“Duchess….”
________
Maria membatu, diam membiarkan Irvetta menangis sambil mencium tangannya layaknya seorang Lady bangsawan terhormat. Ada rasa malu saat Irvetta memperlakukannya seperti ini. Bukan malu karena tidak suka, tetapi karena merasa tidak pantas diperlakukan sebegininya. Dan lagi, ini adalah pertama kalinya Maria diperlakukan seperti ini.
Maria mencoba tersenyum lagi, walaupun kini terlihat kaku. Tangan kiri Maria menyentuh pundak kanan Irvetta pelan. “Nona Irvetta, tolong tegakkan badan anda lagi.”
Irvetta segera menegakkan badannya lagi ketika Maria berkata demikian, Maria kini kembali dapat melihat wajah Irvetta. Di mata Maria, Irvetta adalah wanita yang cantik, namun sepertinya Irvetta juga seorang wanita yang tomboy.
Mata Irvetta terlihat sangat sembab, Maria tertegun saat melihatnya. Sepertinya luka akan kepergian Mariana sangat memukul hatinya, dan kini terkoyak lagi ketika melihat dirinya. Maria tidak tahu harus bebruat apa untuk Irvetta, dia hanya tersenyum dan mencoba menenangkan hati Irvetta. “Mengapa anda menangis, Nona Irvetta? Bukankah kita harus menemui kepala suku secepatnya? Tenanglah dulu, anda wanita yang terlihat cantik dan kuat, menangis tidak cocok untuk anda.”
Irvetta tersadar. Benar apa yang dikatakan Maria, bahwa mereka harus cepat kembali dan menemui kepala suku. Irvetta segera mengelap air matanya, untuk pertama kalinya setelah seratus tahun, kini Irvetta tersenyum tulus. “Benar, maafkan saya karena terbawa oleh perasaan dan menjadi menunda perjalanan anda.” Maria yang mendengar ini hanya mengangguk singkat dengan senyumannya yang masih menetap. Sedangkan para Siren lain tertegun kala melihat senyum tulus Irvetta, mereka baru pertama kali melihat senyum Irvetta yang sangat tulu seperti barusan setelah seratus tahun lamanya wnaita itu nyaris tidak pernah tersenyum selain melempar lirikan serta tatapan mata yang tajam.
Maria, Alon, Tuan Marquees Iaros, dan Irvetta, serta Siren lain yang mengawal perjalanan mereka segera menyelam ke dalam laut lebih dalam lagi untuk menemui Kepala suku. Maria tidak menduga bahwa dirinya akan berenang dengan sangat lancar walaupun kedua kakinya sudah berubah menjadi ekor Siren. Alon sesekali melirik ke arah Maria, jarak antara dirinya dan Maria tidak dia biarkan terlalu jauh. Alon menggenggam erat tangan Maria, hanya dia dan Tuhan yang tahu betapa senang hatinya sekarang, walaupum ekspresi wajahnya terlihat sangat datar.
Tak lama kemudian, Maria mulai melihat kota besar dan megah berdiri kokoh di dasar laut yang paling dalam. Bukannya semakin gelap, justru pencahayaan semakin terang ketika mendekati kota besar nan megah tersebut. Sungguh, Maria sangat terpukau. Kota ini terbangun tersembunyi di dasar laut tanpa pengetahuan manusia, luar biasa!
“Kita sudah sampai,” ujar Alon, memberitahu Maria. Maria mengangguk, bibirnya tersenyum, kemudian membalas genggaman tangan Alon dengan lebih erat. Alon sekali lagi secara sekilas melirik Maria, melihat Maria tersenyum bahagia penuh semangat, Alon merasa lega. Sejujurnya, dari tadi Alon merasa gelisah, dia khawatir jika Maria takut dan merasa tidak nyaman untuk datang ke dalam laut menemui kepala suku. Namun kini nyatanya sekarang, Maria melihat bahagia, seolah dia sangat menantikan ini.
Sedangkan Maria sendiri, dia sebenarnya merasa gelisah ketika mendengar kepala suku ingin melihatnya. Namun, pikiran itu dia simpan rapat-rapat agar Alon tidak tahu, dan kini sedikit-sedikit teralihkan dengan pemandangan kota tersembunyi ini. Pemandangannya benar-benar sangat indah, seperti di negeri dongeng bawah lautan.
Jika nanti seandainya Maria kembali ke New York dan menceritakan pengalamannya selama berada di sini, mungkin nanti orang-orang yang mendengar ceritanya akan memberinya julukan ‘pendongeng handal’. Oh… Sungguh, seandainya mereka melihat ini juga secara langsung, mulut mereka pasti akan langsung bungkam.
Saat mereka mulai memasuki pemukiman kota, langsung banyak sekali pasang mata yang menatap Maria. Maria merasa gugup, walaupun dia sering tampil memimpin rapat untuk menggantikan ayahnya, namun tatapannya berbeda. Rasanya dia seperti tengah mengalami demam panggung, astaga… Di mana kepercayaan dirinya?
Di luar dugaan Alon justru malah menariknya ke dalam pelukan pria itu, membuat Maria tekrejut dan menatap Alon. Maria ingin lepas dari pelukan Alon, namun gagal karena pria itu menahan gerakan berontaknya. Maria menghela napas gusar, jika Alon mereka berenang dengan posisi seperti ini, seluruh tatapan pasang mata itu akan menatapnya semakin menjadi. Dan benar saja, tatapan mata mereka semakin melekat di Maria karena dia berenang berdempetan dengan Alon.
Mereka terus berenang tanpa menghiraukan tatapan Siren lain, sampai akhirnya mereka sampai di depan gerbang megah. Sepertinya ini adalah Istana, melihat bangunannya yang terlihat megah dan luas. Gerbang megah itu terbuka, mempersilahkan mereka masuk. Maria dan yang lain segera berenang maju, mereka sedikit lagi akan menghadap ke kepala suku.
Mereka berenang melewati beberapa ruangan, Istana terlihat ramai dan menyenangkan, tetapi mungkin tidak untuk ruang rapat para bangsawan yang biasanya dijadikan tempat berdebat. Tak lama kemudian mereka sampai di depan pintu suatu ruangan, mereka tidak langsung masuk dan justru malah terdiam dulu. Alon menoleh ke arah Maria. “Kau baik-baik saja ‘kan? Langsung katakana saja jika merasa tidak nyaman.” Maria yang melihat raut wajah khawatir Alon untuknya tersenyum, kemudia mengangguk dan membalas,”Aku baik-baik saja, mengapa kau sangat khawatir? Ya… Walaupun aku sedikit gugup karena sebentar lagi akan bertemu dengan kepala suku! Pemimpin kaum Siren, bukankah beliau pastinya adalah sosok yang penuh aura berwibawa? Itu sangat luar biasa untuk dibayangkan.”
Alon balas tersenyum tipis, kini dia semakin merasa lega. “Dia hanya wanita biasa, menjadi kepala suku juga memang sudah ditakdirkan dari lahir karena memiliki darah keturunan seorang pemimpim kaum Siren. Itu biasa saja untukku, dan lagi kepala suku itu sebenarnya adalah wanita yang cerewet, dia bibiku.” Maria yang mendengar Alon megatakan bahwa Kepala suku adalah bibinya, terkejut. Bukankah itu berarti Alon juga memiliki darah seorang pemimpin kaum Siren dan bukan hanya darah bangsawan biasa?
“Kau…” belum sempat Maria bebicara, pintu ruangan sudah langusng terbuka. Alon segera berenang maju sambil menggandeng tangan Maria, sedangkan Tuan Marquees Iaros dan Irvetta berenang di belakang mereka semua. Seluruh pasang mata bangsawan segera tertuju kepada Maria. Ada yang terkejut, dan ada yang biasa saja. Mereka semua yang terkejut bahkan sampai berdiri dari kursinya dan menatap Maria terang-terangan, perilaku ini biasanya dianggap tidak sopan. Terlebih lagi Maria kini berada tepat di samping Alon, bangsawan yang melakukan itu bisa saja diberi teguran atau hukuman. Namun kini, siapa yang peduli? Ada yang lebih penting dan mnecengangkan dari pada perilaku sopan atau tidak sopan, yaitu wajah Maria yang sangat mirip dengan mendiang Duchess Mariana!
“Alon, memberi salam penuh penghormatan kepada baginda. Semoga kejayaan kaum Siren ada di tangan anda,” ucap Alon sambil membungkuk, Maria yang melihat ini tentu langsung ikut membungkuk ke arah kepala suku. Saat Alon menegakkan kembali tubuhnya, Maria juga ikut menegakkan tubuhnya.
Mata Maria kini bertatapan langsung dengan mata kepala suku begitu dia menegakkan tubuhnya dari membungkuk. Tatapan kepala suku terlihat seperti terkejut, syok, meneliti, dan membandingkan. Maria lagi-lagi membatu, dia hanya menempel di samping Alon tanpa berbuat apa pun. Kali ini tatapan dari para bangsawan dan kepala suku terasa lebih menyiksa dirinya dari pada tatapan Siren lain yang dia jumpai di perjalanan.
“Sunggguh, ucapan Dewa laut Poseidon tidak pernah keliru!” Seru kepala suku tiba-tiba, matanya masih menatap Maria. Maria terkejut saat para bangsawan lain juga mengatakan hal yang sama secara bersmaaan setelah kepala suku berseru demikian, kemudian dia beralih menatap Alon. Maria tertegun saat melihat Alon tersenyum menatapnya, senyuman dan tatapan pria itu terlihat sangat tulus.