Bab 33: Telepon Dari Perempuan

1127 Kata
Mala duduk pada sofa di ruang tengah sambil menonton televisi dengan raut wajahnya yang tampak seperti tidak bersemangat. *"Huh! Bosan." Mala mendengus kesal kemudian matanya melirik smartphone miliknya yang tergeletak di atas meja di depannya, "Mending chatting sama teman-teman di grup aja deh," gumam Ma kemudian meraih smartphone-nya dan membuka kunci layar pada smartphone-nya dengan pola, "Astaga! Aku lupa kalau aplikasinya udah aku hapus, ikh!" Mala menjadi semakin geram setelah teringat bahwa tadi pagi sudah menghapus aplikasi hijaunya, kemudian kembali meletakkan smartphone-nya di atas meja dengan kesal, "Ini gara-gara Evant, pakai acara pulang segala! Huh!" dengus Mala. Mala pun kembali menatap ke arah televisi yang juga ditonton Clara anak perempuannya. Tiba-tiba Mala dan Clara mendengar bunyi bel dari pintu depan. Clara langsung berpaling menatap ibunya, "Mah, Clara aja ya yang bukain pintu," pinta Clara. "Enggak usah, Sayang... Biar Mamah aja yang bukain," sahut Mala tersenyum menatap Clara sambil beranjak berdiri dari sofa. "Clara aja!" Clara langsung berlari ke arah pintu depan mendahului ibunya. "Jangan lari, Sayang," tegur Mala, tapi Clara tetap berlari sampai ke pintu depan dan perlahan membuka pintu itu. Setelah pintu dibuka, Clara seketika terdiam dan nampak takut ketika melihat Evant ayahnya yang berpenampilan sedikit lusuh dan berdiri di depan pintu. "Hai, anak Papah yang cantik," sapa Evant tersenyum sambil hendak memeluk Clara. Tapi belum sempat Evant memeluk, Clara langsung menghindar dan berlari mendatangi Mala sambil berteriak ketakutan. "Mamah!" jerit Clara sembari berlari mendatangi Mala ibunya. "Clara kenapa lari?" tanya Mala khawatir seketika berdiri sembari langsung memeluk dan menggendong Clara. Tapi, Clara hanya diam sambil menunjuk ke arah pintu depan. Mala pun menoleh ke arah yang ditunjuk Clara dan langsung melihat Evant suaminya yang melangkah masuk ke dalam rumah dengan penampilan yang lusuh seperti tidak terawat, rambutnya urak-urakan, dan baju yang dikenakannya juga nampak kotor. "Itu bener Evant?!" gumam Mala dalam hati merasa aneh dan merasa sedikit jijik ketika melihat penampilan suaminya yang berjalan ke arahnya itu, "Kamu mandi enggak sih, Pah?" tanya Mala ketika Evant tiba di hadapannya. "E-enggak sempat mandi, Mah," jawab Evant sembari tertegun melihat penampilan baru istrinya. "Emangnya sibuk banget ya?" tanya Mala lagi. "Iya, Mah... Banyak banget berkas yang harus aku tanda-tanganin. Jadi aku enggak sempat mandi," jawab Evant kemudian terdiam sesaat sambil memerhatikan penampilan baru Mala. Raut wajah Evant menunjukkan bahwa Ia merasa tidak asing ketika melihat penampilan baru istrinya itu, apalagi melihat dua mata yang menatap tajam kepada dirinya sendiri. Mala heran melihat tingkah Evant yang terdiam, "Kamu kenapa, Pah?!" tanya Mala sembari mengerutkan kedua keningnya. Evant tersentak dari lamunannya, "Hah! E-e-enggak kenapa-kenapa kok, Mah," jawab Evant nampak gugup, "Kamu kok tiba-tiba merubah penampilan, Mah, kenapa?" sambung Evant bertanya. "Hah?! Eee... Mending Papah mandi gih, terus istirahat. Kasian nih Clara sampai takut lihat Papahnya kayak gini," jawab Mala mengalihkan pembicaraan. Evant menatap Clara yang berada dalam gendongan istrinya, "Ya sudah, Papah mandi dulu ya, Sayang," ucap Evant sambil perlahan memusut rambut Clara. Tapi, Clara menghindar. Evant pun berjalan masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar tidurnya dan Mala. Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Evant segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan langsung terlelap. Sementara di ruang tengah, Mala perlahan menurunkan Clara dari gendongannya di depan televisi. "Enggak apa-apa, Sayang... Jangan takut, tadi itu papah kamu, Sayang," ucap Mala dengan lembut membujuk Clara yang masih tampak takut. Tiba-tiba, Mala mendengar suara dering panggilan telepon dari arah dalam kamarnya dan Evant. Tapi, dering panggilan telepon itu tidak berhenti. "Pasti Evant sudah tidur nih, makanya enggak tau kalau ada telpon," gumam Mala, "Sayang... Mamah mau ke kamar dulu ya, mau angkat telpon," ucap Mala sambil memusut rambut Clara dengan lembut. Clara pun mengangguk mengiyakan. Kemudian Mala berjalan masuk ke dalam kamar dan mengambil smartphone milik suaminya yang tergeletak di atas meja untuk lampu tidur. "Kok enggak ada namanya sih?" gumam Mala heran ketika hanya melihat nomor telepon tanpa nama dari penelpon pada layar smartphone milik suaminya. Mala menoleh ke arah Evant yang terlihat begitu pulas tertidur, "Pah, ini ada yang nelpon," ucap Mala, tapi Evant tidak mendengarnya karena tertidur, "Angkat enggak ya?" pikir Mala terdiam sejenak, "Ya sudah, angkat aja deh." Mala pun menerima panggilan telpon itu dan menempelkan smartphone milik suaminya pada telinga kanannya. Mala diam menunggu orang yang menelpon itu berbicara lebih dulu, tapi tak terdengar satu payah katapun dari penelpon di telinga Mala. "Kok enggak ada suaranya ya?!" pikir Mala sembari mengerutkan kedua keningnya. Ia memeriksa layar smartphone milik suaminya, "Loh, kok telponnya ditutup sih?!" gumam Mala kemudian Ia meletakkan kembali smartphone milik suaminya itu di atas meja lampu tidur. Mala berjalan ke luar kamar hendak mendatangi Clara di ruang tengah. Ia kembali mendengar dering panggilan telepon dari smartphone suaminya ketika sudah melintasi pintu kamar. "Nah, itu ada telpon lagi," gumam Mala seketika berbalik arah kembali masuk ke dalam kamar mengambil smartphone milik suaminya dan memeriksa layar smartphone itu, "Ini masih nomor telepon yang tadi." Mala mengerutkan kedua keningnya sembari langsung menerima panggilan telpon itu. Mala kembali menempelkan smartphone milik suaminya pada telinga kanannya dan diam menunggu si penelpon berbicara lebih dulu, tapi Ia masih mendengar suara dari si penelpon. "Masih zaman ya ada orang cuma misscall?!" gumam Mala kesal sembari meletakkan smartphone milik suaminya ke atas meja lampu tidur, kemudian Ia berjalan ke luar kamar dan duduk pada sofa di ruang tengah sambil menemani Clara menonton televisi. Mala kembali mendengar bunyi dering panggilan telepon pada smartphone milik suaminya setelah beberapa menit berlalu. Tapi, kali ini Ia hanya duduk pada sofa dan tidak menghiraukan bunyi dering panggilan telepon pada smartphone milik suaminya itu. Hingga Mala mendengar dering panggilan telepon itu delapan kali. Mala pun beranjak berdiri dari sofa, "Huh! Ganggu banget sih!" gumam Mala mendengus kesal sembari bergegas melangkah masuk ke dalam kamar kemudian mengambil smartphone milik suaminya dan segera menerima panggilan telepon itu. "Halo! Ini siapa sih! Dari tadi cuma nelpon tapi nggak ngomong!" bentak Mala berbicara pada smartphone milik suaminya. "Halo...." Suara lembut seorang perempuan terdengar di telinga Mala. Mala hanya diam dan langsung mendatangi Evant yang kala itu masih tertidur begitu pulas sampai mendengkur. "Pah, bangun, Pah." Mala berusaha membangunkan Evant suaminya. Evant perlahan membuka kedua matanya dan orang yang pertama Ia lihat adalah Mala istrinya. "Kenapa, Mah?" tanya Evant menatap istrinya. "Ini, dari tadi ada yang nelpon!" sungut Mala sembari dengan kasar menyerahkan smartphone yang dipegangnya itu kepada Evant. Evant pun meraih smartphone itu, dan dengan seketika Mala langsung berjalan ke luar kamar mendatangi Clara di ruang tengah. Evant menatap layar smartphone dan langsung mengerutkan kedua keningnya ketika melihat nomor telepon tanpa nama yang menelpon ke smartphone-nya. Evant segera menutup telpon itu tanpa mengatakan apapun kemudian beranjak bangun dan turun dari tempat tidur untuk kembali meletakkan smartphone miliknya di atas meja lampu tidur, lalu kembali merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur dan memejamkan kedua matanya sampai tertidur kembali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN