan dalam ruang dapur sendirian. Ia melihat wajah dari bayangan dirinya yang tampak murung, air mata yang mengalir di kedua pipi. "Ternyata seperti itu wajahku ketika aku menangis..." gumam Mala lirih. Wajahnya tertunduk lesu sejenak, lalu bangkit lagi, "Tidak! Aku tidak boleh menangis lagi!" Mala memotivasi dirinya sendiri. Kedua kakinya melangkah masuk ke dalam kamar kecil. Dibasuhnya wajahnya agar bekas tangisan lirihnya menghilang. Saat di dalam kamar kecil, Mala mendengar smartphone-nya yang ada di ruang tamu sedang berdering. "Hah?! Siapa, ya yang nelpon?!" Mala bergegas melangkah keluar dari kamar kecil, keluar dari ruang dapur menuju ruang tamu. Ketika Mala berjalan kembali ke ruang tamu untuk mendatangi smartphone-nya yang berdering, bayangan dirinya yang duduk di dalam ruang dapur tidak menghilang. Mala tidak sadar bahwa bayangan yang tadi dilihatnya benar-benar nyata, bukan muncul dari hayalannya saja. Bahkan Sisy adiknya juga sempat melihat bayangan Mala kakaknya duduk di meja makan dalam ruang dapur. Mala mengambil smartphone-nya yang tergeletak di atas meja di ruang tamu. Terlihat nama 'Andrew' pada layar smartphone-nya. "Hah! Andrew nelpon?!" Mala mengerutkan kedua keningnya. Diterimanya panggilan telepon dari Andrew, lalu menempelkan smartphone di telinga kanannya. "Assalamu'alaikum." Suara yang begitu teduh terdengar di telinga Mala, yaitu suara Andrew yang terdengar melalui speaker smartphone di telinga Mala. "Iya, Wa'alaikumsalam," jawab Mala seketika bibirnya perlahan mulai kembali tersenyum. "Tadi kamu mau nanya apa?" tanya Andrew. "Hah?!" Mala menggaruk kepalanya. Ia lupa apa yang ingin ditanyakannya kepada Andrew, "Emm...." Mala berpikir sejenak, berusaha keras mengingat apa yang ingin ditanyakannya, tapi tetap tidak ingat, "Oh iya, gimana tadi acaranya?" "Acara?!" "Itu, acara pernikahan temen kamu," ucap Mala. "Ooh... Lancar, lancar... Alhamdulillah," sahut Andrew, "Emangnya kenapa?" "Emm... Enggak, cuman pengen tanya aja, hihi," ucap Mala tertawa cengingisan. "Eemmm... Aku tau nih. Pasti ini cuman asal-asalan kamu aja biar aku nelpon kamu, kan?!" "Iih, ke-pede-an banget sih!" sahut Mala, "Aku tutup nih telponnya!" "Eh, jangan, jangan.... Kok ditutup sih?!" "Lagian, kamu ngeselin sih!" "He, iya... Maaf, ya," ucap Andrew, "Kamu kok jam segini masih belum tidur?!" "Kan, kemarin sudah aku bilang kalau aku sulit banget mau tidur," jawab Mala sambil perlahan duduk pada sofa di ruang tamu. "Kamu masih sulit tidur?!" "Iya, kamu bisa bantuin nggak, biar aku bisa tidur?" "Kalau bantuin kamu biar bisa tidur, aku nggak bisa," jawab Andrew. "Yaaah...." Mala memonyongkan bibirnya. "Tapi, aku bisa temenin kamu sampai kamu bisa tidur, kok." Terdengar suara Andrew yang begitu meyakinkan. "Idih... Modus nih!" "Loh, kok modus sih?!" "Ya iyalah modus, terus apalagi coba? Whuu!" "Beneran, nggak modus kok." "Emm... Tapi, gimana kalau aku nggak tidur tidur, hayo?" "Ya... Aku juga nggak bakalan tidur." "Kan, modus...." "Hehe, iya...." Terdengar suara Andrew yang tertawa cengingisan, "Tapi, ini modus yang serius, hehe." "Hihi... Ngomong-ngomong, kamu sekarang udah nyampe rumah?" tanya Mala. "Iya, baru aja. Makanya aku bisa nelpon kamu," jawab Andrew, "Kamu lagi ngapain sekarang?" "Emmm, sekarang aku lagi telponan," jawab Mala. "Ya iyalah telponan." Andrew tertawa kecil, "Maksud aku, selain telponan, apa lagi?" "Hihi...." Mala tertawa lucu. "Loh, kok malah ngetawain sih?! Aku lucu ya?" "Iya, kamu tuh lucu... Hihi," jawab Mala sambil tertawa pelan. "Kamu di rumah sama siapa aja?" tanya Andrew. Mala terdiam dan berpikir sejenak, 'Duh! Kalau aku bilang sama anak-anak nanti dia nggak bakalan mau temenan sama aku lagi!' Mala mengerutkan kedua keningnya. "Hallo...." "Hhmm?!" sahut Mala. "Loh! Kok 'Hhmm' doang