33. Maria -- Mariana

1202 Kata
“Apakah anda percaya dengan ucapan Dewa laut Poseidon yang ditulis di buku sakral kaum Siren? Bahwa seorang Siren dapat melakukan reinkarnasi, dan lautan berjanji akan hal itu." __ Maria entah mengapa juga ikut merasa tegang, matanya menatap wajah Tuan Marquees Iaros yang terlihat pucat. "Apa... Apa maksud anda adalah...." Tuan Marquees Iaros sedikit kesulitan bicara lancar karena rasanya tenggorokannya tercekat, lalu matanya bergeser ke arah Maria. Mata Tuan Iaros langsung berkaca-kaca, pria paruh baya itu segera menundukkan kepalanya. Hati Maria terasa terenyuh saat melihat Marquees Iaros menundukkan kepalanya sambil menangis, tubuhnya bergetar kecil, samar-samar terdengar isak tangis sang Marquees. "Terdengar seperti tidak masuk akal, tetapi apa yang dikatakan oleh Dewa laut Proseidon, itu tidak mungkin keliru," ucap Alon, membuat Tuan Marquees Iaros semakin menjadi di dalam isak tangisnya. Tuan Marquees Iaros mengangkat lagi kepalanya, menatap Maria. Bibir pria paruh baya itu tersenyum sangat hangat, membuat Maria tertegun dan hatinya semakin terenyuh. Maria tidak tahu apa penyebabnya, tetapi melihat Tuan Marquees Iaros tersenyum ke arahnya seperti itu, Maria ingin sekali menangis. Hatinya terasa sesak, tanpa sadar kini matanya sudah berkaca-kaca. Aneh, padahal sebelumnya dia belum pernah bertemu dengan Tuan Marquees Iaros, hanya di mimpi. Ini adalah pertama kalinya, namun dia sudah ingin menangis tersedu-sedu sekarang. "Boleh saya pegang tangan anda?" tanya Tuan Marquees Iaros kepada Maria. Maria yang ditanya segera mengangguk, kemudian mengulurkan tangan kanannya ke arah Tuan Marquees Iaros. Tuan Marquees Iaros balas menggenggam tangan Maria, lalu pria itu memejamkan matanya. Maria tidak mengerti apa yang sedang sang Marquees coba lakukan, dia hanya diam dan membiarkan sang Marquees melakukan apa yang dia inginkan. Tiba-tiba mata Tuan Marquees Iaros terbuka, mata pria paruh baya itu terbelalak. Matanya menatap Maria dengan berbagai arti, seperti ada jutaan kalimat yang ingin dia katakan, namun sulit untuk dikatakan. Maria balas menatap mata Tuan Marquees Iaros. Diam. Tidak melakukan apa pun dan hanya balas menatap mata pria paruh baya itu. "Kau..." ucap Marquees Iaros, lalu pria itu menarik tangan Maria. Maria spontan langsung sedikit terjatuh ke depan, kini jaraknya menjadi lebih dekat dengan sang Marquees. "Mariana...." Sambung Tuan Marquees Iaros, kemudian mencium punggung telapak tangan Maria sambil menangis tersedu-sedu. Maria bingung, dia tidak tahu mengapa sang Marquees menjadi seperti ini. Namun, sekali lagi, saat melihat Tuan Marquees Iaros, hati Maria kembali terenyuh. Kini bahkan muncul hasrat untuk memeluk sang Marquees, ada aura yang tidak asing, seperti ada sesuatu yang mengikat mereka erat. Melihat Tuan Marquees Iaros, mengingatkan Maria dengan ayahnya. "Dewa Poseidon! Sungguh! Aku sangat berterima kasih! Terima kasih karena sudah menjaga putriku! Dan terima kasih untuk laut yang menepati janjinya!" seru Sang Marquees tiba-tiba, lalu menatap Maria lagi dan menarik Maria ke dalam pelukannya, menangis tersedu-sedu. "Seratus tahun... Seratus tahun ayah merindukanmu, nak! Putriku kini telah kembali...." Maria dengan ragu membalas pelukan Tuan Marquees Iaros, menepuk-nepuk pelan punggung pria paruh baya itu, berniat untuk menenangkannya. "Siapa orang tuamu di kehidupan ini, nak?" tanya Tuan Marquees Iaros, kesedihan dan kesenangan, secara bersamaan melintas di mata sang Marquees. Dia sedih karena di kehidupan baru putrinya, dia tidak menjadi orang tuanya. Dan dia bahagia, karena putrinya terlahir kembali dengan selamat. Maria yang mendengar pertanyaan Tuan Marquees Iaros, terdiam. Kenangan buruk sekaligus luka itu... Maria berusaha memendamnya dalam, kematian kedua orang tuanya benar-benar memukul hatinya. "Kedua orang tuanya sudah tidak ada. Lautan merenggutnya, kaum kita adalah pelakunya." Alon menjawab mewakili Maria, pria itu tahu bahwa sepertinya Maria kesulitan untuk menjawab. Bagaimanapun, ingatan kematian orang tuanya adalah luka besar baru yang diberikan oleh laut saat datang kemari. Tuan Marquees Iaros tertegun saat mendengar ini, kemudian tatapan matanya berubah tidak enak sekaligus kasihan kepada Maria. “Maaf.” Hanya itu yang keluar dari mulutnya. Maria mengangguk dan tersenyum tipis. “Mengapa anda harus meminta maaf? Bukankah memang itu yang dilakukan para Siren? Dan lagi, ini salahku karena memaksa melewati kawasan kalian.” Tuan Marquees Iaros kembali tersenyum tipis, kemudian menoleh ke arah Alon dan bertanya,”Lalu apa yang harus kita lakukan? Kejadian ini….” “Apa yang harus anda pusingkan, Tuan Marquees Iaros? Tidak ada yang harus dipusingkan, Maria sudah bersedia menerima kutukan dariku, dan kami akan menghadap kepala suku besok setelah kutukannya sempurna di tubuh Maria,” ujar Alon. Marquees Iaros mengangguk ragu, hatinya merasa semakin gelisah ketika mengetahui bahwa manusia yang Alon jaga adalah reinkarnasi dari putrinya, Mariana. Jika para Siren lain melihat Maria, tentu akan membuat seluruh kaum Siren heboh. Tuan Marquees khawatir justru itu akan mengundang hal-hal buruk untuk Maria. Maria berdiri dari duduknya, membuat Tuan Marquees dan Alon menatapnya. Maria tersenyum tipis dan berkata,”Silahkan kalian lanjut mengobrol, aku akan memasak makan malam. Langit sudah semakin gelap, perutku terasa lapar.” “Apakah kau butuh bantuan?” tanya Alon, dia tersenyum dengan penuh percaya diri ke arah Maria. Salah satu tujuannya mempunyai kaki manusia dan lancar menggunakannya adalah untuk membantu Maria, seperti… Memasak, bersih-bersih, dll. Namun sayang, Maria malah menggelengkan kepalanya. “Tidak perlu, kau temani saja Tuan Marquees Iaros di sini.” Raut wajah Alon berubah datar kembali saat mendengar ini. “Ya,” jawab pria itu. Maria yang melihat ini hanya terkekeh kecil dan tidak mempedulikannya, dia sengaja meninggalkan Alon dan Tuan Marquees Iaros, karena sepertinya mereka mempunyai banyak hal yang ingin dibicarakan. Maria berjalan santai menuju dapur kapal, menyiapkan bahan-bahan makanan yang akan dia masak untuk menu makan malam hari ini. Satu jam Maria menghabiskan waktunya untuk berkutat di dapur, membuat Alon dan Tuan Marquees Iaros perlahan merasa bosan menunggu, karena pasalnya setelah Maria pergi, mereka tidak mengobrol apa pun. Hanya diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Maria menata cantik piring yang telah diisi oleh menu makan malam, kemudian berjalan kembali menuju tempat Alon dan Tuan Marquees Iaros sebelumnya. “Makan malam sudah siap, kalian ingin ikut bergabung makan denganku?” tawar Maria. Alon yang mendengar ini mengangguk. “Tentu, mengapa kau bertanya untuk sesuatu yang sudah pasti?” Maria yang mendengar ini terkekeh. “Kau selalu memiliki sifat dan pola pikir yang sulit ditebak, tidak ada salahnya jika aku selalu bertanya,” balas Maria, kemudian dia menggeser tatapannya ke arah Tuan Marquees Iaros. “Bagaimana dengan anda, Tuan Marquees Iaros? Jika anda ingin bergabung tentu saja boleh, semakin banyak orang semakin seru suasananya.” Tuan Marquees Iaros menatap Maria, lalu mengangguk pelan. “Dengan senang hati, terimakasih banyak, Nona Maria. Tetapi… Apakah…” “Tenang saja, aku tidak memasak hewan laut,” potong Maria yang sudah menebak isi pikiran Tuan Marquees Iaros. Ya, semenjak kedatangan Alon, stok ikan di kapal menjadi tidak berguna. Namun kadang-kadang Maria curi-curi ke dapur untuk memasak ikan jika Alon tidak ada di sampingnya. Rugi besar rasanya jika stok ikan di kapalnya membusuk dan terbuang begitu saja. Tuan Marquees Iaros tersenyum saat mendengar ini. “Tidak, maksud saya adalah, apakah saya tidak akan merepotkan anda?” Tuan Marquees Iaros menjelaskan maksud dari pertanyaannya yang tak sempat dia ucapkan. Dia tersenyum karena mengetahui fakta bahwa Maria menghargai dirinya yang sebagai kaum Siren. Itu tandanya Maria adalah manusia yang baik, walaupun sebelumnya dia sudah menduga bahwa Maria adalah manusia yang baik karena reinkarnasi dari Mariana, namun kali ini dia menjadi lebih yakin. Maria menganggukkan kepalanya pelan sambil tertawa kecil. “Tentu tidak, Tua Marquees Iaros. Saya senang dapat menjamu anda di kapal saya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN