Bab 29: Merubah Penampilan

1607 Kata
Tubuhnya menggeliat, tapi matanya masih saja terpejam. Tangannya meraba ke samping kiri, "Hmm?!" Mala mengerutkan kedua keningnya sembari membuka kedua matanya karena sadar bahwa tadi malam ia masih tidur sendirian tanpa ditemani sang suaminya yang belum pulang kerja. Mala menghela nafas, kemudian beranjak bangun dan membuka jendela kamarnya. Ia memandang ke luar jendela dan mulai termenung. "Mah...." Tiba-tiba Mala mendengar suara anak laki-lakinya yang memanggil sambil mengetuk pintu kamarnya dan membuatnya tersadar dari lamunannya. "Ya, Sayang...." Mala berjalan ke arah pintu kemudian membuka pintu kamarnya, "Loh, kamu enggak ke sekolah?" tanya Mala ketika melihat Julliant yang tidak mengenakan seragam sekolah. "Hah?! Emangnya hari minggu turun sekolah, Mah?" tanya Julliant menatap heran ibunya. "Oh, ini hari minggu ya." Mala tersenyum cengengesan karena malu dengan tingkahnya sendiri. "Aduuh... Mamah, mamah." Julliant menggelengkan kepalanya sembari tertawa kecil menertawakan tingkah ibunya itu. "Adek kamu udah bangun, Sayang?" tanya Mala sembari memberikan usapan lembut pada rambut Julliant. Julliant menggeleng, "Belom, Mah." "Ya sudah, kamu bangunin adekmu gih," ucap Mala. "Iya, Mah...." Julliant mengangguk mengiyakan kemudian mendatangi Clara adiknya yang masih tertidur. Benar, yang menjadi penyemangat hati Mala hanyalah anak-anaknya, yaitu Julliant dan Clara. Tapi, tiba-tiba Mala kembali teringat dengan grup chat barunya di aplikasi hijau, "Aku nyapa teman-teman di grup dulu ah." Mala kembali ke dalam kamar, lalu mengambil dan menyalakan smartphone-nya. Ia terkejut sembari menyunggingkan senyumnya karena sangat senang ketika melihat sebuah notifikasi pesan masuk yang ternyata sebuah chat dari Andrew. "Hah! Ternyata dia balas chat dari aku." Mala segera membuka pesan dari Andrew. "Oh iya, enggak apa-apa kok. Maaf juga kalau aku baru balas chat kamu, soalnya baru pulang kerja." Mala pun segera membalas pesan dari Andrew. "Kamu enggak perlu minta maaf. Lagian aku yang harus minta maaf karena ganggu waktu kamu." Mala mulai bernafas sedikit cepat, detak jantungnya pun menjadi tak beraturan ketika menatap layar smartphone-nya berharap Andrew segera membalas pesannya, "Kok aku jadi gugup sih?!" gumam Mala dalam hati. Tapi, sejak tadi pesan balasan yang dia harapkan tak kunjung muncul. Mala menghela nafasnya perlahan, "Dia lagi kerja, mungkin. Makanya enggak balas chat aku," gumam Mala pelan, "Kali aja pas jam istirahat kerja dia balas chat dari aku," harap Mala kemudian kembali mematikan layar smartphonenya dan berjalan ke luar kamar menuju ruang tengah. "Mamah," sapa Clara tersenyum dengan nada cadelnya yang lucu. "Hai, Sayang... Kamu udah sarapan?" tanya Mala tersenyum lembut sambil mengusap rambut Clara. "Udah, Mah," jawab Clara sembari mengangguk pasti. "Kakak kamu kemana?" tanya Mala sambil menoleh ke arah ruang dapur lalu ke arah ruang tamu. Clara hanya menggeleng sambil mengangkat bahunya. "Julliant...!" seru Mala memanggil sambil menuntun Clara ke depan televisi dan menyalakan televisi. "Ya, Mah...." sahut Julliant terdengar samar dari arah ruangan dapur. "Kamu ngapain?" tanya Mala. "Sarapan, Mah!" sahut Julliant. "Kalau udah selesai sarapan, kemari ya temenin Adek kamu," ucap Mala. "Iya, Mah!" Beberapa saat kemudian nampak Julliant yang berjalan tergopoh-gopoh sambil membawa roti isi dari arah dapur menuju ruang tengah. "Aduuh... Makannya jangan cepat-cepat kayak gitu, Sayang... Entar keselek loh," ucap Mala tersenyum lucu melihat anak laki-lakinya yang mulutnya penuh dengan roti dan belum dia telan. Perlahan Julliant menelan makanannya, "Ia, Mah... Julliant cuman enggak mau ketinggalan episode kartun aja, he," jawab Julliant cengengesan kemudian duduk tepat di samping Clara adiknya. "Bik Minah mana?" tanya Mala menatap kedua anak-anaknya yang duduk tepat di depan televisi. Julliant menoleh ke arah ibunya, "Ada, Mah, di dapur tadi lagi nyuci piring," jawab Julliant, sedangkan Clara menggeleng tanpa menoleh ke arah Mala dan tetap menatap lurus ke arah televisi. "Oh gitu ya... Emm, kalau Tante Sisy?!" tanya Mala lagi. "Tante Sisy ke rumah nenek, Mah," jawab Julliant. Mala mengerutkan kedua keningnya, "Eh!" Ia tersentak ketika sadar siapa yang membukakan pintu untuk bik Minah, padahal Dia yang biasa membukakan pintu untuk bik Minah, "Oh, mungkin Sisy kali yang bukain pintu buat bik Minah," pikir Mala. "Kenapa, Mah?" tanya Julliant heran menatap ibunya. "Enggak apa-apa, Sayang... Ya udah kamu lanjutin nonton televisi aja deh. Mamah mau ke dapur dulu," ucap Mala kemudian berjalan menuju ruang dapur untuk mengambil sarapan. Mala menoleh ke arah Bik Minah yang sedang menyusun piring dan gelas ke dalam lemari piring, "Bik, tadi pagi Sisy yang bukain pintu ya, Bik," tanya Mala. "Hmm!" Bik Minah mengerutkan kedua keningnya seketika menoleh ke arah majikannya itu, "Enggak, Non," jawab Bik Minah sembari menggeleng, "Bukannya tadi pagi Non Mala sendiri yang bukain saya pintu," sambung Bik Minah memberitahu. Kedua tangannya seketika meletakkan roti dan sendok selai dengan keras, tampak seperti marah, tapi dia bingung kenapa ia marah. Mala terdiam sambil mengerutkan kedua keningnya, "Loh, bukannya tadi aku baru bangun ya...." gumam Mala dalam hati, "Ah, mungkin aku tadi pagi ngigo jalan bukain pintu kali ya," pikir Mala kemudian kembali mengambil roti dan sendok selai. Setelah selesai menyantap roti isi, Mala pun kembali ke kamarnya untuk mandi, kemudian keluar dari kamar mandi dan duduk di depan meja rias untuk mengeringkan rambutnya menggunakan pengering rambut. "Udah lama enggak nata rambut," gumam Mala menatap wajahnya di cermin sambil mengeringkan rambutnya yang panjang, "Hari ini aku ke salon Roger ah, Aku kelihatan lebih tua kalo rambut panjang," gumam Mala lagi sambil meletakkan alat pengering rambut ke atas meja rias setelah rambutnya lumayan kering, "Wajahku juga udah kusam banget." Mala beranjak berdiri kemudian mengganti pakaiannya untuk bersiap pergi ke salon. Ia tersenyum sendirian sambil mengingat kembali ketika tadi pagi Andrew membalas chat-nya. Setelah selesai mengenakan pakaiannya, Mala berjala ke luar kamar menuju ruang tengah mendatangi Julliant dan Clara yang duduk menonton televisi. "Julliant, Clara," panggil Mala berdiri di belakang Julliant dan Clara. "Ya, Mah," sahut Julliant dan Clara bersamaan menoleh ke arah ibunya. "Kalian mau ke rumah nenek enggak?" tanya Mala sembari tersenyum menatap kedua anaknya. "Mau, Mah!" seru Julliant bersemangat seketika beranjak berdiri. "Yeeey! Ke rumah nenek!" Clara melompat kegirangan. "Lagian Julliant juga bosan di rumah, mau main PS sama tante Sisy, Mah," ucap Julliant. "Ya sudah, yuk!" ajak Mala. Sebelum Mala bersama kedua anaknya berangkat, Ia menoleh ke arah ruang dapur, "Bik!" panggil Mala kepada Bik Minah yang masih berada di dapur. "Ya, Non..." sahut Bik Minah sambil berjalan tergopoh-gopoh menuju ruang tengah menghampiri Mala, Julliant, dan Clara. "Titip rumah ya, Bik. Aku mau ke salon, dan mungkin malam baru pulang. Kalau nanti Bibik pulang, jangan lupa, rumah sama pagar dikunci aja. Terus kuncinya titip sama ibu, Bik," ucap Mala. "Baik, Non." Bik Minah mengangguk. Mala menatap kedua anaknya, "Ayo anak-anak, kita ke rumah nenek," ajak Mala seketika menuntun tangan Clara dan Julliant berjalan ke depan rumah. Bik Minah pun turut mengiringi mereka ke depan rumah. "Julliant sama Clara tunggu di sini ya sama Bik Minah, Mamah ambil mobil di garasi dulu," ucap Mala kemudian berjalan ke garasi, lalu masuk ke dalam mobil berwarna merah maron dan membawanya singgah ke depan rumahnya. Mala membuka kaca mobilnya, "Ayo!" ajak Mala kepada kedua anaknya. "Yeeey! Ke rumah nenek!" seru Clara kegirangan sambil berlari dan masuk ke dalam mobil bersama Julliant. "Ya udah, aku pergi dulu ya, Bik," ucap Mala berpamitan kepada Bik Minah. "Iya, Non. Hati-hati di jalan," ucap Bik Minah sambil tersenyum mendadah. Mobil berwarna merah maron yang dikendarai Mala itupun mulai jalan menjauh dari rumah, lalu Bik Minah langsung masuk ke dalam dan menutup pintu rumah. Beberapa jarak kemudian, mobil yang dikendarai Mala berhenti tepat di depan rumah ibu Ana. Mala menoleh ke belakang menatap kedua anaknya, "Yuk kita temuin nenek," ajak Mala kepada kedua anaknya. Mala bersama kedua anaknya pun turun dari mobil dan menuju ke depan pintu rumah ibu Ana, ibunya Mala. "Assalamu'alaikum," ucap Mala memberi salam sembari mengetuk pintu depan rumah kediaman ibu Ana. "Wa'alaikumsalam," sahut Ibu Ana terdengar samar dari dalam rumah, kemudian terdengar langkah kaki yang mendekat ke arah pintu depan. 'JLEK!' Pintu terbuka. "Eh, cucu-cucu Nenek," sapa Ibu Ana menatap Julliant dan Clara. "Bu, titip Julliant sama Clara ya, Bu," pinta Mala. "Hmm?! Mau ke mana, Mal?" tanya Ibu Ana. "Mau ke salon, Bu," jawab Mala singkat. "Hah! Mamah mau ke salon?! Clara ikut ya, Mah," pinta Clara. "Enggak usah, Sayang. Mamah pasti lama," ucap Mala. "Aku mau ikut!" Clara memaksa sembari menangis dan seketika memeluk kaki ibunya. "Hai... Ada apa nih?! Kok Clara nangis?" tanya Sisy. "Mah, nanti beliin mainan sama makanan ringan ya, Mah," pinta Julliant. "Nanti belinya sama Tante Sisy aja ya." Mala mengambil uang dari dalam dompet yang ada di dalam tasnya kemudian menyerahkan uang itu kepada Sisy, "Sy, entar temenin Julliant beli mainan sama makanan ringan di minimarket ya," ucap Mala. "Oke, Kak." Sisy menyambut uang itu, "Clara nanti ikut sama Tante ke minimarket ya, kita beli mainan sama makanan ringan," ajak Sisy menatap Clara. "Nah, nanti sama Tante Sisy diajak ke minimarket, Sayang," ucap Mala membujuk Clara. Clara pun mengangguk dan berhenti menangis. "Tante Sisy, nanti kita main PS, ya," pinta Julliant menatap tantenya. "Iya, tenang deh pokoknya." Sisy mengacungkan ibu jarinya kepada Julliant. "Ya sudah, Mamah berangkat ya." Mala memusut rambut kedua anaknya kemudian berjalan menuju mobil merah maron yang terparkir tepat di depan rumah kediaman Ibu Ana. Ketika Mala membuka pintu mobil dan hendak masuk ke dalam mobil, tiba-tiba terdengar bunyi khas notifikasi pesan masuk dari aplikasi hijau pada smartphone-nya yang ada di dalam tas. Mala pun mengambil smartphone-nya kemudian segera menyalakan layar smartphone-nya dan melihat bahwa notifikasi pesan masuk itu ternyata dari Andrew. Mala membuka pesan itu. "Enggak ganggu kok. Maaf aku baru balas, soalnya baru bangun tidur." Sontak Mala tersenyum sembari masuk ke dalam mobil ketika membaca pesan dari Andrew. "Dadah Mamah!" Julliant dan Clara melambaikan tangan ke arah Mala. "Dah!" Mala balas melambai ke arah Julliant dan Clara yang masih berada di depan rumah ibu Ana, kemudian Ia menjalankan mobilnya menjauh menuju sebuah salon yang biasa dia kunjungi dan berada di pusat kota.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN