Aroma embun yang khas bersama seberkas cahaya surya menyelinap ke dalam kamar melalui celah tilai yang tersingkap oleh tiupan angin lembut karena daun jendela di kamar sudah dalam keadaan terbuka.
Mala mengerutkan kedua kelopak matanya dalam keadaan masih terpejam. Sesaat ia mendesis dan wajahnya nampak meringis ketika merasakan nyeri yang menyelimuti seluruh bagian kepalanya.
Mala perlahan membuka kedua matanya, kemudian menoleh ke arah jendela di dalam kamarnya. Mala menyipitkan kedua matanya ketika belum siap menerima silaunya cahaya mentari, kemudian menolehkan kepalanya ke arah sebaliknya dan melihat Evant suaminya yang sudah mengenakan kemeja hitam dengan celana slimfit abu-abu yang menandakan bahwa suaminya sudah siap untuk pergi ke kantor.
"Selamat pagi, Sayang," sapa Evant dengan lembut menatap ke arah Mala.
Namun, Mala hanya diam menatap Evant, kemudian Mala membalikkan badannya kembali ke arah jendela sambil memejamkan kedua matanya lagi.
Mala kembali mendesis lirih, wajahnya tampak meringis menahan rasa nyeri yang masih menyelimuti seluruh bagian kepalanya.
Mala masih memejamkan kedua matanya, "Kok pagi ini, pas bangun, aku tiba-tiba merasa pusing ya?!" gumam Mala lirih, bertanya-tanya dalam hatinya sendiri karena ia tidak dapat mengingat kejadian tadi malam yang sampai membuatnya pingsan.
Mala membuka matanya kembali, tapi ia tiba-tiba beranjak bangun dan melompat turun dari tempat tidur ketika kedua matanya melihat lagi boneka kecil yang tergeletak berbaring di sampingnya sehingga langsung membuat ingatannya tentang kejadian tadi malam kembali.
Evant terkejut sekaligus heran melihat istrinya yang tiba-tiba bangun dan turun dari tempat tidur.
"Kamu kenapa, Mah?!" tanya Evant sambil mengerutkan kedua keningnya menatap Mala.
Mala menoleh ke arah Evant dan langsung bersembunyi di belakang tubuh Evant sambil mengintip ke arah boneka kecil yang berada di atas tempat tidur.
"Kenapa boneka itu Papah taruh di sebelahku, Pah?!" tanya Mala ketika berada di belakang tubuh Evant sambil menunjuk ke arah boneka kecil itu.
"Loh?! Bukannya tadi malam Mamah sendiri yang menaruh boneka itu di samping Mamah," jawab Evant dengan nada heran sambil menoleh ke kanan melihat istrinya yang masih berada di belakang tubuhnya.
Mala seketika membelalakkan kedua matanya setelah mendengar ucapan dari suaminya. Kemudian Mala bergegas ke luar kamar meninggalkan Evant sendirian di dalam kamar.
Mala berjalan ke arah ruang tamu dan berpapasan dengan Bik Minah yang menyapanya. Tapi, Mala terus berjalan dan tidak membalas sapaan dari Bik Minah.
"Loh!" Bik Minah merasa bingung dengan sikap Mala yang tidak biasa, padahal biasanya ketika dia menyapa Mala, Mala selalu membalas sapaannya, "Apa mungkin, Non Mala enggak lihat badan aku yang segede ini ya?!" gumam Bik Minah dalam hati kemudian lanjut berjalan ke arah ruang dapur.
Setibanya Mala di ruang tamu, ia tersadar bahwa Bik Minah menyapanya. Mala pun kembali mendatangi Bik Minah yang sedang berjalan ke arah ruang dapur.
"Bik Minah." Mala memanggil Bik Minah yang tiba-tiba membuat Bik Minah terkejut ketika hampir masuk ke ruang dapur.
"Eh! Iya, iya, iya." Bik Minah terkejut dengan gaya latahnya yang khas kemudian perlahan berbalik badan menatap ke arah Mala yang tadi berada di belakangnya, "Iya, Non?" tanya Bik Minah hati-hati.
"Maaf ya, Bik... Tadi itu Mala enggak sadar kalau Bibik nyapa Mala," ucap Mala pelan.
"I-iya, enggak apa-apa kok, Non," sahut Bik Minah mengangguk pelan.
Kemudian Mala meringis sambil memegangi kepalanya ketika kembali merasakan nyeri yang tiba-tiba menyelimuti seluruh bagian kepalanya.
"Non, Non enggak apa-apa?" tanya Bik Minah nampak khawatir.
Mala mencoba tidak menghiraukan rasa nyeri di kepalanya, "Iya, Mala enggak apa-apa, Bik." Mala menoleh ke belakang tepat ke arah ruang tengah kemudian ke arah ruang tamu, "Bik, Julliant sudah bangun apa belum?" tanya Mala kemudian kembali menoleh ke depan menatap Bik Minah.
"Den Julliant sudah lama berangkat sekolah sama suami saya, Non," jawab Bik Minah.
"Hah! Memangnya sekarang jam berapa sih?" Mala berbalik badan, lalu berjalan menuju ruang tengah. Bik Minah mengiringi Mala menuju ruang tengah.
Setibanya di ruang tengah, Mala kemudian melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh tepat.
"Enggak biasanya aku bangun kesiangan begini?!" pikir Mala sambil mengerutkan kedua keningnya.
"Non Mala kenapa?" tanya Bik Minah.
Mala berpaling menatap Bik Minah, "Enggak, Bik. Mala cuman bingung pas tahu kalau Mala bangun kesiangan. Mala enggak biasanya gini, Bik," jawab Mala.
"Mending Non Mala sarapan dulu," ucap Bik Minah hati-hati.
"Iya, Bik. Terima kasih ya, Bik." Mala tersenyum lembut menatap Bik Minah kemudian berjalan bersama Bik Minah ke ruang dapur.
Mala duduk pada salah satu kursi meja makan yang letaknya paling dekat dengan lemari es di dalam ruangan dapur, kemudian mengambil selembar roti tawar dan membalurinya dengan selai coklat.
Tiba-tiba, Evant datang menghampiri Mala, "Mah, aku berangkat kerja ya, Mah." Evant menempelkan bibirnya ke kening istrinya.
Mala hanya mengangguk sambil menyunggingkan senyum tipis ketika suaminya mencium keningnya. Mala meletakkan selembar roti yang tadi sudah disiapkannya kembali ke dalam piring kemudian beranjak berdiri dan dengan raut wajah datar ia berjalan mengiringi Evant yang menuju ke arah pintu depan rumah.
Mala berdiri di depan pintu sambil memaksakan bibirnya untuk tersenyum melihat Evant berjalan ke arah mobil hitam yang terparkir tepat di depan rumah. Ketika berdiri di depan pintu, ia melihat lantai teras depan rumahnya yang tampak kotor karena bekas jejak kaki dari sepatu Evant. Setelah Evant masuk ke dalam mobil, Mala langsung kembali masuk dan menutup pintu depan rumahnya.
Entah karena apa yang membuat Mala merasa jengkel dengan dirinya sendiri, "Aku lelah harus selalu berpura-pura senyum!" lirih Mala dalam hati sambil berjalan melewati ruang tamu dan ruang tengah menuju ke kamarnya.
Setelah Mala selesai mandi dan mengganti pakaiannya, ia pun mendatangi Clara yang sedang memberantakkan mainan di ruang tengah.
Tiba-tiba Sisy datang tanpa mengetuk pintu ketika Mala sedang menemani Clara bermain sambil duduk pada sofa di ruang tengah dan melamun.
"Kak Mala!" panggil Sisy tiba-tiba duduk tepat di samping Mala.
Seketika Mala tersentak dari lamunannya karena kedatangan Sisy yang tiba-tiba.
"Sisy!" ucap Mala kesal, "Main nyelonong aja, enggak ucap salam lagi!"
"He... Iya ya, Sisy lupa," sahut Sisy cengengesan sambil menggaruk kepalanya.
Clara menoleh ke arah Mala dan Sisy yang duduk pada sofa di ruang tengah, "Tante Sisy... Temenin Clara main yuk," ajak Clara sembari berjalan mendatangi Sisy.
"Wah! Ayok!" Sisy beranjak berdiri kemudian menemani Clara bermain.
Ketika melihat suasana ruang tengah yang berserakan karena mainan Clara, Mala teringat bahwa lantai teras depan rumahnya kotor bekas sepatu yang dikenakan Evant, "Aku nyiram lantai teras depan aja deh." Mala beranjak berdiri.
"Mamah mau ke mana?" tanya Clara dengan nada polosnya menatap ke arah ibunya.
"Clara, kamu main sama Tante Sisy dulu, ya... Mamah mau nyiram lantai teras dulu," jawab Mala kemudian menatap Sisy, "Temenin Clara dulu ya, Sy," pinta Mala.
"Beres, Kak." Sisy mengacungkan ibu jarinya ke arah Mala, "Yuk kita main lagi," ajak Sisy kepada Clara keponakannya.
Mala berjalan ke depan rumah kemudian mengambil gulungan selang dan memasangnya pada kran air yang berada di depan rumahnya. Tapi ketika ia mencoba menyalakan kran air, airnya tak kunjung mengalir.
"Loh?! Ini kok airnya enggak jalan sih?!" gumam Mala merasa heran, kemudian ia menoleh ke arah kran air dan melihat bahwa kran air di depan rumahnya dalam keadaan bocor, "Aduh... Kok bocor sih?!" Mala mendengus kesal, "Ya sudah, aku siram pakai ember aja deh!" Mala berjalan masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke ruang dapur untuk mengambil ember dan mengisinya dengan air penuh.
Mala berjalan bolak-balik dari ruang dapur ke teras depan rumahnya dengan membawa ember berisi air untuk menyirami lantai teras. Tampak air dari dalam ember yang dibawanya itu sedikit demi sedikit tertumpah ke lantai karena isinya yang terlalu penuh.
Mala berjalan kembali ke dalam rumah menuju ruang dapur dengan hati-hati karena lantai yang dia lalui terasa sedikit licin. Setelah mengisi ember dengan air, Mala kembali membawanya ke depan.
Ketika hampir sampai di pintu depan rumah dengan membawa seember air, salah satu kaki Mala tidak sengaja menginjak bagian lantai yang sangat licin sehingga membuat tubuhnya terpeleset jatuh dan ember yang dibawanya-pun juga ikut terjatuh. Mala berteriak sebelum kepalanya menghantam dinding dengan sangat keras yang seketika membuatnya kehilangan kesadaran dalam posisi tergeletak pada lantai di ruang tamu.
Bik Minah yang berada di dalam ruang dapur dan Sisy yang sedang menemani Clara di ruang tengah mendengar teriakan Mala dan bunyi ember yang terjatuh dari arah ruang tamu.
"Loh! Itu non Mala kenapa ya?" gumam Bik Minah panik kemudian langsung berjalan mendatangi ke depan rumah bersama Sisy yang meninggalkan Clara di ruang tengah.
"Kak Mala!" teriak Sisy tampak begitu panik ketika melihat kakaknya tidak sadarkan diri dalam posisi tergeletak di atas lantai ruang tamu.
"Non...." Bik Minah berusaha menyadarkan Mala dengan cara menggoyangkan tubuh Mala. Tapi, Mala tak kunjung siuman. Bik Minah menoleh ke arah Sisy, "Gimana ini Non Sisy?" tanya Bik Minah terlihat panik.