39. Kegelisahan Adelino

1359 Kata
Adelino kini tengah mengeluarkan suara seperti biasanya ketika dirinya ingin bertemu dengan Maria, namun kini sudah lebih dari tiga puluh menit dia menunggu agar Maria ke luar, wanita itu tak kunjung ke luar seperti biasanya. Hati Adelino diam-diam merasa cemas, apa jangan-jangan terjadi sesuatu dengan Maria? Karena tidak biasanya Maria membutuhkan waktu yang sangat lama untuk ke luar setelah dirinya mengeluarkan suara pemanggil. Sepuluh menit pun kini berlalu, Adelino masih duduk di tepi pantai menunggu Maria. Raut wajah pria itu terlihat sedih, ini semua disebabkan karena Maria yang tak kunjung ke luar dan mendatanginya. Adelino berusaha berpikir positif, mungkin saja Maria kini tertidur terlalu pulas hingga tak mendengar panggilannya. Namun, nyatanya berpikir positif di keadaan ini sulit bagi Adelino. Sekarang semua pikiran positif itu digantikan dengan pikiran negatif. Pikiran tentang bisa saja Maria mengacuhkannya, atau yang paling buruk adalah Maria dimangsa oleh para Siren itu, atau mungkin dengan Siren yang Maria katakan bahwa Siren itu adalah temannya. Memikirkan ini semua membuat Adelino mengerang frustasi, hatinya kesal. Dia tidak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya kecuali saat sedang bertempur. Dia tidak pernah menunggu seseorang sampai seperti ini, karena dia adalah seorang pangeran suku Mermaid. Kegelisahan di hatinya tak kunjung pudar, Adelino ingin segera beranjak pergi dari pantai ini dan berniat kembali besok, namun entah kenapa melakukan hal itu terasa sangat sulit. Rasa kegelisahannya kini melebihi kewarasannya, Adelino sekarang lebih mengedepankan hati dari pada otak. “Sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa kau seolah menghilang begitu saja, Maria?” gumam Adelino, pria itu kemudian menghela napas gusar sambil mengusap wajahnya frustasi. Adelino kini bertingkah seperti anak muda yang hilang akal karena cinta, seperti kekasihnya mencampakkan dirinya dan pergi bersama orang lain tanpa penjelasan apa pun. Adelino bahkan kini memiliki niat untuk pergi ke atas kapal, namun niat itu dia urungkan karena tidak mungkin. Jarak dirinya dari kapal saat ini lumayan jauh. Jika dekat juga Adelino tidak tahu cara menaiki kapal itu, tidak mungkin ‘kan dia memanjat? Tidak ada celah untuk dipanjat. Satu-satunya cara yang saat ini Adelino pikirkan dan yakin akan berhasil adalah mengubah ekor mermaidnya menjadi sepasang kaki manusia, namun… Bagaimana caranya? Benar-benar sulit dan membingungkan, tidak mungkin juga Adelino datang ke penyihir laut dan meminta ekor mermaidnya diganti sepasang kaki manusia, reputasinya bisa hancur nanti, belum lagi dengan kemungkinan besar bahwa ayahnya akan marah besar. Masalah bukannya selesai, justru menjadi semakin rumit. Baiklah… Adelino akui terlalu banyak ‘tetapi’ dan ‘namun’ di sini. Dia tidak tahu harus melakukan apa, dia tidak pernah dilanda kebingungan serta kegelisahan seperti ini. Dia sempat berpikir bahwa dirinya terlalu bodoh karena peduli sampai seperti ini, ayolah… Dirinya dan Maria hanya abru dua kali bertemu, mengapa dirinya sangat gelisah karena hal yang tidak penting sekarang? Di tengah perang batinnya, tiba-tiba muncul Marino, membuat Adelino sedikit terkejut. “Yang mulia, apa yang anda lakukan di sini hingga memakan banyak sekali waktu?” tanya Marino. “Apakah anda sedang menunggu manusia itu?” sambungnya. Adelino tidak menjawab dan hanya menatap Marino dengan tatapan kesal, membuat Marino mengerutkan keningnya bingung. Marino bertanya-tanya, kali ini apa lagi yang membuat tuannya merasa kesal? “Ada apa, yang mulia?” tanya Marino, bertanya ingin tahu. Melihat dan menilai dari ekspresi buruk wajah Adelino, sepertinya ini masalah yang serius. Marino tebak masalahnya pasti tidak jauh dari suku Siren. “Maria, wanita itu… Aku sudah menunggunya selama empat puluh menit di sini, hampir satu jam. Mulutku sudah hampir lelah mengeluarkan suara panggilan, namun wnaita itu tak kunjung datang menemuiku. Rasanya sangat membuat hatiku gelisah, dan rasa gelisah ini juga terasa menyebalkan, Marino!” ujar Adelino, menceritakan semua apa yang tengah dia rasakan. Marino tertegun saat mendengar ini. Jadi masalah yang membuat raut wajah tuannya itu buruk bukanlah suku Siren tetapi seorang manusia wanita bernama Maria itu? Marino menghela napasnya sebentar, lalu berkata,”Yang mulia, sekarang langit masih gelap, para manusia pada umumnya memejamkan mata mereka untuk beristirahat. Bisa saja wanita bernama Maria itu terlalu pulas tertidur sehingga tidak mendengar panggilan anda.” Adelino segeramenggelengkan kepalanya. “Tidak, Marino. Kau tidak mengerti, Maria bukanlah orang yang seperti itu. Dia akan selalu terbangun jika mendengar panggilan dariku, aku jamin itu. Namun kali ini anehnya dia tidak datang, entah apa yang terjadi padanya di atas kapal, rasanya seperti dia menghilang di makan bumi begitu saja.” “Apa mungkin dia sudah di….” Marino menggantung ucapannya di udara dengan maksud tersirat, Adelino yang tahu maksud dari ucapan menggantung Marino segera melemparkan tatapan tajam ke arah pria itu. “Jangan sembarangan, Marino. Tidak mungkin, dia pasti baik-baik saja.” Kini raut wajah Adelino terlihat seperti anak kecil yang merajuk karena tidak dibelikan balon. “Tetapi, yang mulia, coba anda pikirkan lagi. Manusia bernama Maria itu berteman dengan seorang Siren, dan sesuai yang anda tahu, Siren itu adalah makhluk manusia setengah ikan ter ganas di lautan. Tidak mungkin ‘kan seorang Siren tidak memakan manusia hanya karena embel-embel ‘teman’?” Marino mengungkapkan pendapatnya, dia sama sekali tidak ada niat untuk menambah atau memperumit pikiran Adelino. “Tetapi rasanya tidak mungkin, hatiku tidak begitu yakin,” ujar Adelino setelah mendengar penjelasan Marino barusan. Marino yang abru saja datang kini ikut berpikir, pria itu terbawa kebingungan Adelino secara otomatis. “Memangnya, apa yang tengah anda rasakan, yang mulia? Kali ini saya bertanya yang sebenarnya,” tanya Marino, kini dia telah memasuki mode serius. Adelino terdiam lebih dulu, dia berpikir. Jangankan Marino, dirinya sendiri saja pusing untuk menentukan perasaan apa yang sebenarnya dia rasakan. Adelino memijit pelipis kepalanya, lalu menjawab,”Tidak tahu, yang pasti saat ini adalah aku merasa gelisah.” Marino menganggukkan kepalanya mengerti saat mendengar jawaban Adelino, kemudian bertanya lagi,”Kira-kira… Apakah anda mengetahui penyebab dari kegelisahan hati anda?” Adelino segera melirik Marino kesal karena banyak bertanya. “Mengapa kau terus bertanya? Apakah itu penting?” Adelino menganggukkan kepalanya. “Tentu saja penting, ini dilakukan untuk mengetahui dan menemukan apa isi hati anda. Tidak mungkin ‘kan anda gelisah dan merasa kesal secara tiba-tiba?” Adelino mengangguk kecil saat mendengar jawaban Marino, lalu kemudian dia memutar bola matanya jengah. “Jadi, yang mulia, apa sekiranya anda tahu penyebab anda merasa gelisah? Penyebab utama dari semua kekacauan yang melanda hati serta pikiran anda itu,” tanya Marino lagi. Adelino kembali terdiam, kali ini terdiamnya cukup lama. Marino setia menunggu, walaupun sebenarnya dia sudah merasa bosan. “Tidak tahu, Marino. Jawabanku terlalu banyak ‘tapi’, ‘entah’, ‘mungkin’, ‘namun’, dan ‘tidak tahu’. Yang pasti aku datang kemari untuk menemuinya, kemudian kesal karena dia tak kunjung datang menemuiku. Rasanya aku seperti ditinggalkan, ini pertama kalinya aku merasakan hal seperti ini.” Marino menganggukkan kepalanya mengerti, kini tingkah mereka terlihat seperti dokter yang sedang memeriksa kesehatan pasein dan bertanya tentang keluhan apa yang dialami sang pasein. Marino mungkin menyandang gelar dokter cinta, ckck…. “Jadi itu yang anda rasakan? Dan… Anda merasa bingung serta dilema? Anda tidak mengerti tentang perasaan hati anda sekarang? Dan yang terakhir, apakah anda merasa bahwa hati anda lebih mneguasai tindakan anda dari pada otak anda yang biasanya anda gunakan untuk berpikir? Benar begitu, yang mulia?” tanya Marino, membuat Adelino berdecak kesal. “Ck, iya! Mengapa kau banyak sekali bertanya?” Marino tertawa kemudian, membuat Adelino mengerutkan keningnya dengan perasaan yang lebih kesal. “Mengapa saat ini kau tertawa, Marino?” Marino yang mendengar pertanyaan dengan nada penuh menahan emosi dari Adelino segera menjawab,”Untuk apa anda bingung dan dilema akan perasaan anda, yang mulia? Masalah ini hanyalah masalah kecil, jawabannya pun sangat mudah.” “Memangnya apa?” tanya Adelino dengan nada yang masih terdengar ketus. Adelino masih tertawa, namun kemudian dia kembali berhenti dan menjawab,”Anda sedang jatuh cinta, yang mulia. Perasaan-perasaan yang anda alami, seperti gelisah, dilema, kesal, bingung, hanya karena dia tak kunjung menemui anda, itu muncul karena anda telah jatuh cinta! Dan lagi, bukankah anda menemuinya juga penuh dengan jutaan harapan serta kesenangan yang tak dapat anda jelaskan?” Adelino memperdalam kerutan keningnya lagi. “Konyol. Jatuh cinta? Dengan siapa, Marino?” Marino menghela napas, kemudian bibirnya tersenyum tipis dan menjawab,”Manusia yang bernama Maria itu, yang mulia.” Adelino langsung tertegun saat mendengar ini, jantungnya bahkan langsung berdebar lebih cepat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN