38. Maju Mati, Mundur Pun Mati

1232 Kata
“Sekarang tenangkan dulu dirimu,” ujar Alon lembut untuk menenangkan Maria. Maria mengambil napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Jantungnya masih berdebar sangat kencang seolah baru saja melihat hantu. Tangan kanan Maria mencengkeram erat tangan Alon,seolah takut Alon akan pergi. Perasaan yang tengah dia rasakan ini serupa dengan perasaan yang dulu pernah dia rasakan, saat Alon pertama kali mempunyai kaki manusia dan mimpinya yang pertama kali bertemu serta berbicara langsung dengan Mariana. Alon mengajak Maria untuk duduk di pinggiran kasur, pria itu mengusap punggung Maria untuk menenangkannya. Tangan kanan Maria masih mencengkeram lengan kiri Alon erat, sepertinya dia tidak berniat untuk melepaskan tangan Alon untuk beberapa menit ke depan. Alon menatap sedikit sendu ke arah Maria, hatinya merasa tidak tega melihat wanita yang dicintainya seperti ini. Alon menarik lagi Maria ke dalam pelukannya dengan lembut, kemudian mengusap rambut panjang Maria yang berwarna cokelat dengan penuh kasih sayang. Sesekali Alon menyentuh mahkota tururn temurun dari keluarganya yang digunakan untuk melambangkan bahwa wanita yang menggunakannya tersebut adalah seorang Duchees. “Sudah merasa lebih baik?” tanya Alon. Maria mengadahkan kepalanya untuk melihat wajah Alon, kemudian mengangguk pelan. “Ya, terima kasih.” Alon yang mendengar ini tersenyum tipis. “Untuk apa berterima kasih? Aku adalah setengah dari dirimu.” Maria tersenyum tipis. “Kau sudah membantuku untuk menenangkan diri, kini aku telah merasa lebih baik karenamu. Maka dari itu, aku ingin mengucapkan terima kasih.” Alon mengangguk mengerti, lalu berkata,”Baiklah, aku terima ucapan terima kasihmu itu. Kedepannya tidak perlu mengucapkan terima kasih, karena memang pada dasarnya, setiap langkah dan kepetusan yang aku buat adalah untukmu. Untukmu yang terbaik.” Maria kini mulai terkekeh pelan setelah tadi memasang raut wajah tegang dan pucat. “Baiklah, mudahnya kita anggap saja seperti….” Maria menggantung ucapannya sejenak, kemudian melanjutkannya lagi dengan menunjuk dadanya dengan jari telunjuknya, kemudian beralih menunjuk d**a Alon. “Aku untuk dirimu, dan dirimu untukku. Bahkan kematian, sulit membuat kita berpisah, bukankah itu yang dinamakan cinta sejati hidup dan mati?” Alon mengangguk. “Ya, itu memang benar, untuk apa kamu bahas dan pertanyakan lagi? Jangkan kita, bahkan seluruh penghuni lautan dan Dewa laut Poseidon sekalipun tahu bahwa hubungan kita seerat lebih erat dari apa pun yang erat.” Maria yang mendengar bagian akhir dari kalimat yang Alon ucapkan terkekeh. “Ucapanmu terlalu berbelit, Alon.” Alon hanya mengangkat kedua bahunya acuh sambil memasang senyum tipis. “Apa seluruh pekerjaanmu sudah selesai? Kau seharusnya saat ini masih sangat sibuk di ruang kerja karena sudah lama tidak mempedulikan semuanya dan berada hampir satu bulan di atas kapal bersamaku,” tanya Maria, walaupun dia sendiri ingin Alon terus bersamanya, namun mengingat akan pekerjaan Alon yang sangat menumpuk, tentu saja Maria tidak bisa egois. Alon yang mendengar Maria khawatir dengan pekerjaannya segera berkata,”Tidak ada masalah, semuanya aman. Pekerjaanku tidak sebanyak seperti apa yang mungkin kau bayangkan sekarang. Selama aku di darat bersamamu, Zale ada di sini untuk mengerjakan apa-apa saja yang tak sempat aku kerjakan.” Maria mengangguk mengerti, kemudian tersenyum tipis. “Aku kasihan pada Zale, untuk kedepannya kau harus memperlakukan dia dengan lebih baik lagi.” Alon yang mendengar ini hanya mengangguk singkat dan menjawab,”Tenang saja, anak itu menikmati setiap momen dan waktu saat bekerja.” Dusta Alon, dan Maria mengetahuinya. Maria tertawa pelan, pasti Zale saat ini sangat tersiksa karena memiliki atasan seperti Alon. ____________ Saat ini, di ruangan tertutup, rapat beberapa bangsawan diam-diam terlaksanakan. Ketua suku ikut serta di rapat itu, ada sekitar sepuluh bangsawan terpilih yang mengikuti rapat. Jika biasanya Tuan Marquees Iaros dan Irvetta ikut serta dalam rapat penting, namun kali ini tidak. Hanya beberapa bangsawan saja yang ikut. Mereka saat ini sedang membahas Maria, ketika kabar bahwa Maria akan mengisi posisi Duchees tersebar, seluruh Siren yang ada di lautan langsung terkejut. Walaupun saat pertama kali Maria datang disambut ramah oleh para bangsawan, tetapi bukan berarti Maria diterima sepenuhnya oleh mereka. “Jika seorang Duchees dari kaum Siren berasal dari bangsa manusia, apa kata dunia nanti? Bisa-bisa kaum mermaid semakin memperendah kita! Lagi pula, dari zaman pertama kali Dewa Poseidon menciptakan kita, hubungan antara manusia dan manusia setengah ikan adalah hal yang dilarang keras!” “Benar, mungkin jika hanya berteman biasa tidak masalah, tetapi menikah? Itu sudah melewati batas! Seorang Duchees dari kaum Siren tidak boleh berasal dari bangsa manusia!” Jika barusan yang berbicara dan melempar pendapat adalah sisi yang menentang, maka kini giliran sisi yang mendukung membalas. “Mengapa tidak bisa? Bukankah sudah jelas, bahkan kepala suku sendiri juga menyetujui kebenarannya, bahwa manusia bernama Maria itu adalah reinkarnasi mendiang Duchees Mariana? Dewa Poseidon sudah mengizinkan sang Duchees bereinkarnasi, dan sang Dewa sudah mempertemukan sang Duchees dengan Tuan Duke, mengapa mereka tidak bisa bersama? Jangan jadi penghalang di hubungan orang lain!” “Benar, saya setuju dengan pendapat anda, Tuan. Jika sang Duchees sudah bereinkarnasi atas izin Dewa Poseidon seharusnya tidak masalah membiarkan mereka menikah. Tolong anda bayangkan, Tuan. Jika sang Duchees bereinkarnasi namun tidak diizinkan menikah dengan sang Duke, tetapi Siren wanita lain diizinkan, bagaimana nantinya peraaan sang Duchees? Mungkin raga Duchees saat ini belum melalui upacara resmi dengan sang Duke, tetapi roh-nya sudah! Itu sama saja dengan Nona Maria, telah menyandang gelar Duchees separuhnya. Jika Nona Maria kecewa karena kita melakukan keputusan yang fatal, itu bisa masuk ke dalam bentuk tidak hormat dan menghargai keajaiban Dewa Poseidon!” Seluruh orang tertegun saat mendengar ini. Tidak menghormati dan menghargai keajaiban Dewa Poseidon? Asataga, itu bahkan lebih kurang ajar dari pada menentang seorang kepala suku! “Tetapi tetap saja, jika kita membiarkan Tuan Duke Alon menikah dengan Nona Maria yang sangat jelas berasal dari bangsa manusia, bukankah itu sama saja dengan melanggar aturan Dewa Poseidon? Bukankah pernikahan antara suku Siren dengan manusia adalah hal yang mustahil? Pernikahan manusia dan Siren adalah hal yang dilarang!” “Masalah ini terlalu rumit, entah yang mana yang harus kita lakukan. Apa pun yang akan kita lakukan selalu serba salah, menyetujui hubungan mereka akan melanggar peraturan, namun jika tidak menyetujui, Nona Maria sudah menyandang setengah gelar Duchees. Dan jika Nona Maria kecewa karena keputusan kita, itu sama saja seperti melakukan penghinaan serta tidak menghargai keajaiban Dewa laut Poseidon, karena Nona Maria lah bentuk serta bukti dari keajaiban sang Dewa Poseidon.” Para Siren yang mendengar ini menganggukkan kepalanya setuju. Apa yang dikatakan oleh salah satu bangsawan barusan adalah benar, apa yang mereka lakukan saat ini jatuhnya akan selalu serba salah. Seperti maju mati, mundur pun mati. Masalah ini akan menjadi masalah yang panjang serta rahasia di antara para bangsawan yang hadir di rapat tersembunyi ini. Rapat ini sengaja dilakukan sembunyi-sembunyi agar Alon, Maria, Tuan Marquees Iaros. Irvetta, dan Zale, tidak mengetahui masalah yang diam-diam mengganggu pikiran beberapa bangsawan senior yang peduli akan peraturan. Jika rapat ini terdengar sampai ke telinga Siren lain yang memiliki hubungan dengan nama-nama yang tadi disebutkan, mereka takut akan menyinggung perasaan mereka. Apa lagi, nama-nama tersebut adalah nama terhormat dan kaum elite di suku Siren. Kecuali Hali, dia adalah satu-satunya orang yang memiliki hubungan dengan Irvetta yang hadir di rapat tersebut. Namun Hali dapat dipercayai, karena dia adalah asisten pribadi sang kepala suku. “Ketua suku, bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya salah satu bangsawan, saat pertanyaan ini dilontarkan, seluruh tatapan mata langsung terarah ke kepala suku. Kepala suku terdiam sejenak, tidak langsung menjawab. Bukan hanya para bangsawan yang hadir di rapat ini saja yang pusing, tetapi juga dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN