Pak Sugeng pun memaksakan diri untuk berani membuka pintu yang sejak tadi di ketuk.
JLEK.... Pintu pun di buka Pak Sugeng.
Alangkah terkejutnya mereka berdua setelah melihat seseorang dari balik pintu yang ternyata adalah Evant suaminya Mala.
"Eh, Tuan Evant..." sapa Pak Sugeng seraya tersenyum.
"Tuan Evant...." Seraya tersenyum Bik Minah ikut menyapa Evant setelah menampakkan dirinya dari belakang tubuh Pak Sugeng suaminya.
"Pak Sugeng... Bik Minah...? Kalian berdua kenapa, Pak... Bik...?" Evant mengerutkan kedua keningnya menatap heran ke arah Pak Sugeng, "Kok muka Pak Sugeng pucat gitu sih?"
"E-e-enggak, Pak," sahut Pak Sugeng dengan terbata-bata seraya menganggukkan kepalanya.
Bik Minah tersenyum cengingisan sembari ikut mengangguk ke arah Evant.
Seraya berjalan masuk ke dalam rumahnya, Evant pun semakin bingung dengan tingkah Pak Sugeng dan Bik Minah setelah melewati mereka berdua.
"Oh iya, Mala mana?" tanya Evant seketika duduk di atas sofa di ruang tamu seraya melepaskan jas hitam yang di kenakannya lalu melonggarkan dasi di lehernya.
Bik Minah bersama Pak Sugeng pun berjalan ke dalam rumah dan menghampiri Evant.
"Non Mala lagi ke swalayan sama Non Clara dan Den Julliant, Tuan..." jawab Bik Minah, "Jadi, Non Mala minta Bapak untuk nemenin saya buat jaga rumah, Tuan," sambung Bik Minah memberitahu.
"Ooh gitu ya," sahut Evant, "Bik Minah sama Pak Sugeng kok ngelihat saya kayak ngelihat hantu sih?" tanya Evant heran.
"A-anu.. Ta-tadi.. A-anu...." Bik Minah tampak bingung menjelaskannya kepada Evant.
"Tadi....?" Evant mengerutkan kedua keningnya menatap Bik Minah.
"Tadi kami kaget pas Tuan ketuk pintu, kebetulan lampunya mati, Tuan," ucap Pak Sugeng menjelaskan.
"Mati lampu?" Evant kembali mengerutkan kedua keningnya.
"I-iya, Tuan.." sahut Bik Minah seraya menganggukkan kepalanya.
"Sebentar sebentar..." ucap Evant, "Tadi saya enggak ngetuk pintu loh..." lanjutnya, "Bukannya tadi itu saya mencet bel?"
Deg.... Bik Minah dan Pak Sugeng pun tampak terkejut dan bingung setelah mengetahui bahwa majikannya itu tidak mengetuk pintu, melainkan memencet bel.
"Bikinkan saya kopi ya, Bik.." ucap Evant.
"I-iya, Tuan," sahut Bik Minah mengangguk kemudian segera menuju dapur untuk membuatkan kopi.
"Eemmm.. Saya pamit dulu ya, Tuan..." ucap Pak Sugeng meminta izin untuk pulang.
"Eh nggak usah, nggak usah... Pak Sugeng santai di sini aja dulu," seru Evant, "Temenin Bik Minah aja di sini, saya mau istirahat aja dulu, Pak," lanjutnya kemudian beranjak dari sofa, "Nanti bilangin sama Bik Minah, kopi saya tolong di bawakan ke kamar aja, Pak...." Evant pun melangkah menuju kamarnya meninggalkan Pak Sugeng di ruang tamu.
Tak lama kemudian, dari arah dapur tampak Bik Minah yang kembali ke ruang tamu dengan membawa secangkir kopi hangat.
"Loh.. Tuan Evantnya mana Pak?" tanya Bik Minah.
"Bu, kopinya minta di bawakan ke kamar aja kata Tuan Evant..." sahut Pak Sugeng.
"Oh iya udah....." Bik Minah pun berjalan menuju kamar Evant dengan membawa secangkir kopi hangat di tangannya.
Bik Minah pun tiba tepat di depan kamar yang pintunya di tinggalkan terbuka, tampak Evant yang sedang tertidur di atas tempat tidurnya. Bik Minah pun perlahan melangkahkan kedua kakinya memasuki kamar itu agar majikannya tidak terganggu lalu dengan perlahan meletakkan kopi yang di bawanya di atas meja lampu yang berada di samping tempat tidur. Kemudian Bik Minah pun keluar dari kamar lalu menuju ke ruang tamu di mana Pak Sugeng berada.
"Pak, kalau yang mengetuk pintu tadi bukan Tuan Evant, jadi siapa pak?" bisik Bik Minah pada suaminya.
"Bapak juga nggak tahu, Buk," sahut Pak Sugeng berbisik.
"Jangan-jangan.. iiih, kok aku jadi merinding ya Pak..." ucap Bik Minah seketika mendekatkan badannya pada Pak Sugeng.
"Apa-apaan sih Ibu... Mana ada hantu siang bolong begini," sahut Pak Sugeng.
Tiba-tiba, Mala dan kedua anaknya pun kembali.
"Assalamu'alaikum...." ucap Mala serentak bersama kedua anaknya sehingga membuat Bik Minah terkejut.
"Eh copot-copot!!!" sentak Bik Minah seketika terkejut dengan gaya latahnya yang khas.
"Non..." ucap Pak Sugeng seraya menganggukkan kepalanya menatap Mala.
"Kok kalian berdua kaya ketakutan gitu sih?" tanya Mala sambil berjalan memasuki rumahnya bersama Julliant dan Clara, "Oh iya, Evant sudah pulang atau belum?" tanyanya lagi.
"I-iya Non, tuan Evant udah pulang baru aja tadi...." jawab Bik Minah, "Itu Tuannya lagi istirahat di kamar, Non," sambungnya memberitahu.
"Hah.. Papah udah pulang? Yeee...." seru Clara kegirangan dan segera berlari menuju ke kamar di mana Evant beristirahat.
"De... Jangan ganggu Papah istirahat," teriak Julliant menegur adik perempuannya itu, namun Clara tidak menghiraukan teriakkan kakak laki-lakinya.
Di dalam kamar, tampak Evant yang masih berbaring beristirahat.
"Papah...." panggil Clara seraya berusaha membangunkan Evant ayahnya itu, "Papah... Bangun...." teriak Clara dengan nada manja dan cadelnya.
Evant menggeliatkan tubuhnya dan perlahan membuka kedua matanya lalu melihat Clara yang sudah duduk di sampingnya.
"Eh, Princes Papah..." ucap Evant seketika memeluk tubuh mungil Clara.
"Papah tumben pulangnya cepet?" tanya Clara tersenyum dengan suara cadelnya yang lucu.
"Iya, sayang... Kan, Papah kangen Clara, makanya Papah pulangnya cepet..." sahut Evant sembari mencubit pipi Clara yang tembem dan menggemaskan.
"Gimana Pah?" tanya Mala seketika berdiri di depan kamar, "Tadi kamu udah ke rumah sakit atau belum?" tanya Mala lagi.
"Belum, Mah... Soalnya tadi nggak sempat..." jawab Evant seraya beranjak duduk di atas kasur.
"Loh, nggak sempat kenapa, Pah?" tanya Mala lagi kemudian berjalan masuk ke dalam kamar lalu menghampiri Evant dan Clara.
"Tadi kan, Ari bilang ke Papah kalau barengan aja ke rumah sakitnya... Eh, tau-tau Ari masih ada kerjaan yang belum selesai," jawab Evant, "Jadi, nunggu Ari dulu," sambungnya.
"Ooh, gitu...." Mala menganggukkan kepalanya.
"Nanti Ari telpon kalau udah selesai, katanya," ucap Evant.
Clara perlahan mendekatkan mulutnya ke telinga Evant ayahnya, "Pah... Rumah sakit itu apa sih, Pah?" bisik Clara lirih dengan lugunya bertanya.
Mala pun seketika menyunggingkan senyumnya setelah mendengar pertanyaan lugu dari Clara anak perempuannya itu.
"Rumah sakit itu tempatnya orang sakit, Sayang..." jawab Evant sembari mengusap-usap lembut rambut lurus Clara yang panjangnya sebahu.
"Ooohhhh...." ucap Clara seraya menganggukkan kepalanya.
"Udah Clara... Papahnya kan baru pulang kerja.." Mala perlahan mengangkat dan menggendong Clara, "Clara temenin kakaknya gih, di ruang tengah," sambungnya.
Clara pun kemudian berlari menuju ke ruang tengah dan menghampiri Julliant yang sedang menonton tv.
Tiba-tiba, smartphone Evant berdering. Evant pun segera mengambil smartphone-nya yang terletak di atas meja di samping tempat tidur.
"Ini Ari yang telpon, Mah," ucap Evant.
Mala mengangguk, "Angkat aja telponnya, Pah," sahut Mala.
Evant pun mengangkat telpon dari Ari dengan menempelkan smartphone-nya di telinga kanannya, "Ya, Ari... Gimana, kita jadi ke rumah sakit?" tanyanya seketika.
"Iya, nih aku sudah mau berangkat langsung dari kantor," jawab Ari.
"Kamu jemput aku ya, Ri," sahut Evant.
"Siap..." jawab Ari, "Sebentar lagi aku sampai rumah kamu, Vant," sambungnya.
Kemudian Evant menutup telponnya, "Mah, ini Ari sebentar lagi mau jemput Papah," ucap Evant.
"Nggak mandi dulu, Pah?" tanya Mala.
"Nanti aja deh, Mah..." sahut Evant sembari beranjak berdiri dari tempat tidur kemudian berjalan menuju ruang tamu dan di iringi Mala dari belakang.
"Kan, masih sempat mandi, Pah..." ucap Mala setelah bersama Evant tiba di ruang tamu, "Atau mau makan dulu?" tanyanya kemudian.
"Nanti aja, Mah... Soalnya Papah belum lapar," jawab Evant.
"Hhmmm...." Mala merapatkan bibirnya.
Kemudian terdengar suara deru mobil yang berhenti tepat di halaman depan rumah Mala dan Evant.
"Nah, itu kayaknya Ari, Mah," ucap Evant kemudian segera menuju ke pintu depan dan membukanya.
Mala pun mengiringi Evant menuju ke depan rumah.
"Ayo, Vant," seru Ari yang tampak dari jendela mobil yang terbuka.
"Papah pergi dulu ya, Mah," ucap Evant sembari mencubit pipi Mala.
"Iya, Pah... Hati-hati..." sahut Mala.
Kemudian Evant bergegas memasuki mobil berwarna biru metalik lalu pergi.
Mala pun kembali masuk ke dalam rumah dan berjalan menuju ruang tengah di mana Julliant yang sedang asik menonton tv dan Clara yang sedang asik bermain dengan boneka-bonekanya.
Dari dapur, tampak Bik Minah bersama Pak Sugeng masih terlihat ketakutan dengan apa yang telah mereka alami.
"Pak, apa mungkin tuan Evant ngerjain kita ya...?" tanya Bik Minah lirih sembari mencuci piring.
"Hush... Ngawur kamu, Bu... Bu..." sahut Pak Sugeng menggelengkan kepalanya.
"Lalu, siapa yang ngetuk pintunya kalau gitu?" tanya Bik Minah.
Pak Sugeng mengangkat bahunya, "Ayo kita pulang, Bu... Ini kan udah sore..." ajak Pak Sugeng.
"Iya Pak, ini juga udah selesai kok..." sahut Bik Minah kemudian meletakkan semua piring yang telah di cucinya ke dalam lemari rak piring, "Ayo, Pak," ajaknya kemudian.
Pak Sugeng dan Bik Minah pun bersamaan keluar dari dapur lalu melewati ruang tengah. Ketika lewat di ruang tengah, mereka berdua melihat Mala bersama Julliant dan Clara.
"Non Mala..." panggil Bik Minah.
Mala pun menoleh ke arah Bik Minah dan Pak Sugeng, "Ya, Bik?" tanyanya.
"Kami pulang dulu ya, Non.." jawab Bik Minah.
Pak Sugeng hanya tersenyum dan mengangguk-ngangguk.
"Udah sore, Non," sambung Bik Minah.
"Oh iya, kalian udah makan?" tanya Mala.
"Belum, Non..." jawab Bik Minah, "Kata si Bapak, makanannya mau di bawa pulang saja," sambungnya, "Biar nanti makan di rumah, Non," sambungnya lagi.
"Oh... Iya, Bik," sahut Mala tersenyum, "Makasih ya, Bik..." lanjutnya.
"Iya, Non... Kembali kasih," sahut Bik Minah seraya menganggukan kepalanya, "Saya sama Bapak pulang dulu ya, Non," lanjutnya berpamitan.
"Iya, hati-hati ya, Pak, Bik..." ucap Mala.
Kemudian Pak Sugeng dan Bik Minah pun keluar rumah lalu pulang ke rumah mereka.
Mala pun kembali menemani Julliant dan Clara di ruang tengah.
"Ah bosen..." ucap Julliant lirih sembari menatap televisi kemudian mengambil remote tv dan memindah chanel pada televisi yang di tontonnya.
"Jangan di pindah...!" teriak Clara seketika merebut remote tv yang di pegang Julliant kemudian memindah kembali chanel pada televisi.
"Sini De... Kamu kan nggak nonton, lagi asik main boneka juga....." Julliant berusaha merebut remote tv yang di genggam erat oleh Clara.
"Enggak mau..!" teriak Clara berusaha mempertahankan remote tv di genggaman tangannya.
"Mah, Clara nih, Mah..." ucap Julliant.
"Clara... kasih remotenya sama kakaknya..." ucap Mala dengan lembut.
"Enggak mau....!" teriak Clara seketika menyembunyikan remote tv di balik ketiaknya.
"Ya udah, Julliant mau nonton di kamar aja!" bentak Julliant kepada Clara kemudian beranjak berdiri dan berjalan sembari mendengus kesal menuju sebuah kamar kosong yang biasa di gunakan Mala untuk beribadah.
"Julliant jangan kesana," cegat Mala seketika menghampiri Julliant lalu menutup pintu kamar dan menguncinya.
"Emangnya kenapa, Mah? Kok di kunci?" tanya Julliant dengan rasa penasarannya.
"Enggak apa-apa, Sayang," jawab Mala tersenyum, "Kamar ini kan buat Mamah sholat, jadi nggak boleh kotor," sambung Mala, "Mending kamu nonton di kamar Mamah aja, ya...."
"Iya deh, Mah...." Julliant pun berjalan menuju ke kamar orang tuanya dan segera menyalakan tv di dalam kamar tersebut.
"Clara juga mau nonton di dalam kamar!" teriak Clara seketika beranjak berdiri lalu berlari menghampiri Julliant di dalam kamar ayah dan ibunya.
"Dede.... Kok ke sini juga..." ucap Julliant seketika menyembunyikan remote tv di belakang tubuhnya.
"Clara juga mau nonton di dalam kamar," sahut Clara.
"Sana...!" bentak Julliant, "Dede nonton di dalam kamar kosong aja..." bentaknya lagi.
"Enggak mau..." sahut Clara, "Di sana ada hantu... iiii...." lanjutnya dengan gayanya yang menggemaskan.
"Mana ada hantu, De..." ucap Julliant.
"Iya beneran ada hantu..." sahut Clara memaksa, "Dede sering lihat kalau lagi pipis malam..." sambungnya memberitahu.
"Alaaah, paling-paling kamu itu ngigo, tidur sambil jalan," sahut Julliant.
"Beneran...!" teriak Clara memaksa, "Kakak sih.. enggak pernah pipis tengah malam," ucapnya kemudian.
"Emang kakak enggak pernah pipis tengah malam, weee," sahut Julliant kemudian menjulurkan lidahnya mengejek Clara.
"Coba aja nanti kakak pipis tengah malam, kakak pasti lihat..." ucap Clara dengan nada polosnya yang menggemaskan.
"Nggak ah, kakak nggak mau..." sahut Julliant, "Emangnya dede, sering pipis tengah malam..." lanjutnya, "Ah udah ah, Kakak mau nonton di ruang tengah aja ah..." Julliant pun keluar dari kamar ayah dan ibunya meninggalkan Clara lalu menuju ke ruang tengah di mana Mala berada.
"Julliant... Kok adeknya di tinggal sih?" tanya Mala dengan lembut.
"Nggak seru, Mah," sahut Julliant, "Dede gangguin Julliant mulu," sambungnya.
Dari arah kamar, tampak Clara yang berlari menuju ruang tengah di mana Mala dan Julliant berada.
"Kak Julliant kok ninggalin Dede sendirian sih..." ucap Clara sembari menunjukkan expresi kesal di wajahnya.
"Yaah, kok ikut kesini juga..." keluh Julliant.
"Itu kok tv-nya nggak di matiin dulu?" tanya Mala.
"Tau nih Dede, matiin tv-nya dulu De..." seru Julliant.
"Enggak mau...!" sahut Clara seketika bersilang tangan dan memalingkan wajahnya.
"Ya udah, Kak Julliant... Tolong matiin tv-nya, ya..." pinta Mala pada anak laki-lakinya itu.
"Yaah, kok Julliant, Mah...?" tanya Julliant mengeluh, "Ya udah, deh.. Biar Julliant yang matiin tv-nya," lanjutnya mendengus kesal kemudian berjalan kembali menuju kamar, "Aku nonton lagi aja ah..." gumamnya dalam hati setelah kembali masuk ke dalam kamar ayah dan ibunya.
Ketika di ruang tengah, Mala masih memikirkan perbincangan Clara dengan Julliant yang di dengarnya. Memikirkan perkataan Clara yang ternyata juga sering melihat penampakan sosok hantu di kamar kosong itu.