Bab 25: Seperti Didorong

1141 Kata
"Non Sisy, ayo kita baringkan non Mala ke sofa ruang tengah," ajak Bik Minah. "Iya, Bik," sahut Sisy mengangguk. Bik Minah dan Sisy pun perlahan mengangkat tubuh Mala dan membaringkannya pada sofa di ruang tengah. "Duuh... Non Mala...." Bik Minah tampak khawatir melihat kondisi Mala yang masih tidak sadarkan diri. Clara bingung kemudian mendatangi Bik Minah dan Sisy, "Tante Sisy, Mamah kenapa?" tanya Clara. "Mamah kamu pingsan, Sayang. Tapi, kamu jangan khawatir ya," ucap Sisy kemudian menatap Bik Minah, "Bik, Sisy panggil ibu dulu ya. Titip Clara, Bik." Sisy bergegas berjalan ke luar dan langsung mendatangi Ibu Ana. Setibanya di rumah kediaman Ibu Ana, Sisy langsung membuka pintu dan masuk. "Bu... Bu...." Sisy terus berjalan masuk sambil memanggil ibunya. "Iya... Kenapa, Sy?" tanya Ibu Ana mendatangi Sisy. "Kak Mala, Bu... Kak Mala...." Sisy terlihat bingung bercampur cemas. "Kakak kamu kenapa memangnya?" tanya Ibu Ana ikut bingung. "Kak Mala pingsan, Bu...." jawab Sisy. "Hah! Kok bisa?!" Ibu Ana mengerutkan kedua keningnya. "Sisy juga enggak tahu, Bu... Mending kita datangin aja dulu ke rumah kak Mala, Bu." Sisy menarik tangan Ibu Ana agar cepat ke rumah Mala. Setelah bersama-sama melangkah cepat, akhirnya Sisy kembali dan datang bersama Ibu Ana mendatangi Mala yang terbaring tidak sadarkan diri di ruang tengah. "Astaga, Mala....!" teriak Ibu Ana nampak khawatir kemudian menoleh ke arah Bik Minah, "Bik, tolong carikan minyak kayu putih dalam kotak P3K di dapur," pinta Ibu Ana. "I-iya...." Bik Minah bergegas ke ruang dapur dan mengambilkan sebuah botol kecil berisi minyak kayu putih lalu membawakannya kepada Ibu Ana. "Terima kasih." Ibu Ana mengoleskan minyak kayu putih ke bagian lubang hidung Mala. Setelah beberapa saat diliputi rasa khawatir, Ibu Ana, Sisy, dan Bik Minah melihat kedua mata Mala yang mulai perlahan membuka. "Bu, itu Kak Mala-nya udah siuman," ucap Sisy. "Bik, minta tolong ambilin air putih, Bik," pinta Ibu Ana. "Ba-baik...." Bik Minah kembali ke ruang dapur mengambilkan segelas air putih dan membawakannya kembali ke ruang tengah. "Ini minum dulu, Mal." Ibu Ana perlahan meminumkan air putih ke mulut Mala. Setelah kesadarannya berangsur kembali, Mala mendesis meringis menahan sakit kepala yang dia rasakan, "Kok aku bisa ada di sini sih?" ucap Mala berusaha beranjak bangun, tapi ditahan oleh Ibu Ana. "Jangan bangun dulu, nanti kepalanya bisa tambah pusing," ucap Ibu Ana, tapi Mala tetap memaksa untuk beranjak bangun dan duduk pada sofa di ruang tamu. "Aku udah enggak apa-apa kok, Bu," ucap Mala, kemudian merasa nyeri pada bagian pelipis kanannya dan menyentuh pelipis itu dengan tangan kanannya. Mala kembali meringis ketika merasakan nyeri saat tangannya menyentuh pelipis kanannya yang terlihat memar. "Bagaimana kamu bisa pingsan sih, Mala?" tanya Ibu Ana. "Aku juga enggak ingat, Bu," jawab Mala masih bingung kemudian menoleh ke arah Sisy lalu Bik Minah. "Anu, Non. Tadi, Non Mala kepeleset di depan pas bawa air dari dapur," ucap Bik Minah memberitahu. "Loh, untuk apa sih kamu bawa air, Mala?" tanya Ibu Ana bingung. "Oh iya, Mala ingat... Tadi itu Mala kepingin bersihin lantai di teras depan, tapi air kran di depan itu enggak jalan. Terus Mala ambil air dari dapur aja," jawab Mala setelah kembali mengingat kejadian sebelum dia pingsan, "Tapi, Mala ngerasa kayak didorong sampai Mala jatuh, Bu," sambung Mala. "Mungkin kaki kamu pas nginjak lantai yang licin, jadi berasa kayak ada yang dorong," ucap Ibu Ana. "Oalah! Non... Kok enggak minta sama saya aja sih kalau mau bersihin lantai teras depan?" tanya Bik Minah. "Iya, kenapa kamu sendiri yang bersihin lantai teras depan, kan kamu bisa minta Bik Minah buat bantuin kamu bersihin lantai teras itu," sahut Ibu Ana. "Enggak, Mala cuman bosan kalau diam dan enggak ada ngelakuin aktifitas," jawab Mala kemudian teringat pada anak perempuannya, "Clara mana?" "Ada, Non... Tadi Non Clara katanya mau ke kamar kecil sendiri," jawab Bik Minah. "Bik, minta tolong liatin Clara, Bik," pinta Mala. "Iya, sebentar, Non." Bik Minah menuju ruang dapur dan mendatangi Clara di kamar kecil yang ada di dalam ruang dapur kemudian kembali ke ruang tengah bersama Clara. Setelah melihat Clara, Mala pun lega karena tidak terjadi apa-apa pada anak perempuannya itu. "Julliant udah pulang?" tanya Mala. "Belum, Kak..." sahut Sisy, "Mending Kakak istirahat aja dulu, Julliant sama Clara biar Ibu yang jagain," sambung Sisy. "Aku udah enggak apa-apa, Kok," sahut Mala kemudian kembali meringis merasakan nyeri pada pelipis kanannya yang terlihat memar. "Sini, Ibu olesi minyak kayu putih dulu biar memarnya cepat ilang," ucap Ibu Ana kemudian mengoleskan minyak kayu putih ke pelipis kanan Mala yang memar. Mala meringis menahan perih ketika Ibu Ana mengolesi minyak kayu putih pada pelipis kanannya. "Enggak apa-apa, nanti perihnya juga ilang," ucap Ibu Ana terus mengolesi pelipis kanan Mala yang memar dengan minyak kayu putih, "Evant belum pulang, Mal?" tanya Ibu Ana. "Udah tadi malam, Bu. Tapi, pagi tadi pergi kerja lagi," jawab Mala dengan nada sedikit kecewa. "Ya sudah, enggak apa-apa. Lagian dia kan, cari uang untuk kamu sama anak-anak," ucap Ibu Ana. Mala menari nafas panjang dan menghembuskannya dengan cepat. Tiba-tiba terdengar suara mesin motor yang tidak lain milik pak Sugeng suaminya Bik Minah. "Nah, itu kayaknya Julliant udah pulang," ucap Sisy. "Assalamu'alaikum!" ucap Julliant memberi salam sambil duduk di depan pintu untuk melepaskan sepatunya kemudian masuk ke dalam rumah dan melihat ibunya sedang duduk pada sofa di ruang tengah, "Mamah kenapa?" tanya Julliant nampak khawatir. "Mamah enggak apa-apa, Sayang," jawab Mala. Julliant melihat memar pada pelipis kanan ibunya, "Tapi, itu...." "Udah diobatin sama Nenek kamu, Sayang," ucap Mala. "Iya, Julliant jangan khawatir, Nenek udah obatin Mamah kamu," ucap Ibu Ana, "Mending kamu ganti baju gih, terus nemenin Clara." "Iya, Nek." Julliant mengangguk pelan kemudian masuk ke dalam kamarnya untuk berganti pakaian lalu kembali ke ruang tengah untuk menemani Clara adiknya. "Non Mala sebaiknya istirahat di kamar aja, biar Den Julliant sama Non Clara saya yang jagain. Lagian kerjaan di dapur juga udah pada beres, Non," ucap Bik Minah. Mala mengangguk kemudian perlahan beranjak berdiri dibantu Sisy dan Ibu Ana, lalu membawa Mala menuju ke kamarnya untuk istirahat. "Kamu jangan terlalu banyak bergerak dulu sampai kondisi badan kamu kembali pulih ya," ucap Ibu Ana sambil memusut rambut Mala yang berbaring di atas tempat tidur dengan lembut. "Iya, Bu." Mala mengangguk pelan kemudian memejamkan kedua matanya. "Yuk, Sy. Biar Kakak kamu istirahat dulu," ajak Ibu Ana. "Iya, Bu." Ibu Ana dan Sisy pun ke luar dari kamar Mala dan mendatangi Bik Minah yang sedang menemani Clara dan Julliant di ruang tengah. "Bik, saya pulang dulu ya. Terima kasih sudah mau menjaga anak dan cucu-cucu saya," ucap Ibu Ana tersenyum ramah menatap Bik Minah. "Iya, Bu Ana, tenang aja." Bik Minah balas tersenyum menatap Ibu Ana. "Sisy, kamu tinggal di sini saja atau ikut ibu?" tanya Ibu Ana menatap Sisy. "Sisy di sini aja deh dulu, Bu. Lagian kasian Bik Minah jagain Julliant sama Clara sendirian," jawab Sisy. "Ya sudah, Ibu pulang ya." Ibu Ana melangkah keluar dan pulang kembali ke rumah kediamannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN