Maria kini tengah berada di ruangan kerja Alon, dia memutuskan untuk menemani pria itu bekerja. Ternyata kehidupan manusia dan bangsa manusia setengah ikan tidak jauh berbeda, namun sepertinya kehidupan manusia setengah ikan masih tertinggal jauh dengan manusia. Hal ini sesuai dengan apa yang Alon katakana dulu saat awal-awal mereka bertemu, bahwa peradaban manusia jauh lebih maju dari pada manusia setengah ikan. Hal ini lah yang menjadi faktor bangsa manusia menjadi bangsa terkuat dan terdepan.
Maria sibuk membaca buku, buku ini menceritakan tentang legenda asal-usul kaum Siren. Maria sangat senang saat membacanya, walaupun yang di abaca adalah buku sejarah, namun rasanya seperti buku dongeng anak-anak! Legenda seperti makhluk mitos lainnya pun ikut mucul di buku ini. Di tengah-tengah keasikannya ini pun, tiba-tiba ada yang mengetuk pintunya. Alon segera mempersilahkan mereka masuk.
Saat pintu terbuka, muncul Zale dan Tuan Marquees Iaros yang berjalan masuk. Alon menatap mereka berduaa. “Ada apa?”
Zale yang hendak menjawab masih merasa ragu, matanya kemudian melirik Maria. Alon yang mengerti segera menganggukkan kepalanya. “Tidak masalah, Zale.” Sedangkan Maria, dia menjadi merasa tidak enak. Segera Maria berdiri dan berkata,”Alon, lebih baik aku keluar dulu agar kalian dapat lebih leluasa untuk berdiskusi. Aku-“ belum selesai Maria bicara, Alon sudah memotong ucapannya cepat. “Duduk. Tidak masalah.”
Sorot mata Alon yang dingin menatapnya, membuat Maria menutup mulutnya kembali dan mengangguk, lalu kembali duduk manisdi kursi.
“Ada krisis besar yang disebabkan oleh kaum Mermaid, sepertinya rencana ini dipimpin oleh Pangeran itu,” ujar Zale, dia kembali fokus dengan apa yang ingin dia sampaikan. Tuan Marquees Iaros juga langsung mengangguk. “Benar, saya juga setuju dengan pendapat Tuan muda Zale. Banyak petunjuk serta bukti yang mengarah kepada pangeran mermaid.”
“Pangeran Mermaid? Apa maksudmu pangeran yang itu? Adelino?” tanya Alon. Zale dan Tuan Marquees Iaros mengangguk, dan Zale menjawab,”Tentu saja, hanya dia satu-satunya pangeran di suku Mermaid.”
Saat Alon, Zale, dan Tuan Marquees Iaros tengah sibuk berdiskusi, Maria juga sibuk dengan pikirannya sendiri. Adelino? Dia tidak salah dengar? Hati Maria langsung gelisah. Dia tidak khawatir kepada Adelino karena rasa ‘tertentu’, tetapi khawatir karena sudah menganggap Adelino adalah temannya sendiri. Maria tidak tahu sebaiknya dia harus berbuat apa untuk menolong Adelino, keinginan untuk membuat suku Mermaid dan Siren pun tiba-tiba muncul. Namun, sekali lagi, Maria tidak tahu harus berbuat apa untuk mewujudkan keinginannya yang barusan. Dia tidak berdaya di sini, tidak memiliki kekuatan apa pun.
“Banyak berita yang beredar pula, bahwa belakangan ini pengeran suku Mermaid itu sering terlihat diam-diam berkeliaran di dekat kawasan kita. Entah apa yang dia lakukan, tidak ada yang tahu,” ujar Tuan Marquees Iaros, menyampaikan seluruh hal yang dia dengar. Zale yang mendengar ini memutar bola matanya jengah. “Gerakannya sulit ditebak, pangeran itu licin seperti belut. Dia mudah lolos dari kejaran para tentara kaum Siren, sulit untuk menangkapnya. Aku bahkan pernah tidak tidur tiga hari karena harus mengurusi masalah ini. Intinya kasus ini benar-benar menyebalkan.”
Alon termenung, tidak ada yang tahu kini isi kepala pria itu apa. Semunya terlihat abu-abu dan misterius, jad Zale dan Tuan Marquees Iaros hanya diam sambil menunggu respon Alon untuk masalah ini. Alon pertama melirik Maria sekilas, pria itu diam-diam malah merasa bingung ketika melihat Maria seperti sibuk juga di dalam pikirannya. Alon mengesampingkan kebingungannya terlebih dahulu, lalu kembali menatap Tuan Marquees Iaros dan Zale, lalu menjawab,”Apa kepala suku sudah mengetahui hal ini?”
Zale mengangguk. “Sepertinya sudah walaupun kita belum memberitahunya, mnegingat tangan kanannya adalah Tuan muda Hali.”
Alon mengangguk mengerti lagi. “Bagaimana dengan Irvetta?” tanya Alon, dan kali ini kembali Zale beri anggukan. “Nona Irvetta juga pasti sudah mengetahui ini, kebetulan memang wilayah yang terlihat sering dilewati oleh pangeran mermaid tersebut adalah wilayah milik Nona Irvetta.”
“Bagaimana tanggapan Irvetta tentang ini?” tanya Alon, dan kini giliran Tuan Marquees Iaros yang menjawab. “Tentu saja Nona Irvetta langsung mengambil tindakan tegas. Wilayah yang katanya sering diam-diam dilalui oleh Pangeran mermaid pun langsung diperkatat penjagaannya, bahkan Nona Irvetta setelah kami konfirmasi, berniat ingin menutup seluruh wilayahnya dengan perisai sihirnya.”
Alon sekali lagi mengangguk mengerti, kemudian berdiri dan menjawab,”Buat terus komunikasi dengan Nona Irvetta, katakana padanya bahwa pihak Duke ingin bekerja sama.” Lalu Alon menoleh ke arah Maria. “Maria, ayo, ini sudah masuk jam makan siang para manusia ‘kan?”
Maria yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri tentu saja tidak sadar dengan pertanyaan dan ajakan Alon, dirinya larut dengan pikirannya sendiri. Alon yang melihat ini mengerutkan keningnya. "Maria.” Panggil Alon sekali lagi, kali ini dengan nada bicara yang lebih tegas, tetapi tidak juga membentak.
Maria tersadar dari lamunannya saat panggilan kedua, kemudian menoleh ke arah Alon dengan cepat. “Ya? Maaf, aku melamun.” Jawabnya sambil berdiri dari kursi.
“Ini sudah masuk jam makan siang para manusia ‘kan? Ayo, lebih baik cepat dan jangan terlambat,” ujar Alon mengulangi ucapannya yang barusan tidak di dengar Maria. Maria mengangguk. “Benar, ayo.” Lalu matanya bergeser ke Zale dan Tuan Marquees Iaros. “Anda berdua tidak mau ikut makan bersama?”
Tuan Marquees Iaros dan Zale menggeleng dan tersenyum sopan, Zale menjawab,”Tidak, teriama kasih banyak, Nona Maria. Kami masih memiliki beberapa pekerjaan yang harus kami urus, silakan anda dan Tuan Duke menikmati makan siang bersama lebih dulu.”
Maria menganggukkan kepalanya mengerti, kemudian tak lama dirinya dan Alon langsung berenang ke luar ruangan. Alon menggenggam tangan Maria, sesekali mereka berbicara dan bercanda santai. Sampai akhirnya tak terasa mereka telah sampai di ruang makan. Maria duduk di kursi yang sudah disiapkan, mereka duduk berhadapan.
“Aku tidak tahu apakah ini sesuai seleramu, namun… Kau tentu tahu manusia dan Siren sangat berbeda. Jika kau merasa tidak cocok nantinya, tidak masalah, aku akan mengutus orang untuk membawa makanan yang ada di kapalmu kemari,” ujar Alon. Maria yang mendengar ini segera menggelengkan kepalanya pelan dengan senyum tipis. “Bagaimana mungkin bisa, Alon? Jika makanan manusia yang berasal dari darat dibawa ke dalam lautan, tentu saja mereka akan hancur dan membusuk.”
Alon mengangguk mengerti, saat dia hendak kembali berbicara, Maria langsung menahannya dengan,”Aku tidak masalah, Alon. Anggap saja ini impas, kau pernah mencicipi makanan manusia, dan kini giliran aku mencipipi makanan yang biasanya kau makan di sini.”
Alon yang mendengar ini tersenyum tipis. “Jadi maksudmu kau juga akan menjadi kanibal karena memakan manusia? Perlu kau ketahui, manusia juga menjadi daftar menu makanan para Siren.”
Maria memutar bola matanya kesal. “Terkecuali yang itu, Alon. Dan lagi, aku adalah manusia, bukan? Mengapa kau tidak memakanku? Seharusnya daging wanita cantic sepertiku terasa lebih lezat.” Maria terkekeh di akhir kalimatnya.
Alon menggelengkan kepalanya pelan, lalu menjawab,”Untuk apa? Menurutku, wanita cantik sepertimu lebih cocok dijadikan pasangan dari pada santapan.” Maria tertawa saat mendengar ini, sifat Alon yang terkesan gila cinta kembali muncul.