Bab 39: Tak Anggun dan Natural lagi

1433 Kata
Malam semakin larut, dan Mala tampak tidur sangat nyenyak di atas tempat tidur dalam kamarnya. Anehnya, tiba-tiba smartphone milik Mala yang tergeletak di atas meja lampu tidur terlihat menyala sendiri. Di samping Mala yang masih tidur, sedang duduk seorang perempuan mengenakan gaun selutut berwarna merah muda yang tepat menghadap meja lampu tidur. Layar smartphone milik Mala tampak seperti bergerak melakukan panggilan telepon. Sedangkan Mala tidak tahu karena sangat nyenyak tertidur. Nampak pada layar smartphone, panggilan telepon itu tertuju kepada Andrew. Terlihat namanya di layar. Andrew pun menerima panggilan itu, karena Ia mengira panggilan telepon itu benar dilakukan oleh Mala. "Assalamu'alaikum... Mala, ada apa?" Terdengar suara Andrew pada speaker smartphone milik Mala yang tergeletak di atas meja lampu tidur. Lalu, suara Andrew tak terdengar lagi, mungkin Ia diam dan berpikir bahwa Mala tidak sengaja menelponnya kala tertidur. Tapi, seketika Ia merasakan hawa yang janggal. Dari kejauhan Ia merasakan ada energi kuat di dekat Mala berada. "Kamu siapa?!" tanya Andrew. Perempuan yang duduk di samping Mala hanya diam. Wajahnya menoleh ke arah meja lampu tidur menatap smartphone milik Mala. "Apa hubungan kamu dengan Mala?!" tanya Andrew lagi, tapi perempuan itu tetap diam. "Kenapa kamu mengikuti Mala?!" Andrew terus mengajukan pertanyaan, tapi perempuan itu tetap saja diam. Tampak pada layar smartphone milik Mala bahwa Andrew pun memutuskan sambungan telepon karena Ia tidak mendapatkan jawaban dari perempuan yang duduk di samping Mala. Tapi, smartphone milik Mala kembali melakukan panggilan telepon kepada Andrew. Andrew pun kembali menerima panggilan telepon itu. "Kalau ada yang mau kamu sampaikan, tolong bicara! Aku nggak ngerti kalau kamu diam...." ucap Andrew dengan santai, "Aku ngantuk, tolong saat ini jangan ganggu dulu." Andrew pun kembali memutuskan sambungan telepon. Sementara itu, Mala tetap terlelap dan tidak tahu-menahu kalau smartphone-nya bergerak sendiri melakukan panggilan telepon kepada Andrew. *** Di atas tempat tidur, Mala menggeliatkan badannya berpaling tubuh ke kanan tepat ke arah jendela dalam kamarnya. Perlahan Ia membuka matanya yang langsung menerima cahaya matahari yang masuk menyelinap melalui celah tilai jendela yang sedikit tersingkap dan membuatnya langsung beranjak bangun. Mala menjuntaikan kedua kakinya ke bawah. Memasang dua sandal berbulu di kedua kakinya, lalu berdiri. Kepalanya menoleh ke arah jendela yang kemudian dihampirinya. Diikatnya tilai jendela agar bisa memandang keluar dari jendela. Kedua telinganya mendengar suara deru mesin pemotong rumput. Didorongnya jendela dua daun pintu itu. Hidungnya menghirup aroma khas embun bercampur aroma rumput liar yang dipangkas. "Pagi, Neng..." sapa seorang tukang pangkas rumput yang setiap satu minggu sekali datang bertugas, "Maaf ya, Neng, kalau saya membuat berisik pagi-pagi." "Enggak apa-apa kok, Mang...." Mala menyunggingkan senyumnya menatap tukang pangkas kebun itu. Dari dalam kamarnya, Mala mendengar bunyi ketukan pintu dari arah depan rumahnya. Ia tahu kalau sekarang adalah waktu di mana bik Minah datang. "Sebentar, ya, Bik...!" teriak Mala langsung berjalan ke luar kamar melewati ruang tengah