"Maria...."
"Maria...."
"Mariana...."
"Aku mencintaimu, bahkan setelah reinkarnasi kesekian kalinya."
"Aku mencintaimu lebih dari lautan ini."
"Sang Duchess tidak bisa bertahan lama! Cepat panggil kepala suku!"
"Mariana, bertahanlah!"
Sesak. d**a Maria terasa sesak, kepalanya juga terasa pening. Pandangan matanya kabur, suara ribut di ruangan yang tidak dia kenali semakin menambah rasa pening di kepalanya. Satu-satunya suara yang dia kenal adalah suara Alon. Suara yang berkata bahwa dia sangat mencintai wanita bernama 'Mariana', suara yang memohon teramat sangat kepada 'Mariana' untuk tetap bertahan.
Namun... Siapa itu Mariana? Mengapa tangan kanannya digenggam Alon dengan sangat erat sambil terisak menangis? Mengapa Alon memanggilnya dengan nama 'Mariana'? Siapa itu Mariana?
Maria berusaha menggerakan tubuhnya, dia ingin bangkit dan melihat sekitar ruangan dengan lebih jelas. Tetapi gagal karena tubuhnya kaku, dia tidak bisa bergerak. Yang bisa Maria lakukan saat ini adalah berbaring dan benapas, itu pun dengan napas yang tersengal-sengal. Tubuh Maria terasa basah kuyup karena keringat, dia juga merasa aneh dengan bagian bawah tubuhnya. Kakinya... Mengapa kakinya tidak terasa seperti kaki? Konyol... Ada apa ini?
Maria juga merasa seisi ruangan ini bukan diisi dengan oksigen, tetapi... Air? Benar, tidak ada oksigen di sini. Namun... Mengapa dirinya bisa bernapas di dalam air?
Ketika Maria hendak berusaha keras membuka mulutnya untuk berbicara, tiba-tiba cahaya terang berwarna putih muncul dari atas kepalanya. Cahaya putih itu perlahan membesar, membuat mata Maria terasa silau dan akhirnya Maria memejamkan matanya. Saat Maria membuka matanya kembali, dia sudah berada di posisi yang berbeda.
Maria berdiri di depan pintu ruang kemudi kapalnya, dia juga memakai pakaian yang dia kenakan tepat sebelum pagi datang dan memberi kabar bahwa kedua orang tuanya beserta nahkoda kapalnya lenyap di tangan Siren.
Maria membelalakkan matanya, menatap syok ke depan. Di sana, tepat di depan matanya, kedua orang tuanya beserta nahkoda kapalnya tengah berusaha melepaskan diri dari nyanyian merdu para Siren. Maria mengepalkan kedua telapak tangannya, lalu menggerakkan giginya. Hatinya mulai dikuasai oleh emosi yang selama ini dia pendam dengan rapih.
"Tidak! Zack! Jangan ke sana! Zack!!!!"
Byurrr!!!
Zack meloncat bebas dari kapal ke laut, menyatu bersama para Siren. Para Siren itu langsung dengan brutal menyerang dan melukai Zack, mereka memakan Zack hidup-hidup. Air laut yang tadinya terlihat normal, kini terlihat mengerikan. Warna airnya perlahan berubah menjadi merah karena tercampur oleh darah Zack.
Maria terhuyung pelan ke belakang, tangan kanannya menutup mulutnya karena rasa mual mulai datang. Maria ingin sekali muntah karena melihat organ tubuh Zack keluar, pemandangan yang dia lihat benar-benar mengerikan sekaligus menjijikan.
"Aaa!!!" Suara jeritan Diana, ibu kandung Maria terdengar. Maria segera menoleh ke arah ibunya, lalu dia segera berusaha bangkit berdiri. Maria berusaha berlari menuju Diana, namun langkah kakinya terasa sangat berat, seperti ada yang menahannya. Maria melihat tangan ibunya berusaha diraih oleh para Siren, para Siren itu terlihat mengerikan. Namun, saat Maria menoleh ke arah Sadny, ayah kandungnya, para Siren itu terlihat berbeda. Siren-siren yang mendekati ayahnya terlihat sangat menawan, berbeda dengan ibunya. Ayahnya bahkan terlihat menikmati nyanyian mereka, dia yang paling tenang di antara ibunya dan Zack.
"Ayah! Sadarkan dirimu! Ayah!!!" jerit Maria memohon, matanya berkaca-kaca. Maria bingung, dia tidak tahu ini mimpi atau bukan. Tetapi, baik itu mimpi ataupun kenyataan, Maria tidak peduli. Jika memang ini hanya mimpi, maka biarkan Maria menyelamatkan kedua orang tuanya. Sekali saja... Sekali saja....
Ketika melihat ayahnya hendak meloncat ke laut, Maria semakin menjerit keras. "Ayah!!! Sadarkan dirimu! Maria mohon! Ayah!!!" Maria menangis, dia ingin sekali berlari ke ayahnya untuk menarik pria itu mundur. Tetapi kakinya kini terasa berat, dia bahkan baru tiga langkah dari tempat dia berdiri sebelumnya, tetapi mengapa dia sudah terengah-engah seperti ini? Maria geram, dia merasa marah dengan dirinya sendiri yang tidak berdaya.
