Mala menyentuhkan ibu jari tangan kanannya pada layar smartphone tepat menekan tombol bergambar gagang telepon berwarna merah. Ia tolak panggilan telepon dari Andrew.
"Malam-malam begini kok nelpon sih?!" gumam Mala lirih mengerutkan kedua keningnya. Ia beranjak berdiri, lalu berjalan dengan memegang smartphone di tangan kanan ke luar dari ruang dapur dan langsung masuk ke dalam kamarnya.
Mala tidak menutup rapat pintu kamarnya, lalu duduk di depan meja rias. Menatap pantulan wajahnya di depan cermin, kemudian menyeret tatapannya ke arah smartphone yang masih Ia pegang di tangan kanan.
"Telpon balik, nggak, ya?!" Mala bergumam. Kedua keningnya mengkerut. Ia tarik nafas sepanjang-panjangnya, lalu dihembuskannya lagi dengan perlahan.
"Emm... Aku chat aja deh. Lagian dia juga nggak bakal marah," gumam Mala kemudian beranjak berdiri dan berjalan ke arah tempat tidur.
Mala duduk pada sudut tempat tidur sambil mengutak-atik smartphone. Kedua ibu jari kanan dan kirinya beradu dengan keyboard virtual pada layar smartphone. Mengetik pesan yang akan dikirimnya kepada Andrew.
"Kalau malam, Aku nggak bisa angkat telpon dari kamu," ketik Mala lalu menekan tombol Send.
Pada layar smartphone-nya, Mala melihat sisi kiri balok berisi pesan yang dikirimnya kepada Andrew langsung muncul sebuah tulisan 'baca' yang berarti pesan darinya telah dibaca Andrew.
"Oh maaf, ya, kalau aku ganggu kamu," balas Andrew langsung.
"Enggak kok, kamu nggak ganggu," ketik Mala dan langsung dikirimnya.
"Tapi, bener sih, ini udah malem banget. Mending kamu tidur, entar besok bangunnya malah kesiangan gara-gara aku," balas Andrew.
Mala berpikir sejenak. Di pikirannya, Ia memang benar hendak tidur. Tapi, di sisi lain, Ia masih hendak mengobrol lebih lama dengan Andrew.
"Aku nggak bisa tidur," tulis Mala. Bibir bawahnya Ia gigit sedikit.
"Loh, emang nggak bisa tidur kenapa?" balas Andrew.
Senyuman langsung tampak di wajah Mala.
"Aku juga nggak tau," tulis Mala. Ia terdiam sejenak menoleh ke arah cermin pada meja rias di dalam kamarnya, lalu menekan tombol Enter dan lanjut mengetik pesan, "Udah beberapa hari ini aku susah banget tidur." Mala langsung menekan tombol Send.
"Gelisah maksud kamu?" balas Andrew.
"Iya, bener... Tiap malam, aku gelisah mulu. Kamu tau nggak apa yang nyebab'in aku jadi kayak gini?"
"Pasti kamu lupa baca do'a sebelum tidur, nih," balas Andrew.
"Mana ada! Aku tiap kalau mau tidur pasti baca do'a."
"Gini... Sebelum kamu pertama kali ngerasain gelisah, ada nggak kamu mimpi tentang hal yang aneh-aneh gitu?" balas Andrew.
Mala mengerutkan kedua keningnya, "Hal aneh?!" gumamnya lirih. Mala terdiam sejenak mengingat ketika awal-awal menempati rumahnya sekarang. Beberapa bulan sebelum sekarang, Ia ingat kalau pernah bermimpi aneh.
Mala kembali mengetik pesan.
"Ada sih... Tapi aku males bahasnya kalau malem-malem gini."
"Emm... Ya udah, lagian ini udah malem banget. Aku tidur duluan ya, soalnya besok pagi-pagi banget mau berangkat ke luar kota," balas Andrew.
"Terus, gimana job kamu di restoran?"
"Kalau di restoran, kan, job malem," balas Andrew.
"Eh, kamu ke luar kota mau ngapain emang?"
"Aku ngisi acara di resepsi pernikahan temenku. Kamu mau ikut?" balas Andrew.
Mala langsung membelalakkan kedua matanya. Ia terkejut membaca pesan Andrew yang mengajaknya tiba-tiba.
"Pengen ikut sih..." gumam Mala lirih. Kedua matanya melirik ke kanan atas.
"Tapi...." Pesan dari Andrew.
Mala menjadi heran membaca pesan itu, kemudian mengetik pesan balasan, "Tapi apanya?" Mala langsung menekan tombol Send.
"Pasti pas aku bilang mau ngajak kamu, kamu pasti mikir, 'Pengen ikut sih', bener nggak? Terus aku lanjutin aja kalimatnya pake 'tapi'," balas Andrew.
"Kok bisa tau sih?! Kamu itu indigo, ya?" tulis Mala.
"Bisa dibilang 'iya' bisa juga 'enggak'," balas Andrew.
"Jadi, kamu juga tau kalau di tempat tinggalku sekarang ada sesuatu yang janggal?" tulis Mala.
"Emm... Aku belum bisa mastiin sih," balas Andrew.
"Maksudnya?!" tulis Mala.
"Kan, aku nggak liat langsung kondisi tempat tinggal kamu gimana. Tapi, dari sini aku ngerasa kalau tempat tinggal kamu itu emang biasa dijadiin jalan lalu-lalang makhluk halus," balas Andrew.
"Terus, menurut kamu, mereka ganggu aku atau nggak?" tulis Mala.
"Kan, tadi aku bilang belum bisa mastiin. Kalau janggal, ya pasti bakal ganggu, tapi kalau nggak, mereka cuman numpang lewat doang," balas Andrew.
Mala merasa gugup. Ada takut yang mulai menyelimuti pikirannya.
"Janggal, maksudnya gimana?" tulis Mala.
"Kalau itu, aku belum bisa jelasin... Soalnya susah mau jelasin kalau lewat chat kayak gini," balas Andrew.
"Terus, sekarang apa kamu bisa ngerasain kalau ada makhluk lain di dekat aku?" tulis Mala.
"Kalau sekarang sih, enggak," balas Andrew.
Mala langsung menghela nafas lega setelah membaca pesan Andrew, "Syukur deh...."
"Tapi, aku ngerasa ada sesuatu di depan kamar kamu, energinya diselimuti rasa dendam," balas Andrew.
Deg! Detak jantung Mala berdegup keras setelah membaca pesan Andrew. Mala menoleh ke arah pintu kamarnya yang tadi dibiarkan terbuka sedikit. Ia beranjak dan bergegas menutup pintu kamarnya rapat-rapat.
"Kok kamu bisa tau sih, kalau sekarang aku ada di dalam kamar?" tulis Mala, wajahnya nampak bingung sambil kembali duduk pada ujung sudut tempat tidur.
"Firasat aja sih sebenernya, tapi aku percaya sama firasatku," balas Andrew.
"Maksud kamu, di depan kamarku ada makhluk halus yang dendam?!" tulis Mala.
"Iya," balas Andrew.
"Dendam sama siapa dia? Apa dia dendam sama aku?" tulis Mala.
"Kayaknya nggak sama kamu deh. Soalnya kalau emang dia dendam sama kamu, dia pasti langsung ganggu kamu. Tapi, enggak, kan?!" balas Andrew.
Mala terdiam sejenak sambil perlahan menyerap kata-kata pesan yang diterimanya dari Andrew, "Ada benernya, sih... Aku, kan nggak pernah ngerasa digangguin sih," gumam Mala kemudian kembali mengetik pesan kepada Andrew.
"Eh, kamu nggak jadi tidur?" tulis Mala.
"Nah! Jadi lupa, kan aku... Wkwkwk," balas Andrew.
"Ya udah, kamu tidur gih, entar besok kesiangan," tulis Mala.
"Loh, kok malah jadi kebalik sih? Bukannya tadi aku yang ingetin kamu. Eh, malah sekarang kamu yang ingetin aku. Wkwkwk," balas Andrew.
"Wkwkwk. Kamu itu lucu banget," tulis Mala.
"Loh, kok lucu sih?! Kan, aku bukan pelawak," balas Andrew.
"Lucu aja... Hihi," tulis Mala, wajahnya nampak tersenyum sendiri sambil terus berbalas-balasan dengan Andrew.
"Nah, jadi lupa lagi, kan," balas Andrew.
"Lupa apa emangnya?" tulis Mala.
"Lupa mau tidur, Wkwkwk," balas Andrew.
"Ya udah, tidur gih," tulis Mala.
"Eh, bentar... Aku mau nanya satu lagi," balas Andrew.
"Hmm, mau nanya apa?" tulis Mala.
"Kamu chatting sama aku, apa nanti nggak ada yang marah?!" balas Andrew.
Mala langsung terdiam membaca pesan yang diterimanya dari Andrew.
"Nggak mau jawab... Biarin kamu jadi penasaran, hihi," tulis Mala.
"Yah... Ya udah deh, aku tidur, ya..." balas Andrew.
"G.Nite."
"G.Nite," balas Andrew.
Sepertinya itu adalah pesan terakhir dari Andrew untuk malam ini. Mala merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan menjangkaukan tangannya untuk meletakkan smartphone ke atas meja lampu tidur.
Mala menelentangkan tubuhnya. Menatap langit-langit kamar sambil mengingat-ingat lagi obrolannya dengan Andrew di aplikasi hijau pada smartphone-nya. Senyum bahagia tercurah di wajahnya. Mala merasa, sekarang Ia tidak kesepian lagi walau tanpa kehadiran Evant suaminya, di sisinya, menemani tidurnya.
Mala semakin larut dalam lamunan bahagianya, tanpa disadari, Ia pun terlelap dengan raut wajahnya yang masih nampak terus tersenyum.