Bab 16

1737 Kata
Terdengar suara mobil berhenti di halaman rumah Mala dan seketika Mala beranjak dari sofa tempat dia duduk. Ketika itu Clara kecil sudah tertidur dengan sangat pulas hanya Mala dan Julliant yang masih asik duduk di ruang tengah sambil menonton televisi dan menunggu Evant pulang ke rumah. Mala bergegas menuju ruang tamu dan berjalan ke arah luar untuk memastikan bahwa suaminya lah yang datang. Mala membuka pintu depan rumahnya lalu melihat keluar rumah dan ternyata memang benar suaminya Evant lah yang datang di antar oleh temannya Ari. Mala tersenyum senang ketika melihat suaminya keluar dari mobil lalu, berjalan menghampirinya. Ari memutar balik mobilnya dan melambaikan tangannya ke arah Mala dan Evant yang sedang menunggunya di halaman depan. "Nggak mampir dulu Ri?" seru Mala. "Nanti aja Mal, udah kemaleman!" sahut Ari dari dalam mobilnya yang kacanya di bukanya. "Oh, makasih ya Ri!" seru Mala lagi. "Aku pulang dulu ya!" teriak Ari kemudian menghidupkan mesin mobilnya. "Iya Ri, hati-hati ya..!" sahut Mala. Lalu mobil Ari pun melaju ke arah luar pagar rumah Mala. Evant pun menutup pintu pagar rumahnya setelah Ari sudah tidak terlihat lagi dari pandangan matanya kemudian dia berjalan lagi menghampiri Mala dan mereka pun masuk ke dalam rumah. Mala mengunci pintu rumahnya kemudian menyusul Evant yang sedang duduk di ruang tamu. "Papah mau kopi nggak?" tanya Mala. Evant mengangguk dan tersenyum manis ke arah Mala, "Boleh," sahutnya kemudian. Mala pun melangkahkan kakinya ke dapur untuk membuatkan suaminya kopi. Tidak lama kemudian dia kembali ke ruang tamu sambil membawa dua gelas kopi di tangannya dan kembali lagi ke dapur untuk membawakan camilan yang akan di makannya bersama Evant. Saat membawa camilan dia berpapasan dengan anak laki-lakinya, yaitu Julliant yang baru ke luar dari kamar kecil. "Mah, Julliant mau juga dong," rengek Julliant yang juga ingin di buatkan segelas s**u dan juga camilan. "Iya sebentar Mamah kasih ini ke Papah dulu ya, baru Mamah buatkan untuk Julliant juga," kata Mala lalu berjalan ke ruang tamu untuk menaruh camilan yang di bawanya ke atas meja. "Sebentar ya Pah, aku mau buatkan s**u untuk Julliant dulu," kata Mala. "Oh, jadi Julliant belum tidur Mah?" tanya Evant. "Iya, katanya mau begadang nonton kartun kesukaannya," jawab Mala sambil tertawa kecil dan menutup mulutnya dengan tangan. "Papah!" teriak Julliant yang berlari menghampiri Ayahnya ke ruang tamu ketika jeda iklan di televisi muncul. "Hai jagoan Papah, kok belum tidur?" tanya Evant sambil memeluk tubuh gemuk Julliant. "Nanti aja Pah, Julliant masih belum ngantuk," jawab Julliant. "Loh, kok... besok kamu bisa bangun kesiangan kalau tidurnya larut malam kayak gini," kata Evant sambil mencubit hidung anak laki-lakinya itu. "Hehe...." Julliant cengengesan sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Mala datang dengan segelas s**u dan camilan di tangannya kemudian meletakannya di atas meja. "Yeey!" teriak Julliant kegirangan ketika s**u dan camilannya sudah di bawakan oleh Mala ibunya. "Eh,eh,eh,eh... Jangan teriak malam-malam gini dong, nanti dedenya bangun loh," tegur Mala sambil menjewer kuping anak laki-lakinya itu. Julliant terkekeh, "Hehe, maaf Mah," ucapnya pelan sambil mencium pipinya Mala dan memeluknya. Evant tersenyum senang melihat anak laki-laki dan istrinya itu lalu, menghirup kopinya sedikit demi sedikit karena masih terasa panas. "Jadi gimana tadi Pah?" tanya Mala setelah Evant meletakan kopinya kembali ke atas meja. Evant terdiam sejenak kemudian menghela napas panjang, "Nggak jadi Mah, nggak sempat," jawab Evant pelan. "Loh, kenapa Pah?" tanya Mala penasaran. Evant mengantup bibirnya rapat dan memejamkan matanya sebentar, "Kamelia udah meninggal Mah," jawab Evant sambil tersenyum pahit. Mala membuka mulutnya lebar lalu, menutupnya dengan kedua tangannya. Beberapa saat dia hanya terdiam sambil menghirup kopinya. "Kemaren malam keadaannya kembali drop Mah, dan tadi siang...." Evant terdiam tidak melanjutkan kata-katanya lagi. Mala pun ikut terdiam, perasaannya bercampur aduk, ada rasa bersalah karena dulu pernah mencaci maki dan sudah menghina Kamelia, kemudian rasa takut juga muncul di dalam hatinya karena tidak sempat meminta maaf kepada Kamelia. Evant menatap Mala penuh selidik, "Mamah kenapa?" tanya Evant, "Kok kayaknya sedih banget?" tambahnya lagi. Mala menatap Evant dengan senyuman yang sedikit di paksakan. "Mamah nggak apa-apa kok, Pah..." jawab Mala pelan. "Masak sih," goda Evant sambil menatap Mala dengan mengerutkan keningnya sebelah, "Jangan-jangan Mamah takut ya...." kata Evant sambil tertawa terbahak-bahak. "Apaan sih kamu ini Pah, takut apa coba..." sahut Mala dengan nada setengah marah. "Ya, takut aja kalau nanti Kamelia jadi hantu gentayangan dan menghantui Mamah," ucap Evant dengan membesarkan suaranya untuk menakut-nakuti istrinya itu kemudian tertawa. Julliant yang mendengar itupun seketika ikut tertawa bersama ayahnya, "Hayo loh, Mah..." ucap Julliant juga mengikuti jejak ayahnya menakut-nakuti Mala ibunya. "Makanya, Mamah jangan pernah coba selingkuh seperti Kamelia," ucap Evant dengan nada menggoda, "Kalau nanti Mamah selingkuh...." "Emang kalau Mamah selingkuh, Papah mau ngapain?!" pungkas Mala seketika. "Mau...." Evant pun kembali tertawa terbahak-bahak tanpa melanjutkan kalimatnya. "Ah udah ah, mending aku ke dapur nyuci piring," sahut Mala kemudian melangkah menjauh dari Evant dan Julliant. "Hati-hati loh Mah, nanti kalau sendirian bisa di gangguin hantu Kamelia loh... Hiiiii..." ucap Evant menggoda kemudian kembali tertawa bersama Julliant. Ketika Mala sedang mencuci piring di dapur, ia termenung memikirkan ucapan dari suaminya tadi, dan dia pun mencoba mengingat kembali tentang kejadian waktu dulu ketika ia dengan suaminya ingin merayakan hari ulang tahunnya di bioskop bersama Ari dan Kamelia, satu tahun yang lalu tepat di usianya yang ke dua puluh empat tahun. Mala merasa sangat menyesal, karena di hari ulang tahunnya itu ia pernah menghina Kamelia dan mengkritik cara dia berpakaian. Mala pun bergumam lirih dalam hati, gimana kalau Kamelia benar-benar nggak maafin aku ya. Terus dia benar-benar datang untuk ngehantuin aku karena aku pernah menghinanya waktu itu kaya kata Evant barusan. Ketika ia sendirian di dapur, Mala pun merasakan suasana hening dan membuatnya sedikit takut. Tubuhnya tiba-tiba saja merinding setelah angin menghembus ke arahnya entah dari mana dan membuatnya gugup. Karena saking besar perasaan takutnya itu, sehingga tanpa sengaja ia menjatuhkan sebuah piring kaca dari tangannya. Kemudian, Mala pun membereskan puing-puing kaca dari piring yang jatuh tersebut dan salah satu jarinya pun terluka karena tidak sengaja tergores oleh beling ketika memungut pecahan kaca dari piring itu. "Aduh!" sentak Mala seketika menghisap jarinya yang terluka dan meneteskan sedikit darah ke lantai. Kemudian Mala pun segera mengambil perban di dalam kotak P3K yang berada di dapur, lalu membalutkan perban itu pada jarinya yang terluka. Di waktu yang sama tepat di ruang tengah, tampak Evant dan Julliant yang masih saja menertawakan Mala. Kemudian Evant dan Julliant berencana untuk kembali mengerjai dan menakut-nakuti Mala. Evant dan anak laki-lakinya pun berjalan mengendap-endap ke dapur untuk mengagetkan Mala. Namun ketika mereka berdua hampir sampai di dapur, tiba-tiba listrik di rumah mereka padam sehingga membuat pandangan mereka menjadi kurang jelas karena gelap. "Nah, lampunya mati... pas banget Pah," bisik Julliant kepada Evant ayahnya. Evant mengangguk sembari menahan tawa, "Ayo..." bisiknya. Dengan membungkukkan badan, mereka pun berjalan pelan mengendap-endap memasuki dapur. Tiba-tiba, Julliant dan Evant menabrak sesuatu. "Ini apa ya, Pah?" bisik Julliant bertanya kepada Evant ayahnya. Evant pun menggelengkan kepalanya. Mereka pun penasaran dengan apa yang mereka berdua tabrak. Kemudian Evant dan Julliant bersama-sama menolehkan kepala ke atas. Sontak mereka pun terkejut dan seketika berteriak setelah samar melihat sesosok makhluk bergaun putih dengan rambut terurai dan wajahnya pun sangat putih pucat. "Aaaaaa....!!!" Evant dan Julliant serentak berteriak dan bersamaan dengan suara seorang wanita yang juga ikut berteriak. Lalu saat itu juga, tiba-tiba listrik kembali menyala sehingga terlihat dengan jelas apa yang tadi di tabrak oleh Evant dan Julliant dan ternyata adalah Mala yang berdiri di depan mereka dan sudah mengganti pakaiannya dengan gaun tidur berwarna putih juga seluruh bagian wajahnya sudah di olesi masker berwarna hitam. "Kalian ngapain sih..?!" bentak Mala. "Eh, Mamah..." ucap Julliant sembari menggaruk kepalanya. "Bukannya tadi Mamah pakai gaun tidur warna biru?" tanya Evant merasa heran. "Ooh, tadi gaun tidur yang Mamah pakai tadi kena darah, Pah," jawab Mala kemudian mengacungkan tangannya yang sudah terbalut perban pada salah satu jarinya. "Tangan Mamah kenapa?" tanya Evant khawatir. "Tadi waktu Mamah nyuci piring, nggak sengaja Mamah ngejatuhin piring dan pecah," jawab Mala, "Julliant kok belum tidur, nanti besok bangunnya kesiangan loh..." lanjutnya bertanya sembari menoleh ke arah Julliant. "I-iya, Mah... ini juga udah mau tidur," jawab Julliant. "Ya udah, cuci muka dulu sana, terus pipis biar nanti nggak ngompol," seru Mala. "Iya Mah," sahut Julliant kemudian berjalan menuju kamar mandi yang berada di dalam ruangan dapur. Julliant tiba-tiba berhenti tepat di depan pintu kamar mandi kemudian menoleh kebelakang ke arah Ayah dan Ibunya. "Kenapa lagi?" tanya Mala, "Udah sana, cuci muka terus pipis.." serunya kemudian. "Hee..." Julliant cengengesan sembari menggaruk kepalanya, "Temenin... Julliant takut.." ucapnya kemudian. "Dede aja berani sendirian pipis, kok Julliant nggak berani sih..." sahut Mala. "Hee..." Julliant kembali cengengesan dan menggaruk kepalanya. Mala pun menghampiri Julliant yang berdiri di depan pintu kamar mandi, "Ya udah, Mamah tungguin di depan pintu deh.." ucapnya tersenyum. Kemudian Julliant pun masuk ke dalam kamar mandi lalu mencuci muka dan buang air kecil. "Aku ke tengah lagi ya Mah..." ucap Evant meminta izin kepada istrinya untuk kembali menonton televisi di ruang tengah. "Iya Pah," sahut Mala tersenyum, "Jangan kemaleman ya, Pah..." lanjutnya. "Iya Mah..." sahut Evant tersenyum kemudian berjalan kembali ke ruang tengah untuk kembali menonton televisi. 'JLEK....' Bunyi pintu kamar mandi yang terbuka. "Udah, Mah," ucap Julliant seraya melangkah keluar dari kamar mandi kemudian langsung berjalan menuju ke kamarnya. "Langsung tidur ya..." seru Mala lembut menatap Julliant. "Iya, Mah," sahut Julliant sembari berjalan menuju ke kamarnya, "Duh, padahal aku mau buktiin kata dede, beneran ada hantu atau enggak," gumamnya dalam hati sembari menghela nafas. Setelah Mala melihat Julliant yang sudah masuk ke dalam kamarnya, ia pun kemudian keluar dari dapur dan berjalan menuju ke ruang tengah untuk menghampiri Evant suaminya. Ketika Julliant sudah membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, namun entah kenapa ia masih belum bisa memejamkan kedua matanya. Tiba-tiba, Julliant menyadari ada suatu hal yang janggal ketika ia dan ayahnya ingin mengagetkan ibunya di dapur. Julliant masih merasa bingung sembari mengingat-ingat kembali ketika ia dan ayahnya ingin menakut-nakuti ibunya itu. Kemudian Julliant pun semakin bertambah bingung setelah ia mencoba mengingat sosok bergaun putih yang dia lihat ketika listrik padam tadi memiliki muka yang putih pucat, sedangkan ketika listrik kembali menyala ia malah melihat ibunya yang memang juga memakai gaun berwarna putih, namun seluruh muka ibunya itu sudah di olesi dengan masker wajah yang berwarna hitam. Bukannya tadi ibu pakai masker wajah warna hitam, tapi kok pas mati lampu tadi, aku nggak ngelihat ibu pakai masker wajah warna hitam, gumamnya dalam hati. Setelah lama ia berpikir keras karena bingung, ia pun tertidur dengan sendirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN