32 Pertemuan Marquees Iaros Dan Maria

1151 Kata
”Baik, aku akan memberinya kutukan sementara padanya. Kalian bisa pergi, kutukan Siren butuh proses semalaman agar bisa terbentuk dengan baik.” Irvetta yang mendengar ini menggelengkan kepalanya lagi. “Bagaimana bisa saya percaya kepada anda?” “Nona Irvetta!” bentak Zale, dia sekaran benar-benar muak dengan Irvetta. “Jangan menjadi wanita yang menyebalkan, perhatikan gaya bicaramu kepada sang Duke, atau aku akan memb***hmu di sini!” ancam Zale, dia sudah geram dengan Irvetta. Tuan Marquees Iaros yang melihat Zale sudah kehabisan kesabaran dengan Irvetta segera menepuk pelan pundak Zale. “Tenang dulu, Tuan muda Zale. Saat ini yang lebih penting adalah perintah kepala suku.” Zale yang mendengar ini mau tidak mau menjadi bungkam kembali. ____ “Kalau begitu tinggalkan Zale di sini, biarkan dia mengawasi,” ujar Alon. Irvetta yang mendengar ini tetap menggelengkan kepalanya. “Tuan Muda Zale adalah tangan kanan kepercayaan sekaligus sepupu dekat anda, bagaimana bisa saya percaya?” Alon mengerutkan keningnya kesal. “Kalau begitu tinggalkan Tuann Marquees Iaros di sini, dia yang akan mengawasi kami!” Irvetta terdiam sejenak, lalu menoleh ke arah Tuan Marquees Iaros untuk meminta pendapat pria itu. Tuan Marquees Iaros mengangguk, pertanda bahwa dia setuju dan tidak keberatan. Irvetta balas mengangguk, lalu berkata,”Baik, kalua begitu. Namun, Tuan Marquees Iaros harus naik ke atas kapal. Tidak boleh tidak.” Alon menganggukkan kepalanya singkat lalu berbalik memunggungi mereka dan berjalan mendekati Maria. “Apa aka nada Siren lain yang akan naik ke atas kapal ini?” tanya Maria. Alon mengangguk, kemudian menarik Maria ke dalam pelukannya. “Kepala suku meminta kehadiranmu besok, maafkan aku, Maria.” Maria mengadahkan kepalanya, menatap Alon sambil tersenyum. “Aku tidak keberatan, bahkan jika memang kau mau memberikanku ‘kutukan’ seperti yang kau bicarakan tadi dengan Siren wanita yang kau panggil Irvetta itu. Alon, aku sudah tidak mempunyai kehidupan lagi, jadi aku bersedia jika kau ingin membawaku ke duniamu.” Alon yang mendengar ini tertegun. “Ka-kau… Serius?” Maria menganggukkan kepalanya. “Tentu, mengapa tidak?” bibirnya masih tersenyum manis. Alon tersenyum tipis, lalu mencium pucuk kepala Maria. “Aku berjanji akan melindungimu saat berada di dalam laut nanti. Tidak akan aku biarkan mereka menyentuhmu, bahkan kepala suku sekalipun.” Maria terkekeh. “Berhentilah bicara, sekarang bukankah kita harus menyambut Siren baru yang akan mampir ke kepal ini?” Alon mengangguk. “Benar, mungkin dia aka terkejut sampai pingsan setelah melihatmu.” Maria mengerutkan keningnya. “Apa maksudnya?” Alon yang mendengar ini segera menggelengkan kepalanya. “Tidak ada, kau akan tahu nanti. Sekarang, ambil dulu trolinya.” Maria mengangguk, lalu berlari ke dalam ruangan kapal dan mengambil troli. Tak lama Maria sudah ke luar sambil mendorong troli. Mereka berdua berjalan bersama ke luar kapal, langkah kaki Alon masih terlihat kaku, membuat Maria kadang tertawa sendiri. Ketika mereka sudah turun dari kapal, Maria melihat seorang Siren laki-laki yang duduk memunggungi mereka. “Apakah itu orangnya?” tanya Maria, suaranya tidak terlalu kecil dan besar. Tuan Marquees Iaros yang mendengar Alon dan Maria sudah datang segera menoleh. Mata Tuan Marquees Iaros langsung terbelalak, tenggorokannya terasa tercekat, otaknya langsung terasa kosong. Maria mengerutkan keningnya saat melihat Tuan Marquees Iaros menatapnya dengan seperti itu. “Mariana?” tanya Tuan Marquees Iaros, membuat Maria tertegun. Apakah jangan-jangan Siren prauh baya ini adalah ayah dari Mariana? Kalau begitu… Apakah… Siren di depannya ini adalah ayahnya di kehidupan lalu? Otak logis Maria berontak saat memikirkan ini. “Bukan Mariana,” ucap Alon. Tuan Marquees Iaros beralih menatap Alon. “Bagaimana mungkin? Wajahnya….” Alon tersenyum tipis. “Perhatikan warna bola matanya. Mariana berwarna biru, sedangkan Maria cokelat.” “Nama manusia ini adalah Maria?” tanya Tuan Marquees Iaros. Dia rasanya seperti telah kehilangan akal saat melihat wajah Maria. Maria tersenyum canggung ke arah Tuan Marquees Iaros, kemudian mencoba menyapa,”Salam kenal, Tuan Marquees… Iaros?” Maria merasa ragu untuk menyebutkan siapa orang yang ada di hadapannya ini, namun hatinya yakin bahwa Siren di depannya ini selalu dipanggil seperti itu. Kali ini bukan hanya Tuan Marquees Iaros saja yang terkejut, tetapi juga Alon! Bagaimana mungkin Maria mengenali Tuan Marquees Iaros? Mereka bahkan tidak pernah bertemu sebelumnya! Maria masih tetap tersenyum, mengabaikan tatapan terkejut mereka. Jika Alon meminta penjelasan, Maria tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya. “Apakah tidak sebaiknya sekarang kita masuk ke dalam kapal? Matahari benar-benar akan tenggelam dan langit telah semakin menggelap,” usul Maria, dia berniat memecah keheningan. Alon mengangguk, kemudian berkata,”Ya, aku yang akan membantu Marquees Iaros naik ke troli.” Maria hanya mengangguk sebagai jawaban. Tuan Marquees Iaros kini mulai dibantu Alon untuk naik ke atas troli, mata pria paruh baya itu tak pernah lepas dari wajah Maria. Matanya samar terlihat memerah dan berkaca-kaca, seperti hendak menangis. Maria mengetahui apa penyebabnya, dia diam-diam merasa kasihan dengan Tuan Marquees Iaros. Mereka kemudian lanjut kembali ke atas kapal, kini giliran Alon yang membawa troli, sedangkan Maria mengikutinya dari samping. Saat telah sampai di atas kapal, Tuan Marquees Iaros menatap Alon dengan tatapan mata yang serius. “Sekarang, bisakah anda menjelaskannya pada saya, Tuan Duke Alon?” Alon duduk di kursi santai yang sudah Maria siapkan, Maria juga tak lupa menyiapkan kursi untuk dirinya sendiri. Kali ini dia memilih untuk menyimak pembicaraan dan tidak mau mengucapkan apa pun kecuali ditanya. “Apa yang harus saya jelaskan kepada anda, Marquees Iaros?” tanya Alon balik. Tuan Marquees Iaros menggertakkan giginya, lalu beralih menatap Maria. “Bagaimana mungkin ada manusia yang begitu mirip dengan putriku? Dan lagi, tidak hanya itu, anda berhutang beberapa penjelasan lagi pada saya. Ini menyangkut kehormatan mendiang putriku!” Tegas Tuan Marquees Iaros, berusaha meminta penjelasan dan keadilan untuk putrinya. Maria yang mendengar ini tertegun, sepertinya ini akan menjadi pembicaraan yang bersifat privasi. Oleh karena itu Maria segera berdiri dan berkata,”Aku akan kembali memasak makan malam dulu, kalian bisa-“ belum selesai Maria bicara, Alon sudah memegang tangan Maria dan memotong,”Duduk di kursimu.” Tangan pria itu menarik tangan Maria agar kembali duduk. Maria menjerit kesal di dalam hati, dia merasa tidak enak hati denga Marquees Iaros. Bagaimanapun sekarang, di mata Tuan Marquees Iaros dirinya adalah orang asing. Rasanya tidak enak jika Maria tetap di sini dan mendengarkan pembicaraan yang bisa dibilang privasi ini. Mengingat Tuan Marquees Iaros adalah ayah kandung dari Mariana, itu berarti dulunya Tuan Marquees Iaros adalah ayah mertua dari Alon. Tuan Marquees Iaros pasti melihatnya seperti perebut pria anaknya yang sudah meninggal. Astaga…. Maria merasa bingung dengan posisinya sekarang. “Tuan Marquees Iaros, saya ingin bertanya satu hal,” ujar Alon. Tuan Marquees Iaros mengangguk. “Silahkan.” Dia hanya menjawab singkat, tidak mempedulikan apakah cara bicaranya sopan atau tidak. “Apakah anda percaya dengan ucapan Dewa laut Poseidon yang ditulis di buku sakral kaum Siren? Bahwa seorang Siren dapat melakukan reinkarnasi, dan lautan berjanji akan hal itu,” ucap Alon, membuat Tuan Marquees Iaros tertegun, badan pria paruh baya itu juga langsung sedikit menegang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN