"Kekuatan untuk melindungi kapal ini?" tanya Maria. Zale mengangguk. "Iya, beliau memasang pagar pelindung untuk melindungi kapal ini, bahkan Irvetta katanya gagal menghancurkan pagar pelindungnya. Sepertinya dia memaksa kekuatan besar di tengah kondisinya yang sedang dehidrasi."
____
Maria terdiam karena mendengar penjelasan Zale, dia tidak menyangka bahwa Alon melindunginya sampai seperti ini. Entah apa yang membuat Alon sangat ingin melindunginya, itu sangat membuat Maria penasaran.
Saat troli yang membawa Zale sudah masuk ke dalam ruangan dalam kapal, Maria lanjut mempercepat langkahnya agar cepat sampai. Ketika troli yang membawa Zale mulai memasuki ruang kamar mandi, Zale segera mempertegak postur punggungnya, pria itu juga menundukkan kepalanya sambil berkata,"Tuan Alon, Zale menyapa anda."
Maria mendekatkan troli Zale ke bathtub, agar mereka bisa berinteraksi lebih nyaman. Maria bersender di dinding kamar mandi sambil mengatur napasnya pelan, tangan kanannya mengelap keringan yang bercucuran di dahinya.
Alon menatap Zale dengan dahi mengerut, lalu matanya beralih menatap Maria. Maria yang sadar akan tatapan Alon segera membalas tatapan pria itu, mereka saling tatap dengan pandangan bingung. Maria ikut mengerutkan keningnya. "Ada apa?"
Alon tidak menjawab Maria, pria itu kembali menatap Zale dan bertanya,"Untuk apa kau kemari, Zale?"
Zale mengangkat kembali kepalanya yang tadi tertunduk, matanya menatap Alon. "Untuk apa? Tuan, anda adalah majikanku. Tentu saja sebagai pengikut yang baik, akun harus menyapamu seperti biasa. Dan lagi, para Siren yang mendengar berita anda melindungi manusia sampai seperti ini mereka-" belum selesai Zale bicara, Alon sudah mengangkat telapak tangannya agar Zale tidak melanjutkan kalimatnya. Alon menggeser tatapannya ke Maria. "Maria, bisa beri waktu sebentar?"
Maria mengangguk sambil tersenyum canggung. "Tentu, mengapa tidak? Kalau begitu, aku akan menutup pintunya. Ah, ya! Aku harus memasak makan siang, bukan? Akanku buatkan juga untuk Zale." Lalu Maria berjalan keluar kamar mandi sambil menutup pintu kamar mandi.
Maria sebenarnya sangat penasaran tentang pembicaraan apa yang akan mereka lakukan, apa lagi saat Zale berkata demikian. Terkadang pikiran tentang dirinya menjadi beban untuk Alon datang, hal itu membuat hatinya semakin tidak enak dengan Alon. Alon melindunginya dari para Siren, sedangkan Alon sendiri adalah seorang Siren. Manusia memang ada yang jahat dan baik, namun hal ini mungkin saja tetap tidak membuat para kaum manusia setengah ikan benar-benar berdamai dengan manusia seutuhnya. Mungkin Alon mengatakan bahwa Siren seperti mereka juga bisa berperilaku baik kepada manusia, tetapi tidak berlebihan seperti apa yang Alon lakukan untuknya. Mendengar Alon melindunginya seperti itu, Maria takut bahwa Alon akan dibenci oleh kaumnya sendiri.
Maria menghela napas gusar, lalu segera fokus menyiapkan bahan-bahan masakan. Untuk makan siang kali ini dia berniat membuat telur dadar dengan potongan sosis di dalamnya, dan jangan lupakan saus keju. Persediaan bahan makanan di kapal masih banyak, mungkin cukup untuk satu tahun. Ada gudang besar yang berisi persediaan bahan makanan di lantai paling bawah kapal, Maria masih bisa tenang untuk perutnya. Setidaknya dia tidak akan mati kelaparan.
Selagi Maria sibuk memasak di dapur kapal, Alon dan Zale sedang melakukan perbincangan serius. Terlihat raut wajah Zale yang memelas, sedangkan Alon yang acuh tak acuh.
"Jika anda tidak segera kembali ke laut, kepala suku akan sangat marah, beliau bibi anda. Bukan hanya saya, tetapi seluruh kaum Siren merasa heran, apa sebenarnya yang membuat anda sangat ingin melindungi manusia itu? Dari aura yang dimilikinya, saya tahu bahwa dia adalah manusia yang baik. Namun, tidak seharusnya anda terlalu terbuka dan melakukan hal besar seperti ini untuknya," ucap Zale.
Alon menatap Zale dingin. "Terbuka bagaimana? Melakukan hal besar seperti apa? Zale, kau tidak perlu ikut campur. Aku melindunginya karena aku mau, dan aku tidak mengerti akan maksudmu bahwa aku terlalu terbuka pada Maria."
Zale menghela napas gusar pelan. "Anda terbuka padanya, Tuan Alon. Turun temurun, para tetua kaum Siren mengajarkan generasi muda untuk tidak menunjukkan diri di hadapan manusia. Namun anda, sekarang anda tidak hanya menunjukkan diri, tetapi bahkan bersedia masuk ke dalam tempat tinggal manusia, makan makanan manusia, dan mungkin anda sudah banyak bercerita kepada manusia itu, melihat dari nada bicara akrabnya dengan anda barusan."
"Cukup, Zale. Jangan menjadi menyebalkan seperti Irvetta. Aku melakukan ini karena dia sudah memiliki tanda kepemilikanku, hal wajar jika aku melindunginya. Kejadian saat aku memberikan tanda kepemilikan adalah kecelakaan, tidak lebih dari itu. Kau tidak perlu menjadi cerewet dan menyebalkan, Zale," balas Alon, matanya menatap kesal ke arah Zale.
Zale menghela napas lagi, lalu berkata,"Mungkinkah anda melindunginya karena dia mirip mendiang Nyonya Duch-"
"Zale! Jangan sebut dia lagi!" bentak Alon, matanya menatap Zale dengan garang. Bola mata Alon bahkan sampai berubah warna menjadi biru, menatap penuh ancaman ke arah Zale. Zale langsung menutup mulutnya rapat, terdiam sambil menatap Alon dingin.
Zale adalah tangan kanan kepercayaan, sekaligus sepupu Alon. Mereka sudah dari usia dini menjadi partner jika sedang melakukan tugas, banyak rahasia Alon yang Zale ketahui, begitu juga sebaliknya.
"Apa anda berpikir bahwa manusia itu adalah reinkarnasi dari 'dia'?" tanya Zale, dia masih berani bertanya. Alon membuang tatapannya ke sembarang arah. "Tidak tahu, tetapi aku juga tidak peduli. Dia sudah mati, dan sekarang kita tidak perlu membicarakannya."
"Dia memang sudah mati, tetapi dia tidak pernah mati di hati anda. Sudah lebih seratus tahun anda membohongi hati anda sendiri," balas Zale. Alon kembali menatap Zale. "Aku sedang tidak ingin membicarakannya, Zale. Walaupun hal seperti 'reinkarnasi' itu tidak pasti kebenarannya, tetapi buku suci milik Dewa laut Poseidon tidak mungkin keliru."
Zale terdiam sejenak, lalu mengangguk sambil sekali lagi menghela napas gusar. Zale kemudian tersenyum tipis. "Benar, Dewa laut Poseidon tidak mungkin keliru."
Tok... Tok... Tok...!
Suara ketukan pintu terdengar bersamaan dengan suara Maria yang bertanya,"Eh... Maaf, permisi... Apa perbincangan kalian sudah selesai? Makan siang yang aku buat sudah siap disantap."
Zale yang mendengar ini segera membalas,"Ya, sudah!" Maria segera membuka pintu kamar mandi, lalu tersenyum ramah seperti biasanya. "Kalau begitu, ayo kita pergi ke ruang makan. Tidak mungkin untuk kita makan di dalam kamar mandi begini, rasanya kurang cocok."
Maria memperhatikan Alon sejenak, lalu bertanya,"Apa keadaanmu sudah membaik? Bisa untuk pergi ke ruang makan sebentar?"
Alon mengangguk. "Ya."
Maria mengangguk mengerti, lalu berlaih menatap Zale. "Maaf, Zale, bisa kau geser ke sisi kanan sedikit? Alon juga membutuhkan troli." Alon yang mendengar ini segera berkata,"Aku tidak bersedia satu troli dengannya."
Maria segera menoleh bingung ke arah Alon. "Huh? Lalu mau bagaimana? Kau ingin aku menyeretmu seperti tadi? Tubuhmu berat, Alon."
Kau bisa membawa Zale lebih dulu ke meja makan, baru setelah itu kembali lagi dan membawaku. Mudah bukan?" tanya Alon. Maria memutar bola matanya malas. "Ya." Kemudian dia mulai memegang gagang troli dan mendorongnya keluar dari kamar mandi. Padahal niat awalnya untuk menggabungkan Zale dan Alon di satu troli agar dirinya tidak perlu repot bolak balik dua kali.