Byurr!!!
Sadney menyeburkan diri ke laut, membuat Maria terdiam. Matanya yang sudah mengeluarkan air mata, kini semakin bertambah deras lagi.
"Sadney!!!" seru ibunya ketika melihat ayahnya menceburkan diri ke laut, namun tak lama kemudian Diana menyusul suaminya.
Byurr!!
Maria yang melihat ini langsung meremas rambutnya, Maria menangis lebih keras. Hatinya terasa sangat sesak, rasa sesaknya melebihi rasa sesak ketika dia tengah berbaring di kejadian aneh sebelumnya. Saat Alon memanggilnya dengan nama 'Mariana'.
Kaki Maria lemas, dia langsung terhuyung ke belakang dan hendak jatuh ke lantai kapal. Namun, belum sampai dia menyentuh lantai, tiba-tiba di belakangnya muncul Alon yang menahan tubuhnya. Maria menoleh, menatap Alon dengan kedua mata sembabnya.
"Bukankah sudah aku katakan, bahwa aku tidak suka melihatmu menangis? Nama 'Maria', tidak cocok untuk menangis seperti ini," ucap Alon setelah tidak lama mereka melakukan kontak mata. Maria yang mendengar ini justru malah semakin keras menangis, entah mengapa dia ingin menangis keras saat ini. Maria memutar badannya menghadap Alon, lalu memeluk pria itu dan menangis di pelukannya.
Alon membalas pelukan Maria, dan tak lama dari ini, Maria baru menyadari bahwa Alon berdiri memeluknya menggunakan kaki! Bukan ekor ikan!
Saat Maria hendak berbicara, tiba-tiba Alon mengeratkan pelukannya dan berbisik di telinga Maria. "Aku mencintaimu lebih dari lautan ini."
Tak lama setelah ini, tiba-tiba cahaya terakhir berwarna putih memenuhi pandangan mata Maria. Rasanya langsung seperti jatuh dari ketinggian, Maria memejamkan matanya, namun saat membuka matanya lagi, dia terkejut dan tersadar bahwa dia sedang duduk di atas kasur dengan napas terengah-engah.
Maria mengelap cepat buliran keringat di dahinya, tidak hanya dahinya, tetapi seluruh tubuhnya basah kuyup karena keringat. Napasnya juga terengah-engah, Maria berdecak tanpa sadar saat menyadari bahwa dia mengalami mimpi buruk. Namun sepertinya mimpi itu terasa sangat nyata untuknya, buktinya saat ini dia sampai mengeluarkan air mata. Saat melirik ke arah kaca, Maria melihat matanya sembab oleh air mata.
Maria menghela napas gusar, lalu segera turun dari kasur dan berjalan menuju dapur. Dia ingin meminum segelas air putih untuk menenangkan hatinya. Selesai meneguk satu gelas air dengan cepat, Maria mulai merasa lebih tenang dibandingkan dengan sebelumnya. Maria tidak tahu mengapa dia harus mengalami mimpi aneh seperti itu. Entah itu mimpi buruk atau bukan, Maria sendiri juga tidak tahu.
Maria memutuskan untuk langsung kembali ke kamarnya, namun saat melewati pintu kamar mandi tempat Alon berada itu terbuka, Maria langsung memberhentikan langkahnya. Maria entah dorongan dari mana langsung berjalan masuk, matanya menatap Alon yang tertidur di dalam bathtub. Pria itu terlihat damai dan nyaman, membuat hati Maria semakin terasa tenang.
Dari sekian banyaknya pria yang sudah Maria temui, mengapa pria ini yang muncul di mimpinya barusan? Dan lagi, mimpi yang dia alami juga sangat aneh. Mariana... Siapa itu Mariana? Yang membuatnya lebih terkejut adalah fakta bahwa dia melihat Alon secara langsung menangisi wanita bernama 'Mariana' itu. Dan ya, dari banyaknya peran yang bisa dia ambil di mimpi, mengapa harus dirinya yang menjadi 'Mariana'?
Maria menghela napas dengan gusar lagi, dan kemudian menyadari bahwa dia terlalu memikirkan mimpinya. Seharusnya dia tidak perlu memikirkan kejadian yang hanya mimpi, itu tidak penting. Sekali lagi, itu hanya mimpi. Tetapi, mengapa mimpi itu sangat mengusik pikirannya? Hatinya juga terasa sangat gelisah dari tadi.
Maria juga selalu berpikir 'tidak tahu ini', 'tidak tahu itu', atau 'tidak tahu mengapa'. Selalu seperti itu, membuat dirinya sendiri kesal. Tetapi memang nyatanya di dunia ini banyak sekali yang tidak dirinya ketahui. Seperti rahasia laut yang sangat luas. Dari seratus persen lautan, baru dua puluh persen yang dapat manusia ketahui. Delapan puluh persennya masihlah rahasia, termasuk Alon. Dia masuk ke dalam delapan puluh persen rahasia laut tersebut.