dan ruang tamu menuju pintu depan rumahnya. Pintu depan rumahnya Ia buka dan langsung melihat Bik Minah yang berdiri di depan pintu. "Pagi, Non," sapa Bik Minah tersenyum. "Iya, pagi, Bik." Mala membalas senyum kepada Bik Minah, "Masuk, Bik," sambung Mala mempersilahkan. Bik Minah mengangguk, lalu melangkah masuk ke dalam rumah kediaman Mala dan langsung menuju ke dapur untuk segera melakukan pekerjaannya. Mala teringat kalau tadi malam Ia membeli perlengkapan kebutuhan rumah yang akan ditugaskannya Bik Minah untuk menyusun barang yang Ia beli. Mala langsung berjalan masuk ke dalam rumahnya menyusul Bik Minah yang sudah tiba lebih dulu di ruang dapur. "Bik," ucap Mala ketika tiba tepat di depan ruang dapur. Namun, Ia mengurungkan niatnya hendak meminta Bik Minah menyusun barang yang Ia beli. Ia melihat Bik Minah yang sudah hampir selesai memasukkan barang-barang kebutuhan rumah dan dapur. "Iya, Non?" Bik Minah menoleh ke arah depan ruang dapur menatap Mala yang berdiri di sana. "Enggak, Bik... Tadi aku cuman mau minta sama Bibik buat beresin barang-barang yang tadi malam aku beli. Eh, taunya Bibik udah beresin duluan," ucap Mala tersenyum senang. "Iya, Non...." Bik Minah mengangguk sopan, "Ini apa masih ada lagi barang yang mau diberesin, Non?" tanya Bik Minah. "Enggak ada, Bik. Udah, itu aja," jawab Mala tersenyum. Ketika di depan ruang dapur, Mala mendengar bunyi mesin mobil yang sangat tidak asing di telinganya. Wajahnya yang tadi nampak tersenyum, langsung berubah seratus enam puluh derajat menjadi merangut. Julliant yang juga mendengar bunyi itu langsung keluar kamar dan berlari ke depan rumah. "Papah," sapa Julliant dengan tersenyum menatap Evant, ayahnya. "Eh, kamu udah bangun, Jull." Evant menggosokkan tangannya ke kepala Julliant, "Mamah kamu mana?" tanya Evant sambil melangkah masuk ke dalam rumah. "Di dapur tadi, Pah," jawab Julliant ikut masuk ke dalam rumah dan mengimbangi langkah ayahnya yang langsung melewati ruang tamu dan ruang tengah menuju ruang dapur. Mala duduk pada salah satu kursi di meja makan dalam ruang dapur. Ia sedang menyantap sepotong roti isi. "Mah..." panggil Evant lembut sambil perlahan menggerakkan tangannya memegang pundak Mala. Mala langsung menepis tangan Evant dan lanjut menghabiskan roti isi yang ia santap. Mala menatap ke arah Julliant yang berdiri di depan ruang dapur, "Jull, dedek udah bangun?" tanya Mala. "Udah, Mah," jawab Julliant. Mala mengerutkan kedua keningnya, "Tapi dedek mana?! Mamah nggak ada liat dari tadi," sahut Mala. "Dedek lagi di kamarnya, Mah... Lagi make baju," jawab Julliant, "Tadi pagi Julliant yang temenin dedek mandi, Mah." "Oh gitu, ya. Ya udah, kamu coba liat dedek deh," pinta Mala. "Iya, Mah," ucap Julliant menganggukkan kepalanya, lalu berjalan menuju kamar Clara adiknya. "Mah..." ucap Evant pelan sambil langsung bergerak duduk di samping Mala istrinya. "Hmm!" Mala memandang Evant sejenak, lalu menatap lurus ke depan. Wajahnya terus saja merangut. "Mah... Aku minta maaf atas kejadian kemarin," ucap Evant pelan. Tiba-tiba, Mala merasakan tubuhnya diterpa angin lembut dari arah depan. Ia pun langsung menarik nafas cepat dan dalam. Wajahnya yang kesal dan merangut seketika berubah menjadi santai. Ia menghela nafasnya, lalu kembali menatap wajah Evant, "Emangnya kamu bikin salah apa sama aku? Perasaan nggak ada deh," ucap Mala dengan santai seolah tidak pernah terjadi apa-apa. "Mah... Sebenarnya, aku pingin ngajak kamu sama anak-anak jalan-jalan hari ini. Kamu mau kan, Mah?" "Beneran?! Jalan-jalan ke mana, Pah?" tanya Mala langsung tersenyum senang. "Mamah pinginnya jalan-jalan ke mana?" tanya Evant. "Sebenarnya, aku udah lama pingin jalan-jalan ke puncak, Pah," jawab Mala. "Nah, kalau gitu hari ini kita jalan-jalan ke puncak," ucap Evant tersenyum. Mala mengangguk cepat. Wajahnya terlihat begitu bahagia. "Kalau gitu, Mamah siap-siap gih, pake baju yang cantik," ucap Evant tersenyum sambil mencubit pipi tembem Mala. "Aku belakangan aja, Pah. Anak-anak kan, belum pada siap," sahut Mala. "Julliant sama Clara udah pada siap, Mah," ucap Evant. "Loh, bukannya anak-anak belum tau kalau hari ini kita mau jalan-jalan, Pah?" tanya Mala bingung. "Kata siapa anak-anak belum tau," jawab Evant. Mala tiba-tiba teringat ketika Julliant memberitahukan padanya kalau Clara sudah bangun dan sudah berpakaian. "Oh...." Mala mengangguk, "Jadi, cuman aku yang baru kamu kasih tau...?! Anak-anak udah pada tau kalau hari ini mau jalan-jalan?!" tanya Mala. "Hehe... Iya, Mah," jawab Evant tersenyum kemudian beranjak berdiri, "Cepetan kamu siap-siap." Evant langsung menarik tangan Mala sampai masuk ke dalam kamar. "Tapi, aku pakai baju apa, Pah?" tanya Mala bingung sambil membuka lemari pakaian di dalam kamarnya. "Terserah Mamah aja, yang penting Mamah ngerasa cocok dan enak sama pakaian yang Mamah pake," jawab Evant tersenyum. Kedua tangannya memilah-milah pakaian yang menggantung dalam lemari. "Nah, aku pake ini aja deh." Mala mengambil gaun pendek berwarna merah, "Gimana, Pah? Bagus nggak?!" tanya Mala sambil menunjukkan gaun yang dijinjingnya kepada suaminya. Evant mengerutkan kedua keningnya, "Bukannya kamu nggak suka, ya, Mah, kalau pake gaun yang pendek kayak gitu?!" tanya Evant heran. "Nggak, aku suka kok, Pah," jawab Mala tersenyum senang. Tingkahnya tidak seperti biasa. Ia yang dulunya selalu bersikap anggun bak seorang permaisuri, tapi sekarang sikapnya berubah drastis menjadi sedikit manja dan kekanak-kanakan. "Ya udah, aku nunggu di depan sama anak-anak, ya, Mah," ucap Evant tersenyum. "Iya, Pah..." sahut Mala mengangguk. Evant berjalan ke luar kamar menuju ruang tamu mendatangi Julliant dan Clara yang sudah bersiap berangkat liburan. Di dalam kamar, setelah mengenakan gaun yang dipilihnya dan berdandan, Mala pun menyusul suami dan kedua anaknya di ruang tamu. "Yuk!" ajak Mala tersenyum senang. "Wah! Mamah cantik banget," ucap Clara dengan polos sambil tersenyum melihat dan memuji penampilan ibunya. "Makasih, Sayang...." Mala begitu senang mendengar pujian dari Clara anak perempuannya. Sementara Evant dan Julliant tampak heran ketika melihat penampilan Mala. "Gimana, aku cantik kan, Pah?!" tanya Mala dengan manja menatap Evant. Evant terdiam sambil tersenyum masam menatap wajah Mala yang riasan di wajahnya tidak seperti biasa, karena Evant biasa melihat istrinya bersikap anggun dengan dandanan se-natural mungkin, bukan dandanan menor seperti yang dilihatnya sekarang. Apalagi melihat rambut istrinya yang berukuran pendek sebahu dengan cat rambut berwarna cokelat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN