Pagi itu, Evant terlihat sedang bersiap untuk berangkat kerja dengan di bantu oleh istrinya, yaitu Mala yang bangun lebih dahulu darinya.
Mala sibuk sekali pagi itu karena juga menyiapkan segala sesuatu untuk keperluan sekolahnya Julliant. Beruntung saja si kecil Clara saat itu masih tertidur lelap, jadi tidak mengganggu Mala dengan tingkahnya yang sangat cerewet.
"Papah hari ini pulang cepat Mah," kata Evant sambil membetulkan letak dasinya di depan cermin.
Mala berpaling memandangi Evant, "Oh, iya," sahut Mala senang.
Evant juga tersenyum ke arah Mala, "Papah langsung berangkat ya Mah," kata Evant seraya menuju ke luar dan di susul oleh Mala di belakangnya.
"Papah jadi kan, hari ini mau temenin Ari ke rumah sakit jenguk Kamelia?" tanya Mala.
"Iya Mah, nanti pas pulang ngantor deh kayaknya," jawab Evant.
Evant masuk ke dalam mobilnya yang berwarna putih kemudian menghidupkan mesin mobilnya dan jalan. Dari jendela mobil, tampak Evant melambaikan tangannya ke arah Mala, "Aku pergi dulu Mah."
Mala membalas senyuman Evant sembari melambaikan tangannya, kemudian masuk ke dalam rumah untuk memanggil anak laki-lakinya yang masih duduk di meja makan.
"Jull, buruan sarapannya, entar keburu Pak Sugeng datang loh!" seru Mala.
"Baik Mah!" sahut Julliant kemudian cepat-cepat beranjak dari meja makan dan menuju ke ruang tamu untuk menunggu Pak Sugeng datang menjemputnya pergi ke sekolah.
Mala membangunkan si kecil Clara lalu mengajaknya pergi ke kamar mandi untuk segera mandi dan bersiap-siap untuk sarapan.
"Mah, Julliant pergi sekolah dulu ya... Itu Pak Sugeng sudah jemput!" seru Julliant dari ruang tamu.
"Iya bentar!" teriak Mala yang kemudian bergegas untuk pergi ke ruang tamu menyusul Julliant dan juga Pak Sugeng.
"Ini kunci mobilnya, Pak," kata Mala tersenyum sambil menyerahkan sebuah kunci mobil miliknya kepada Pak Sugeng, lalu Pak Sugeng pun mengambilnya sambil tersenyum.
"Julliant pergi dulu ya Mah," kata Julliant sambil mencium tangan Ibunya dan di balas dengan kecupan pada keningnya dari Mala.
"Iya hati-hati ya sayang, kalau di sekolah jangan bandel," kata Mala.
"Kami pergi dulu Non Mala," ucap Pak Sugeng yang kemudian berbalik kemudian berlalu menuju ke halaman rumah Mala dan memasuki mobil bersama Julliant.
"Hati-hati ya Pak!" seru Mala.
Bik Minah datang dengan tergopoh-gopoh. Napasnya kembali tidak beraturan. Dia tersenyum kemudian masuk ke dalam rumah bersama Mala.
"Kenapa Bik? Habis maraton lagi?" tanya Mala menggoda Bik Minah yang dari tadi hanya senyam-senyum melulu sambil mengatur napasnya yang masih tidak beraturan.
"Iya Non, habis olahraga biar sehat," jawab Bik Minah dengan pasti.
Mala tertawa kecil melihat kelakuan pembantu rumah tangganya itu kemudian dia berjalan ke dapur untuk mengambil segelas kopi yang tadi sudah di buatnya untuk dirinya sendiri tapi, belum sempat dia minum karena sibuk mengurus suami dan anak laki-lakinya.
"Hhmm, udah dingin nih kopi," kata Mala setelah menghirup sedikit kopi yang di bawanya dari dapur.
"Bik, bisa panaskan kembali kopi Mala nggak?" tanya Mala kepada Bik Minah yang tengah membersihkan seluruh ruangan rumah Mala.
"Oh, baik Non, sebentar ya... Bibik cuci tangan dulu ke dapur," sahut Bik Minah kemudian segera pergi ke dapur untuk mencuci tangannya dan kembali lagi untuk memanaskan kopi Mala yang sudah dingin.
Tidak beberapa lama Bik Minah kembali lagi dengan nampan di kedua belah tangannya serta secangkir kopi di atasnya.
"Non Mala mau saya bikinkan sarapan juga nggak?" tanya Bik Minah.
"Boleh Bik, roti isi cokelat sama s**u aja ya, sekalian bikinkan juga buat Clara ya Bik," jawab Mala, "Bik Minah udah sarapan belum?" sambung Mala seketika bertanya.
"Nanti aja, Non..." sahut Bik Minah seraya menganggukkan kepalanya.
"Kalau mau, Bik Minah juga bisa bikin buat Bibik makan sendiri," ucap Mala seraya tersenyum lembut.
"Hee...." Bik Minah seketika menggaruk-garuk kepalanya, "Bibik mah nggak biasa makan roti, Non," sahutnya seraya mengangguk.
"Lalu, Bibik biasanya sarapan apa?" tanya Mala.
"Saya biasa sarapan sama singkong goreng atau gorengan pisang, tahu, sama tempe, Non," jawab Bik Minah.
"Terus, bikin sendiri atau beli, Bik?" tanya Mala lagi.
"Beli sih, Non... Hee...." sahut Bik Minah, "Soalnya saya nggak tahu resepnya, Non," lanjutnya seraya tersenyum malu.
"Belinya di mana, Bik?"
"Ada di blok sebelah, Non...."
"Ooohh.... Sebentar ya Bik..." Kemudian Mala beranjak dari sofa dan berjalan menuju kamarnya.
"Non Mala kemana ya?" gumam Bik Minah dalam hati.
Tak berapa lama, Mala pun kembali menghampiri Bik Minah.
"Ini... Bik Minah beli sarapan aja dulu," ucap Mala dengan senyum lembut seraya menyerahkan selembar uang kepada Bik Minah.
Bik Minah pun terdiam heran dan ragu ingin menerima uang itu atau tidak, "Ta-tapi, Non...."
"Bik Minah beli sarapan dulu, nanti lanjut kerja kalau udah selesai sarapan," ucap Mala masih dengan senyum lembutnya.
"I-iya, Non," sahut Bik Minah kemudian perlahan meraih selembar uang yang di serahkan Mala kepadanya.
Bik Minah pun segera ke luar membeli gorengan untuk sarapannya, "Non Mala baik banget yah..." gumamnya dalam hati sembari berjalan menuju ke tempat penjual gorengan yang berada di blok sebelah di dekat rumah Mala majikannya.
"Bu Reva, beli gorengannya ya..." pinta Bik Minah setelah tiba di tempat penjual gorengan yang berada di blok sebelah dari tempat tinggal Mala.
"Iya Bu.." sahut Bu Reva yang merupakan penjual gorengan, "Gorengan apa aja Bu?" tanyanya kemudian.
Bik Minah pun menunjuk gorengan mana saja kesukaannya.
"Tumben belinya banyak, Bu?" tanya Bu Reva.
"Iya, ini yang nyuruh anaknya Bu Ana," sahut Bik Minah.
"Anaknya Bu Ana? Ohh yang perempuan itu ya...?" tanya Bu Reva seketika seraya membungkus gorengan yang sudah di pesan Bik Minah.
"Iya, Bu," jawab Bik Minah.
"Aku belum pernah tegur sapa sama dia, cuman baru sekali lihat," sahut Bu Reva, "Namanya siapa?" lanjutnya bertanya.
"Ooohh, namanya Mala, Bu..." jawab Bik Minah, "Aku sekarang kerja di rumahnya dia, buat bantu-bantu ngeringanin kerjaan rumahnya..." sambungnya.
"Ooh, gitu ya Bu," sahut Bu Reva seraya menyerahkan sebungkus gorengan yang sudah di siapkannya.
"Ini, Bu..." Bik Minah menyerahkan uang kepada Bu Reva.
"Dih, gede banget uangnya, Bu," ucap Bu Reva, "Aku belom ada kembaliannya nih..." lanjutnya.
"Eeemm, gimana ya..?" tanya Bik Minah.
"Ya udah, bawa aja dulu, Bu," sahut Bu Reva.
"Oh ya udah, aku bawa dulu ya, Bu," ucap Bik Minah, "Nanti, uangnya saya titipkan sama suami saya aja ya..." lanjutnya.
"Gampang aja, Bu...."
Bik Minah pun kembali ke rumah Mala sembari membawa sebungkus gorengan. Kemudian segera menuju dapur setelah kembali ke rumah Mala. Dia melihat Mala yang sedang duduk di sofa dan asik berdandan dengan beberapa peralatan make-upnya yang terletak di atas meja.
"Saya ambil piring dulu ya, Non," ucap Bik Minah kemudian berjalan menuju dapur.
"Ya, Bu..." sahut Mala yang tetap asik berdandan tanpa menoleh ke arah Bik Minah.
"Ini Non, mau cobain gorengannya..." tanya Bik Minah seketika kembali dari dapur dengan membawa dua piring dengan salah satu piring berisi gorengan dan salah satu piring lagi berisi petis yang kemudian meletakkannya di atas meja di depan sofa di mana Mala duduk.
Mala pun meletakkan sebuah lipstiknya kemudian mencoba mencicipi salah satu gorengan yang telah di belikan oleh Bik Minah yang berada di atas meja.
"Hhmm...." Mala menggigit gorengan dan mencicipinya, "Enak, Bu..." ucapnya setelah menelan segigit gorengan, "Tapi, minyaknya masih banyak banget, nanti bikin aku tambah gemuk, Bu..." sambungnya.
"Iih, badan Non itu kan sangat langsing, jadi nggak bakalan gemuk.." sahut Bik Minah tersenyum.
"Mamah... Clara mau," teriak Clara seketika menoleh ke arah ibunya yang sedang mencicipi gorengan yang di belikan Bik Minah kemudian segera berjalan menuju sofa menghampiri ibunya.
"Iya, sayang..." ucap Mala seraya mengambilkan sepotong gorengan dan memberikannya pada anak perempuannya itu.
Clara pun segera duduk di samping Mala sembari menyantap sepotong gorengan tersebut dengan lahapnya, "Enak banget, Mah... Clara suka..." ucapnya seraya menikmati sepotong gorengan di tangannya.
"Saya ke dapur dulu ya, Non," ucap Bik Minah kemudian perlahan berjalan menuju dapur dan melanjutkan pekerjaannya.
Mala pun lanjut berdandan, setelah selesai ia menghampiri dan menemani anak perempuannya yang sedang asik bermain di depan televisi.
Tidak terasa, jam dinding di rumah Mala sudah menunjukkan pukul satu siang. Julliant pun tiba bersama Pak Sugeng.
"Mah..." panggil Julliant seketika dengan masih mengenakan seragam sekolahnya dan duduk di atas sofa ruang tamu.
Mala pun menoleh ke belakang, "Julliant, ganti baju dulu gih..." ucapnya yang masih menemani Clara bermain di depan televisi.
"Iya, Bu..." sahut Julliant kemudian berjalan menuju kamarnya untuk berganti pakaian.
"Masuk, Pak..." seru Mala mempersilahkan Pak Sugeng masuk.
Pak Sugeng pun masuk ke dalam rumah kemudian duduk di atas sofa.
"Eh, Bapak..." ucap Bik Minah setelah kembali dari dapur dengan membawa sekeranjang pakaian yang baru selesai di cucinya dengan menggunakan mesin cuci.
"Bik, bikinkan Bapaknya minum dulu gih," ucap Mala tersenyum.
"Nggak usah repot-repot, Non..." ucap Pak Sugeng.
"Nggak repot kok, Pak..." sahut Mala, "Kan, Bik Minah yang bikin, bukan aku...." sambungnya dengan nada bercanda.
"Eh, oh iyaya..." ucap Pak Sugeng seraya menggaruk-garuk kepalanya.
"Iya, Non," sahut Bik Minah kemudian meletakkan sebuah keranjang berisi pakaian bersih yang hampir kering di depan rumah, lalu kembali masuk, "Bentar ya, Pak..." lanjutnya, "Bapak mau minum apa?" tanyanya kemudian.
"Es teh hangat aja, Bu..." jawab Pak Sugeng.
"Ya udah, Bapak tunggu di sini, aku ambilkan minum dulu, sekalian mau manasin gorengannya..." lanjutnya kemudian kembali menuju dapur. Namun, seketika langkahnya terhenti sembari menggaruk-garuk kepalanya. Kemudian ia kembali menghampiri suaminya itu, "Bapak tadi mau minum apa?" tanyanya lagi.
"Es teh hangat, Bu..." jawab Pak Sugeng.
"Bapak ini ngawur," sahut Bik Minah, "Mana ada Es teh hangat..." lanjutnya mendengus kesal kepada suaminya itu.
Pak Sugeng pun tertawa pelan karena telah bercanda dengan istrinya itu, "Iya udah, Teh hangat aja, Bu," pintanya.
Bik Minah kembali mendengus kesal karena candaan dari suaminya itu.
Mala pun ikut tertawa pelan mendengar candaan yang di lakukan oleh Pak Sugeng dan Bik Minah.
"He... Maaf ya, Non," ucap Bik Minah, "Bapak nih suka gitu..." lanjutnya.
"Kalian itu lucu deh," ucap Mala seraya tersenyum bahagia menatap sepasang suami-istri di depannya.
"Saya ke dapur dulu ya, Non..." ucap Bik Minah kemudian berlanjut ke dapur.
Bik Minah pun kembali dari dapur dengan membawa sepiring gorengan yang baru di panaskannya dan segelas teh hangat untuk di letakkannya di atas meja depan sofa di mana Pak Sugeng suaminya duduk.
"Bik, aku mau jalan-jalan sama anak-anak dulu sekalian belanja," ucap Mala seraya beranjak berdiri.
"Ye... Jalan-jalan..." seru Clara dengan semangat.
"Jalan-jalan kemana, Mah?" tanya Julliant setelah kembali dari kamarnya.
"Kita ke swalayan," jawab Mala tersenyum, "Pak Sugeng temenin Bik Minah aja dulu di sini ya," sambungnya, "Hari ini kayaknya Evant pulang cepat," sambungnya lagi.
"Oke Siap, Non," sahut Pak Sugeng, "Oh iya, ini kunci mobilnya, Non," lanjut Pak Sugeng seraya menyerahkan kunci mobil kepada Mala.
"Wah benar Mah, Papah pulangnya cepat?" tanya Julliant semangat.
"Iya, sayang, moga aja hari ini Papah nggak ada halangan," sahut Mala kemudian menoleh ke arah Pak Sugeng dan Bik Minah, "Nitip rumah dulu ya Pak... Bik..." ucap Mala kemudian berjalan bersama kedua anaknya menuju ke mobil berwarna merah maron yang terparkir tepat di depan rumah.
Kemudian Mala dan kedua anaknya pun masuk ke dalam mobil, lalu merekapun pergi menuju swalayan untuk berbelanja.
Sekarang hanya tertinggal Bik Minah dan suaminya yaitu Pak Sugeng yang sedang asik duduk berduaan di sofa layaknya pasangan pengantin yang baru menikah.
"Wah, enak ya Bu jadi orang kaya..." ucap Pak Sugeng sembari mengusap-usap sofa yang di dudukinya.
"Hush, Bapak menghkayal..." sahut Bik Minah seketika menjinjit kuping suaminya itu.
"Aduh, aduh, ampun Bu..." ucap Pak Sugeng.
"Hemm, makanya jangan suka mengkhayal loh, Pak."
"Iya iya...."
Ketika mereka berdua masih duduk di atas sofa di ruang tamu, tiba-tiba Pak Sugeng mendengar samar suara seorang wanita yang menangis terisak-isak.
Pak Sugeng pun mencolek istrinya, "Bu..." panggilnya.
"Apa lagi?" sahut Bik Minah ketus.
"Ibu dengar ada suara orang nangis nggak?"
"Nggak." Bik Minah mengangkat bahunya, "Ibu nggak denger, lagian di rumah ini kan nggak ada orang lagi selain kita berdua, Pak."
"Bener loh, Bu... Bapak dengernya jelas banget ini loh." Pak Sugeng kemudian beranjak dari sofa.
"Bapak mau kemana?"
"Suaranya sangat jelas di deket sini, Bu." Pak Sugeng menempelkan telinga kanannya pada dinding yang merupakan bagian luar dari sebuah kamar kosong yang biasa di gunakan Mala untuk beribadah.
"Ada-ada aja ini si Bapak." Bik Minah beranjak dan menghampiri suaminya, "Ini kan, kamar yang biasa di pake non Mala buat sholat, Pak."
"Beneran, Bu..." Pak Sugeng memaksa, "Coba deh Ibu denger sendiri."
Bik Minah pun ikut mendekatkan telinga kanannya dan menempel pada dinding, "Enggak... Ibu nggak denger apa-apa, Pak."
"Beneran Bu, tadi Bapak dengernya jelas banget ini loh."
"Ish Bapak." Bik Minah seketika menepuk bahu suaminya, "Jangan nakutin Ibu, ah...." Bik Minah mendengus kesal.
Tiba-tiba, mereka merasakan hawa dingin yang menusuk sampai ke tulang mereka.
"Kok tiba-tiba dingin ya Bu?"
"I-iya, Pak..." sahut Bik Minah, "Ah, udah ah Pak... Kita kembali ke depan aja..." sambungnya kemudian mengajak Pak Sugeng untuk kembali ke ruang tamu.
Mereka berduapun kembali duduk pada sofa di ruang tamu sembari menikmati gorengan dan teh hangat yang berada di atas meja.
Suasana semakin terasa hening, dan mereka pun mulai merasa takut setelah bulu kuduk mereka mulai merinding.
"Pak... Ibu kok agak sedikit merasa takut, ya?" ucap Bik Minah seraya menggosok-gosok kedua lengannya.
Tiba-tiba, listrik di dalam rumah tersebutpun padam.
"Nah loh, kok lampunya mati, Pak?" tanya Bik Minah.
Pak Sugeng menoleh ke kanan dan kiri memperhatikan sekitar mereka.
'Tok... Tok... Tok.... Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari depan sehingga membuat Bik Minah dan Pak Sugeng tersentak dan berteriak.
Tok... Tok... Tok.... Suara ketukan pintu itu kembali terdengar.
"Pak... Bapak periksa ayo..." ucap Bik Minah dengan gemetar seketika bersembunyi di belakang tubuh suaminya sembari mendorong-dorong tubuh suaminya itu.
"Nggak ah Bu, Bapak takut...." sahut Pak Sugeng yang juga gemetar sembari menahan dorongan dari istrinya itu.
"Ayo Pak...." Bik Minah memaksa dan semakin kencang mendorong.
"Iya sudah, Bapak coba periksa deh." Pak Sugeng pun memberanikan diri untuk mendekat ke arah pintu depan seraya menarik tangan istrinya itu untuk ikut dengannya.
Tok... Tok... Tok.... Suara ketukan pintu terdengar semakin keras.
"Aaaa," sentak Bik Minah. "Ibu takut, Pak..." ucap Bik Minah gemetar seraya berusaha menarik lengannya yang di pegang suaminya itu.
"Udah Bu... temenin Bapak..." sahut Pak Sugeng memaksa menarik lengan istrinya menghampiri ke pintu depan.