Keesokan harinya, pagi-pagi buta, Irvetta telah membuat keributan di depan kapal. Membuat Alon keluar dan menatap kesal wanita itu.
“Tuan Duke Alon, sekarang waktunya anda dan manusia itu menemui kepala suku,” ujar Irvetta. Alon mulai merasa kesal, mengapa Irvetta senang sekali membuat perasaannya menjadi buruk.
“Aku tahu Irvetta, tidak perlu membuat keributan.”
“Alon,” dari belakang Maria muncul, membuat Alon menoleh. Kantung mata Maria terlihat sedikit menghitam, karena semalaman mereka tidak dapat tidur. Alon sibuk mentransfer kutukan Siren padanya, dan Maria sibuk menahan rasa sakitnya. Memang awalnya terasa biasa saja, namun dua menit kemudian, rasanya seluruh tubuhnya terbakar. Maria baru sempat tertidur selama dua jam, namun kini terbangun karena Irvetta membuat keributan.
“Kau baik-baik saja? Sepertinya terlihat kelelahan, jika kau mau beristirahat lebih dulu, aku bisa mengundurnya sekarang. Tidak perlu khawatir, kembalilah ke kamar dan beristirahat,” ujar Alon. Irvetta yang mendengar Alon mengatakan hal tersebut kepada Maria yang tidak pernah dia lihat wajahnya itu segera berseru,”Tuan Duke Alon, apakah anda mencoba untuk mengabaikan perintah kepala suku?!”
Maria yang mendengar Irvetta berseru demikian terkejut, segera dia berkata kepada Alon,”Sepertinya lebih baik kita pergi sekarang, perintah kepala suku adalah mutlak, benar?” Alon yang mendengar ini merasa ragu, karena pasalnya kondisi Maria terlihat sangat lelah. Menyerap dan menahan sakit dari kutukan yang dia beri semalam pasti sangat memakan energi Maria.
“Tetapi bukankah-“ saat Alon hendak membalas, Maria segera memotong cepat. “Bukan masalah, aku sudah sempat tidur selama dua jam tadi. Itu sudah lebih dari cukup, aku baik-baik saja.”
Ya… Sebenarnya bohong jika Maria bilang tidur selama dua jam sudah lebih dari cukup, namun jika tidak seperti ini Alon akan dicap sebagai Siren yang buruk karena tidak menuruti perintah kepala suku. Apa lagi Alon melakukan hal itu untuknya, jika mereka datang terlambat pasti Siren lain akan menatapnya semakin tidak suka. Fakta bahwa Alon melindungi manusia saja sudah membuat beberapa Siren geram.
Tuan Marquees Iaros memperhatikan interaksi Alon dan Maria dari belakang, dia dari awal naik ke kapal ini sampai sekarang terus menerus menilai Maria. Setiap hal besar atau pun kecil yang Maria lakukan, selalu mengingatkannya dengan Mariana. Dari sisi manapun, Maria benar-benar mirip dengan Mariana. Seperti pinang dibelah dua, sempurna kemiripannya!
Tuan Marquees Iaros juga tak henti-hentinya mengucapkan terimakasih kepada Dewa laut Poseidon, karena sang Dewa membuktikan kebenarannya yang dia tulis di buku sakral kaum Siren, dan lautan sungguh benar-benar menepati janjinya seperti yang Alon katakan. Karena selama ini yang menunggu tidak hanya Alon, tetapi juga Tuan Marquees Iaros.
Alon terdiam sejenak, berpikir. Tak lama kemudian pria itu mengangguk dan berkata,”Baiklah, sesuai apa yang kau inginkan.” Lalu mata pria itu bergeser ke arah Tuan Marquees Iaros. “Anda bisa melompat dari sini, setelah itu kami akan menyusul.”
Marquees Iaros mengangguk mengerti, kemudian dengan bantuan Alon dia melompat terjun dari kapal ke laut. Setelah Tuan Marquees Iaros terjun, lanjut Alon. Saat tubuh pria itu menyentuh air, kaki manusia Alon segera berubah menjadi ekor ikan kembali. Irvetta tidak peduli dengan Alon dan Tuan Marquees Iaros, dia lebih menantikan kemunculan Maria. Mengingat kejadian yang dia alami beberapa hari yang lalu, membuat Irvetta tidak bisa tidur karena memikirkan Maria. Apa benar Maria adalah reinkarnasi dari Mariana?
Maria berjalan mendekat menuju pagar pembatas, matanya menatap laut dengan ragu. Di sana ada Alon, Tuan Marquees Iaros yang sudah menunggunya untuk melompat. Dan… Irvetta yang sudah menatapnya dengan mata terbelalak.
“Dia-!” Tenggorokan Irvetta serasa tercekat, matanya menatap lebar ke arah Maria. Irvetta menoleh ke arah Tuan Marquees Iaros. “Tuan Marquees Iaros, apakah anda sudah-“ belum selesai Irvetta bicara, Tuan Marquees Iaros sudah menganggukkan kepalanya. Irvetta menelan salivanya dengan susah payah, menatap Maria dengan sangat lekat.
“Lompatlah, kau aman, Maria! Ada aku!” seru Alon, berusaha meyakinkan Maria. Maria mengepalkan tangannya erat, dia benar-benar merasa gugup dan ragu. Ingatan tentang kematian kedua orangnya yang disebabkan oleh kaum Siren kembali muncul. Keringat dingin perlahan muncul di punggung Maria. Maria berusaha mengumpulkan keberaniannya, melawan rasa takut.
Tak lama, Maria mulai memanjat pagar pembatas kapal, kemudian melompat bebas ke laut. Maria memejamkan matanya erat, dia tidak peduli apakah nanti benar-benar bisa bernapas di dalam air atau mati tenggelam.
Byurr!!!
Tubuh Maria mulai tercebur ke dalam laut, pakaiannya basah. Tak lama setelah itu, cahaya terang muncul dari kalungnya, tepatnya di liontin kalung tersebut, Maria Diamond.
Seluruh Siren sedikit memejamkan mata mereka karena cahaya yang muncul dari Maria Diamond benar-benar terang. Tak lama cahaya itu menghilang, Maria merasakan bahwa tubuhnya seperti mengambang di dalam air. Saat dia membuka matanya, Maria terkejut bukan main, kini kakinya sudah berubah menjadi ekor Siren? Luar biasa….
Maria melihat ekor Siren miliknya berwarna biru cerah, hampir sama dengan milik Alon, namun milik Alon birunya terlihat lebih gelap. Kini mereka semua sudah berada di dalam air, Maria iseng membuka mulutnya dan mencoba bernapas, sekali lagi dia terkejut saat mengetahui ternyata dirinya mampu bernapas di dalam air.
Mata seluruh Siren yang menjemput dirinya dan Alon kini telah menatapnya lekat, tatapan mata mereka seperti terkejut bukan main layaknya melihat hantu. Alon yang menyadari perasaan Maria yang merasa tidak nyaman karena tatapan tersebut segera berenang mendekati Maria dan berdiri di depan wanita itu. Matanya menatap tajam para Siren yang menatap Maria-nya begitu lekat. “Tundukkan pandangan kalian jika masih ingin memiliki mata.”
Setelah Alon mengatakan hal demikian, seluruh Siren segera menundukkan kepala mereka, kecuali Irvetta. Irvetta, wanita itu masih menatap Maria dengan lekat. Mata wanita itu samar-samar terlihat memerah seperti ingin menangis. Tubuh Irvetta membatu, mulutnya terkunci. Irvetta tidak bisa melakukan apa pun selain menatap Maria. Sungguh… Kemiripan Maria dan Mariana benar-benar sempurna. Entah hal ini hanya kebetulan semata, atau memang manusia bernama Mariana ini memanglah reinkarnasi dari Mariana.
“Apakah anda…” gumam Irvetta, dia ragu untuk menanyakan apa yang sedang dia pikirkan.
“Firman Dewa laut Poseidon itu sungguhan, Nona Irvetta. Dan istilah laut selalu menepati janjinya, itu juga sungguhan,” ujar Tuan Marquees Iaros yang mengetahui apa yang ingin ditanyakan oleh Irvetta.
Irvetta menoleh ke arah Tuan Marquees Iaros. Jika sang Marquees saja berkata demikian, berarti kepastian tentang Maria adalah reinkarnasi dari Mariana adalah sungguhan. Kedua mata Irvetta semakin berkaca-kaca, wajah garangnya menghilang, kini dia terlihat seperti wanita lemah lembut pada umumnya.
Irvetta perlahan berenang ke arah Maria, menatap wajah Maria dengan lebih dekat. Air mata Irvetta jatuh, wanita itu segera menundukkan kepalanya dengan bahu yang sedikit bergetar karena isak tangis. Maria yang melihat ini merasa bingung, dia tidak tahu harus melakukan apa jika Irvetta menangis seperti ini di depannya. Terlebih lagi ini adalah pertemuan pertama mereka bagi Maria.
Maria menarik napas dalam, kemudian meletakkan tangan kanannya di bahu kiri Irvetta. “Tenanglah, Nona Irvetta.” Saat Maria mengatakan demikian, Irvetta justru malah semakin keras menangis. Kesedihan yang membuat hati wanita itu teremas semakin dalam, membuat Siren lain yang melihat Irvetta menangis seperti itu turut merasa sedih dan terharu. Kecuali Alon, dia adalah satu-satunya Siren yang tidak menangis ketika melihat Irvetta menangis.
Irvetta beralih membungkuk ke arah Maria, lalu menggenggam tangan kanan Maria dan mencium punggung telapak tangan Maria. “Duchess….”