9. Aku Suka Melindungimu

1219 Kata
Setelah selesai mengantar Zale, Maria kini kembali berjalan ke kamar mandi untuk menemui Alon. Maria membantu Alon untuk keluar dari bathtub dan pindah ke atas troli. Kulit Alon kembali terasa lembap, tidak kering seperti sebelumnya. Di tengah perjalanan menuju ruang makan, awalnya tidak ada pembicaraan apa pun antara Maria dan Alon. Hening. Namun, keheningan itu hilang kala Maria mengucapkan,"Terima kasih." Alon yang mendengar itu segera menoleh ke belakang, menatap Maria. Mata mereka bertemu lagi, namun Alon tidak membalas apa pun, pria itu hanya diam. Beberapa menit kemudian, Alon menarik tatapannya, membuat Maria juga kembali menatap lurus ke depan memperhatikan jalan. "Aku tidak tahu apa yang kamu lakukan untuk kapalku, tetapi aku yakin itu adalah hal baik. Aku juga senang dilindungi, aku sangat berterima kasih. Namun, Alon, aku tidak suka jika orang yang melindungiku sampai terluka. Atau bahkan menerima kerugian karena aku," ujar Maria. Alon yang mendengar Maria berkata demikian terdiam, pria itu tidak langsung menjawab. Maria menatap punggung tegap Alon yang membelakanginya, lalu menghela napas diam-diam. "Tetapi aku suka," jawab Alon tiba-tiba, membuat Maria menaikkan alis kirinya, langkah kaki wanita itu berhenti bersamaan dengan laju roda troli yang ditumpangi Alon. "Apa?" tanya Maria lagi. "Aku suka. Aku suka melindungimu," jawab Alon lagi. "Apa alasannya?" tanya Maria sekali lagi. Alon memejamkan matanya, bersender pada gagang tiang troli. "Tidak tahu, jadi tolong berhenti menanyakan apa alasannya. Jika kau bingung, maka aku lebih dari bingung, rasanya sampai hampir gila, Maria." Maria terdiam, dia sedikit terkejut dengan jawaban tidak jelas Alon. Dia suka? Suka melindunginya? Untuk apa? Bukankah mereka baru pertama kali bertemu? Maria tersenyum kaku. "Alasan yang sedikit konyol, Alon. Aku tidak mengerti." Alon yang mendengar ini tidak lagi membalas, pria itu malah berkata,"Cepat ke ruang makan, Zale akan mengoceh nanti jika kita terlambat." Pria itu bicara sambil membuang wajahnya ke samping. Maria yang melihat Alon sepertinya tidak lagi ingin membahas topik ini tidak melakukan tindakan apa pun, dia hanya diam dan lanjut mendorong troli menuju ruang makan. Sampai di meja makan, Maria berusaha membantu Alon untuk bangkit dan duduk di kursi makan. Setelah selesai, kini giliran Maria yang duduk. Maria duduk di bangku utama, di depan sisi kanan dan kirinya terdapat Alon dan Zale. Alon di kanan, sedangkan Zale di sebelah kiri. "Untuk makan siang hanya ini yang sekiranya cocok, aku tidak tahu selera kalian seperti ini. Tetapi.... Semoga ini juga cocok di lidah kalian," ucap Maria sambil tersenyum ke arah Alon dan Zale. Zale memperhatikan makanan yang ada di hadapannya, kedua sudut alisnya menyatu. "Apa ini?" tanya Zale. Maria melirik Zale sekilas, lalu kembali menatap makanannya sendiri. "Itu adalah telur dadar ayam, di dalamnya terdapat daging sapi yang sudah diolah sehingga dapat disebut 'sosis'. Dan cairan krim berwarna kuning di sudut piring itu adalah saus keju, rasanya benar-benar enak. Kalian harus mencobanya." Lalu Maria tidak lagi bicara dan mulai memasukkan satu sendok makanan ke mulutnya. Maria memakan telur dadarnya dengan serius, dia tidak lagi menghiraukan Alon dan Zale, seolah kedua pria itu tidak pernah ada. Kedua pipi Maria samar-samar muncul warna rona merah alami, membuat Alon tanpa disadari siapapun menatap Maria dalam dengan kedua bola mata dinginnya yang segelap malam. Sesekali Maria tersenyum saat memasukkan makanannya ke mulutnya, dan hal ini juga membuat Alon tanpa sadar ikut tersenyum, namun terlihat samar. Selesai makan siang, Maria segera menumpuk piring mereka bertiga menjadi satu. Zale yang baru saja selesai makan langsung berkata,"Astaga, ternyata makanan manusia tidak terlalu buruk! Nona, dapatkah saya memakan makanan lezat buatan anda sekali lagi di lain waktu?" tanya Zale, pria itu tersenyum manis penuh semangat, menatap Maria dengan mata berbinar. Maria balas tersenyum ke arah Zale. "Tentu, mengapa tidak, Zale? Dan lagi, kau cukup memanggil namaku saja, tidak perlu menggunakan 'nona'." Zale yang mendengar ini mengangguk mengerti, saat pria itu hendak kembali bicara, tiba-tiba Alon mencibirnya,"Bukankah sebelumnya kau yang mengatakan bahwa aku salah jika seperti ini?" Alon berusaha mengingatkan omongan Zale yang tadi pria itu ucapkan di kamar mandi. Zale tersenyum lebar ke arah Alon. "Ya... Itu...." Alon mengacuhkan Zale, lalu beralih menatap Maria. "Bawa aku kembali ke bathtub." Maria yang mendengar nada bicara Alon yang seperti atasan memerintah bawahan, segera memutar bola matanya jengah, lalu mengangguk dan berjalan mendekati Alon. Maria meraih tangan Alon dan dia letakkan di kedua bahunya. Perlahan, Alon berusaha bangkit dari kursi dan pindah ke troli. Saat troli hendak di dorong, Zale berkata,"Aku akan menunggu di sini, nona Maria! Aku juga ingin masuk ke dalam bathtub! Aku penasaran!" Namun sayang, tak lama Alon langsung membalas,"Tidak diizinkan, Zale. Setelah ini kau harus kembali ke laut, urus urusan yang tidak sempat aku kerjakan. Dan lagi, bergeraklah mewakili diriku di rapat bangsawan malam ini. Pastikan kau sampaikan apa yang sudah aku tulis, kertasnya ada di laci meja kerjaku." Lalu Alon menoleh ke arah Maria. "Ayo." Maria mengangguk, kemudian mulai mendorong troli. Zale yang mendengar perintah mutlak Alon langsung terdiam, wajahnya menunjukkan ketidak puasan. Zale menghela napas gusar dan membalas,"Baik...." Maria mendorong troli yang ditumpangi Alon dengan sekuat tenaga, dia mulai lelah karena harus bolak balik mendorong troli untuk Alon dan Zale. Ingin rasanya membuat troli yang sedang ditumpangi Alon dia buat terbalik, tetapi itu tidak mungkin. Mengingat kebaikan Alon yang tengah melindunginya sekarang. Setelah sampai di kamar mandi, Maria kembali membantu Alon pindah tempat ke bathtub. Selesai membantu Alon pindah ke bathtub, Maria langsung hendak pergi menemui Zale. Mengingat pria itu akan kembali ke laut, Maria harus membantunya. Namun, saat hendak berbalik, tiba-tiba Alon menahan tangan kirinya. Maria menoleh ke arah Alon dengan tatapan bingung. "Ada apa?" Alon menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak ada." Maria semakin bingung, namun kemudian berkata,"Kalau begitu aku-" belum selesai Maria bicara, Alon sudah memotong dengan,"Kau tidak perlu membantunya, dia bisa keluar dari kapal ini sendiri." Maria yang mendengar ini segera membelalakkan matanya. "Zale bisa berubah menjadi manusia seutuhnya?!" tanya Maria. Alon menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak bisa, namun itu tidak menjadi alasan untuk dia tidak bisa keluar dari kapal ini." "Kau tidak menyuruhnya untuk mengesot di lantai 'kan?" tanya Maria ragu. Alon tidak menjawab, pria itu hanya membuat tatapannya ke samping, menatap tembok kamar mandi. Maria tersenyum tipis. "Bukankah Zale ada tangan kananmu? Mengapa sangat kejam, sih?" Alon yang mendengar ini segera membalas,"Kau tahu itu dari mana?" Maria mendudukkan dirinya di atas troli, menghadap ke arah Alon. "Dia yang mengatakan itu padaku sambil menunjukkan tanda kepemilikannya." Alon yang mendengar ini segera memasang raut wajah serius dan berkata,"Maria, jangan kau tunjukkan letak di mana tanda kepemilikanmu itu berada." Maria yang mendengar ini mengerutkan keningnya. "Ada apa?" Alon menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak ada, dan ini tidak penting juga. Tetapi, kau jangan pernah sekali-sekali menunjukkan tanda kepemilikan itu ke Siren atau Mermaid lain." Maria tidak mau ambil pusing, dia juga tidak terlalu ingin tahu. Jadi, Maria hanya mengangguk singkat. "Ya, baiklah." Tak lama kemudian setelah itu, terdengar suara sesuatu yang terjun ke laut. Seperti benda berat milik kapal yang jatuh ke dalam laut. Saat Maria hendak berdiri untuk mengecek apa itu, Alon menahan tangannya. "Tidak perlu dilihat, itu hanya Zale." Maria mengangguk sambil ber-oh ria, kemudian dia kembali duduk pada posisinya semula. Maria meregangkan tubuhnya, bunyi 'kretek' yang disebabkan oleh tulangnya terdengar, hal ini membuat Maria merasa lega. Saat ini badannya terasa sangat pegal dan lelah, mungkin karena terlalu sering membawa Alon. Hari ini juga dia sudah melakukan bersih-bersih besar untuk ruangan dalam kapal, ditambah dia harus memasak makanannya sendiri, rasa lelah seperti ini sangat wajar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN