“Sunggguh, ucapan Dewa laut Poseidon tidak pernah keliru!” Seru kepala suku tiba-tiba, matanya masih menatap Maria. Maria terkejut saat para bangsawan lain juga mengatakan hal yang sama secara bersmaaan setelah kepala suku berseru demikian, kemudian dia beralih menatap Alon. Maria tertegun saat melihat Alon tersenyum menatapnya, senyuman dan tatapan pria itu terlihat sangat tulus.
________
“Apakah berarti dia adalah Nyonya Duchees yang baru? Walaupun wajahnya serupa, namun tidak berarti dia dapat memiliki gelar langsung yang sama,” tanya salah satu bangsawan yang ada di sana, membuat semua orang mengangguk setuju dengan pertanyaan dan pendapatnya.
“Sepertinya benar, lihatlah tanda kepemilikan Tuan Alon di d**a wanita itu,” seru bangsawan lain, menyadarkan semua Siren yang ada di dalam ruangan, termasuk kepala suku yang juga langsung menatap d**a Maria dan melihat tanda kepemilikan Alon.
Tuan Marquees Iaros sudah menyadari tanda kepemilikan ini dari pertama kali dia bertemu dengan Maria, pria paruh baya itu tersenyum tipis dan mengangguk. “Benar, jika ada tanda kepemilikan di d**a, itu tandanya Siren yang memberikan tanda kepemilikan itu hendak menjadikan sang penerima tanda kepemilikan menjadi istrinya. Sebenarnya proses bahwa sang penerima tanda dinyatakan sah menjadi pasangan sang pemberi tanda adalah satu minggu, namun kini Tuan Duke Alon dan Nona Maria sudah bersama selama hampir satu bulan.”
Maria yang mendengar semua ini mengerutkan keningnya, kemudian dia melirik Alon untuk meminta penjelasan. Namun, yang dia dapatkan hanyalah wajah Alon yang membuang muka darinya, mata pria itu juga menghindari tatapan matanya.
Bukankah memberikan tanda kepemilikan kepada suatu objek adalah hal biasa? Mengapa harus dibawa ke pernikahan? Dan lagi, bukankah Zale juga memiliki tanda yang sama di punggungnya? Apakah itu berarti bahwa Zale juga pasangan Alon? Konyol sekali….
Maria hanya diam dan memendam kebingungannya, dia akan bertanya masalah ini nanti secara pribadi ke Irvetta atau Tuan Marquees Iaros. Melihat Alon, sepertinya pria itu tidak mau menceritakannya. Pertemuan dirinya dengan kepala suku berlangsung biasa saja, beliau hanya menanyakan latar belakang serta apa yang disukai dan tidak disukainya. Para bangsawan juga menyapa dan memandangnya ramah, mereka juga sesekali membahas buku sakral kaum Siren.
Alon memutuskan untuk pergi dari pertemuan itu secepatnya, namun sebelum pergi dia meminta maaf dan mengakui kesalahannya kepada kepala suku. Walaupun Maria tidak yakin pria itu serius dengan ucapan maafnya, tetapi juga… Apa peduli dirinya? Maria masih memikirkan tanda kepemilikan yang Alon berikan padanya.
Alon mnegajaknya keluar dari ruang pertemuan, Irvetta dan Tuan Marquees Iaros juga turut undur diri untuk menemaninya. Maria diajak ke kediaman tempat tinggal Alon, jaraknya tidak jauh dari Istana.
Ketika sampai di kediaman tempat tinggal Alon, Maria tertegun lagi. Besar luas Istana barusan dengan kediaman tempat tinggal Alon tidak jauh berbeda, banyak pelayan Siren ramah yang menyambut dirinya dan Alon. Maria dan Alon berpisah begitu memasuki kediaman, pelayan senior mulai membantu Maria selagi Alon sibuk dengan urusannya.
“Tunggu aku di kamarmu, aku berjanji nanti malam akan mnegunjungimu. Maria, aku harap kau tidak akan pernah menyesal ikut denganku,” ucap pria itu sebelum pergi dan sesudah mencium singkat pucuk kepala Maria.
Maria hanya mengangguk sambil tersenyum, lalu mengucapkan dua sampai tiga kalimat penyemangat sekaligus perpisahan. Para pleayan senior lanjut membawa Maria ke kamar yang sudah disiapkan, kamarnya ternyata bersebelahan dengan kamar Alon.
“Nona, saya Nobia, pelayan pribadi dari Duchees sebelumnya.” Pelayan wanita muda memperkanlkan dirinya, saat mendengar bahwa pelayan itu adalah pelayan pribadi dari Mariana, Maria agak merasa sedikit canggung.
“Salam kenal, Nobia. Untuk kedepannya, tolong bantu aku,” balas Maria pada akhirnya, bibirnya tersenyum ramah ke arah Nobia. Nobia tertegun saat melihat senyum Maria, samar-samar Maria melihat mata Nobia sedikit berkaca-kaca. “Nah, Nobia, bisakah kau mengajakku berkeliling?” sambung Maria, Nobia yang mendengar ini tentu saja langsung menganggukkan kepalanya.
Maria dan Nobia segera berenang ke luar dari kamar, lalu dengan panduan Nobia, Maria dapat mengelilingi kediaman Alon tanpa tersesat.
Ketika sedang asik mengelilingi kediaman luas ini, kini akhirnya mereka tiba di depan lorong yang bercabang dua. Tepat di depan lorong bercabang ini, Nobia bertanya,”Nona, anda hendak mngunjungi lorong satu atau dua?” Maria yang mendengar ini segera mengerutkan keningnya. “Apa bedanya?”
Nobia segera menjelaskan,”Lorong yang sebelah kiri adalah lorong yang berisi lukisan Duke pertama keluarga ini sampai saat ini, dan lorong yang sebelah kanan, adalah lorong yang berisi dengan lukisan Duchees pertama keluarga ini sampai yang generasi seterusnya.” Maria yang mendengar ini mengangguk, dia menyadari ucapan Nobia barusan. Saat menjelaskan lorong yang menyimpan lukisan para Duke terdahulu sampai Alon, dia menyebutnya dengan ‘Duke saat ini’. Namun saat bagian Duchees, dia menyebutnya dengan ‘generasi seterusnya’. Nobia sangat menghargai dirinya.
“Oh, benarkah? Bolehkah aku melihat keduanya?” balas Maria, bibirnya tersenyum tipis. Nobia yang mendengar ini mengangguk. “Tentu, Nona.” Kemudian mereka segera berenang menuju lorong sebelah kanan, Nobia mulai mengenalkan Maria dengan lukisan wajah Duchees sebelumnya sampai terakhir menemui lukisan wajah Mariana.
Maria tertegun melihat wajah Mariana, wajah wanita itu benar-benar mirip dengannya. Walaupun sebelumnya dia pernah melihat dan bahkan bertemu dengan Mariana di dalam mimpi, namun tetap saja Maria tidak bisa berhenti tertegun setiap melihat wajah Mariana yang sama persis dengan wajahnya. Benar-benar seperti saudara kembar.
“Seperti apa mendiang Duchees Mariana?” tanya Maria, matanya melirik Nobia. Nobia yang mendengar ini segera tersenyum tipis, kemudian menjawab,”Beliau adalah orang yang ramah senyum, ceria, dan baik hati. Satu-satunya bangsawan wanita yang mau berperilaku ramah dan menghargai Siren biasa yang bukamn golongan bangsawan. Beliau juga sangat dicintai oleh seluruh Siren, tidak ada yang membenci beliau. Walaupun Duchees Mariana telah tiada, namun sosok itu kembali muncul di diri anda. Nona Maria. Tidak hanya saya, tetapi seluruh Siren yang ada di lautan ini mempercayai hal tersebut.” Di akhir kalimat, Nobia menatapnya dengan senyuman tulus.
Maria yang mendengar ini hanya tersenyum tipis, sepertinya Mariana sangat dicintai di sini. Apa… Keberadaannya di sini sudah benar? Sejujurnya Maria merasa tidak nyaman dengan orang-orang yang berkata seperti barusan, jika mendengar itu, Maria menjadi merasa sulit untuk mengingat dan menjadi diri sendiri.
“Selanjutnya bisa bawa aku ke lorong sebelahnya?” tanya Maria, Nobia tentu saja mengangguk lagi. Wanita itu tidak pernah menggelengkan kepalanya. Maria dan Nobia segera berenang bersama-sama menuju lorong satunya, dan kini Nobia kembali memperkenalkan lukisan wajah para Duke terdahulu sampai Alon. Nobia menceritakan bagian Alon dengan penuh semangat, seolah memberitahu Maria bahwa Maria adalah wanita yang sangat beruntung karena memiliki pasangan seperti Alon.
Di tengah asiknya mengobrol dengan Nobia, tiba-tiba dari belakang ada suara Irvetta yang memanggilnya. “Nona Maria.” Maria yang mendengar ini tentu saja langsung menoleh, bibirnya tersenyum ramah ke arah Irvetta. “Nona Irvetta.”
Irvetta segera berenang mendekati Maria, lalu bertanya,”Apa Nona sedang berkeliling kediaman?” Maria yang ditanya segera mengangguk. “Benar, apa yang sedang Nona Irvetta lakukan di sini? Apakah masalah pekerjaan?”
Irvetta mengangguk. “Benar, saya diutus kepala suku untuk menemui Duke Alon, dan tidak sengaja bertemu anda di mari.” Maria mengangguk mengerti, kemudian dia dan Irvetta mengucapkan beberapa kalimat sampai akhirnya kembali berpisah. Saat Maria menoleh ke arah Nobia kembali, Maria menaikkan alis kirinya ketika melihat Nobia memasang wajah tidak senang. “Ada apa, Nobia?” Nobia yang ditanya langsung menjawab,”Sebelumnya maafkan saya, tetapi di kediaman Duke Alon ini ada beberapa sekumpulan Siren yang tidak menyukai Nona Irvetta semenjak kejadian meninggalnya Nyonya Duchees Mariana,” ujar Nobia.
“Oh, boleh aku tahu apa penyebabnya?” tanya Maria, Nobia mengangguk pelan, lalu menjawab,”Semenjak kematian Nyonya Duchees Mariana, Nona Irvetta langsung menunjuk Tuan Duke Alon sebagai pelaku kematian Nyonya Duchees Mariana. Nona Irvetta selalu menyalahkan Tuan Duke tanpa tahu seperti apa juga perasaan Tuan Duke saat itu. Padahal tidak hanya Nona Irvetta yang terpukul hatinya atas kepergian sang Duchees, tetapi juga dengan Tuan Duke. Karena Nona Irvetta yang terus menerus menyalahkan Tuan Duke Alon, mungkin beliau jadi mulai termakan kata-katanya dan langsung ikut serta dalam menyalahkan dirinya sendiri. Seisi kediaman ini sangat geram dengan Nona Irvetta.”
Irvetta menganggukkan kepalanya mengeri saat mendengar ini, ternyata itu alasan bahwa baik Alon maupun Zale, mereka bersikap tidak terlalu ramah dengan Irvetta. Tetapi… Entah kenapa dari dalam hati Maria, diam-diam hati kecilnya berkata bahwa Irvetta adalah salah satu dari barisan orang yang tulus menyayangi Mariana. Selain itu, muncul juga perasaan bahwa dirinya adalah Mariana, dari semua beragam macam perasaan, hanya inilah yang membuatnya merasa frustasi! Maria kebingungan menentukan siapa dirinya, Maria atau Mariana?