Terlihat senyuman cerah di wajah Mala yang langsung menggerakkan kedua ibu jarinya untuk mengetik dan segera mengirim pesan ke dalam grup chat-nya.
Me: "Wah! Bernuntung asa teman begadang."
Andrew: "Nah, typo...."
Me: "Maksudnya: Beruntung ada teman begadang. Duuh, jadi malu."
Mala menepuk dahinya merasa malu karena ketahuan sedang gugup ketika melakukan chatting dengan Andrew.
Andrew: "Wkwkwk... Pelan-pelan aja ngetiknya...."
Me: "He... Iya, grogi nih."
Andrew: "Loh, kok grogi sih?!"
Me: "Yang lain pada ke mana?"
Andrew: "Kayaknya enggak ada lagi deh, biasanya penghuni yang lain udah pada tidur kalau jam segini."
Me: "Kamu enggak tidur sama kayak yang lain?"
Andrew: "Belum mengantuk."
Me: "Wah! Sama dong... Aku juga belum mengantuk."
'Andrew hanya membalas pesan grup dari Mala dengan sebuah emotikon tersenyum.'
Me: "Kalau boleh tau, kok setiap bikin video, muka kamu selalu ditutup topeng, memangnya kenapa?"
Andrew: "Enggak kenapa-kenapa sih... Biar lebih gaya aja, He...."
Me: "Oalah...."
Andrew: "Kamu udah lama tinggal di Bandung?"
Me: "Lumayan lama. Eh! Kok kamu bisa tau sih kalau aku tinggal di Bandung?"
Andrew: "Tebakan beruntung aja... He..."
Me: "Kalau kamu, asalnya di Bandung juga?"
Andrew: "Eem... Bisa dibilang begitu sih...."
Me: "Loh, kok gitu?"
Andrew: "Sebenarnya, aku lahir di Kalimantan, tapi orang tuaku asli Bandung."
Me: "Terus sekarang tinggal di mana?"
Andrew: "Eemmm... Kasih tau enggak ya...."
Me: "Iih. Ngasih tau aja pelit amat!"
Andrew: "Astaga!"
Me: "Astaga kenapa?"
Andrew: "Aku baru nyadar kalau kita chat di grup. Wkwkwk."
Me: "Hah! Iya!"
Andrew: "Kaburrr!"
Me: "Yah, kok kabur?! Jangan tinggalin aku...."
Mala begitu senang karena dapat mengobrol dengan Andrew walaupun hanya dengan chatting melalui aplikasi hijau di smartphone-nya.
Kemudian terdengar bunyi notifikasi yang menandai sebuah pesan masuk pada smartphone di tangan Mala, dan ternyata itu adalah pesan dari Andrew.
"Hah! Akhirnya sekarang dia yang chat aku duluan... Duh senangnya...." Mala tersenyum bahagia kemudian membuka pesan dari Andrew.
"Sumpah, aku enggak nyadar kalau tadi kita chatting di grup. Wkwkwk."
"Hehe... Kamu takut ketahuan para fans kamu ya kalau chatting sama aku?" tulis Mala.
"Enggak... Aku enggak takut soalnya yang nge-fans cuma kamu, Wkwkwk," balas Andrew.
"Ke-pede-an! Whuu!" tulis Mala.
Obrolan chat antara Mala dengan Andrew terus berlanjut.
"Wah! Enggak kerasa kalau sekarang udah pagi aja," balas Andrew.
"Hah! Masa sih?!" tulis Mala.
Mala mengerutkan kedua keningnya kemudian menoleh ke arah jendela di dalam kamarnya yang sudah terlihat terang dari luar jendela.
"Iya, beneran udah pagi ternyata, hehe," tulis Mala.
"Ya udah, aku offline dulu ya... Mau siap-siap berangkat kerja," balas Andrew.
"Memangnya kamu enggak ngantuk apa?" tulis Mala. Namun, Andrew tidak membalas pesannya lagi.
"Yah...." Mala menghela nafas, "Sepi lagi deh..." keluh Mala kemudian meletakkan smartphone-nya ke samping tubuhnya.
Tiba-tiba, Mala dikejutkan dengan bunyi notifikasi di smartphone-nya. Mala langsung meraih smartphone-nya dan membuka pesan yang ternyata masih dari Andrew.
"Kalau urusan tidur sih gampang aja, sambil kerja juga bisa, hehe," balas Andrew.
"Nah, dia masih balas chat aku," gumam Mala sambil tersenyum dan seketika membalas pesan kepada Andrew.
"Memangnya kamu kerja apa dan di mana sih? Kok bisa tidur sambil kerja?" tulis Mala.
"Emm, Ada deh..."
"Aku berangkat kerja dulu ya... Nanti jam istirahat siang aku chat lagi," balas Andrew.
Mala begitu senang membaca pesan dari Andrew yang berjanji akan kembali chatting dengannya lagi pas siang.
"Beneran ya... Awas kalau bohong!" tulis Mala.
"Iya..." balas Andrew.
"Hati-hati, ya..." tulis Mala.
"Hati-hati kenapa memangnya?" balas Andrew.
"Hati-hati jatuh hati," tulis Mala.
Kemudian tak terlihat lagi balasan dari Andrew.
"Kayaknya dia udah berangkat kerja deh," gumam Mala, kemudian sadar bahwa pesan yang tadi Ia kirim terlalu bersifat agresif, "Duuh! Kok aku malah ngirim pesan kayak gitu sih!"
Tiba-tiba, Mala dikejutkan dengan suara ketukan pintu dari pintu depan rumah kediamannya, "Non Mala...."
"Oh! Itu bik Minah," gumam Mala seketika beranjak bangun dan turun dari tempat tidur kemudian meletakkan smartphone-nya di atas meja rias, "Sebentar Bik!" teriak Mala menyahut panggilan dari Bik Minah yang menunggu di depan pintu.
Mala mempercepat langkahnya ke arah pintu depan dan langsung membukakan pintu itu untuk bik Minah.
"Silahkan masuk, Bik," ucap Mala sopan sambil tersenyum menatap Bik Minah.
"Iya, terima kasih, Non." Bik Minah melangkah masuk.
"Tumben datangnya pagi sekali, Bik?" tanya Mala.
"Loh, bukannya biasa saya datang jam segini, Non?" sahut Bik Minah balik bertanya.
"Eh, ini emangnya udah jam berapa sih?!" Mala berpaling ke arah dalam dan menatap jam dinding pada ruang tamu yang sudah menunjukkan tepat pukul tujuh pagi, "Iya, udah jam tujuh."
"Non Mala kok wajahnya pucat sih?" tanya Bik Minah ketika tidak sengaja melihat wajah Mala yang terlihat sedikit pucat.
"Masa sih, Bik?! Tapi, Aku enggak ngerasain apa-apa kok. Malahan tubuh aku rasanya segar dan sehat banget loh, Bik," jawab Mala, kemudian tampak wajahnya yang tersenyum sendirian karena teringat ketika tadi malam sampai pagi Ia chatting dengan Andrew.
"Non Mala begadang nih pasti..." ucap Bik Minah menatap Mala penuh selidik.
"Iya, sejak tadi malam aku belum tidur, Bik," jawab Mala.
"Oalah, pantesan wajah Non Mala kelihatan pucat, jadi gara-gara enggak tidur to," ucap Bik Minah.
"Kayaknya sih begitu, Bik," sahut Mala.
"Ya sudah, saya izin langsung ke dapur deh, Non. Sekalian nanti saya bikinkan minuman vitamin untuk Non supaya wajah Non Mala bisa kelihatan sueger lagi," ucap Bik Minah.
"Emm... Boleh tuh." Mala mengangguk, "Oh iya, sekalian siapin sarapan untuk anak-anak ya, Bik," pinta Mala.
"Beres, Non." Bik Minah mengacungkan ibu jarinya ke arah Mala sambil berjalan masuk menuju ruang dapur.
Ketika Bik Minah berjalan menuju dapur, tiba-tiba terdengar bunyi dering tanda sebuah panggilan masuk pada smartphone Mala yang ada di dalam kamar.
"Siapa sih yang nelpon pagi-pagi begini?!" gumam Mala, "Apa mungkin Andrew yang nelpon yah?!" pikir Mala seketika tersenyum kemudian bergegas ke kamarnya dan mengambil smartphone-nya yang tergeletak di atas meja rias.
Raut wajah Mala berubah seratus delapan puluh derajat ketika mengetahui ternyata yang menelpon adalah Evant suaminya.
"Apa mungkin hari ini Evant pulang?!" pikir Mala mulai gugup, "Aku hapus dulu deh aplikasi chat-nya."
Mala menolak panggilan telpon dari Evant dan langsung menghapus aplikasi hijau dari smartphone-nya.
"Aku pasang kunci pola aja biar smartphone-ku enggak diutak-atik Evant kalau nanti aku sibuk," gumam Mala seketika menyeting smartphone-nya agar hanya bisa dibuka dengan memasukkan pola.
Setelah Mala selesai memasang kunci pola pada smartphone-nya, tiba-tiba Mala melihat notifikasi panggilan telpon dari Evant, dan Ia pun mengangkat panggilan telpon itu.
"Assalamu'alaikum..." sapa Mala dengan nada tidak bersemangat.
"Wa'alaikumsalam, Mah," jawab Evant.
"Ada apa, Pah?" tanya Mala.
"Aku cuman mau ngasih tau kalau pagi ini aku pulang, Mah," jawab Evant.
"Oh. Jam berapa, Pah?" tanya Mala.
"Sekitar jam delapan, Mah," jawab Evant.
"Ya sudah, aku mau bangunin Clara ya, Pah," ucap Mala.
"Iya, Mah."
Mala langsung memutuskan panggilan telepon dari suaminya kemudian meletakkan kembali smartphone-nya di atas meja rias.
"Aku cek Julliant dulu deh, kali aja dia belum bangun," gumam Mala kemudian berjalan ke luar kamar dan langsung mendatangi ke kamar Julliant.
Setelah membuka pintu kamar Julliant, seperti biasa Mala melihat anak lak-lakinya itu sudah mengenakan seragam sekolah.
"Julliant, sarapan dulu gih di dapur. Bik Minah kayaknya udah siapin sarapan," ucap Mala.
"Iya, Mah," sahut Julliant mengangguk kemudian langsung berjalan ke luar kamar dan menuju ruang dapur untuk sarapan pagi.
Perlahan Mala menutup pintu kamar Julliant kemudian mendatangi ke kamar Clara.
Mala perlahan membuka pintu kamar Clara dan melihat Clara masih tertidur pulas, "Astaga, Clara belum bangun..." Mala melangkah masuk dan dengan lembut membangunkan Clara anak perempuannya, "Clara sayang... Bangun yuk... Udah pagi," ucap Mala sambil dengan lembut memusut rambut Clara.
Clara menggeliat setelah berhasil dibangunkan ibunya. Perlahan Clara membuka kedua matanya dan menatap ibunya.
"Mamah..." sapa Clara tersenyum menatap Mala.
"Yuk bangun, Sayang... Kita sarapan bareng kak Julliant di dapur," ajak Mala.
"Iya, Mah." Clara beranjak bangun kemudian langsung menuju ruang dapur bersama Mala ibunya.
Setibanya di ruang dapur bersama Clara, Mala melihat Julliant yang sudah lebih dulu menyantap sarapan di meja makan.
Bik Minah berjalan menghampiri Mala dengan membawa segelas minuman vitamin racikannya sendiri.
"Ini, Non... Minuman vitamin yang tadi saya bilang," ucap Bik Minah sembari menyerahkan gelas berisi minuman vitamin kepada Mala.
"Wah! Terima kasih, Bik." Mala menyambut gelas itu dan langsung meminumnya, "Enak, Bik," ucap Mala semringah, "Bikinnya pakai apa sih, Bik?" tanya Mala.
"Ini resep turun temurun, Non. Bahannya juga lengkap di rumah Non Mala, jadi Non enggak perlu khawatir... Bikinan saya dijamin higienis," jawab Bik Minah tersenyum sembari mengacungkan ibu jarinya ke arah Mala.
"Tiap pagi saya minta dibikinin ini ya, Bik," pinta Mala, "Nanti saya kasih upah lebih deh, tenang aja pokoknya," sambung Mala.
"Beres, Non," ucap Bik Minah mengangguk, "Ya sudah, saya lanjutin kerjaan ya, Non."
"Iya, Bik." Mala mengangguk kemudian duduk dan meletakkan gelas kosong di atas meja makan. Mala menatap Julliant, "Sayang, tadi malam kamu ke kamar mandi ya?" tanya Mala.
"Enggak kok, Mah," jawab Julliant sembari menggelengkan kepalanya.
Mala mengerutkan kedua keningnya, "Terus, tadi malam kamu udah matiin lampu dapur atau belum?"
"Sudah, Mah... Tanya aja tuh sama Dedek," jawab Julliant.
Mala percaya dengan penuturan yang diucapkan anak laki-lakinya itu, karena Ia tidak sekalipun pernah mendengar kalau Julliant pernah berkata bohong, apalagi Julliant menegaskan bahwa adiknya, yaitu Clara yang menjadi saksi ketika Ia benar-benar mematikan lampu dapur tadi malam.
"Memangnya kenapa, Mah?" tanya Julliant.
"Hah, e-enggak kenapa-kenapa kok, Sayang," jawab Mala mencoba melupakan kejadian aneh yang Ia alami tadi malam, "Ya sudah, kamu habisin sarapannya dulu. Jangan lupa bawa bekalnya ya," sambung Mala mengingatkan.
"Iya, Mah... Bekalnya juga udah Julliant masukkan ke dalam tas kok," ucap Julliant.
Tiba-tiba terdengar bunyi klakson sebuah motor dari arah depan rumah ketika Mala, Julliant, Clara, dan Bik Minah di dalam ruang dapur.
Mala menoleh ke arah Bik Minah yang sedang mencuci piring, "Bik, itu bunyi motor pak Sugeng atau bukan, Bik?" tanya Mala.
Bik Minah menoleh ke arah Mala, "Bener, Non. Itu bunyi klakson dari suami saya," jawab Bik Minah mengangguk kemudian lanjut mencuci piring.
"Nah! Itu pak Sugeng-nya udah datang. Ayo Julliant, kasian pak Sugeng nanti kelamaan nunggu," ucap Mala menatap Julliant.
"Iya, Mah." Julliant bergegas menghabiskan sarapannya kemudian segera menghambin tasnya dan langsung mendatangi pak Sugeng yang ada di depan rumah.
"Mah, temenin Clara nonton tv sama main yuk, Mah," pinta Clara.
"Iya, Sayang... Tapi, habisin dulu sarapannya ya," ucap Mala.
Clara mengangguk dan bergegas menghabiskan sarapannya.
Setelah Mala dan Clara selesai menyantap sarapan pagi, mereka berdua pun menuju ruang tengah.
Mala duduk pada sofa sambil mengawasi Clara bermain dan menonton kartun di televisi.