Suasana jalanan tampak sedikit lengang. Di kanan dan kiri berjejer pepohonan karet sepanjang jalan. Hanya sesekali mereka berpapasan dengan mobil lain. Mobil berwarna hitam dengan leluasa melaju menelusuri jalan menuju sebuah tempat wisata puncak yang akan di datangi Mala, Evant, dan kedua anaknya.
Dalam mobil terdengar suara speaker yang terhubung dengan smartphone milik Evant.
'Beep! Beep! Anda menerima panggilan dari Ari.'
Mata Evant melirik sebentar menatap sebuah tombol berwarna biru di tengah *dasboard* mobil. Memegang setir mobil dengan satu tangan kanan, tangan kirinya menekan tombol biru itu, tapi kedua matanya terfokus pada jalanan.
"Ya, Ari... Ada apa?" tanya Evant sambil terus fokus menyetir mobilnya.
"Vant, lu di mana?! Ini client kita yang kemarin ingin ketemu. Katanya mau nyerahin berkas persetujuan tender kita." Terdengar suara Ari melalui speaker mobil.
Wajah Mala berubah merangut ketika mendengar suara Ari.
Evant menoleh ke arah Mala, lalu kembali fokus menatap jalan. Ia mengerti kalau istrinya tidak suka jika hari ini diganggu. Apalagi melihat raut wajah istrinya yang awalnya begitu senang, dan sekarang berubah merangut ketika mendengar ucapan Ari dari telepon yang terhubung ke speaker mobil.
"Vant, Vant. Lu masih ada kan! Vant!"
Evant menghela nafas, "Ini gua lagi di jalan arah ke puncak, Ri," jawab Evant, "Apa mereka nggak bisa nunggu sampai besok dulu?" sambung Evant.
"Lah, mereka maunya hari ini, Vant. Ini omsetnya gede loh! Masa lu mau sia-sia'in, sih! Kalau nggak sekarang kapan lagi, Vant."
"Tapi, sekarang gua sama anak istri, Ri," sahut Evant.
*"Omsetnya gede, Vant! Mereka juga bilang kalau bakalan kerja-sama selama dua belas tahun sama perusahaan lu."
"Nanti gua kabarin lagi deh, Ri." Evant kembali menekan tombol biru dan panggilan pun langsung terputus.
Evant menoleh menatap istrinya yang duduk di sebelahnya, "Mah..." Tangan kirinya perlahan menggapai tangan kanan Mala.
Mala menoleh menatap Evant. Kedua alisnya terangkat.
"Maaf banget, Mah. Kayaknya hari ini kita nggak jadi ke bukit dulu," ucap Evant hati-hati.
Mala memejamkan kedua matanya. Bibirnya mengatup rapat membentuk sudut di kiri. Ia menghela nafas. Kedua matanya perlahan membuka kembali. Menatap suaminya dan kepalanya mengangguk.
"Tapi aku janji, setelah ini nggak bakalan lagi ada yang ganggu acara kita, Mah," ucap Evant dengan tatapan penuh keyakinan menatap istrinya.
Mala kembali mengangguk.
"Yaah, kita nggak jadi ke bukit ya, Mah?" keluh Julliant.
"Hmh!" Clara ikut kesal.
"Lain kali, ya, Jull," ucap Evant menoleh ke kursi belakang sebelah kiri menatap Julliant.
Julliant menatap lurus ke depan sambil menyilangkan kedua tangannya di depan d**a. Bibirnya tertutup rapat. Ia mengangguk lesu.
Evant menatap istrinya, "Gimana kalau pas nyampe rumah, Kamu ajak Julliant sama Clara jalan-jalan, kalau perlu ajak juga Sisy," ucap Evant, "Nanti biaya untuk jalan-jalan biar aku transfer ke rekening kamu," sambung Evant.
"Iya, Pah," ucap Mala lirih sembari menganggukkan kepalanya.
Evant perlahan menginjak pedal rem. Mobil yang dikendarainya mulai melambat hingga berhenti berjalan. Matanya menatap spion sebelah kanan. Ia putar setir mobil perlahan sambil menginjak pedal gas. Mobil yang dikendarainya kini berbalik ke arah pulang.
Setelah menelusuri jalan pulang, akhirnya mobil berwarna hitam perlahan memasuki area perumahan bernama 'Perumahan Cempaka', blok per blok dilewati sampai tiba tepat di depan rumah kediaman Mala dan keluarganya.
Mala bersama Julliant dan Clara turun dari mobil hitam itu.
"Aku pergi dulu, ya, Mah," ucap Evant kemudian menutup kaca mobil dan langsung menjalankan mobilnya.
Mala menatap mobil hitam yang dikendarai suaminya perlahan menjauh sampai tak terlihat lagi. Kedua matanya nanar. Kepalanya bergerak menoleh menatap Julliant dan Clara yang berdiri di samping kirinya.
"Mah, kita jadi jalan-jalan, kan?" tanya Clara.
"Iya, Sayang... Kita jadi kok, jalan-jalannya," jawab Mala lembut sambil mengusap rambut Clara.
"Beneran, Mah!" seru Julliant kembali bersemangat.
Mala mengangguk, kedua bibirnya menyunggingkan senyum tipis menatap Julliant.
'Ting! Ting!'
Mala mendengar bunyi dari smartphone yang ada di tangannya, menandakan sebuah notifikasi pesan yang masuk pada smartphone-nya. Ia angkat tangan yang memegang smartphone. Setelah menekan sebuah tombol tunggal di samping kiri smartphone-nya, layar smartphone menyala. Ia melihat notifikasi pada layar smartphone-nya, lalu membuka SMS pemberitahuan bahwa saldo telah masuk ke rekeningnya.
TRX Rek. 12345678901234 :
Transfer ATM Evant Andrean
to Mala Rosalina Rp. 10.000.
000.00 15/12/22
11:03:25
Mala mematikan layar smartphone-nya, lalu menatap Julliant dan Clara.
"Kita samperin tante Sisy ke rumah nenek, yuk," ajak Mala.
"Mah, kita jalan-jalannya sama tante Sisy, ya Mah?" tanya Clara dengan nada polos dan suara cadelnya.
Mala mengangguk mengiyakan.
"Yeeey!" seru Julliant melompat kegirangan.
Mala dan kedua anaknya berjalan kaki mendatangi Sisy di rumah ibu Ana.
"Tante Sisy," panggil Clara seketika membuka pintu depan rumah kediaman ibu Ana.
Sisy yang kala itu sedang duduk di sofa ruang tamu di kediaman ibu Ana sembari sibuk dengan smartphone-nya langsung tersentak melihat Clara yang menghampirinya.
"Eh, keponakan Tante yang cantik... Kenapa Sayang?" tanya Sisy menatap Clara.
Mala dan Julliant melangkah masuk ke dalam rumah kediaman ibu Ana.
"Tante ikut jalan-jalan yuk," ucap Clara dengan polos mengajak Sisy tantenya.
"Wah... Jalan-jalan?!" Sisy nampak senang.
"Ibu mana, Sy?" tanya Mala yang langsung duduk di samping Sisy.
"Ibu belum pulang dari pasar, Kak," jawab Sisy, "Kalian dari mana?" sambungnya bertanya.
"Tadi sebenarnya kami udah jalan-jalan, hampir nyampe puncak. Eh, Evant malah nerima telpon dari temennya..." ucap Mala memberitahu.
"Terus?!" Sisy mengerutkan kedua keningnya dan menatap Mala dengan penasaran akan kelanjutan yang dikatakan Mala.
"Nggak jadi deh jalan-jalan ke puncaknya," ucap Mala.
"Lagian sih... Kalian nggak ngajak aku, makanya nggak jadi, kan," sahut Sisy setengah mengejek.
"Ini juga mau ngajak kamu jalan-jalan, Sy," ucap Mala.
"Wih! Beneran nih!" Sisy langsung tersenyum sampai giginya sedikit tampak. Ia menegapkan tubuhnya dan menatap Mala dengan serius.
"Beneran, Tante," timpa Julliant.
"Emang rencananya mau jalan-jalan ke mana nih kita?" tanya Sisy terus tersenyum.
Mala menatap Julliant, "Kamu mau jalan-jalan ke mana, Sayang?" tanya Mala.
"Gimana kalau kita ke wahana bermain yang baru buka di mall, Mah?" tanya Julliant memberi usulan.
"Ide bagus tuh, Jull," timpal Sisy, "Kata temen Tante, di sana seru banget," sambungnya tersenyum semringah.
"Gimana, Mah?! Kita ke sana aja, ya... Plisss..." pinta Julliant merayu ibunya.
Senyum di bibir Mala jelas terlihat, lalu ia menoleh ke arah anak perempuannya, "Clara mau ke sana juga?" tanya Mala.
"He'em." Clara mengangguk dan tampak kedua matanya begitu cerah, menandakan bahwa Ia begitu senang.
"Kalau gitu, Mamah ambil mobil dulu, ya," ucap Mala beranjak berdiri.
Clara dan Julliant mengangguk bersamaan.
"Pas banget, sekalian nunggu ibu pulang dari pasar, Kak," ucap Sisy.
"Udah jam segini, masa ibu belum pulang sih, Sy?!" Mala mengerutkan kedua keningnya menatap adik perempuannya yang masih duduk pada sofa.
"Tadi ibu berangkatnya agak siang, makanya belum pulang, Kak," jawab Sisy.
"Emm gitu, ya...." Mala mengangguk pelan, "Ya udah, Kakak mau ngambil mobil dulu ke rumah, ya... Nitip Clara sama Julliant." Mala berjalan ke depan rumah ibu Ana dan langsung menuju ke rumah kediamannya.
Beberapa menit kemudian.
Mala datang dengan mengendarai mobil berwana merah maron yang berhenti tepat di depan rumah kediaman ibu Ana, ibunya. Kala itu bersamaan dengan ibu Ana yang juga datang dari pasar dengan menjinjing dua kantong plastik di kedua tangannya.
Mala turun dari mobil, lalu berjalan menyusul ibu Ana.
"Kamu datang dari mana, Mal?" tanya Ibu Ana menatap Mala yang berjalan beriringan dengannya.
"Datang dari rumah lah, Bu..." jawab Mala.
"Terus, kok pakai mobil segala sih ke sini?" tanya Ibu Ana.
"Ini, Bu... Aku mau ngajak Sisy jalan-jalan sama anak-anak juga. Ibu mau ikut?" jelas Mala kemudian menawarkan ajakan kepada ibunya.
"Jalan-jalan ke mana?" tanya Ibu Ana.
"Katanya sih, mau ke wahana permainan yang baru buka di mall, Bu," jawab Mala.
Ibu Ana bersama Mala masuk ke dalam rumah dan mendatangi Sisy serta kedua anak Mala yang sedang duduk pada sofa ruang tamu di kediaman ibu Ana.
"Nenek!" seru Julliant dan Clara langsung mendatangi Ibu Ana yang menjinjing dua kantong plastik berisi bahan perlengkapan untuk dapur.
"Oalah... Cucu-cucu Nenek... Mau jalan-jalan ke mana, nih?" Ibu Ana tersenyum senang menatap kedua cucunya.
"Mau jalan-jalan, Nek," jawab Clara dengan polos dan suara cadelnya.
"Wah! Jalan-jalan ke mana? Nenek ikut, ya," sahut ibu Ana perlahan meletakkan dua kantong plastik ke atas meja di depan sofa.
"Kalau Nenek mau ikut, Nenek harus ganti baju dulu," ucap Clara polos.
"Hmm! Emangnya badan Nenek bau, ya?" tanya Ibu Ana meladeni kepolosan cucu perempuannya itu.
"Iya, Nenek bau kalau abis dari pasar," jawab Clara polos.
"Dedek! Nggak boleh kayak gitu!" tegur Julliant yang takut jika Neneknya tersinggung dengan ucapan adiknya.
"Enggak apa-apa, Sayang...." Ibu Ana memusut kepala Julliant dengan lembut, "Ya udah, Nenek ganti baju dulu, ya... Biar kelihatan cantik," ucap Ibu Ana yang masih terlihat enerjik walau sudah memiliki dua cucu.
Beberapa menit kemudian, Ibu Ana sudah berganti pakaian dan siap untuk ikut jalan-jalan ke mall bersama kedua anaknya dan kedua cucunya.
"Ayo kita berangkat!" ajak Mala.
Mala, Julliant, Clara, Sisy, dan Ibu Ana pun masuk ke dalam mobil berwarna merah maron. Mala perlahan menjalankan mobilnya menjauh dari kediaman ibu Ana dan langsung menuju ke sebuah mall untuk mendatangi wahana permainan yang baru dibuka.