Suasana jalan nampak sedikit lengang karena memang jarang ada pengguna jalan yang berkendara atau berjalan di malam hari.
Mala mengendarai mobil berwarna merah maron-nya sambil sesekali menyeret tatapannya ke arah smartphone-nya yang tergeletak di kursi kiri di sebelah Mala.
"Kok Andrew belum balas chat aku sih?!" gumam Mala dengan wajah merangut.
Tiba-tiba, Mala dikejutkan dengan suara klakson panjang dari arah depan mobilnya.
Mala menoleh ke depan dan langsung menginjak pedal rem seketika karena melihat seorang laki-laki yang mengendarai motor sport berwarna putih yang hampir dia tabrak.
Laki-laki yang mengendarai motor sport berwarna putih itu berhenti tepat di depan mobil Mala.
"Kok dia enggak ke pinggir sih?!" gumam Mala kesal lalu menekan klakson mobilnya sebanyak empat kali, "Woy minggir!" teriak Mala di dalam mobil.
Tapi, laki-laki itu tidak beralih dari depan mobil Mala.
"Mau dimarahin nih orang!" gumam Mala kesal kemudian turun dari mobil dan langsung mendatangi laki-laki itu.
Laki-laki itu perlahan turun dari motornya sambil melepaskan helmnya, kemudian tersenyum tipis menatap Mala.
Mala mengerutkan kedua keningnya, "Ngapain sih nih orang senyum-senyumin aku, sok kenal banget!" ucap Mala dalam hati kemudian semakin mempercepat langkahnya mendatangi laki-laki itu.
"Ka...."
"Apa senyum-senyum!" pungkas Mala ketus sehingga membuat laki-laki itu mengurungkan niatnya untuk berkata, "Kalau jalan itu liat-liat dong! Untung aja enggak aku tabrak!" bentak Mala kesal memarahi laki-laki itu, "Apa udah bosan hidup! Habis diputusin pacar! Atau memang sengaja ya, biar aku ganti rugi!" Mala memarahi laki-laki itu habis-habisan.
Namun, laki-laki itu hanya diam dan menatap santai tidak menghiraukan bentakan dari Mala.
"Kenapa diam! Sadar diri kalau salah ya!" bentak Mala lagi.
Laki-laki itu menghela nafas sambil menggelengkan kepalanya, "Lain kali, kalau lagi nyetir mobil, sebaiknya jangan sambil main hp, bisa membahayakan pengguna jalan yang lain, kan kasian."
Mala diam seribu bahasa dan menundukkan wajahnya. Jantung Mala serasa diremas setelah mendengar penuturan laki-laki yang berdiri di hadapannya itu, karena ia sadar bahwa kejadian tadi itu adalah salahnya yang tidak fokus dengan jalan.
"Ya sudah, aku mau lanjut jalan lagi. Lain kali hati-hati ya," ucap laki-laki itu kemudian menyalakan mesin motor sport berwarna putih miliknya dan langsung menjalankannya menjauh dari Mala dan mobil merah maron di belakang Mala.
Mala mendengus kesal kemudian masuk ke dalam mobil dan lanjut menjalankan mobilnya tepat menuju rumah kediaman ibu Ana.
***
Mobil merah maron yang dikendarai Mala berhenti tepat di depan rumah kediaman ibu Ana, yaitu ibunya.
"Sekarang jam berapa sih?!" gumam Mala sembari memeriksa waktu pada layar smartphone-nya, "Udah jam delapan malam?!" Mala bergegas turun dari mobil dan menuju ke depan pintu depan rumah kediaman ibu Ana yang tertutup.
Mala mengetuk pintu depan rumah, "Assalamu'alaikum," ucap Mala memberi salam sembari mengetuk pintu sebanyak tiga kali.
Mala melihat Ibunya berdiri dan menatapnya dengan tatapan sedikit marah.
"Kemana aja sih kamu, Mal?! Kok lama banget! Kasian Julliant sama Clara sejak tadi nyariin kamu," ucap Ibu Ana.
"Kan, tadi Mala ke salon, Bu," jawab Mala, "Lagian kan, Julliant sama Clara juga udah biasa nunggu aku selama itu, Bu."
Ibu Ana menghela nafas, "Ya sudah, masuk dulu. Ibu mau ambilin kunci rumah kamu." Ibu Ana masuk ke dalam dan mengambil sebuah kunci tepat di atas sofa ruang tamu, Mala pun melangkah masuk, "Ini kunci rumah kamu." Ibu Ana menyerahkan sebuah kunci kepada Mala.
"Iya, Bu... Terima kasih ya, Bu," ucap Mala sambil meraih kunci itu, Julliant... Clara... Kita pulang!" seru Mala.
Beberapa saat kemudian, tampak Sisy yang menuntun Julliant dan Clara ke ruang tamu.
"Mamah!" seru Clara langsung berlari dan memeluk tubuh ibunya.
Mala pun balas memeluk Clara, "Hay, Sayang," ucapnya kemudian menoleh ke arah Sisy, "Malam ini Kamu nginep di rumah aku kan, Sy?!" tanya Mala.
"Kayaknya enggak deh, Kak," jawab Sisy menggeleng.
"Loh, kok enggak, kenapa memangnya?" tanya Mala lagi.
"Sisy rindu masakan Ibu, Kak," jawab Sisy.
"Kan, kamu bisa bawa makanan yang Ibu masak ke rumah kakak," ucap Mala memaksa.
"Enggak deh, Kak Mala ... Entar rasanya berubah," sahut Sisy.
"Ya sudah deh. Kakak juga enggak mau memaksa," ucap Mala, "Julliant, Clara, yuk kita pulang," ajak Mala.
"Ayo pulang!" seru Clara melompat senang.
"Bu, Sy... Mala pulang ya...." Mala meraih tangan Ibu Ana dan mencium punggung tangan Ibu Ana.
Mala mengulurkan tangannya ke arah Sisy yang langsung menyambut dan mencium punggung tangan Mala kakaknya.
"Assalamu'alaikum..." ucap Mala memberi salam untuk berpamitan.
"Wa'alaikumsalam," sahut Ibu Ana dan Sisy bersamaan.
Mala menuntun Julliant dan Clara sampai masuk ke dalam mobil, lalu menjalankan mobil membawa Julliant dan Clara menuju pulang ke rumah.
Beberapa jarak kemudian, akhirnya mobil berwarna merah maron sudah dibawa Mala masuk ke dalam garasi setelah menurunkan Julliant dan Clara di depan rumah.
"Yuk, masuk..." ajak Mala kepada Clara dan Julliant setelah membuka kunci pintu depan rumah kediamannya.
Julliant dan Clara dengan langkah gontai masuk ke dalam rumah.
"Jangan lupa cuci kakinya ya, lalu langsung ke kamar... Tidur..." ucap Mala.
"Ya, Mah..." sahut Julliant lesu karena sudah merasa mengantuk.
"Kamu temenin Adekmu cuci kaki ke kamar mandi ya, Jull," pinta Mala, "Jangan lupa, kalau sudah selesai matikan lampu dapur ya...."
Julliant mengangguk, "Iya, Mah..." ucapnya kemudian menuntun Clara berjalan menuju ruang dapur untuk mencuci kaki di dalam kamar mandi. Setelah selesai mencuci kaki, Julliant pun mematikan lampu di ruang dapur, lalu mengajak Clara untuk tidur di kamar mereka masing-masing.
***
Ketika Julliant dan Clara sudah tertidur pulas di kamar mereka masing-masing, Ibu mereka, yaitu Mala belum merasa mengantuk karena begitu asyik chatting di grup chat pada aplikasi hijau sambil duduk pada sofa di ruang tengah dengan ditemani secangkir kopi hangat yang sesekali Ia seruput.
Tapi, Mala kembali merasakan suasana malam yang semakin hening ketika beberapa anggota di grup sudah berhenti chatting karena hendak tidur dan membuatnya ikut mengantuk.
"Yah... Sepi lagi deh," gumam Mala mengeluh, kemudian meletakkan smartphone-nya di atas meja dan menghabiskan kopinya.
Mala menoleh ke arah ruang dapur dan melihat lampu di dapur masih menyala.
"Loh?! Bukannya tadi lampu di dapur sudah dimatikan Julliant?!" gumam Mala heran, "Apa Julliant lupa ya matiin lampu dapur?!"
Mala pun beranjak berdiri dan berjalan menuju ruang dapur untuk mematikan lampu di ruang dapur.
Ketika lampu dapur dimatikan, Mala mendengar suara gemericik air di dalam kamar mandi.
"Oh, Julliant lagi pipis mungkin," gumam Mala menoleh ke arah kamar mandi, "Eh! Tapi kok aku enggak lihat Julliant lewat yah?!" gumam Mala lagi, "Mungkin tadi aku keasyikan chatting, jadi enggak sadar kalau Julliant lewat." Mala kemudian keluar dari ruang dapur dan mengambil smartphone-nya di ruang tengah, lalu membawanya masuk ke dalam kamarnya.
Mala langsung menghempaskan tubuhnya berbaring di atas tempat tidur, tapi tangan kanannya tak lepas menggenggam smartphone kesayangannya.
Mala meletakkan smartphone di samping bantal, lalu memaksa kedua matanya untuk terpejam. Namun, usahanya untuk tidur tidak berhasil.
Mala berguling-guling di atas tempat tidur, merasakan kegelisahan hatinya karena merasa kesepian sendiri di dalam kamar. Hanya suara jangkrik dari belakang rumahnya yang Ia dengar.
"Malam-malam begini, jangkrik aja ada teman... Terus, aku sama siapa?!" gumam Mala kemudian membuka kedua matanya dan kembali mengambil smartphone yang tergeletak di samping bantal.
Kedua ibu jari Mala mulai mengetik pesan dan mengirimnya ke dalam grup chat-nya pada aplikasi hijau yang sudah ter-install dalam smartphone-nya.
Me: "Tes... Tes... Apa masih ada yang aktif?"
Beberapa menit Mala menunggu sambil menatap layar smartphone-nya, tapi tak seorang-pun membalas pesan Mala.
Andrew: "Eh, ternyata ada yang belum tidur juga."
"Hah! Andrew aktif!" Raut wajah Mala seketika menjadi semringah karena begitu senang mendapat kawan yang sama-sama terjaga di malam hari. Apalagi dia adalah Andrew yang membuat Mala begitu penasaran dan sangat ingin mengenal Andrew lebih dekat.