sih jawabannya?!" "Eh, emangnya tadi kamu nanya apa? Aku lupa, hihi," sahut Mala pura-pura lupa. "Emmm, nanya apa ya tadi aku... Duh, aku juga lupa, hihi." "Hihi... Bener kan, kamu tuh lucu." Mala terus tertawa pelan. Selimut sunyi yang menyelubungi hatinya seketika tersingkap karena kehadiran seorang lelaki yang bersedia menemaninya. Lelaki itu adalah Andrew. Luka di hatinya seakan sirna tak berbekas. Ia berharap hal ini tak pernah berakhir. *** Sisy mendengar samar suara kakaknya sedang melakukan panggilan telepon di ruang tamu. "Loh, kakak belum tidur juga ternyata," gumam Sisy perlahan menyingkap selimut yang tadi menyelimuti sekujur tubuhnya. Ia beranjak bangun, lalu memegang perutnya yang terasa bergetar dan berbunyi pelan menandakan rasa lapar, "Aku makan aja ah." Sisy menurunkan kedua kakinya dari tempat tidur lalu berdiri. Di pasangnya sepasang sandal berbulu di kedua kakinya, kemudian melangkah menuju pintu kamar. Tangan kanannya memegang dan perlahan memutar sambil menarik gagang pintu kamar. Sisy menengok ke luar kamar dan benar melihat Mala sedang duduk pada sofa ruang tamu. Perlahan dibukanya pintu kamar itu, tapi tiba-tiba niatnya terhenti. "Bentar, bentar... Itu beneran kak Mala apa bukan, ya?!" Sisy kembali menarik pintu kamar, disisakannya sedikit celah agar bisa mengintip Mala dari dalam kamar, "Biasanya kan, kak Mala sering pakai gaun tidur yang panjang, bukan yang pendek kayak sekarang?!" pikir Sisy mengintip dari celah pintu dengan tatapan penuh selidik menatap kakaknya yang tampak bahagia bertelponan dengan seseorang, "Eh, kalau kak Mala yang di dapur tadi bener sih pakai gaun tidur panjang, tapi kayak serem." Sisy menggaruk kepalanya sambil menganalisa, "Emm... Kalau yang ini emang nggak pakai gaun tidur panjang sih, tapi nggak kelihatan serem." Sisy mengerutkan kedua keningnya mengintip Mala yang duduk di sofa sambil melakukan panggilan telepon dengan seseorang, "Apalagi kalau yang ini, kak Mala lagi telponan. Pasti lagi telponan sama kak Evant... Ah, bener! Kalau yang ini pasti bener kak Mala yang asli. Aku yakin!" Sisy perlahan membuka pintu kamar dan mendatangi Mala. Mala mengangkat kepalanya menatap Sisy sambil tetap memposisikan smartphone-nya menempel di telinga kanannya, "Kenapa, Sy?" tanya Mala, "Kok kamu belum tidur?" Sisy berdiri di depan Mala dan menatap Mala dengan ragu. "Itu siapa?" Terdengar suara Andrew di telinga Mala melalui smartphone yang menempel di telinganya. "Ini Sisy, adik aku," jawab Mala. "Owh...." Mendengar ucapan Kakaknya, Sisy mengerutkan kedua keningnya merasa bingung memikirkan dengan siapa Kakaknya bertelponan. "Kak," panggil Sisy pelan. "Bentar ya," ucap Mala kepada Andrew melalui smartphone-nya, kemudian mengangkat kepalanya menatap Sisy, "Iya, kenapa, Sy?" tanya Mala. "Ada makanan nggak, Kak? Aku laper nih," jawab Sisy sambil memusut perutnya. "Kalau buah-buahan sih ada... Ambil aja tuh dalam kulkas," ucap Mala. "Temenin aku ke dapur dong, Kak..." pinta Sisy pelan. "Loh, biasanya kan, kamu juga sendirian ke dapur, masa sekarang tiba-tiba minta ditemenin sih?! Takut sama kecoa lagi?!" tanya Mala dengan nada sedikit mengejek. "Hehe, i-iya, Kak... A-aku takut sa-sama kecoa, hehe," jawab Sisy cengingisan. "Aduh..." Mala menghela nafas kemudian fokus dengan smartphone yang masih ditempelkannya di telinga kanannya, "Bentar ya, aku nemenin Sisy ke dapur dulu," ucap Mala. "Iya, temenin aja dulu... Aku nungguin, kok," sahut Andrew. Mala meletakkan smartphone-nya di atas meja kemudian menatap Sisy, "Ayo," ajak Mala sambil beranjak berdiri, lalu berjalan beriringan dengan Sisy ke ruang dapur. Sisy membuka pintu kulkas, mengambil beberapa biji buah alpukat dan beberapa potong apel, lalu menutup pintu kulkas. "Bentar, Kak... Tungguin dulu, aku pengen bikin s**u hangat biar bisa tidur," ucap Sisy. Mala berdiri di depan ruang dapur sambil menyilangkan kedua tangannya di depan d**a. Ia menghela nafas, "Hedeh, iya... Jangan lama," sahut Mala. "Iya, nggak lama kok." Sisy bergegas mengambil gelas dan sebilah sendok, mengisinya dengan air hangat dari dalam dispenser, lalu menuangkan s**u kental manis ke dalam gelasnya dan mengaduknya. "Ayo," ajak Mala berbalik badan membelakangi ruang dapur dan mulai melangkahkan kaki kanannya. "Tungguin, Kak!" Sisy membawa segelas s**u hangat beserta buah-buahan bergegas menyusul Mala yang sudah lebih dulu berjalan menuju kembali ke ruang tamu. Mala kembali duduk pada sofa setelah meraih smartphone-nya yang tadi tergeletak di atas meja. Sisy duduk di samping Mala sambil melahap buah-buahan yang tadi dibawanya, lalu langsung menghabiskan s**u hangatnya dengan satu kali tegukan. "Ah... Mmm...." Sisy merasakan nikmatnya air s**u hangat yang dibuatnya, sampai-sampai mulutnya mengeluarkan bunyi sendawa yang cukup nyaring. "Hus! Sisy... Jorok ih!" tegur Mala sambil mengapit hidungnya menggunakan ibu jari dan telunjuk kanannya. "Hehe, maaf maaf...." Sisy menggaruk kepalanya, "Ya udah, aku balik ke kamar lagi ya, Kak... Udah mulai ngantuk nih," ucap Sisy kemudian membuka lebar mulutnya dan menarik nafas panjang lalu menghembuskannya lagi perlahan. "Aduuh Sisy! Tutup dong mulutnya kalau nguap!" Mala kembali menegur Sisy. "Hehe... Iya iya...." Sisy berjalan masuk ke depan kamar tamu. Tangan kanannya memegang, memutar, dan mendorong gagang pintu kamar sampai terbuka lebar. Kepalanya menoleh ke belakang menatap Kakaknya yang masih duduk pada sofa sambil menempelkan smartphone di telinga kanan, "Malam, Kak Mala...." Sisy melangkah masuk ke dalam kamar tamu. "Iya... Malam, Sy..." sahut Mala tersenyum bersamaan dengan Sisy yang menutup pintu kamar meninggalkan Kakaknya yang kembali sendirian di ruang tamu. Walau sendirian, sekarang Mala tidak merasa kesepian lagi karena adanya Andrew yang menemani malamnya. Ia begitu senang mengobrol dengan Andrew, walau hanya mendengar suaranya saja. Lumayan lama ia mengobrol dengan Andrew, sampai akhirnya Mala tidak bisa menahan mulutnya yang membuka lebar sambil menarik nafas panjang, tapi dengan sigap Ia menutupi mulutnya dengan telapak tangan kanannya. Ia merasakan kedua matanya yang mulai pedas dan berair. Kedua matanya mulai sayu. Kelopak matanya pun sudah terasa sedikit berat. "Kayaknya aku udah mulai ngantuk nih," ucap Mala sambil beranjak berdiri. "Ya udah, kalau gitu kamu tidur gih," sahut Andrew. "Iya, aku tidur... Tapi, telponnya jangan dimatiin, ya," ucap Mala. Kedua kakinya melangkah menuju ruang tengah sampai berdiri tepat di depan pintu kamarnya. "Loh, bukannya kamu mau tidur?! Terus kenapa telponnya nggak boleh dimatiin?" tanya Andrew dengan nada bingung. Mala membuka pintu kamarnya, lalu melangkah masuk ke dalam kamar, "Kamu tungguin sampai aku tertidur... Bukannya tadi kamu janji kalau bakal nemenin aku sampai aku tidur?!" sahut Mala. "Hhmm... Iya, iya... Aku nggak bakalan matiin telponnya kalau kamu belum tidur." "Hehe..." Mala tertawa pelan. Ia begitu senang bisa mengerjai Andrew. "Ya udah, ayo tidur gih." "Ini juga mau tidur..." Mala merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil tetap memposisikan smartphone-nya yang menempel di telinga kanannya. Ia tak kuat lagi menahan kedua kelopak matanya yang hendak menutup. Tanpa sadar, Mala pun tertidur. "Halo... Halo... Halo..." Andrew berkata pelan, memastikan kalau Mala sudah benar-benar tertidur. Sepertinya tak ada sahutan lagi dari Mala, sehingga Andrew begitu yakin bahwa Mala sudah tidur. "Selamat tidur, semoga mimpi indah," ucap Andrew pelan, kemudian menutup panggilan telponnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN