Bab 37: Jauh Dari Angan-angan

1836 Kata
Mala meletakkan sendok dan garpu di atas piring sehingga membuat suara denting dari benturan sendok dan garpu kepada piring. Ia pun beranjak berdiri. "Kamu mau ke kamar kecil, Mal?" tanya Raya seketika. "Iya." Mala mengangguk, "Kamu mau ikut?" tanyanya kemudian. "Aku ikut." Raya langsung beranjak berdiri. "Tunggu, aku juga ikut!" seru Carolyn ikut beranjak berdiri. "Ya udah, yuk," ajak Mala lebih dulu melangkah. Carolyn dan Raya mengiringinya dari belakang. "Mal," panggil Raya mempercepat langkah agar berjalan beriringan di samping kanan Mala. "Hmm?" Mala menoleh ke kanan, mengangkat kedua keningnya menatap Raya. "Maaf, aku nanya nih, nggak apa-apa, kan?!" ucap Raya hati-hati. "Iya, nanya aja, Ray." Mala mengangguk dan menyunggingkan senyumnya. "Emm... Sebenernya, Kamu itu udah berkeluarga apa belum, sih, Mal?" tanya Raya pelan. Mala menoleh ke arah kiri menatap Carolyn yang juga langsung balas menatapnya, sehingga membuat Raya bingung dan kedua keningnya pun mengerut. "Belum, Ray," jawab Mala, "Emangnya kenapa?" "Oh... Aku kirain Kamu udah berkeluarga." Raya tersenyum menatap Mala. Carolyn hanya diam sambil mengerutkan kedua keningnya. Ia senggol pelan bahu kiri Mala, karena ia tahu bahwa Mala sudah berkeluarga, itupun tahu dari Mala sendiri ketika awal-awal kenal. Mereka bertiga tiba di depan ruangan yang ukurannya cukup besar. Pintu ruangan itu berdesain ala Meksiko. Di dalamnya terdapat tiga Urinoir dan empat buah kamar kecil. Tiga buah kamar kecil yang berjejer khusus untuk wanita dan satu kamar kecil khusus pria letaknya tepat di ujung kiri paling dekat dari pintu ruangan ala Meksiko itu. Dua dari tiga kamar kecil khusus untuk wanita terdapat kertas yang menempel pada pintu dan bertuliskan 'Pintu Rusak'. Hanya satu kamar kecil wanita yang bisa digunakan, letaknya berada di antara dua kamar kecil yang rusak. "Yah... Cuman satu doang yang bisa dipake," ucap Carolyn. "Aku duluan, ya!" seru Raya langsung masuk ke salah satu kamar kecil yang bisa digunakan. Carolyn menatap Mala, "Mal, bukannya waktu itu Kamu bilang kalau udah berkeluarga, ya?!" tanya Carolyn pelan. "Aku cuman pingin teman-teman yang lain nggak tau kalau aku udah berkeluarga," jawab Mala. "Loh, kenapa?!" Carolyn mengerutkan kedua keningnya. "Emm... Aku sangat berharap kalau Aku enggak sama suamiku lagi," jawab Mala pelan, "Jadi, aku bilang aja kalau aku masih sendiri." Mala tersenyum, kedua lesung pipinya jelas terlihat. Carolyn pun mengangguk tanpa mengatakan apapun, lalu Raya keluar dari kamar kecil. "Aku lagi, ya," ucap Carolyn langsung masuk ke kamar kecil. "Mal, kapan-kapan aku mampir ke rumah kamu, ya," ucap Raya. "Hah, eh! I-iya... Mampir aja, nggak apa-apa, kok," sahut Mala gugup, sehingga tingkahnya membuat Raya bingung. Pintu kamar kecil terbuka dan Carolyn melangkah keluar. Mala pun langsung masuk ke dalam kamar kecil bersamaan dengan Andrew masuk ke dalam ruangan. Andrew bertemu Carolyn dan Raya yang berdiri di depan pintu kamar kecil. Ia berjalan mendekati salah satu Urinoir, lalu berpaling lagi menatap Carolyn dan Raya. Ia melemparkan senyum sambil mengangguk. Carolyn dan Raya mengangguk sambil tersenyum malu menatap laki-laki yang mereka tidak tahu kalau itu adalah Andrew. Andrew pun kembali membalas senyum mereka berdua. "Emm, maaf..." ucap Andrew. "Duuh, kok aku jadi grogi sih, Lyn?!" bisik Raya menyenggol bahu Carolyn. "Apaan sih!" Carolyn balas menyenggol bahu Raya. "Mal, kamu masih lama, ya?" tanya Raya. "Bentar lagi, Ray," jawab Mala dari dalam kamar kecil. Andrew mengerutkan kedua keningnya. Ia berjalan ke kamar kecil khusus pria dan berdiri di depan pintunya. "Lyn, aku duluan ya," ucap Raya lebih dulu berjalan kembali menuju meja di mana Razhal dan Reyhand menunggu. "Eh! Tungguin aku, Ray!" Carolyn menyusul Raya. "Maaf ya, tadi aku... Loh, mereka di mana?!" ucap Mala setelah membuka pintu kamar kecil dan tidak melihat kedua temannya menunggu di depan pintu. Mala menoleh ke kanan dan tepat menatap Andrew yang berdiri di depan pintu kamar kecil khusus pria. Mereka berdua saling tatap. Andrew melemparkan senyumnya dan bergerak cepat mendekat ke arah Mala. Mala tidak menyangka jika Andrew berani berdiri dan mendekat ke hadapannya. Mala langsung tertunduk menyembunyikan wajahnya karena malu menatap laki-laki di depannya. "Mal," ucap Andrew. Mala perlahan mengangkat wajahnya menatap Andrew. Tanpa mengucapkan sepatah kata, Ia pergi menyusul Carolyn dan Raya yang lebih dulu meninggalkannya. Andrew menghela nafas kembali ke panggung dan mulai kembali bernyanyi. Kedua matanya terus saja terkunci menatap ke arah Mala. Sesekali Mala berpaling menatap ke arah panggung karena merasa kalau Andrew sejak tadi memperhatikannya. "Mal, kamu tinggal di Bandung sama siapa?" tanya Razhal. "Hah! Siapa? Aku?! He... Iya...." Mala terkejut dan seketika berpaling menatap Razhal. Ia tidak fokus dengan pertanyaan dari Razhal yang ditujukan kepadanya "Iya....?!" Razhal bingung dan mengerutkan kedua keningnya karena mendengar jawaban Mala yang tidak sesuai harapan. "Kayaknya Mala lagi nggak fokus nih, minum dulu, Mal..." ejek Raya. "Eh, i-iya, Ray... Makasih," ucap Mala bingung. Ia mengambil segelas air putih dan meminumnya, lalu berpaling lagi menatap ke arah panggung dan melihat Andrew yang melemparkan senyum ke arahnya. Mala tersedak. "Sabar, sabar, sabar... Pelan-pelan aja minumnya, Mal," ucap Carolyn menepuk pelan pundak Mala. Mala pelan-pelan kembali mengatur nafas, "Makasih, Lyn," ucap Mala. "Oh iya, ini udah jam berapa sih?" tanya Reyhand. "Baru jam sepuluh, kenapa emangnya, Rey?" Razhal menatap Reyhand. "Hah! Udah jam sepuluh ya." Mala bergegas memeriksa smartphone-nya memastikan yang dikatakan Razhal. "Iya, udah jam sepuluh... Kayaknya aku pulang deh, ya," ucap Carolyn, "Kasian anakku di rumah." Carolyn beranjak berdiri. "Loh, bukannya rumah kamu bukan di Bandung, Lyn?" tanya Raya. "Maksud aku vila, Ray," jawab Carolyn menunjukkan layar smartphone-nya kepada Raya. "Duh, duh, duh... Sang pangeran ternyata udah nelpon lima puluh enam kali." Raya menggeleng. "Kan... Aku pulang deh, ya... Daripada kena semprot mertua, hihi," ucap Carolyn. "Iya, aku juga mau pulang aja. Takut kemalaman," tambah Mala sembari memasukkan smartphone-nya kembali ke dalam tas, lalu berdiri. "Takut kena semprot mertua, Mal?" ejek Raya. Mala tersenyum masam. "Ya udah, kita barengan aja deh, ya," ucap Reyhand. Mala, Carolyn, Raya, Razhal, dan Reyhand pun beranjak dan bersama-sama berjalan menuju pintu restoran. "Nggak pamit dulu sama vokalisnya, Mal?" Raya menggoda Mala. "Ih, apaan sih?!" sahut Mala kecut, lalu mempercepat langkahnya. Di atas panggung, Andrew melihat kelima teman grup chat-nya berjalan menuju pintu restoran, dan Ia tahu bahwa kelima teman termasuk Mala hendak pulang. "Nitip mic lagi, ya, Sob." Andrew lagi-lagi menyerahkan mikrofon kepada teman di sampingnya. Ia beranjak turun dari panggung dan berdiri di depan pintu restoran menatap ke arah Carolyn, Raya, Reyhand, dan Razhal yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil mereka masing-masing dan pergi, "Mala belum pulang deh kayaknya," gumam Andrew menyeret pandangannya ke arah parkiran di mana mobil berwarna merah maron yang letaknya berdekatan dengan motorsport putih miliknya. Ia melihat Mala membuka pintu dan hendak melangkah masuk ke dalam mobil. Sesegera mungkin Andrew membuka pintu restoran dan menyusul Mala di parkiran. Mala menekan lama klakson mobilnya ketika hendak jalan karena Andrew tiba-tiba berdiri tepat di depan mobilnya. Andrew berjalan ke samping kanan mobil dan mengetuk kaca mobil di samping Mala. Mala mengangkat kepalanya menoleh ke kanan menatap Andrew yang berdiri samping pintu depan mobil. Andrew kembali mengetuk kaca mobil di samping Mala. Mala menghela nafas dan perlahan turun dari mobil. Ia berdiri berhadapan dengan Andrew. "Hai," sapa Andrew singkat diiringi dengan senyuman. Mala balas tersenyum. Wajahnya berubah merah menahan malu di hadapan Andrew, sosok laki-laki yang membuatnya penasaran. "Emm, kamu mau pulang?" tanya Andrew. Mala mengatup kedua bibirnya. Ia mengangguk dan melemparkan senyum kepada Andrew. "Oh, kalau gitu... Hati-hati, ya..." ucap Andrew tersenyum. Mala kembali mengangguk malu. Ia masuk ke dalam mobilnya dan perlahan menjauh dari Andrew. Matanya melirik ke spion sebelah kanan dan melihat Andrew yang melambaikan tangan kepadanya. Sambil mengemudikan mobilnya, sesekali Ia menatap layar smartphone yang tergeletak di atas kursi mobil di sebelahnya. Mala berharap kalau Andrew mengirim pesan kepadanya, tapi notifikasi yang ditunggu tak kunjung muncul. Mala memukul setir mobil, "Ih! Kok Aku jadi kayak gini sih!" gumam Mala kesal, "Malaaa, sadar Mala Mana mungkin dia suka sama kamu sih!" Mala menepuk wajahnya, menyadarkan dari angan-angan yang tak mungkin jadi kenyataan, apalagi sadar bahwa Ia adalah seorang Ibu Rumah Tangga dan Andrew tidak tahu itu. Mala tahu jika suatu saat kebenaran tentang dirinya pasti akan terungkap, walau serapat apapun menutupinya. Dalam perjalanan, Mala melihat sebuah minimarket dan teringat kalau Ia ingin membeli kebutuhan di rumahnya. Mala perlahan menyandarkan mobilnya di bahu jalan tepat di depan minimarket, lalu Ia turun dan masuk ke dalam minimarket. Selang beberapa menit, Mala keluar dari minimarket dengan membawa tas minimarket yang berisi barang-barang kebutuhan rumah. Mie instan, ikan kaleng, minuman bersoda, popok, dan beberapa kaleng s**u formula tidak luput Ia beli. *** Mobil berwarna merah maron yang dikemudikan Mala masuk ke dalam garasi. Mala turun dari mobil dan langsung menuju pintu depan rumah kediamannya. "Assalamu'alaikum," ucap Mala sembari membuka pintu depan rumah kediamannya. Tapi, keadaan di dalam rumah tampak sepi. Ia mengerutkan kedua keningnya, "Sy..." panggil Mala kepada adik perempuannya sembari melangkah masuk ke dalam rumah. "Ya, Kak." Mala mendengar sahutan Sisy dari arah ruang dapur kemudian berlanjut dengan suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya. "Sy, kamu bisa bantu Kakak nggak. Bawain belanjaan Kakak?" pinta Mala. "Hedeh... Iya, iya," sahut Sisy tidak bersemangat. "Yee, jangan gitu dong... Kakak juga udah beliin makanan kesukaan kamu loh," ucap Mala. "Emang apa makanan kesukaan aku?" tanya Sisy. "Itu, kerupuk rasa rumput laut," jawab Mala dengan nada sedikit mengejek. Sisy menghela nafas, "Ya udah, di mana belanjaannya, Kak?" tanya Sisy lemas. "Di garasi, nanti sama Kakak aja bawanya. Soalnya banyak," jawab Mala. Ia berjalan ke arah luar rumahnya dan diikuti oleh Sisy dari belakang. Tiba-tiba, Mala berhenti tepat di depan pintu rumahnya, "Eh, Julliant sama Clara mana?" Mala menengok ke arah dalam tepat menatap ruang tengah yang suasananya tampak sunyi karena tidak terdengar suara televisi di sana. "Udah pada tidur, Kak," jawab Sisy melangkah mendahului Mala, "Jam sembilan tadi." "Oh gitu, ya...." Mala menyusul Sisy. Sisy menjinjing dua tas kantong berukuran lumayan besar, dan Mala pun sama. Mereka berdua membawanya langsung menuju ruang dapur. "Ini semua langsung taruh di dalam lemari, Kak?" tanya Sisy. "Kamu taruh minuman ke dalam kulkas aja, Sy... Biar besok bik Minah yang beresin sisanya," jawab Mala sambil melangkah masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam ruangan dapur dan mencuci kedua kakinya. "Aku langsung tidur aja deh, ya, Kak," ucap Sisy setelah selesai memasukkan beberapa botol minuman bersoda ke dalam lemari pendingin. "Iya, lagian nggak bagus anak gadis begadang," sahut Mala melangkah keluar dari kamar mandi. "Duluan, Kak... Malam...." Sisy melangkah menuju kamar tamu meninggalkan Mala yang sendirian di meja makan dalam ruang dapur. "Huh... Capeknya..." Mala memejamkan kedua matanya. Tubuhnya Ia sandarkan pada tempat duduk sambil meregangkan otot pinggang yang terasa kaku. Lalu membuka mata menatap layar smartphone-nya yang tergeletak di atas meja makan. Matanya mulai lelah karena pesan yang diharapkan tak kunjung muncul. Tiba-tiba, Mala mendengar bunyi notifikasi panggilan telepon pada smartphone-nya. Kedua matanya yang tampak sipit seketika kembali segar karena melihat nama Andrew pada layar smartphone-nya. "Hah! Andrew nelpon Aku?!" gumam Mala. Ada perasaan senang bercampur bingung antara ingin menerima panggilan telepon itu atau tidak, karena adik dan kedua anaknya sudah tidur. Mala tidak ingin jika adik dan kedua anaknya tahu kalau Ia sedang berbicara dengan seseorang di telepon, apalagi seseorang itu bukanlah Evant, suaminya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN