Tubuh Alon yang tadi kering, kini sudah basah kembali. Keadaan pria itu perlahan terlihat membaik, tidak separah tadi. Maria menghela napas lega sambil bersender di dinding kamar mandi. "Setelah ini, berarti kau harus tahu bahwa kamu memiliki batasan jam untuk tinggal di darat. Jika aku tidak segera datang sehabis bersih-bersih, apa kau tetap akan berdiam diri di tempat itu dan tidak bergerak? Bisa saja kau mati. Ketika hal itu terjadi, tentu akan sangat merepotkan. Kaum Siren bisa saja menuduhku bahwa aku memb***hmu karena kau mati di atas kapalku."
****
Alon tidak menjawab apa pun, pria itu hanya diam sembari memperhatikan Maria yang terus mengoceh. Bathtub perlahan mulai penuh oleh air, Alon sengaja berbaring di dalam bathtub, membuat tubuhnya sepenuhnya tenggelam di bathtub besar Maria.
"Jika ada orang lain yang melihatmu tenggelam di bathtub seperti ini, orang itu pasti sudah langsung berteriak histeris sambil mengatakan ada mayat di dalam kamar mandi," ujar Maria sambil tertawa pelan, dia tertawa karena bayangan imajinasinya sendiri.
Maria terus memperhatikan Alon yang memejamkan matanya sambil merendam seluruh tubuhnya, bahkan wajah pria itu sendiri ikut tenggelam ke dalam bathtub. Alon terlihat seperti tertidur, pria itu juga terlihat lebih teduh saat di dalam air. Rambut panjang Alon bergerak lembut, rambut pria itu bahkan terlihat lebih bagus ketimbang rambutnya sendiri. Maria tanpa sadar tersenyum hangat, matanya tulus menatap Alon yang terlihat damai.
Maria terkejut dan segera tersadar dari lamunannya menatap Alon, kala pria itu tiba-tiba bangkit dan mengambil sikap duduk dari berbaringnya. Alon membuka matanya dan mengusap sisa tetesan air dari wajahnya pelan, lalu menoleh ke Maria. Maria sempat terkejut lagi ketika melihat mata Alon yang baru saja terbuka, bola mata Alon tiba-tiba berubah menjadi warna biru cerah yang mengeluarkan cahaya dengan warna serupa. Namun, beberapa detik kemudian kembali normal berwarna hitam.
Mata mereka saling bertatapan lama, entah apa yang membuat lama, tetapi seolah itu terjadi begitu saja. Tukar pandangan mereka berhenti kalau Maria langsung menggeser tatapannya ke arah lain. Suasana menjadi sedikit canggung, Alon juga langsung membuang muka ke arah lain.
"Apa sekarang sudah baik-baik saja?" tanya Maria untuk menghilangkan suasana canggung. Alon mengangguk singkat. "Ya."
Maria menghela napas kecil, lalu kini kembali menatap Alon. "Kau ingin tetap berada di sini atau mau pindah ke tempat sebelumnya? Atau mungkin kau mau kembali ke laut?"
"Di sini," jawab Alon singkat. Maria mengangguk mengerti, lalu berkata,"Baiklah, kalau itu maumu. Aku akan pergi ke dapur sebentar untuk memasak makan siang, kau ingin makan bersama?"
Alon mengangguk lagi. "Ya, asalkan bukan hewan laut."
Maria mengangguk sambil tersenyum tipis, wanita itu tertawa lembut, bertepatan dengan ini, Alon sudah kembali menatap Maria. "Baiklah, tentu saja, aku mengerti." Lalu Maria berjalan keluar dari kamar mandi menuju dapur kapal.
Maria termenung sebentar, memikirkan kira-kira makanan apa yang akan dia makan bersama Alon? Ketika Maria sibuk larut ke dalam pikirannya, tiba-tiba terdengar suara ketukan. Seperti ada sesuatu yang mengetuk-ngetuk body luar kapalnya. Maria mengerutkan keningnya, lalu berjalan ke luar ruangan dalam kapal. Dengan ragu Maria melongok ke bawah kapal.
Maria membelalakkan matanya saat melihat seorang Siren tengah mengetuk-ngetuk body kapalnya. Kepala Siren itu mendongak ke arahnya, lalu dia tersenyum. Senyumnya manis, rambutnya pendek, tidak seperti Alon yang panjang. Rambutnya pirang, bola matanya berwarna hijau. Auranya terlihat lebih lembut dan hangat ketimbang Alon yang terkesan dingin serta tak tersentuh.
"Maria?" tanya Siren pria itu, bibirnya masih tersenyum manis. Maria mengangguk pelan. "Ya."
Saat mendengar jawaban Maria, Siren pria itu semakin tersenyum cerah. "Di mana Tuan Alon?"
Maria mengerutkan keningnya. "Alon?"
Siren pria itu terlihat terkejut saat mendengar Maria memanggil nama Alon secara langsung. Namun, kemudian dia tidak berkomentar apa pun dan hanya mengangguk. "Ya, benar."
Maria tidak langsung memberi jawaban pasti, dia termenung sejenak sambil menatap Siren pria itu dengan penuh kewaspadaan. Untuk apa dia mencari Alon? Jika Alon saja sampai menolak keras untuk kembali ke lautan, berarti ada sesuatu yang tidak baik terjadi 'kan? Bisa saja Siren pria ini mencari Alon untuk membuat ulah dan keributan.
"Apa hubunganmu dengan dia? Dan... Siapa kau?" tanya Maria. Siren pria itu segera menjawab,"Saya adalah tangan kanan kepercayaan Tuan Alon, nama saya Zale."
Maria menganggukkan kepalanya pelan, lalu bertanya,"Bagaimana caranya aku mempercayaimu? Tentu hanya dengan-" belum selesai Maria bicara, dia sudah langsung menutup mulutnya ketika melihat Zale berbalik memunggunginya dan menunjukkan tanda kepemilikan Alon. Pola rumit yang persis seperti miliknya.
"Kau juga salah satu kepunyaan Alon?" tanya Maria. Zale mengangguk, lalu menjawab,"Benar. Sekarang... Apa saya boleh naik untuk menemui Tuan Alon?"
Maria yang mendengar ini langsung menghela napas. Terlalu melelahkan jika dia menggendong Zale seperti Alon tadi, lama-lama pinggangnya bisa bermasalah sebelum waktunya.
"Tunggu sebentar, beri aku waktu untuk berpikir," ujar Maria, membuat Zale menatapnya bingung. "Berpikir? Apa bukti tanda kepemilikan ini belum cukup?"
Maria menggelengkan kepalanya pelan. "Bukan, bukan itu. Aku sedang berpikir bagaimana caranya membawamu naik menemui Alon tanpa harus capek-capek menggendongmu. Itu melelahkan."
Zale mengangguk mengerti, astaga... Zale benar-benar terlihat sangat manis. Kulitnya berwarna putih cerah, rambutnya yang pirang, serta bola matanya yang berwarna hijau terang sangat memikat. Benar-benar manis! Namun, saat ini bukan itu yang dipikirkan Maria. Maria akui Zale sangat manis, tetapi bukan saatnya memikirkan ini. Dia harus fokus menemukan ide baru yang lebih baik dari pada harus menggendong Zale.
Ketika ide baru itu berhasil ditemukan, Maria segera berkata,"Tunggu sebentar, aku akan kembali. Kamu bisa menungguku di tepi pantai!" Lalu Maria berlari masuk ke dalam ruangan kapal. Maria kembali keluar sambil mendorong troli besar, wanita itu kemudian membuka pintu masuk -- keluar kapal dan berjalan turun sambil tetap mendorong troli.
Saat sudah sampai di bawah, Maria melihat Zale tengah duduk di tepi pantai menunggunya. Saat Maria sudah mulai mendekat, Zale tersenyum hangat. Maria membalas senyum Zale, lalu berkata,"Naiklah ke sini, Zale. Aku akan mendorong troli ini sampai kau bertemu dengan Alon. Dia ada di dalam kapal."
Zale mengangguk ringan. "Baik, terimakasih banyak, Nona Maria."
Maria balas mengangguk, lalu setelah Zale naik ke atas troli, dia segera mendorong troli untuk masuk kembali ke kapal. Agar berat membawa Zale, tetapi setidaknya pinggangnya baik-baik saja. Maria menutup kembali pintu kapal, setelah itu dia segera mendorong troli ke dalam ruangan kapal untuk menemui Alon.
"Di mana Tuan Alon berada?" tanya Zale. Maria menjawab,"Dia ada di kamar mandi, sedang berendam. Karena terlalu lama di darat, pria itu mungkin mengalami dehidrasi."
Zale yang mendengar ini segera terkejut, raut wajahnya berubah khawatir. "Benarkah?! Lalu bagaimana keadaan Tuan Alon sekarang? Sudah berapa lama beliau di daratan tanpa tersentuh air?"
"Dia sekarang baik-baik saja, tidak separah sebelumnya. Aku tidak tahu jika dehidrasi kalian sampai menyebabkan batuk darah, sepertinya-" belum selesai Maria bicara, Zale segera memotong,"Batuk darah? Tidak mungkin. Jika hanya dehidrasi biasa beliau tidak mungkin sampai batuk darah. Apa mungkin karena kekuatan yang dia pakai untuk melindungi kapal ini terlalu besar untuk kondisinya yang sedang dehidrasi, ya?"
"Kekuatan untuk melindungi kapal ini?" tanya Maria. Zale mengangguk. "Iya, beliau memasang pagar pelindung untuk melindungi kapal ini, bahkan Irvetta katanya gagal menghancurkan pagar pelindungnya. Sepertinya dia memaksa kekuatan besar di tengah kondisinya yang sedang dehidrasi."