Mala menghela nafas sembari melangkah menuju pintu depan restoran.
"Mereka di mana ya?!" gumam Mala sembari menggeser pandangannya dari kanan ke kiri menatap bagian dalam restoran melalui jendela kaca dari kejauhan.
Ketika Mala berjalan dan hampir sampai di dekat pintu depan restoran, Ia mendengar bunyi langkah kaki seseorang dari arah belakangnya. Tapi, Ia mencoba tidak menghiraukan bunyi langkah kaki itu dan terus berjalan.
'PLETAK PLETAK PLETAK.'
Mala mengenal bunyi langkah kaki itu yang berasal dari wedges yang Ia kenakan, tapi di belakangnya, Ia hanya mendengar bunyi langkah kaki tanpa alas yang diiringi gemericik air.
Mala merasakan detak jantungnya mulai cepat, nafasnya pun mulai tidak beraturan karena bunyi langkah kaki di belakangnya semakin jelas terdengar di telinganya.
Mala memperlambat langkahnya, dan bunyi langkah kaki di belakangnya juga ikut melambat. Wajah Mala mulai memucat karena perasaan takut yang menyelimuti hati dan pikirannya. Ia penasaran, tapi masih enggan untuk menoleh ke belakang. Ada sedikit rasa tidak percaya dengan apa yang sekarang Ia alami.
"Beneran nggak sih, yang aku dengar ini?" gumam Mala dalam hati sambil menyeret kedua matanya ke arah kiri bawah.
Mala berhenti tepat di depan pintu restoran, sekali lagi, bunyi langkah kaki yang mengikuti di belakangnya juga berhenti. Kali ini Mala semakin yakin bahwa seseorang yang di belakangnya bukanlah makhluk yang bisa dilihat dengan mata orang awam.
Mala menggerakkan angan kanannya dengan gemetar mendorong pintu restoran agar Ia bisa masuk, tapi tidak ada kekuatan untuknya. Semua kekuatannya sudah Ia gunakan untuk menahan rasa takutnya.
"Lama banget sih buka pintunya!" Tiba-tiba, seorang laki-laki yang sudah dua kali Mala jumpai berkata tepat di belakangnya.
Mala pun tersentak, wajahnya yang putih memucat berubah drastis menjadi merah, "Ternyata kamu yang dari tadi ngikutin aku!" bentak Mala seketika berpaling dan menatap laki-laki itu.
"Eh, enak aja!" sahut Laki-laki itu, "Jangan sok ke-pede-an, deh!" Laki-laki itu langsung mendorong tubuh Mala dengan pelan menggunakan kedua tangannya ke pinggir pintu, lalu mendorong pintu restoran dan segera masuk ke dalam restoran melewati di depan Mala.
Mala menggembungkan pipinya, "Iih! Dasar cowok aneh!" seru Mala geram sembari mengunci tatapannya mengikuti ke mana laki-laki itu berjalan. Namun, tiba-tiba smartphone-nya berdering, Ia pun langsung mengambil smartphone dari dalam tasnya. Mala melihat bahwa Carolyn—teman dumay-nya yang menelpon.
Mala menerima panggilan telepon dari Carolyn.
"Mal, kamu udah nyampe mana? Apa biar Bang Razhal aja yang jemput kamu?" tanya Carolyn.
"Enggak usah, Lyn. Ini aku juga udah nyampe di restoran. Kalian duduk di meja sebelah mana, sih?" tanya Mala menyebarkan pandangannya ke seluruh bagian dalam restoran.
"Kamu yang di dekat pintu, ya, pake baju warna putih itu, kan?" tanya Carolyn.
"Iya, bener. Kalian duduk di meja mana, sih?" Mala kembali menyebarkan pandangannya ke seluruh bagian dalam restoran dan melihat seorang perempuan yang berdiri sambil tersenyum dan melambaikan tangan ke arahnya, "Itu kamu, Lyn?" tanya Mala menunjuk ke arah perempuan yang melambaikan tangan ke arahnya.
"Iya, sini cepetan!" jawab Carolyn dan dengan bersamaan Mala melihat perempuan itu mendadahkan tangan ke arahnya.
Mala menutup panggilan dan langsung memasukkan smartphone-nya kembali ke dalam tas sembari berjalan mendatangi Carolyn dan beberapa teman dumay-nya yang sudah lebih dulu tiba.
"Widih... Ini beneran Mala nih?" tanya Reyhand beranjak berdiri menyapa Mala.
"Ya iya lah, emang siapa lagi?!" sahut Carolyn.
"Udah kayak artis aja kamu, Mal," ucap Razhal.
"Bisa benget Bang Raz ngelebih-lebihin," sahut Mala tersenyum malu.
"Duduk, duduk, Mal." Reyhand langsung menarik salah satu kursi di sampingnya untuk Mala.
"Jangan di samping Bang Rey, Mal. Kamu di samping aku aja," ucap Carolyn.
Mala tersenyum tipis kemudian duduk tepat di samping Carolyn.
"Bentar." Razhal menoleh ke kanan dan kiri, lalu Ia melihat seorang pelayan restoran yang sedang lalu lalang membawakan makanan ke meja lain, "Pelayan!" seru Razhal menatap ke arah pelayan sembari mengacungkan tangannya.
Pelayan restoran itupun mengangguk dan mendatangi Razhal, "Iya, Tuan... Ada pesanan?" tanya pelayan restoran itu sembari menyerahkan buku menu kepada Razhal.
Razhal tidak membuka buku menu itu, "Emm, saya pesan Aus Fillet Mignon, minumnya Earlgrey Tea, ya," pinta Razhal.
"Untuk sausnya, Tuan?" tanya pelayan restoran itu sambil menulis pada buku kecilnya.
"Bone Marrow Butter," jawab Razhal menggeser buku menu ke arah Raya.
"Kalau saya, Thai Beef Salad dan Cremee De Banana," pinta Raya setelah membolak-balik buku menu.
"Baik," ucap pelayan restoran menulis pada buku kecil di tangannya.
Reyhand meraih buku menu yang ada di tangan Raya, "Aku mau pesan... Nasi Lemak, Sticky Date Pudding Cake, kalau minumnya... Affogato," ucap Reyhand, "Kamu pesan apa, Mal?" tanya Reyhand menatap Mala.
"Aku duluan." Carolyn merebut buku menu dari Reyhand, "Aku pesen Beef Bacon Croquettes," ucap Carolyn kemudian membalik buku menu, "Emm, minumnya Chammomile Tea, aja," sambung Carolyn, "Kamu, Mal." Carolyn menyerahkan buku menu kepada Mala.
"Lasagna aja," ucap Mala.
"Minumnya, Nyonya?" tanya pelayan restoran menatap Mala.
"Emm, Smooth Guinness," jawab Mala dengan santai sembari menyerahkan buku menu kembali kepada pelayan restoran.
"Hah!" Carolyn, Raya, Reyhand, dan Razhal terkejut mendengar nama minuman yang dipesan Mala.
"Baik, sebentar lagi pesanan Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya akan segera diantar," ucap pelayan restoran itu kemudian berjalan menuju dapur restoran untuk memberikan pesanan.
"Kamu nggak salah pesan, Mal?" tanya Raya heran menatap Mala.
Mala menggeleng sambil tersenyum santai, "Enggak, kok... Aku udah biasa makan di restoran ini, jadi kalian jangan takut kalau mesan beer di sini... Nggak bakalan bikin mabuk, kok...."
Setelah lima menit, akhirnya pesanan mereka pun diantarkan langsung oleh sang koki yang meletakkan semua hidangan di atas meja.
"Silahkan dinikmati," ucap sang koki tersenyum, "Kalau ada yang diminta lagi, bisa panggil saya melalui pelayan," sambung sang koki dengan ramah.
"Baik, Chef," ucap Razhal mengangguk, dan sang koki itupun balas mengangguk lalu berjalan kembali masuk ke dalam dapur restoran.
***
"Mala," panggil Raya menatap Mala sembari saling menyantap hidangan di atas meja.
"Hmm?" Mala menoleh ke arah Raya.
"Andrew nggak datang, Mal?" tanya Raya.
Mala mengerutkan kedua keningnya, kemudian menggelengkan kepalanya sembari mengangkat kedua bahunya.
"Loh, bukannya kalian berdua itu kayak dekat gitu, ya?" tanya Carolyn.
"Pengennya sih... Tapi, Andrew susah banget dihubungin," jawab Mala.
Carolyn dan Raya mengangguk faham. Merekapun lanjut menyantap hidangan di atas meja.
Suasana dalam restoran begitu nyaman ditambah lantunan lagu dari seorang musisi yang memainkan lagu sambil memetik gitar akustik.
Mala menikmati hidangan di depannya dengan ditemani alunan lagu yang sangat merdu.
"Suaranya bagus banget, ya," ucap Raya.
"Iya, bagus, keren lagi orangnya," tambah Carolyn menoleh ke belakang tepat ke arah panggung, "Menurut kamu gimana, Mal?" tanya Carolyn menatap Mala.
"Iya, bagus suaranya," jawab Mala mengangguk.
Satu lagu selesai dinyanyikan musisi itu.
"Terima kasih kepada semua tamu restoran yang hadir malam ini. Baiklah, saya akan lanjut menyanyikan sebuah lagu kesukaan saya," ucap sang musisi yang suaranya terdengar menggema ke seisi restoran.
Musisi itupun mulai menyanyikan sebuah lagu.
"Hmm!" Mala mengerutkan kedua keningnya, kedua telinga Mala serasa berdiri ketika mendengar lantunan lagu yang dinyanyikan sang musisi, "Kayak kenal deh, suaranya. Siapa, ya?!" gumam Mala dalam hati sembari mendengarkan lagu dan mencoba mengingat suara dari musisi itu.
Setelah berhasil mengingat suara lantunan lagu yang dinyanyikan musisi itu, Mala langsung berpaling menatap ke arah panggung sambil berkata, "Itu Andrew!"
Mala langsung terdiam ketika mengetahui bahwa sang musisi itu ternyata adalah laki-laki yang tadi dan beberapa hari lalu membuatnya kesal.
"Yang bener aja kamu, Mal?" tanya Carolyn.
"Masa, sih?!" tambah Raya.
Mala tidak menjawab pertanyaan Carolyn, Ia seketika beranjak berdiri menatap tajam ke arah laki-laki yang bernyanyi di atas panggung itu.
"Beneran, Mal?" tanya Razhal.
"Enggak! Ternyata dia bukan Andrew!" ucap Mala seketika kembali duduk.
"Aku tadi juga ngiranya Andrew, suara dia mirip banget sama Andrew," ucap Raya.
Mala meraih smartphone miliknya dari dalam tas dan langsung mengirim chat kepada Andrew.
"Drew," tulis Mala.
Andrew langsung membalas chat Mala, tapi, bukan berbentuk tulisan, melainkan berbentuk sebuah rekaman suara.
Mala mengerutkan kedua keningnya lalu memutar rekaman suara itu, dan kedua telinganya mendengar lantunan lagu yang sama seperti yang dinyanyikan laki-laki di atas panggung.
"Kamu!" tulis Mala, kemudian badannya langsung berpaling ke belakang menatap ke arah panggung.
Dengan wajah bingung Mala menatap laki-laki di atas panggung yang tampak bernyanyi sambil memegang sebuah smartphone.
Mala mendengar bunyi notifikasi chat masuk dari Andrew.
"Jangan bilang sama siapa-siapa," balas Andrew.
Sambil sesekali menatap ke arah panggung, Mala menggerakkan kedua ibu jarinya mengetik pesan balasan kepada Andrew.
"Kamu beneran Andrew?!" tulis Mala.
"Beeneeeraaaan...." Laki-laki itu mengubah lirik terakhir pada lagi yang Ia nyanyikan.
Raut wajah Mala yang sejak tadi terlihat bingung langsung berubah tercengang menatap laki-laki musisi yang berada di atas panggung dan ternyata adalah Andrew.