Bab 42: Sisy melihat Mala ada Dua

1338 Kata
Mala menghentikan mobilnya tepat di depan rumah kediaman Ibu Ana ibunya. "Duh, duh... Cucu-cucu Nenek udah pada tidur." Ibu Ana mengelus rambut Julliant dan Clara, kemudian menatap Mala, "Ibu duluan, ya." Ibu Ana membuka pintu mobil belakang sebelah kanan. Didahulukannya kaki kanan menuruni mobil. Sisy pun melakukan yang sama. "Eh, Sy... Malam ini kamu nginep di rumah Kakak, ya," pinta Mala. Sisy berhenti dengan kaki kirinya yang menggantung ke luar mobil. Kepalanya berpaling menatap Mala. Ibu Ana berdiri di samping pintu depan sebelah kiri yang setengah terbuka, "Iya, Sy... Kamu temenin Kakak kamu aja," ucap Ibu Ana mendukung. "Emm, iya deh." Sisy mengangguk. Ia naikkan lagi kaki kirinya ke dalam mobil dan kembali duduk. Ia tarik pintu mobil di sebelahnya sampai tertutup. "Assalamu'alaikum, Bu," ucap Mala memberi salam berpamitan pada Ibu Ana. "Assalamu'alaikum," timpal Sisy. "Wa'alaikumsalam... Hati-hati, ya," ucap Ibu Ana melambaikan tangan mengiringi mobil Mala yang perlahan jalan dan menjauh dari depan rumah kediamannya. Mobil merah maron yang dikendarai Mala akhirnya tiba di halaman depan rumah kediamannya. "Julliant... Bangun, kita udah nyampe." Mala setengah berbalik ke belakang dan menggoyang-goyangkan tubuh Julliant dan Clara. Julliant perlahan membuka kedua matanya, tubuhnya menggeliat sampai mendorong Clara yang juga terlelap di sampingnya. Kemudian, Julliant kembali memejamkan kedua matanya. "Eh, Julliant, Julliant... Awas itu loh kena Dedek," ucap Mala menahan tangan Julliant yang tetap mendorong tubuh adik perempuannya. "Loh, kok malah tidur lagi sih?!" Sisy menggaruk kepalanya. Ia bingung melihat Julliant yang kembali tidur, "Bentar, biar Sisy yang gendong Clara." Sisy membuka pintu mobil di sebelah kirinya, turun dari mobil lalu membuka pintu mobil belakang kiri, "Uutt-tatah...." Sisy perlahan menggendong tubuh keponakan perempuannya. Clara terbangun, "Eh, kita udah sampai," ucap Clara lirih, "Clara jalan sendiri aja, Tante Sisy," pinta Clara. "Iya, Sayang." Sisy menurunkan Clara. Clara langsung berjalan menuju pintu depan rumah. Sisy menutup kedua pintu mobil sebelah kiri. Mala membuka pintu kanan mobil. Ia turun lalu membuka pintu untuk Julliant, "Julliant, ayo bangun... Kita udah nyampe nih." Mala kembali menggoyangkan tubuh anak laki-lakinya, tapi Julliant tak kunjung bangun. Mala menatap ke arah Sisy, "Kamu bukain pintunya dulu deh, Sy." Diserahkannya kunci rumah kepada Sisy. Sisy mendatangi Mala dan mengambil kunci rumah. Ia berjalan ke pintu depan rumah dan membuka pintu itu. Setelah pintu depan rumah terbuka, Clara langsung berlari masuk ke dalam rumah. "Clara! Jangan lupa cuci kakinya dulu!" seru Mala. "Aku nyusul Clara, ya Kak." Sisy meninggalkan Mala lebih dulu dan menyusul Clara. "Duh... Ini gembrot kok susah banget sih dibanguninnya?!" Mala bingung. Sejenak Ia berpikir mencari cara agar anak laki-lakinya itu bisa dibangunkan, "Julliant, itu makanannya diabisin Clara!" seru Mala. Julliant langsung terbangun, "Hah! Mana, Mah?!" Julliant menoleh ke kiri dan kanan. "Nah! Bener, kan?!" Mala tersenyum lucu menatap tingkah anak laki-lakinya itu, "Ayo bangun, kita udah nyampe," ucap Mala menepuk pelan pipi Julliant. "Eh, iya Mah...." Julliant perlahan turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah. Mala menutup pintu kanan belakang, kemudian kembali masuk ke dalam mobil dan membawanya masuk ke dalam garasi. *** Keheningan malam hanya dihiasi suara jangkrik yang terdengar saling bersahutan. Pintu depan rumah dibiarkan terbuka. Pada sofa di ruang tamu, duduklah dua perempuan kakak-beradik. Mereka tampak sedang sibuk dengan gadgetnya masing-masing. Mala begitu asyik chatting bersama teman grupnya. Sisy juga sama, sibuk chatting dengan teman-teman sekolahnya. Mereka berdua sama-sama chatting menggunakan sebuah aplikasi berwarna hijau. Sisy meletakkan smartphone-nya di atas meja, lalu beranjak berdiri. Mala langsung menatap Sisy, "Mau ke mana, Sy?!" "Bikin kopi, Kak... Ngantuk nih," jawab Sisy. "Bikinin Kakak juga, ya Sy," pinta Mala. "He'em." Sisy mengangguk dan langsung berjalan ke arah dalam meninggalkan Kakaknya sendirian di ruang tamu. Sisy berjalan melewati ruang tengah sampai tiba tepat di depan ruang dapur. Ia melangkah masuk ke ruang dapur, dan didapatinya Mala sedang duduk di salah satu kursi meja makan. Sepertinya Sisy tidak fokus, Ia tidak ingat kalau Mala sejak tadi bersamanya di ruang tamu. Sisy berjalan ke arah dispenser. Diambilnya dua buah gelas kosong yang tersusun di samping dispenser lalu mengisinya dengan air panas dari dispenser. "Kopinya di mana, Kak?" tanya Sisy sambil meletakkan dua gelas berisi air panas di atas meja makan dan menatap Mala yang masih tampak duduk dan diam. Sisy mengerutkan kedua keningnya. Tanpa berkata apapun, tangan Mala menunjuk ke arah lemari dapur. Sisy melangkah ke arah lemari dapur dan membuka pintu lemari itu, lalu mengambil sebuah toples kaca berisi bubuk kopi dan diletakkannya di atas meja makan. Dibukanya penutup toples itu, lalu memasukan masing-masing empat sendok makan ke dalam dua gelas. "Gulanya, Kak?!" Sisy menatap Mala lagi. Ia melihat wajah Mala yang terlihat sedikit pucat, "Kakak sakit lagi?" tanya Sisy, tapi Kakaknya itu hanya diam dan menatap lurus ke arah depan dengan tatapan dingin dan kosong. Ditempelkannya punggung tangan kanannya ke dahi Mala, "Kok badan Kakak dingin banget?! Masuk angin nih pasti," ucap Sisy kemudian kembali berjalan ke arah lemari yang pintunya masih terbuka. Diambilnya lagi sebuah toplos kaca berisi gula dan meletakkannya di atas meja makan, lalu memasukkan beberapa sendok gula ke dalam dua gelas itu. Diaduknya gelas itu bergantian. "Ini Kak, kopinya." Sisy menggeser salah satu gelas berisi kopi ke hadapan Mala. Mala mengangguk pelan. "Aku ke depan lagi, ya Kak." Sisy berjalan ke arah luar ruang dapur membawa segelas kopi yang tadi dibuatnya. Langkah Sisy tiba-tiba terhenti tepat di depan ruang dapur, dilihatnya Mala kakaknya sedang berjalan dari arah ruang tamu melintasi ruang tengah menuju ke arahnya. "Loh, itu Kak Mala?!" Sisy mengerutkan kedua keningnya. Wajahnya seketika memucat melihat Kakaknya yang sudah berdiri di hadapannya. "Kamu kenapa, Sy?!" tanya Mala yang berdiri di depannya. Sisy terdiam. Tanpa menjawab pertanyaan Kakaknya, Ia menoleh ke arah dalam ruang dapur, dan dia masih melihat punggung kakaknya yang sedang duduk di salah satu kursi meja makan dengan posisi membelakanginya. "Sy?!" Mala bingung dengan tingkah Sisy. Sisy tetap tidak menyahut. Berulang kali ia menoleh ke depan dan ke belakang menatap Mala yang berdiri di depannya dan menatap Mala yang duduk di meja makan. "Sy!" panggil Mala lagi langsung menggoyangkan pundak adik perempuannya. Sisy tampak tersentak sehingga kopi di dalam gelas yang dipegangnya tertumpah sedikit. "Kak Mala?!" Sisy menatap Mala yang berdiri di depannya. "Iya, ini aku... Kamu kok aneh gini sih, Sy?!" tanya Mala heran. "Ta-tadi aku li-liat Kakak...." Sisy menoleh ke belakang menatap ke arah dalam ruang dapur dan menunjuk tepat pada salah satu kursi meja makan, "Loh, kok nggak ada?!" Sisy bingung ketika menatap ke arah dalam ruang dapur dan tidak menemukan Mala di sana. "Apaan sih kamu ini, Sy?!" Mala semakin heran dengan tingkah Sisy, "Kopi buat Kakak mana?" "Hah?! Ko-kopinya d-d-di sana, Kak." Sisy menunjuk ke sebuah gelas berisi kopi hangat yang tergeletak di atas meja makan. "Loh, kok nggak kamu bawa sih?!" tanya Mala. Sisy kembali berpaling dan menatap Mala yang ada di depannya. Seketika Ia merasakan pundak sebelah kanannya ditepuk seseorang. Sisy menarik nafas cepat dan berpaling lagi ke belakangnya memastikan siapa yang menepuk pundaknya tadi. Tapi, tak ada seorangpun berdiri di belakangnya. Sisy berpaling lagi ke depan, dan Mala kakaknya sudah tidak berdiri di depannya lagi. "Loh! Kak Mala yang tadi ke mana?!" Sisy semakin bingung. Ia melangkah cepat menuju ruang tamu. "Sy?! Mana kopi kakak?" tanya Mala yang masih duduk pada sofa ruang tamu. "Hah! A-ada, Kak," jawab Sisy sambil sesekali menoleh ke arah dalam tepat menatap ruang dapur. "Kok kamu jadi kayak aneh gini sih, Sy?!" tanya Mala heran dengan tingkah adik perempuannya itu. "E-e-enggak ada yang aneh kok, Kak," jawab Sisy menggelengkan kepalanya. Mala melihat raut wajah adik perempuannya yang diselimuti rasa takut. "Kamu kesambet, Sy?!" tanya Mala heran. Sisy tidak menjawab pertanyaan Mala. Ia duduk pada sofa ruang tamu tepat di samping Mala. Diletakkannya segelas kopi yang tadi dia bawa dari dapur. "Sy?!" Mala semakin penasaran dengan apa yang dialami adik perempuannya itu. "I-i-iya, Kak," sahut Sisy terbata-bata karena takut. Sekujur tubuhnya tampak gemetar. "Kamu istirahat gih, ntar kamu sakit," ucap Mala menilai Sisy yang disangkanya sedang sakit. "Ba-baik, Kak." Sisy masih terbata-bata. Ia beranjak berdiri dan melangkah masuk ke kamar tamu meninggalkan Mala yang masih tampak bingung. Mala merasa aneh dengan tingkah Sisy yang tidak bisa Ia artikan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN