Bab 41: Kejadian di Parkiran Mall

2338 Kata
Mala bersama kedua anaknya, Sisy, serta Ibu Ana begitu bahagia, terbukti dari raut wajah mereka yang tampak tersenyum senang ketika berada di dalam wahana permainan di dalam Mall. Julliant bersama Clara memasuki wahana bermain mandi bola yang di dalamnya terdapat lebih dari sepuluh jenis permainan. Mala, Sisy, dan Ibu Ana berbaur dengan orang tua lainnya yang juga menunggu di luar wahana bermain. "Kayaknya udah malam, Kak," ucap Sisy menatap Mala kakaknya. "Masa sih?! Emangnya sekarang udah jam berapa, Sy?!" tanya Mala. "Udah jam setengah sembilan, Kak... Nih, coba Kakak liat sendiri deh," ucap Sisy kemudian memperlihatkan layar smartphone miliknya kepada Mala. "Eh, iya bener... Ya udah, kita pulang aja. Belum lagi nanti di jalan, kan." Mala memasukkan smartphone miliknya ke dalam tas. "Iya, di jalan bisa makan waktu seperempat jam," ucap Sisy. "Julliant! Clara! Udah yuk mainnya... Kita pulang, nanti pulangnya kemaleman!" seru Mala ke arah dalam wahana memanggil kedua anaknya. "Yaah...." Julliant nampak lesu, kemudian meraih tangan Clara yang ada di sampingnya, "Yuk Dek, kita pulang," ajak Julliant. "Kok pulang sih?!" tanya Clara dengan cadel dan kepolosannya. "Itu kata Mamah, nanti kemaleman, Dek..." ucap Julliant menjelaskan. Clara memonyongkan bibirnya, "Dedek nggak mau pulang!" ucap Clara sembari menyilangkan kedua tangannya ke depan d**a kemudian mendengus kesal. "Clara! Kita pulang... Kalau nggak, nanti Mamah tinggal loh!" seru Mala. "Tinggalin aja Mah, Dedeknya...." Julliant berlari langsung keluar dari wahana meninggalkan Clara. Clara menjerit, menangis. "Julliant! Kok Dedek ditinggalin, sih?!" bentak Mala, "Jemput Dedeknya, ayo!" "Iya, Mah..." Julliant kembali masuk ke dalam wahana dan langsung menuntun Clara keluar dari wahana mendatangi Mala ibunya, Sisy, dan juga Ibu Ana. "Besok, kita ke sini lagi, ya, Mah..." pinta Clara menatap Mala. "Iya, Sayang... Nanti kita ke sini lagi." Mala mengangguk mengiyakan agar Clara mau diajak pulang. "Beneran, Mah?!" tanya Julliant langsung tersenyum semringah, dan Mala menganggukkan kepalanya, "Yeeey!" Julliant berteriak kegirangan. "Kak, Sisy sama Ibu duluan, ya," ucap Sisy. "Julliant, Clara... Kalian ikut Tante sama Nenek, ya... Mamah mau ngambil mobil ke parkiran," ucap Mala menatap kedua anaknya, lalu menatap Sisy dan Ibu Ana, "Kalian tunggu di depan Mall aja, biar nggak terlalu jauh jalan," sambung Mala. Ibu Ana dan Sisy mengangguk mengiyakan. "Yuk, Jull, Dedek," ajak Sisy mengulurkan tangannya ke arah kedua keponakannya. Julliant dan Clara mengangguk. Mereka berdua ikut bersama Sisy dan Ibu Ana menunggu di depan Mall. Clara melompat kegirangan sembari menuruni tangga eskalator Mall. "Clara... Jangan lompat-lompat kayak gitu, Sayang. Bahaya!" Sisy menegur dan langsung memegang tangan keponakan perempuannya agar berhenti melompat-lompat. Sisy, Ibu Ana, Julliant, dan Clara tiba di depan Mall, sementara Mala belum muncul dari mengambil mobil di parkiran. *** Di basemant tempat parkiran mobil berada, suasananya begitu sunyi, hanya ada beberapa mobil yang tersisa. Mala melewati satu per satu mobil. Langkahnya terhenti tiba-tiba. "Duuh! Aku lupa naruh mobilnya di mana?!" Mala bingung sambil menoleh ke kanan dan kiri mencari letak mobilnya berada. Di ambilnya kunci mobil dari dalam tas dan menekan sebuah tombol pada kunci itu, "Loh! Kok nggak ada bunyi sama sekali sih?!" gumam Mala merasa bingung. Mala kembali menyebarkan pandangannya ke seluruh area parkiran basemant, tapi hanya ada empat buah mobil dan tak satupun di antara ke empat mobil itu milik Mala. "Duh! Gimana nih!" Tampak kedepresian di wajah Mala. Di tariknya nafasnya perlahan agar pikiran dan hatinya sedikit tenang, "Sabar Mala, sabar...." ucapnya lirih, "Aku coba tanyain security dulu deh." Mala melangkah menuju tangga yang pada tembok bagian samping kanan bertuliskan 'Security' dengan arah panah ke tangga. Tok, tok, tok! Mala mengetuk pintu ruangan security. "Ya, sebentar..." terdengar sahutan seorang pria dari dalam ruangan security. JLEK! Pintu ruang security dibuka oleh seorang pria paruh baya yang memakai baju putih dengan celana hitam yang merupakan seragam security "Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" tanya Pak Security. Mala menyeret matanya pada sebuah tulisan 'Joko' di baju yang merupakan nama dari Pak Security itu. "Anu, Pak Joko... Maaf mengganggu waktunya sebentar," ucap Mala hati-hati. "Iya, nggak masalah, Nyonya," sahut Pak Joko. "Bisa nggak Pak Joko bantu saya nyariin mobil saya di parkiran," pinta Mala. "Loh, memangnya mobil Nyonya nggak dipasangin alarm?" tanya Pak Joko. "Sebenarnya sudah ada alarmnya, Pak. Tapi, pas saya pencet nggak kedengeran apa-apa, nggak tau juga kenapa," jawab Mala. "Oh, mungkin baterainya habis, Nyonya," ucap Pak Joko. "Mungkin aja, Pak." Mala mengangguk, "Bisa nggak, Bapak bantu saya nyariin tempat mobil saya," pinta Mala lagi. "Baik, Nyonya." Pak Joko mengangguk kemudian menutup pintu ruang security, "Mari Nyonya," ajak Pak Joko lebih dulu berjalan menuruni tangga menuju parkiran basement, dan Mala mengikuti dari belakang. Mala bersama Pak Joko menelusuri seluruh tepat di area parkiran basement, tapi mereka berdua tak menemukan mobil milik Mala. "Gimana ini, Pak... Mobil saya gimana?!" tanya Mala tampak cemas. "Gini aja, Nyonya. Kita coba cek di CCTV, mungkin di sana keliatan ada mobil milik Nyonya," ucap Pak Joko. "Iya, Pak." Mala mengangguk. Mala dan Pak Joko kembali ke ruang security dan memeriksa pada layar CCTV untuk mencari letak mobil milik Mala berada. Setelah semua rekaman dibuka, tak satu layar pun menampilkan keberadaan mobil milik Mala. Pak Joko menggelengkan kepalanya menatap Mala yang sudah mulai depresi. "Nyonya jangan takut, biar saya tanyakan sama penjaga loket parkiran dulu," ucap Pak Joko. "Iya, Pak." Mala mengangguk. Pak Joko mengambil sebuah ponsel jadul miliknya yang tergeletak di atas meja dalam ruang security. Ia melakukan panggilan kepada penjaga loket parkiran. *"Ya, ada apa, Pak?"* "Begini... Di parkiran ada seorang perempuan yang kehilangan mobilnya. Apa kamu bisa cek daftar mobil yang keluar?" pinta Pak Joko. *"Baik. Tolong sebutkan nomor polisinya, Pak."* Pak Joko menoleh ke arah Mala, "Nyonya, berapa nomor polisi mobil milik Nyonya?" tanya Pak Joko. "D 1234 D," jawab Mala memberitahu nomor polisi pada mobil miliknya. "D 1234 D," ucap Pak Joko mengulangi ucapan Mala. *"Baik. Saya cek sebentar .... Maaf, Pak, nomor itu tidak ada dalam daftar kunjung ke parkiran."* Pak Joko mengerutkan kedua keningnya, "Apa kamu sudah benar benar memeriksanya?!" tanya Pak Joko. *"Kalau Bapak tidak percaya, bisa cek sendiri ke sini."* Mala cemas dan dengan penuh harap menatap Pak Joko, "Gimana, Pak?" Pak Joko menggelengkan kepalanya menatap Mala, "Katanya nggak ada nomor polisi itu masuk ke dalam parkiran, Nyonya." Mala semakin merasa bingung, kepalanya mulai terasa pusing, tubuhnya lemas dan langsung tersandar pada dinding dalam ruang security. "Nyonya... Duduk dulu, Nyonya." Pak Joko membantu Mala untuk duduk pada sebuah kursi. "Aku beneran nggak bohong, Pak. Aku tadi siang dateng pake mobil sama keluarga aku juga. Mereka sekarang pasti cemas nungguin aku di depan Mall," ucap Mala. Tok, tok, tok! Terdengar bunyi ketukan pintu pada ruang security. "Sebentar...." Pak Joko berjalan ke arah pintu dan membuka pintu itu, "Maaf, ada apa, Tuan?" tanya Pak Joko setelah melihat seorang pria berdiri di depan ruang security. Mala yang masih lemas ikut menoleh ke arah pintu ruang security yang terbuka. Ia melihat seorang pria yang wajahnya sangat mirip dengan Andrew, teman chatting di aplikasi hijau yang ter-install pada smartphone-nya. "Andrew?!" Mala langsung beranjak berdiri. "Mala?! Kamu kenapa?!" Andrew langsung menyelonong masuk mendatangi Mala. "Mobil aku hilang, Drew," ucap Mala dengan lemas, "Sudah kami cek CCTV, tanyain ke penjaga loket, tetap nggak ada," sambung Mala memberitahu. Andrew mengerutkan kedua keningnya, "Kayaknya ada yang aneh deh," ucap Andrew pelan. "Maksud kamu, aneh kenapa?" tanya Mala. "Iya, Tuan... Aneh kenapa?" tambah Pak Joko dengan wajah bingung. "Aneh aja, masa di CCTV nggak kelihatan," ucap Andrew. "Tuan, apa Tuan yakin?! Bisa aja kan, kalau Nyonya ini bohong, Tuan," bisik Pak Joko ke telinga Andrew. "Anda jangan sembarangan menuduh, Pak... Cewek ini temen saya," ucap Andrew. "Oh, saya minta maaf kalau begitu..." Pak Joko terlihat malu. "Drew, aku minta tolong banget sama kamu. Cariin mobil aku," pinta Mala memohon. "Kamu tenang aja, Mal. Aku bakal bantuin kami nyariin mobil kamu," ucap Andrew, "Aku yakin kalau mobil kamu sekarang sedang disembunyikan sama makhluk gaib," sambung Andrew. "Masa ada yang kayak begituan sih, Tuan?!" tanya Pak Joko tidak percaya dengan apa yang diucapkan Andrew. "Semua yang kita lihat belum tentu nyata, dan semua yang tidak kita lihat belum tentu tidak nyata," jawab Andrew. Mala tidak dapat mengartikan apa yang dikatakan Andrew, karena saat ini Ia sedang sangat kalut. "Mala, aku boleh pinjem kunci mobil kamu?" pinta Andrew. "I-ini..." Mala menyerahkan kunci mobil miliknya kepada Andrew. Andrew meletakkan kunci mobil milik Mala di atas meja dalam ruang security, lalu tangan kanannya merogoh ke dalam tas selempang mengambil sebuah botol kecil dari dalam tas itu dan meletakkannya tepat di samping kunci mobil milik Mala. Botol kecil yang diletakkan Andrew itu berisi segumpal kapas dan cairan sejenis minyak yang berwarna kuning janar. Andrew melepaskan penutup dari botol kecil itu, lalu meneteskan minyak dari botol pada kunci mobil milik Mala. "Telapak tangan kanan kamu," pinta Andrew. Mala mengulurkan tangan kanannya menengadah ke arah Andrew. "Minyak ini akan menjadi pembatas antara alam nyata dan gaib. Ibarat air dan minyak yang tidak bisa disatukan, begitu pula alam nyata dan gaib. Kedua alam tidak akan bisa bersatu," ucap Andrew sambil meneteskan minyak ke ujung jari telunjuk kanannya lalu mengusapkan jari telunjuknya pada telapak tangan kanan Mala. "Aku harus gimana?" tanya Mala menatap Andrew. "Sekarang kamu tekan lagi tombol alarmnya," ucap Andrew. "Pakai kunci mobil ini?" tanya Mala mengambil kunci mobil miliknya yang sudah ditetesi Andrew minyak dari botol kecil. Andrew mengangguk mengiyakan. Mala memegang kunci mobil miliknya di tangan kanan, ibu jari tangan kanannya tampak gemetar ketika ingin menekan tombol pada kunci mobil di tangannya itu. "Kami harus yakin! Kalau kamu ragu, maka usaha kita tidak akan berhasil!" tegas Andrew. Mala pun tersentak ketika mendengar nada tegas yang terlontar dari mulut Andrew. Karenanya, Mala langsung menekan tombol alarm itu tanpa rasa ragu sedikitpun. Beep! Beep! Beep! Mala, Andrew, dan Pak Joko mendengar bunyi alarm sebuah mobil dari arah parkiran. "Nah, kayaknya itu bunyi alarm dari mobil kamu, Mal," ucap Andrew. Mala mengerutkan kedua keningnya, tubuhnya langsung beranjak berdiri, lalu lebih dulu melangkah keluar dari ruang security, menuruni anak tangga yang langsung menuju ke parkiran basement. Ketika tiba di parkiran basement, Mala melihat lampu berwarna merah yang berkedip terus-menerus dari sebuah mobil yang letaknya di ujung kanan parkiran basement. Mala bergegas mendatangi mobil itu. Benar! Lampu berwarna merah yang berkedip itu berasal dari sebuah mobil berwarna merah maron yang adalah milik Mala. Mala menoleh ke arah tangga, melihat Pak Joko dan Andrew berdiri di depan tangga. Pak Joko terlihat bingung dengan apa yang dilihatnya, sedangkan Andrew menunjukkan senyum tipis ke arah Mala. Mala menatap mobilnya yang lampunya masih berkedip, "Aku harus cepetan, kasian Julliant sama Clara nungguin aku kelamaan," gumam Mala langsung menekan tombol pada kunci mobilnya agar lampu pada mobil berhenti berkedip. Ia membuka pintu mobil dan segera masuk ke dalamnya. "Oh iya, aku belum ngucapin makasih ke Andrew sama Pak Joko." Mala tiba-tiba teringat dengan bantuan Andrew dan Pak Joko. Di lepaskannya tas dan diletakkannya di atas kursi sebelah kiri, kemudian langsung keluar dari mobilnya. Tapi, setelah keluar dan berdiri di samping mobilnya sambil menatap ke arah tangga, Mala tidak melihat Andrew dan Pak Joko berdiri di sana. "Loh?! Mereka berdua ke mana?!" gumam Mala. Kedua keningnya mengkerut karena bingung. Ia kembali masuk ke dalam mobil dan langsung mengambil smartphone-nya dari dalam tas yang tergeletak pada kursi sebelah kirinya. Kedua ibu jari Mala beradu dengan keyboard virtual pada layar smartphone-nya mengetik pesan yang akan dia kirim kepada Andrew. "Drew, kamu di mana?" tulis Mala. "Aku masih di acara resepsi perkawinan temenku, nih. Emangnya ada apa, Mal?" balas Andrew. Kedua mata Mala langsung membulat. Ia terkejut setelah membaca pesan balasan dari Andrew. "Loh! Bukannya tadi Andrew bantu nyariin mobil aku?! Kalau Andrew masih di luar kota, terus yang tadi siapa?!" gumam Mala bingung, "Eh, terus Pak Joko gimana?! Dia pasti tau ke mana Andrew pergi, kan?!" Tiba-tiba Mala teringat dengan Pak Joko yang tadi juga membantunya. "Mending aku tanyain ke Pak Joko deh." Mala keluar dari mobil dan langsung kembali menemui Pak Joko di ruang security. Mala langsung membuka pintu ruang security dan tidak melihat Pak Joko di dalam sana, melainkan seorang pria yang juga berseragam seorang security, tapi bukan Pak Joko. "Ada yang bisa saya bantu, Bu?" tanya Pak Security itu mendatangi Mala. Mala membaca tulisan 'Wardi' pada baju yang dikenakan Pak Security itu. "Maaf, Pak Wardi... Apa temen Bapak yang namanya Pak Joko, tadi ada di sini?!" tanya Mala. Pak Wardi mengerutkan kedua keningnya menatap Mala, "Maaf, Bu... Seinget saya, Joko yang Ibu maksud itu sudah meninggal dunia seminggu yang lalu," jelas Pak Wardi. "Hah! Meninggal?!" Kedua bola mata Mala terbelalak. Ia terkejut mendengar apa yang diucapkan Pak Wardi. "Iya, Bu... Joko meninggal karena kecelakaan ketika hendak mengatur parkiran di basement, tidak sengaja ada sebuah mobil yang cepet banget. Beliau di tabrak mobil itu. Pas diperiksa, ternyata orang ngemudiin mobil dalam kondisi mabuk berat, Bu," ucap Pak Wardi menceritakan kronologinya. Wajah Mala langsung memutih pucat setelah mendengar cerita dari Pak Wardi. "Ja-ja-jadi...." Mala terbata-bata karena takut. "Emangnya, Ibu siapanya Joko, ya? Kalau boleh tau," ucap Pak Wardi. Mala hanya diam dan menggelengkan kepalanya, "Maaf mengganggu waktu Bapak," ucap Mala langsung berjalan menjauh dari ruang security. Ia bergegas masuk ke dalam mobilnya dan langsung membawanya ke depan Mall mendatangi Julliant, Clara, Sisy, dan Ibu Ana. Dari dalam mobil, Mala melihat Julliant, Clara, Sisy, dan Ibu Ana berdiri di depan Mall. Mobil berwarna merah maron berhenti tepat di depan Ibu, adik, dan kedua anaknya. Sisy duduk di kursi depan di samping Mala, sedangkan Ibu Ana duduk di kursi belakang menemani Julliant dan Clara. "Sy, jam berapa sekarang?" tanya Mala menoleh ke kiri menatap adik perempuannya. "Bentar, Kak." Sisy membuka layar smartphone-nya dan memeriksa waktu saat ini, "Jam sembilan kurang dua puluh lima menit, Kak," ucap Sisy memberitahu. Mala mengerutkan kedua keningnya, "Hah! Bukannya tadi aku berjam-jam di parkiran nyariin mobil?!" pikir Mala, wajahnya terlihat bingung. "Emangnya kenapa, Kak?" tanya Sisy heran. "Nggak apa-apa, Sy..." jawab Mala menggeleng, "Semua udah pada siap, kan?!" Mala menoleh ke belakang menatap Ibunya dan kedua anaknya. "Iya, Mal," jawab Ibu Ana mengangguk. Di sampingnya, tampak Julliant dan Clara terlihat lesu, mata mereka begitu terlihat rait karena sudah mulai merasa mengantuk. Mala perlahan menjalankan mobilnya menjauh dari area Mall dan langsung menuju pulang ke rumah kediamannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN