Semakin lama ia menahan rasa rindunya terhadap suaminya ketika berada jauh darinya, semakin membuatnya terbiasa.
Mala seakan melupakan statusnya sebagai seorang istri sekaligus ibu dari kedua anaknya karena begitu senang ketika melakukan chatting di grup barunya itu.
Me:
"Selamat siang semuanya...."
Carolyn:
"Iya, selamat siang juga, Mala...."
Indra:
"Siang, Mala...."
Reyhand:
"Wah! Mala... Collab nyanyi yuk!"
Carolyn:
"Nah, udah ada aja yang ngajak duet, hihi."
Mala tersenyum sendirian sambil menatap layar smartphone-nya ketika membaca pesan dari Reyhand yang ingin mengajaknya untuk duet bernyanyi.
Me:
"Collab lagu apa, Bang Rey?"
Reyhand:
"Terserah kamu aja, nanti aku bakal join lagu-nya. Lagu slow-rock juga boleh."
Mala mengerutkan kedua keningnya, "Katanya terserah aku, tapi ujung-ujungnya minta request. Hedeh...." gumam Mala memutar matanya ke kiri.
Me:
"Ya udah, nanti aku bikin, Bang."
Andrew:
'h***::// tautan.video.'
"Man-teman, tonton video baru aku yang di atas ya. Jangan lupa tinggalin jejak like-nya, karena like itu gratis."
Tiba-tiba, hati Mala tertarik untuk menonton sebuah video musik yang dibagikan seorang bernama Andrew.
Mala menonton video melalui tautan yang dibagikan Andrew.
Pada video itu, tampak Andrew menutup wajahnya dengan sebuah topeng berwarna putih.
"Suaranya bagus sih... Tapi, kok wajahnya ditutup sama topeng?!" gumam Mala penasaran ketika menonton video musik pada layar smartphone-nya.
Setelah video musik itu selesai ditontonnya, Mala meletakkan smartphone-nya di atas tempat tidur dan beranjak berdiri.
"Aku nyanyi lagu apa yah?!" gumam Mala sambil berjalan ke lemari pakaiannya dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang tadi malam ia kenakan, yaitu baju kaos berwarna putih dengan celana hot-pant, kemudian kembali mengambil smartphone-nya yang tergeletak di atas tempat tidur, lalu berjalan ke arah meja rias dan mendirikan smartphone-nya dengan bersandar pada sebuah botol minyak wangi.
Ketika Mala hendak merekam videonya, ia melihat waktu di smartphone-nya yang sudah menunjukkan pukul satu siang.
"Eh, udah jam satu." Mala mengerutkan kedua keningnya, "Julliant udah pulang belum yah?!" gumam Mala tiba-tiba teringat dengan anak laki-lakinya.
Mala mengambil smartphone-nya yang ada di atas meja rias dan berjalan keluar kamar.
Ketika sampai di ruang tengah, Mala berlalu di hadapan Sisy yang sedang duduk pada sofa ruang tengah sambil melakukan panggilan video grup bersama teman-teman sekolahnya.
Sisy terperanjat ketika melihat pakaian yang dikenakan kakaknya, "Hah! Kok penampilan kak Mala berubah sih?!" gumam Sisy dalam hati, "Bukannya pakaian yang dipake kak Mala itu sama kayak yang aku pake pas ke mall bareng kak Mala?! Kan, kak Mala niat beliin itu buat aku, tapi kok malah dia yang make sendiri sih?!" batin Sisy lagi sembari mengerutkan kedua keningnya menatap heran mengiringi Mala yang berjalan ke ruang tamu di depan.
Mala kembali berjalan ke ruang tengah tepat ke arah Sisy yang menatapnya dengan tatapan heran.
"Kak Mala," panggil Sisy ketika Mala melintas di depannya.
"Ya, Sy?" Mala menghentikan langkahnya tepat di depan Sisy.
"Bukannya baju sama celana itu yang kemarin Kak Mala beliin buat Sisy ya?" tanya Sisy hati-hati.
"Iya, tapi Kamu enggak mau make baju ini. Ya udah, mending Kakak aja yang pake. Daripada entar rusak dimakan sama rayap," jawab Mala, "Padahal bagus loh baju sama celana yang Kakak pilihin ini," sambung Mala, "Memangnya kenapa? Kamu mau? Nanti Kakak beliin lagi." Mala duduk di samping Sisy.
Sisy terdiam bingung karena begitu banyak pertanyaan yang ingin dia lontarkan kepada Mala kakaknya.
"Hah, enggak, Kak." Sisy menggelengkan kepalanya, "Sisy cuman kaget pas liat penampilan Kak Mala yang enggak kayak biasanya," jawab Sisy.
Mala hanya membalas ucapan Sisy dengan senyuman, "Oh iya, Julliant udah pulang sekolah apa belum, Sy?" tanya Mala sambil menoleh ke kiri kemudian ke kanan.
"Julliant udah pulang sekolah, Kak," jawab Sisy sambil mengangguk.
"Terus, Clara mana? Apa Clara udah tidur siang?" tanya Mala lagi.
"Iya, Kak." Sisy mengangguk, "Clara tidur di kamar tuh," jawab Sisy sembari kembali menatap layar smartphone-nya dan kembali melanjutkan panggilan video grup dengan teman-teman sekolahnya.
***
Akhir-akhir ini Evant suami Mala memang semakin sering jarang pulang ke rumah, bahkan sampai hampir satu bulan Evant tidak pulang. Beruntungnya Sisy masih dalam masa libur sekolah, jadi dia bisa sementara menemani Mala kakaknya.
Mala juga meminta kepada bik Minah agar pulang sedikit lebih malam sekitar jam sembilan malam setelah makan malam selesai, karena sekarang kesibukan Mala benar-benar dipenuhi dengan membuat rekaman video musik dan melakukan chatting bersama teman-temannya di grup barunya itu. Kesibukannya itu pula yang membuat Mala hampir melupakan kewajibannya sebagai seorang ibu rumah tangga.
Setiap hari, bahkan hampir setiap waktu Mala selalu menyempatkan untuk paling tidak, melakukan obrolan di grupnya itu dan mengesampingkan urusan utamanya, yaitu mengurus kedua anaknya.
Raya:
"Gimana menurut kalian videoku, gaes."
Me:
"Udah bagus kok, Raya. Suara kamu itu khas banget."
Raya:
"Wah, terima kasih, Mala."
Reyhand:
"Kalau punya aku gimana?"
Andrew:
'h***::// tautan.video.'
"Man-teman, minta like-nya ya... Sekalian komen, bisa juga kritik saran."
Tiba-tiba, jantung Mala berdenyut tak beraturan ketika melihat Andrew yang membagikan sebuah tautan video.
"Kok aku jadi gugup sih?!" gumam Mala yang merasa aneh dengan dirinya sendiri.
Me:
"Iay, bahus koj."
Carolyn:
"Typo... Cekrek!"
Raya:
"Typo masuk ti-vi!"
Mala langsung menepuk jidatnya ketika terjadi typo pada pesan yang dia kirim ke grup, "Duh, kok aku jadi gugup ngetiknya sih?!" gumam Mala, "Andrew juga enggak keliatan pernah chatting, apalagi ngebalas chat dari aku." Mala memonyongkan bibirnya ketika ia merasa diacuhkan oleh Andrew.
Rasa penasaran Mala semakin bertambah besar dan begitu sangat ingin mengenal Andrew.
"Andrew itu orangnya kayak gimana sih?!" Mala mengerutkan kedua keningnya penasaran kemudian terdiam sejenak, "Duh!! Apaan sih! Ngapain juga aku penasaran sama cowok kayak gitu. Buang-buang waktu!" Mala mendengus sembari memalingkan pandangannya dari layar smartphone, tapi kedua matanya memaksa untuk melirik ke layar smartphone-nya, "Ya udah, kepo-in aja deh," gumam Mala kemudian sambil memegangi smartphone, ia mengusap kedua ibu jarinya untuk membuka profil laki-laki bernama Andrew melalui aplikasi hijaunya.
Mala memeriksa seluruh postingan yang diunggah Andrew pada profilnya.
"Kok dia enggak pernah upload wajahnya sih?! Apa mungkin dia minder karena jelek ya?!" pikir Mala sambil mengangguk pelan, "Mmm... Aku coba chat dia ah."
Kedua ibu jari Mala beradu dengan layar smartphone yang dia pegang, "Eh enggak deh!" Tiba-tiba Mala merasa ragu, "Lagian ngapain aku chat dia duluan! Entar dia malah ke-ge'er-an," gumam Mala mendengus kemudian terdiam sejenak dan seketika muncul sebuah ide yang terlintas di pikirannya, "Aha! Aku ada ide!"
'h***::// tautan.video.'
"Gaes, minta kritik dan sarannya yah. Apa masih ada yang kurang sama lagu yang aku nyanyiin...."
Mala tertawa kecil, "Hihi... Kalau pura-pura salah kirim, kan enggak kentara." Kemudian Mala kembali mengetik pesan.
"Eh! Maaf, aku salah kirim... Maaf ya...."
Mala menunggu pesan balasan dari Andrew, tapi pesan balasan itu tak kunjung muncul.
"Sombong banget sih nih cowok! Huh!" Mala mendengus kesal dan melempar pelan smartphone-nya ke atas tempat tidur kemudian menghempaskan tubuhnya berbaring ke atas tempat tidur dan memejamkan kedua matanya.
Tiba-tiba Mala mendengar bunyi notifikasi khas dari aplikasi hijaunya yang menandakan sebuah pesan yang masuk.
Mala langsung membuka kedua matanya dan tersenyum senang setelah mendengar bunyi notifikasi itu sembari memutar badannya bertengkurap dan dengan semangat meraih smartphone-nya yang tergeletak di sampingnya.
'Pesan dari Reyhand.'
"Hai, Mala... Lagi apa nih sekarang?"
Senyum Mala berubah seratus delapan puluh derajat ketika melihat pesan pada layar smartphone-nya yang ternyata dari Reyhand.
Mala mendengus kesal, "Kok malah dari dia sih yang nge-chat aku?!" gumam Mala sambil memonyongkan mulutnya kemudian kembali berbaring dan memejamkan kedua matanya setelah meletakkan smartphone-nya di samping bantalnya.
"Kak Mala...." Tiba-tiba Sisy memanggil sambil mengetuk pintu kamar Mala.
"Ya, kenapa, Sy?" sahut Mala tetap memejamkan kedua matanya.
"Ini ada tukang antar galon, Kak. Katanya galonnya ditaruh di mana, Kak?" ucap Sisy menyampaikan pertanyaan dari si tukang antar galon di komplek perumahan kediaman Mala
"Bilangin taruh di depan pintu aja, Sy," jawab Mala sambil masih memejamkan kedua matanya.
"Oke deh, Kak," ucap Sisy kemudian melangkah menjauh dari depan pintu kamar Mala.
Karena merasakan heningnya suasana di dalam kamarnya, tidak terasa Mala pun tertidur dengan sendirinya.
Tepat di tengah malam, tiba-tiba terdengar bunyi notifikasi yang menandakan bahwa sebuah pesan masuk di aplikasi hijaunya. Tapi, Mala tidak mendengar bunyi notifikasi itu karena ia sedang dengan lelapnya tertidur.