Bab 27: Sifatnya Mulai Berubah

1405 Kata
Karena begitu asyiknya Mala menonton video pada aplikasi hijau di smartphone-nya, ia tersadar saat mendengar suara adzan berkumandang yang berasal dari masjid di komplek rumahnya. "Loh! Memangnya ini sudah jam berapa sih?!" gumam Mala kemudian memeriksa waktu di smartphone-nya yang sudah menunjukkan pukul tujuh belas lewat lima puluh menit. Mala pun meletakkan smartphone-nya ke atas tempat tidur dan hening menunggu sampai adzan maghrib selesai dikumandangkan. Mala mendengar suara Julliant yang mengganggu Clara. "Julliant... Clara... Kalau dengar suara adzan enggak boleh berisik ya..." tegur Sisy pelan terdengar samar dari ruang tengah ketika Mala berada di dalam kamarnya. Setelah adzan selesai dikumandangkan, Mala pun beranjak berdiri dan kembali mengganti pakaiannya semula, yaitu mengenakan gaun malamnya, kemudian ia keluar dari kamarnya. Mala melintas di depan Sisy yang duduk pada sofa di ruang tengah. "Mau ke mana, Kak?" tanya Sisy menatap Mala. "Kakak ke kamar sholat dulu," jawab Mala sembari terus lanjut berjalan menuju ruangan khusus untuk sholat. Sementara Julliant dan Clara masih terlihat serius menonton televisi dan tidak menyadari kalau ibunya sudah keluar dari kamar dan pergi ke ruangan sholat. Setelah selesai sholat, Mala keluar dari ruangan sholat dan melangkah melintasi ruang tamu. Tapi, tiba-tiba listrik padam ketika Mala lewat di ruang tamu. "Loh, kok mati lampu sih?!" ucap Mala terkejut. Clara sontak berteriak ketakutan karena tiba-tiba suasana rumah kediamannya menjadi gelap gulita. "Aduh! Dedek! Jangan teriak dong," ucap Julliant menegur Clara adiknya. "Clara takut, Kak!" teriak Clara kemudian menangis. "Bentar, bentar, Tante nyalain senter di handphone dulu," ucap Sisy kemudian menyalakan lampu senter pada smartphone-nya. Setelah lampu senter pada smartphone Sisy menyala, seketika Sisy, Julliant, dan Clara berteriak karena melihat Mala yang belum melepaskan mukenanya yang berwarna putih. "Aaaaaaa!!! Hantu!!" teriak Sisy, Julliant, dan Clara bersamaan menatap ke arah Mala. "Apaan sih?! Ini Mamah, bukan hantu!" sahut Mala seketika melepaskan mukenanya yang tadi dia kenakan. "Aduuh, Kakak! Kok enggak dilepas dulu mukenanya sih?!" ucap Sisy kesal. "Iya nih Mamah, bikin kami takut aja!" tambah Julliant. Tiba-tiba, lampu kembali menyala. "Alhamdulillah, udah nyala," ucap Mala lanjut melangkah masuk ke dalam kamarnya. "Yeeey... Bisa lanjut nonton kartun lagi!" seru Julliant senang, "Yuk, Dek... Kita lanjut nonton lagi," ajak Julliant kepada Clara. "Ayo, Kak," ucap Clara mengangguk mengiyakan. "Julliant, temenin Tante ke kamar kecil yuk," pinta Sisy. "Enggak mau ah, lagi seru nih kartunnya," sahut Julliant mengangkat bahunya. "Clara mau temenin Tante Sisy enggak?" tanya Sisy membujuk Clara. "Ayok! Clara juga mau pipis." Clara beranjak berdiri kemudian menuju ke ruang dapur bersama Sisy. "Yah! Kok aku malah ditinggal sendirian sih?!" gumam Julliant takut sambil perlahan menoleh ke kanan dan kiri di ruang tengah, "Mending aku nyusul Clara sama tante Sisy aja deh." Julliant beranjak berdiri dan langsung mendatangi Clara dan Sisy ke ruang dapur. "Loh! Kok Kakak juga ikut ke sini sih?!" tanya Clara dengan nada polosnya. "E-enggak... Kakak cuman mau pipis aja, kok," jawab Julliant mencoba menyembunyikan raut wajahnya yang mulai takut dari tatapan Clara adiknya. Pintu kamar kecil terbuka dan Sisy pun keluar dari kamar mandi. Julliant pun berniat menerobos antrian. "Aku duluan!" Clara dengan cepat berlari memasuki kamar mandi. "Yaah...." Julliant kecewa. "Nah kan, kok kamu juga ikut ke sini?" tanya Sisy menatap Julliant. "E-enggak, Julliant cuman mau pipis aja," jawab Julliant gugup. "Kamu pasti takut ya sendirian di ruang tengah... Hayo ngaku," goda Sisy kepada keponakan laki-lakinya itu. "Enggak... Mana mungkin aku takut." Julliant mengelak. Kemudian pintu kamar mandi terbuka dan Julliant pun bergegas masuk setelah Clara keluar dari kamar mandi. "Yuk, Sayang... Kita tinggalin aja Julliant di sini sendirian," ajak Sisy. "Tungguin Julliant!" teriak Julliant dari dalam kamar mandi. "Kan... Hayo ngaku kalau kamu takut," goda Sisy lagi. "I-iya... Aku takut, Tante," ucap Julliant kemudian membuka pintu kamar mandi dan keluar. Sisy pun bersama Julliant dan Clara kembali ke ruang tengah. Sementara di dalam kamarnya, Mala masih asyik mengusap layar smartphone-nya menggeser layar dan melihat beberapa video lagu yang lewat di beranda aplikasi hijaunya. Mala menutup mulutnya yang menguap menggunakan tangan kanannya sambil terus menonton video musik yang terlihat pada layar smartphone-nya. "Aku nengok anak-anak dulu ah." Mala mematikan layar smartphone-nya kemudian berjalan keluar kamarnya dengan membawa smartphone-nya dan mendatangi Sisy yang sedang duduk pada sofa di ruang tamu. Ketika mengutak-atik smartphone-nya, Sisy mengangkat kepalanya sesaat ketika Mala duduk di sampingnya kemudian kembali menatap layar smartphone-nya sambil sesekali tersenyum sendirian. Mala ikut mengutak-atik smartphone miliknya sambil sesekali menatap Julliant dan Clara yang sedang asyik menonton kartun di televisi. Sisy meletakkan smartphone-nya ke atas meja kemudian menoleh ke arah Mala, "Kak Mala udah sembuh?" tanya Sisy heran. "Sudah agak mendingan, Sy," jawab Mala tetap menatap layar smartphone-nya tanpa menoleh ke arah Sisy. Sisy mengangguk mengerti, kemudian ia tidak sengaja melihat kakaknya yang ketika menatap layar smartphone dan wajah kakaknya yang tersenyum sendirian. "Kak Mala lagi ngelihat apa sih?!" tanya Sisy seketika menggerakkan tangannya untuk merebut smartphone yang dipegang Mala. Tapi, Mala sempat menghindarkan smartphone-nya dari rebutan Sisy, "Apaan sih!" Mala mengerutkan kedua keningnya menatap Sisy. "Kakak lagi main game monopoli online itu ya?" tanya Sisy penasaran. Mala mengangguk mengiyakan sembari menyembunyikan wajahnya yang terlihat gugup, "Duuh... Kalau Sisy tahu tentang grup baru aku gimana ya..." bisik Mala dalam hati. "Mamah main apa sih?!" tanya Julliant seketika berusaha merebut smartphone di tangan Mala ibunya. Tapi, Mala kembali menarik smartphone-nya agar menghindar dari rebutan Julliant, "Apaan sih kamu ini! Udah jam segini belum tidur juga!" ucap Mala ketus menatap Julliant dengan melotot. Sontak Julliant terkejut ketika melihat raut wajah ibunya yang tidak seperti biasa, padahal biasanya Mala tidak pernah berbicara sekasar itu kepada Julliant. "Iya Mah...." Julliant mengangguk kemudian sambil menundukkan kepalanya berjalan masuk ke dalam kamarnya. Ketika menatap ke arah televisi, Sisy melihat Clara yang sedang memainkan boneka kecil berbentuk anak perempuan berkerudung merah. Sisy mengerutkan kedua keningnya menatap ke arah Clara kemudian beranjak berdiri dan mendatangi Clara yang duduk di depan televisi. "Clara kok malam-malam masih main ini sih?" tanya Sisy. "Memangnya kenapa, Tante?" tanya Clara dengan nada polosnya. "Kata nenek, enggak boleh. Soalnya boneka yang bentuknya kayak gitu pasti ada hantunya loh," ucap Sisy pelan. Kedua bola mata Mala melotot ketika mendengar ucapan Sisy. Mala langsung meletakkan smartphone-nya ke atas meja dan beranjak berdiri kemudian mendatangi Clara. Mala merampas boneka kecil itu dari tangan Clara, "Sini bonekanya!" bentak Mala tiba-tiba. Karenanya, Clara pun sontak menangis karena terkejut. "Udah... Clara sayang jangan nangis lagi ya... Nanti cantiknya ilang loh," ucap Mala dengan lembut membujuk Clara. Clara pun berhenti menangis dan meninggalkan sedu segan bekas dari tangisannya. "Mending Clara bobok ya... Kak Julliant juga udah bobok," ucap Mala sambil menuntun Clara masuk ke dalam kamar, "Clara mau dibikinkan s**u?" tanya Mala. Clara mengangguk pelan. "Ya sudah. Clara tunggu Mamah bikinkan s**u dulu ya," ucap Mala kemudian menuju dapur untuk membuat air s**u di dalam botol dot, lalu mengantarkannya ke kamar Clara, "Langsung dihabisin ya susunya, biar cepat gede," ucap Mala tersenyum sambil mengangkat tangannya bergaya layaknya seorang binaragawati. Clara pun sontak tertawa pelan melihat tingkah lucu ibunya. "Ya sudah, Mamah nemenin tante Sisy ya... Clara tidur ya sayang," ucap Mala sambil memusut rambut Clara dengan lembut sampai tertidur. Kemudian Mala kembali duduk pada sofa di ruang tengah tepat di samping Sisy. Setelah kakaknya duduk di sampingnya, Sisy menoleh ke arah kakaknya dengan tatapan heran, "Kak Mala," panggil Sisy. "Mmm..." sahut Mala mengangkat kepalanya tetap menatap layar smartphone di tangannya tanpa menoleh ke arah Sisy. "Kok, Kak Mala enggak biasanya marahin Julliant sama Clara?!" tanya Sisy penasaran. Mala menggeleng dan mengangkat bahunya tanpa mengatakan sepatah katapun. "Kakak stres ya?!" Seketika Sisy menempelkan punggung tangan kanannya ke dahi Mala. Dengan seketika Mala menepis tangan Sisy, "Apaan sih!" sungut Mala ketus kemudian mengeluarkan suara decit dari mulutnya. Sisy sontak terkejut dan langsung beranjak berdiri, "Iya kali habis kebentur," gerutu Sisy sembari berjalan menuju ke ruang tamu untuk tidur dan meninggalkan Mala sendirian di ruang tengah. Mala beranjak berdiri dan berjalan menuju ke televisi dan mematikan televisi itu, kemudian kembali duduk pada sofa di ruang tengah sambil mengutak-atik smartphone-nya. Suasana hening begitu terasa ketika Mala sendirian di ruang tengah, "Kok aku malah jadi ngantuk sih?!" gumam Mala sembari merasakan kedua kelopak matanya yang mulai terasa berat, "Ya sudah, mending tidur deh." Mala pun menekan lama tombol 'power' pada smartphone-nya beberapa detik berniat mematikan smartphone-nya, "Eh! Tapi gimana kalau Evant nelpon ya?!" gumam Mala kemudian terdiam sejenak, "Biarin deh... Toh, aku juga malas kalau Evant nelpon aku." Mala yakin dan mematikan smartphone-nya, kemudian beranjak berdiri dan berjalan masuk ke dalam kamar untuk tidur. Tidak lupa Mala membawa smartphone kesayangannya ke dalam kamarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN