Bab 35: Meet-Up dengan Teman Dumay

1482 Kata
Jam dinding mewah yang menempel pada dinding ruang tengah menunjukkan tepat pukul tujuh malam. Mala duduk pada sofa ruang tengah bersebelahan dengan Sisy yang sedang mengutak-atik smartphone. Mala selalu terbayang ketika asyiknya chatting dengan Andrew, teman online-nya yang juga satu grup dengannya, karenanya Ia pun berniat untuk kembali meng-install aplikasi berwarna hijau yang tadi pagi sempat Dia hapus. Mala menggerakkan tangannya meraih smartphone miliknya yang tergeletak di atas meja. Ketika tangannya sudah hampir menyentuh smartphone, tiba-tiba smartphone-nya mendapat panggilan telepon. Ia melihat nama Rima pada layar smartphone-nya. "Hah, Rima?! Ngapain sih dia nelpon malam-malam gini?!" gumam Mala membiarkan dering panggilan telpon itu berbunyi. Sisy menoleh ke arah Mala, "Loh, kok telponnya nggak diangkat, Kak?" tanya Sisy heran. "Males aja," jawab Mala kemudian beranjak berdiri dari sofa dan mengambil smartphone-nya, "Kakak ke kamar dulu, ya." Mala berjalan masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamarnya. Mala merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil mengutak-atik smartphone-nya meng-install aplikasi berwarna hijau. Setelah aplikasi warna hijau itu berhasil di-install, tiba-tiba Rima kembali menelpon. Mala mendengus kesal, "Huh! Ganggu banget sih!" gumamnya sembari menatap layar smartphone-nya, "Ya udah, angkat deh." Mala menerima panggilan telepon dari Rima. "Mala....!" Mala mendengar suara Rima yang memekikkan telinga sehingga Ia langsung membuat jarak pada smartphone agar gendang telinganya tidak terganggu. "Duuh... Rima! Enggak bisa apa kalau pelan-pelan aja, bukannya ngucap salam!" ucap Mala kembali menempelkan smartphone ke telinga kirinya. "Eh iya, maaf, maaf, maaf," sahut Rima terdengar tertawa kecil, "Assalamu'alaikum, bisakah Saya bicara dengan Bu Mala Rosalina...." "Huu, ngejek... Matiin nih telponnya!" sahut Mala. "Loh, bukannya ngejawab salam, malah ngatain Gue ngejek!" "Hmm, iya... Wa'alaikumsalam... Kenapa Rim?" tanya Mala. "Ini nih, Gue mau ngajak Elu ketemuan di kafe... Gimana, bisa, kan?" sahut Rima. "Kayaknya nggak bisa deh, Rim," jawab Mala. "Yah... Kenapa?" "Anak-anak nggak ada yang jagain soalnya, maaf banget ya...." Mala langsung memutuskan panggilan telepon kemudian lanjut untuk membuka aplikasi hijau yang sudah selesai di-install-nya dan berniat melakukan chat dengan Andrew. "Malam..." tulis Mala mengirim pesan kepada Andrew. Tapi, beberapa menit tak terlihat balasan darinya. "Dia sibuk mungkin," gumam Mala, "Mending aku chatting sama teman di grup aja deh." Ketika Mala masuk ke ruang obrolan, Ia melihat begitu ramai anggota grup yang membahas tentang acara meet-up. Reyhand: "Jadi gimana nih, jadi apa nggak?" Carolyn: "Ya jadi, lah...." Me: "Wah! Lagi pada bahas apaan nih?" Carolyn: "Mala, kamu mau ikut meet-up malam ini nggak? Mumpung sekarang aku di Bandung." Me: "Wah! Beneran?! Iya, aku ikut." Reyhand: "Nah, makin rame nih peserta meet-up." Me: "Emangnya siapa aja yang ikut?" Raya: "Aku ikut." Carolyn: "Kayaknya udah semua yang ikut nih. Jadi di mana ketemuannya?" Razhal: "Gimana kalau di restoran aja." Me: "Bang Razhal yang traktir, ya." Razhal: "Tenang, kalau buat Mala biar aku yang traktir, hehe." Raya: "Aku juga ditraktir ya, Bang." Razhal: "Nggak, aku traktir Mala aja... Wee." Raya: "Ih, Bang Raz pelit!" Razhal: "Becanda kok... Tenang aja, nanti semua aku yang bayar." Reyhand: "Mumpung ditraktir, aku izin ngajak anak istri ya, Bang." Razhal: "Anjrit! Ente mau pergi meet-up apa mau kondangan!" Me: "Wkwkwk. Ngakak aku." Carolyn: "Wkwkwk." Razhal: "VC grup aja biar enak." Mala melihat notifikasi undangan panggilan video dari grup yang muncul pada layar smartphone-nya, Ia pun langsung menerima panggilan video itu. "Hai..." sapa Mala dengan nada yang masih canggung sambil melambaikan tangan ke arah kamera depan smartphone-nya. "Hai, Mala," sahut Reyhand tampak melambaikan tangan pada layar smartphone Mala. "Jadi, janjiannya jam berapa nih?" tanya Razhal yang tampak wajahnya cukup berusia terlihat pada layar smartphone Mala. "Jam sembilan gimana, Bang?" tanya Reyhand. "Yang lain gimana, setuju nggak?" tanya Razhal. "Aku setuju," ucap Carolyn. "Aku juga setuju," tambah Raya. "Apa cuma kita yang meet-up?" tanya Reyhand. "Nanti aku kabarin lagi deh sama yang lain," sahut Carolyn, "Mala gimana, jadi ,kan?" Mala hanya diam sambil tersenyum dan mengangguk mengiyakan menatap kamera depan smartphone-nya. "Nah, kalau gitu aku siap-siap dulu ya." Carolyn memutus panggilan video-nya. "Aku juga siap-siap... Lagian kalau dandan, kan bakalan lama." Raya menyusul. "Aku juga mau siap-siap. Dah Bang Rey... Dah Bang Raz." Mala melambaikan tangannya ke arah kamera depan smartphone-nya dan ikut memutus panggilan video grup, "Apa Andrew juga ikut ya?!" gumam Mala mengkhayal sambil tersenyum sendirian. Mala beranjak bangun dan turun dari tempat tidur lalu mendatangi lemari baju untuk berganti pakaian. Tepat pukul setengah sembilan malam setelah selesai berganti pakaian, Ia pun langsung ke luar dari kamar mendatangi Sisy yang masih duduk pada sofa ruang tengah sambil mengutak-atik smartphone miliknya. "Sy, titip Julliant sama Clara bentar, ya," ucap Mala. Sisy langsung menoleh menatap Mala, "Emangnya, Kakak mau ke mana?!" tanya Sisy mengerutkan kedua keningnya. "Kakak mau beli kebutuhan rumah dulu," jawab Mala, "Mau, yah..." pinta Mala memelas dengan rayuan dari wajahnya. Sisy pun mengatupkan kedua bibirnya dengan rapat sembari menghela nafas, "Iya deh, Kak... Tapi, jangan lama-lama, ya, Kak," ucap Sisy. "Iya, Kakak enggak lama, kok," sahut Mala kemudian mendatangi Julliant dan Clara yang duduk di depan televisi, "Mamah mau beli kebutuhan rumah dulu... Dede jangan rewel, ya..." ucap Mala sembari memusut rambut Clara dengan lembut. Clara mengangguk mengiyakan kemudian lanjut menonton televisi sambil memeluk sebuah boneka kucing berwarna biru. "Jull... Kamu jangan isengin Tante Sisy sama Dede, ya..." ucap Mala mengingatkan Julliant. "Tenang, Mah... Malam ini Julliant nggak bakalan jahil, kok," sahut Julliant mengacungkan ibu jarinya ke arah ibunya. "Sy, Kakak pamit dulu, ya... Assalamu'alaikum..." ucap Mala. "Wa'alaikumsalam...." sahut Sisy dan Julliant serentak. Mala pun langsung berjalan ke luar rumah dan mendatangi mobil berwarna merah maron yang masih terparkir di dalam garasi rumah kediamannya. Mala menekan sebuah tombol berlampu warna merah di samping pintu garasi. Perlahan pintu garasi itu bergeser ke arah atas sehingga sebuah mobil berwarna merah maron mulai tampak di dalam garasi itu. Mala melangkah masuk ke dalam mobilnya dan langsung pergi menjauh dari rumah kediamannya. Ketika di perjalanan menuju sebuah restoran yang sudah dijanjikan dengan teman-teman grup-nya, Mala terjebak macet karena sedang terjadi laka-lantas di jalur yang hendak Ia lalui. "Duuh... Gimana nih..." gumam Mala mengeluh sambil menoleh ke arah depan mencari celah untuk mobilnya melintas, tapi kondisi jalanan sedang padat merayap. Terdengar bunyi dering panggilan telepon dari smartphone-nya yang tergeletak di atas kursi sebelah kirinya. Mala menoleh ke arah smartphone dan melihat nama Carolyn yang ternyata menelponnya. Mala meraih smartphone dan menerima panggilan telepon dari Rima. "Mal, kamu udah nyampe mana. Nih teman-teman yang lain udah pada ngumpul," ucap Carolyn dengan cepat. "Udah di jalan ke arah restoran, Lyn... Tapi, kayaknya nyampenya bakalan lama deh," sahut Mala. "Loh, emangnya kenapa? Mobil kamu mogok?" "Enggak, ini jalannya lagi macet banget, Lyn." "Oh gitu ya... Ya udah, kamu hati-hati aja di jalan, jangan cepat-cepat," ucap Carolyn *** Pukul 21:15 Setelah hampir lima puluh menit berjuang keras menerobos kemacetan di jalanan, akhirnya mobil berwarna merah maron yang dikendarai Mala menepi dan masuk ke area parkiran depan restoran yang sudah dijanjikan teman-teman grup di aplikasi warna hijaunya. Sembari menjalankan mobilnya perlahan, Mala menyebarkan pandangan mencari tempat kosong untuk memarkirkan mobilnya. "Nah, itu ada yang kosong," gumam Mala kemudian menjalankan mobilnya bergegas memasuki bagian parkiran yang kosong itu. Mala langsung membuka pintu mobil dan turun, tapi di saat yang bersamaan Ia mendengar suara klakson motor dari arah belakang mobilnya. Mala mengerutkan kedua keningnya sambil berjalan cepat mendatangi ke asal suara klakson motor tersebut, kemudian Ia melihat seorang laki-laki menunggangi motorsport berwarna putih berada tepat di belakang mobilnya. Laki-laki itu tidak lain merupakan laki-laki yang malam lalu hampir Dia tabrak ketika hendak menuju salon Roger. "Woy! Apa maksudnya nih!" Mala memukulkan telapak tangan kanannya pada spion kanan motor yang ditunggangi laki-laki itu, "Berisik banget!" "Loh! Kok malah ngegas sih!" sahut Laki-laki itu, "Bukannya ngerasa salah juga!" "Emangnya aku salah apa!" sahut Mala. "Coba liat, mobil kamu parkirnya terlalu dempet sama parkiran motor," ucap Laki-laki itu, "Nggak bisa, ya, kalau rapi sedikit naruh mobil?!" "Yee, coba liat. Aku udah bener markirin mobilnya...!" sahut Mala menunjuk garis putih pembatas antara parkiran mobil dan motor, "Hmm, aku tau...." Mala mengangguk pelan, "Kamu emang sengaja, kan, ngikutin aku!" sambung Mala menuduh. Tapi, laki-laki itu tidak menghiraukan ucapan Mala, dan sepertinya perhatian laki-laki itu hanya tertuju tepat ke arah belakang Mala berdiri. Mala pun penasaran dengan apa yang dilihat laki-laki itu dan menolehkan badannya ke belakang, tapi ia tidak melihat apa-apa dan kembali menatap laki-laki yang menunggangi motorsport putih di depannya. "Ka-kamu jangan nakut-nakutin aku, ya..." ucap Mala mulai takut, tapi rasa takut itu langsung ditampiknya, "Aku nggak bakalan takut! Huh!" sambung Mala mendengus kesal dan langsung berpaling menjauh dari laki-laki itu. "Cewek yang ngikutin di belakang kamu itu siapa?" tanya Laki-laki itu seketika membuat Mala menghentikan langkah kaki dan kembali berpaling menatapnya. "Di belakangku nggak ada siapa-siapa tau!" sahut Mala, "Cowok yang aneh!" sambung Mala bergumam mencibir kemudian kembali berpaling dan lanjut melangkah menuju pintu depan restoran. Sembari berjalan, Mala berpikir; Ia sudah lumayan lama merasakan benar seperti yang dikatakan laki-laki itu bahwa ada seseorang yang mengikuti di belakang tubuhnya, tapi Ia tidak melihat apapun ketika menoleh ke belakang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN