Bab 34: Pilih Aku atau Perusahaan!

1141 Kata
Di ruang tengah nampak Julliant bersama Clara sedang menonton televisi, sedangkan Mala menyendiri di ruang tamu sambil menengkurapkan tubuhnya di atas sofa. Mala menutup kepalanya dengan bantal yang ada di sofa ruang tamu. Kedua matanya terpejam, raut wajahnya menunjukkan rasa kesal yang masih menyelimuti hatinya karena kejadian tadi pagi ketika mendengar suara penelpon yang menelpon suaminya. Bik Minah berjalan dari arah dapur mendatangi Mala di ruang tamu. "Non Mala," panggil Bik Minah hati-hati. Mala langsung berbalik telentang, "Ya, Bik?" tanya Mala. "Saya pulang ya, Non... Udah sore," ucap Bik Minah berpamitan. "Iya, Bik... Terima kasih ya, Bik," sahut Mala tersenyum. "Assalamu'alaikum, Non," ucap Bik Minah. "Wa'alaikumsalam," sahut Mala. Bik Minah pun melangkah keluar dari rumah kediaman Mala dan langsung pulang kembali ke rumah kediamannya. Setelah bik Minah pulang, kemudian terdengar suara adzan Maghrib berkumandang. Mala pun segera beranjak bangun dan berdiri, lalu mendatangi Julliant dan Clara di ruang tengah. "Volume tv-nya kecilin, Jull," pinta Mala. "Iya, Mah." Julliant meraih remote televisi dan langsung mengecilkan volume televisi. Evant keluar dari kamar, lalu duduk pada sofa di ruang tengah dan melihat Mala, Julliant, dan Clara yang duduk di depan televisi. Mala menoleh ke arah Evant dengan tatapan masam. Tapi Evant tidak menghiraukan dan hanya mengutak-atik smartphone miliknya. Mala beranjak berdiri lalu duduk pada sofa tepat di sebelah kiri Evant. "Pah, Aku mau ngomong," ucap Mala menatap lurus tanpa menoleh ke arah Evant yang duduk di sampingnya. "Ya, Mah? Mau ngomong apa? Ngomong aja," sahut Evant dengan santai sambil terus mengutak-atik smartphone miliknya tanpa menatap Mala. Dengan tatapan kesal, Mala melirik ke arah smartphone yang dipegang Evant. Evant meletakkan smartphone-nya karena merasa tahu apa yang akan dibicarakan Mala, kemudian Ia menoleh ke arah kiri menatap Mala, "Kamu mau ngomong masalah telepon tadi?" tanya Evant, "Kamu jangan salah sa...." "Aku enggak bahas itu!" pungkas Mala menolehkan pandangannya ke arah kiri. "Terus, kamu mau ngomong apa?" tanya Evant sambil memegang pundak Mala. Tapi, Mala langsung menepisnya, lalu berbalik menatap Evant, "Pah, bisa enggak kalau kamu jangan terlalu memprioritaskan kerjaan kamu?" tanya Mala dengan wajah dan nada yang datar. "Loh, memangnya kenapa, Mah?!" Evant mengerutkan kedua keningnya, "Coba kamu pikir, Aku ini pewaris tunggal perusahaan ayah, dan Aku juga pasti harus bertanggung-jawab dengan perusahaan itu, Mah," jawab Evant. "Lalu, melupakan kewajiban kamu kepadaku dan anak-anak?" sahut Mala datar. "Bukannya semua kebutuhan kalian sudah Aku penuhi?! Belanja kamu, sekolah Julliant, kebutuhan Clara, semua tercukupi, kan?! Apa masih kurang?" tanya Evant. "Bukan masalah materi, Pah!" bentak Mala seketika berdiri. "Lalu, apa!" sahut Evant meninggi, "Coba Kamu pikir, apa kalian sanggup hidup sederhana sedangkan kalian sudah terbiasa hidup serba mewah seperti sekarang?!" Mala menggelengkan kepalanya, "Kewajiban seorang kepala rumah tangga itu bukan cuma mencukupi kebutuhan hidup, tapi kami juga memerlukan kasih sayang," sahut Mala, "Coba Papah ingat tadi pagi pas Clara bukain pintu. Apa kamu mau terus-terusan liat Clara kayak gitu?! Dia ngeliat ayahnya sendiri udah kayak orang asing di rumah ini! Apa kamu enggak takut kalau nanti lama-lama anak-anak bisa lupa sama wajah ayahnya sendiri?!" Evant tersenyum meremehkan, "Mana mungkin anak bisa lupa sama wajah orang tuanya sih?!" Mala semakin geram, "Begini saja! Kamu pilih kepentingan Aku sama anak-anak atau pilih kepentingan perusahaan ayahmu!" "Kamu itu enggak sadar kalau kalian sudah terbiasa hidup dalam kemewahan! Mana mungkin kalian sanggup hidup sederhana kalau Aku enggak nge-prioritas-in perusahaan ayah!" sahut Evant membentak. Mala menundukkan kepalanya menyembunyikan kedua matanya yang mulai berair. Evant menghela nafas dan meredam amarahnya, kemudian berjalan masuk ke dalam kamar meninggalkan Mala yang masih berdiri tertunduk di dekat sofa ruang tengah. Julliant menatap iba ke arah ibunya, sedangkan Clara tetap menonton televisi karena belum mengerti bahwa ayah dan ibunya sedang bertengkar. Evant keluar dari kamar dengan membawa tas kerjanya dan mendatangi Mala, "Aku ada meeting lagi malam ini," ucap Evant kemudian lanjut berjalan tergesa-gesa ke luar rumah dan langsung menjalankan mobilnya. Mala masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamar setelah mendengar bunyi deru mesin mobil yang dikendarai Evant menjauh dari rumah. Di dalam kamarnya, Ia pun tak mampu lagi membendung air-matanya. Julliant khawatir melihat keadaan Mala ibunya, "Mamah...." gumam Julliant lirih dengan raut wajahnya yang iba, "Dek... Kamu di sini dulu ya, Kakak ke rumah nenek sebentar mau manggil tante Sisy," ucap Julliant menatap adiknya. Clara mengangguk mengiyakan dan lanjut menonton televisi. Kemudian Julliant bergegas keluar mendatangi Sisy di rumah neneknya, meninggalkan Clara sendirian di ruang tengah. Beberapa saat kemudian, Julliant kembali pulang bersama Sisy. "Di mana Mamah kamu, Jull?" tanya Sisy berbisik. "Dalam kamar, Tante," jawab Julliant balas berbisik. "Ya sudah, kamu temenin Dedek dulu ya. Biar Tante yang nyamperin Mamah kamu," bisik Sisy, dan Julliant pun mengangguk mengiyakan kemudian mendatangi Clara yang masih duduk di depan televisi. Perlahan Sisy membuka pintu kamar, "Kak Mala," panggil Sisy hati hati sembari perlahan masuk mendatangi Mala, "Kak Mala kenapa menangis?" tanya Sisy. Ketika tahu bahwa Sisy berada di dalam kamarnya, Mala langsung mengusap air matanya dan menoleh ke arah Sisy dengan tersenyum seolah-olah tidak terjadi apa-apa kepadanya, "Hah, enggak kok, Kakak enggak nangis," jawab Mala seketika beranjak dari tempat tidur, "Kita ke ruang tengah aja yuk," ajak Mala, dan Sisy pun mengangguk. Ketika di ruang tengah, Mala mendatangi Julliant, "Jull, Papah kamu tadi udah berangkat kerja ya?" tanya Mala. "Iya, Mah... Papah udah berangkat," jawab Julliant mengangguk. Mala tertawa pelan, "Terus, apa Papah ada nitipin yang sama kamu?" tanya Mala lagi. "Enggak ada, Mah," jawab Julliant menggeleng, "Tapi, tadi Julliant ada lihat kalau Papah naruh uang di dalam tas di sana, Mah," sambung Julliant memberitahu sambil menunjukkan lemari etalase kaca yang di dalamnya tersusun beberapa koleksi tas branded dan sepatu branded milik Mala ibunya. Mala mengerutkan kedua keningnya, "Di dalam sana tasnya banyak, terus tas yang mana, Jull?" tanya Mala. "Itu, Mah, dalam tas yang warna biru malam," jawab Julliant menunjuk salah satu tas di dalam lemari etalase kaca. Mala berjalan ke lemari etalase kaca dan mengambil salah satu tas berwarna biru malam yang ditunjuk Julliant, lalu memeriksa bagian dalam tas itu. "Oh iya, ini ada," ucap Mala seketika mengambil uang dari dalam tas berwarna biru malam itu, kemudian memasukkan tas itu kembali ke dalam lemari etalase kaca. "Kak Mala," panggil Sisy hati-hati sembari mendatangi Mala. "Sy, kamu mau enggak nginep di sini?" tanya Mala seketika. "Emm... Iya mau, Kak." Sisy mengangguk setuju, "Tapi, aku izin sama ibu dulu, Kak," ucap Sisy. "Ya sudah." Mala mengangguk kemudian menoleh ke arah Julliant, "Jull, kamu temenin Tante Sisy ya ke rumah nenek," pinta Mala. "Iya, Mah." Julliant mengiyakan sembari beranjak berdiri. "Clara ikut...." sahut Clara memelas. "Enggak usah, Sayang... Kak Julliant sama Tante Sisy cuma sebentar kok. Lagian ini udah malem, nanti kamu masuk angin," ucap Mala menatap Clara. Clara langsung memonyongkan bibirnya dan mendengus, "Iya deh..." Clara kembali berpaling dan menatap televisi. "Yuk, Tante," ajak Julliant. "Iya." Sisy mengangguk, kemudian Ia bersama Julliant ke luar rumah dan langsung mendatangi ibu Ana, neneknya Julliant dan Clara, ibunya Sisy dan Mala.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN