Mobil berwarna merah maroon berhenti tepat di sebuah parkiran depan bangunan yang terdapat papan nama toko bertuliskan 'Roger Beauty Salon'.
Mala belum turun dari mobilnya karena dia sedang memeriksa layar smartphone-nya.
"Ternyata dia belum balas chat aku," gumam Mala kemudian menutup layar smartphone dan memasukkannya ke dalam tasnya.
Mala menoleh ke arah pintu kaca pada salon kecantikan itu dan melihat seorang waria berdiri di balik pintu kaca itu.
"Kayaknya si Roger nunggu aku deh," pikir Mala kemudian membuka pintu mobil dan turun.
Mala melambai tangan ke arah Roger, dan Roger pun balas melambaikan tangannya ke arah Mala dengan diiringi senyumannya yang khas.
Roger membukakan pintu untuk Mala, "Aduuh... Kok udah lama banget enggak ke sindang sih?" tanya Roger dengan nada bicaranya yang khas, "Yey bareng sapose, Cin?"
"Sendiri aja, Ger," jawab Mala melangkah masuk dan langsung duduk di salah satu kursi empuk berwarna ungu.
"Mau diapain nih, Cin? Spa, Meni-pedi, creambath, pijat, atau paket lengkap?" tanya Roger.
"Potong pendek aja deh, terus diwarnain pakai warna coklat, Ger," jawab Mala sambil mengangkat ujung rambutnya.
"Hah?" Roger heran menatap Mala.
"Emangnya kenapa. Enggak boleh?!" tanya Mala ketus sembari mengerutkan kedua keningnya menatap Roger.
"Boleh aja sih, Cin... Tapi tumben." Roger mengambil sebuah gunting rambut kemudian berdiri di belakang kursi empuk berwarna ungu yang diduduki Mala, "Padahal rambut yey ini udah bagus loh, Cin," ucap Roger sambil mengusap rambut Mala.
Mala diam dan dengan tajam menatap Roger dari pantulan cermin di depannya sehingga membuat Roger sedikit merasa takut.
"Emangnya kenapa sih, Cin, kok gaya rambutnya mau diubah?" tanya Roger.
Namun, Mala tidak menjawabnya dan hanya menatap dingin dengan tersenyum sinis ke arah Roger.
"Iih, jangan mandang Eyke kayak gitu dong, Cin... Jadi merinding nih," ucap Roger sedikit takut, "Iya, iya deh... Eyke pendekin rambutnya." Roger pun mulai memangkas rambut Mala.
Mala mulai banyak bicara ketika rambutnya mulai dipangkas Roger. Obrolannya dengan Roger tidak seperti biasanya yang terkesan anggun dan ke-ibu-an.
"Say, kamu itu tinggalnya di mana sih?" tanya Mala.
Sontak Roger terdiam dan menatap heran ke arah Mala, "Tumben Yey nanya beginian, Cin?!"
"Pingin nanya aja, lagian aku udah lama jadi langganan tetap di sini masa enggak boleh nanya kayak gitu sih, Say?" tanya Mala.
"Bener juga sih, Cin." Roger mengangguk, "Eyke tuh tinggalnya di apartemen dekat sini, Cin," jawab Roger.
"Apartemen?!" Mala mengerutkan kedua keningnya, "Emangnya di dekat sini ada apartemen, Say?" tanya Mala.
"Iiih... Beneran ada tau, Cin," sahut Roger.
"Di mana coba?"
"Itu... Yang dekat sama air mancur, Cin."
"Loh! Bukannya itu kost-kost-an?!"
"Hehe. Iya, Cin... Kost rasa apartemen." Roger tersenyum cengengesan.
"Ada-ada aja, kamu." Mala menggeleng, "Udah lama tinggal di sana?" tanya Mala.
"Baru, Cin... Baru empat tahun," jawab Roger.
"Empat tahun kamu bilang baru, terus yang lama berapa tahun coba!"
"Se-abad, Cin," jawab Roger melentikkan kaki kirinya.
"Sekarang mana ada sih orang yang hidup nyampe se-abad, Say."
"Iiuuh... Yey enggak tau aja kalau oma sama opa Eyke umurnya udah hampir se-abad," jawab Roger.
"Hah?! Kakek sama nenek kamu masih hidup?! Terus mereka tinggal di mana?! Ikut nge-kost juga sama kamu, Say?" tanya Mala.
"Ya enggak lah, Cin... Mereka tinggal di kampung halaman Eyke," jawab Roger.
"Kampung halaman?! Loh, aku kira kamu lahir di kota ini juga, Say."
"Enggak, Cin. Kampung halaman Eyke tuh jauuuuuuuuh banget dari sini," ucap Roger.
"Emangnya di mana yang kamu bilang jauh banget itu?" tanya Mala.
"Eemmm... Ya jauh lah pokoknya, Cin. Emangnya kenapa, kok penasaran banget sama kampung halaman Eyke sih, Cin?"
"Ya, kali aja entar pas aku jalan-jalan, enggak taunya nyasar ke kampung halaman kamu, Say."
Obrolan terus berlanjut sampai matahari terbenam. Roger merasa senang dengan sikap baru Mala yang lebih terasa akrab.
"Nah, udah selesai, Cin," ucap Roger setelah merapikan rambut baru Mala yang berwarna coklat dengan pendek sebahu, "Gimana, bagus kan?" sambung Roger bertanya.
"Bagus, Say... Aku suka," ucap Mala tersenyum senang karena puas melihat gaya rambut barunya di depan cermin, kemudian meraih dompet dari dalam tasnya.
"Untuk yang ini enggak perlu bayar deh, Cin," ucap Roger tersenyum.
"Loh, kenapa?!" Mala mengerutkan kedua keningnya.
"Enggak apa-apa, Cin," sahut Roger tersenyum.
"Jangan gitu dong, Say... Lagian ini uangnya lumayan kan, buat dikirim ke kampung halaman kamu," ucap Mala sembari memaksa Roger untuk menerima uang darinya.
Roger berpikir sejenak, "Iya deh, Cin," ucap Roger sembari menerima uang dari Mala, "Jangan kapok ya, Cin...."
"Ya elah, mana mungkin aku kapok kalau hasilnya sebagus ini," ucap Mala tersenyum, "Ya sudah, aku pulang aja deh. Lagian kasian anak-anak kelamaan nunggu di rumah neneknya," sambung Mala beranjak berdiri.
"Iya, Cin... Hati-hati ya," ucap Roger.
"Bye...." Mala mendadahkan tangannya ke arah Roger sembari melangkah ke luar dari salon dan Roger mengiringinya sampai ke depan pintu salon.
"Bye...." Roger mendadah ke arah Mala yang berjalan menuju mobil merah maron yang terparkir tepat di depan salon.
Mala pun masuk ke dalam mobilnya.
"Loh, cewek yang duduk di samping Mala itu Sisy adiknya apa bukan ya?!" gumam Roger berdiri di depan pintu salon dan melihat seorang perempuan yang duduk tepat di samping Mala, "Eh, bukannya tadi itu Mala bilang kalau dia datang ke sindang sendiri ya?!" pikir Roger sembari menundukkan kepalanya kemudian kembali mengangkat dan menatap lagi ke arah perempuan yang duduk tepat di samping Mala, "Te-te-terus, cewek yang duduk di samping Mala itu siapa?!"
Roger melihat perempuan itu menatap ke arahnya, kemudian Ia melihat perempuan itu tersenyum menyeringai.
"Iih, kok dia senyumin Eyke kayak gitu sih?!" gumam Roger merasa takut.
Roger merasakan hembusan angin lembut seketika menyentuh menembus tubuh dan langsung membuat bulu kuduknya berdiri.
"Loh, kok anginnya kayak gini sih... Eyke kan, jadi takut." Roger bergidik merinding, "Eh, tadi seingat Eyke, Eyke liat Mala senyum sama kayak cewek itu ke Eyke," gumam Roger kemudian ia kembali merasakan hembusan angin yang lembut menembus sekujur tubuhnya, "Mending Eyke buru masuk lagi aja deh." Roger bergegas masuk kembali ke dalam salon.
Namun, ketika Roger hendak membuka pintu salon-nya, pintu itu tidak bisa di buka.
"Loh, kok enggak bisa di buka sih?! Apa pintunya macet ya?!" gumam Roger.
Roger perlahan menoleh ke arah mobil merah maron yang belum juga pergi dan masih melihat perempuan di samping Mala masih tersenyum menyeringai ke arahnya, sontak Roger kembali berpaling dan berusaha keras membuka pintu depan salon-nya.
"Duuhh... Bukain Eyke dong!" ucap Roger sembari dengan paksa mendorong pintu depan salon, tapi tetap saja pintu itu tak kunjung berhasil dibuka.
Roger kembali menoleh ke belakang dan kembali melihat perempuan itu yang masih tersenyum menyeringai, "Iiih! Kok dia masih senyum kayak gitu sih...." Roger semakin takut, kedua kakinya tampak gemetar, "Eyke balik ke kost aja deh." Roger langsung berlari menjauh dari salon.
Sementara itu, terlihat Mala yang tersenyum sendirian ketika masih berada di dalam mobil sambil mengutak-atik smartphone-nya.