Keesokan paginya, Maria terbangun dan mendapati dirinya ketiduran di depan bathtub Alon. Saat Maria membuka matanya dan mengambil posisi duduk, dia melihat Alon yang juga sepertinya sudah lama memperhatikannya. Namun, hal itu segera Alon putus dengan membuang wajahnya ke arah lain.
Maria menggosok mata kirinya pelan, lalu berkata,"Sepertinya aku ketiduran di sini tanpa sadar." Alon tidak menjawab, pria itu kembali menatap ke arahnya dan bertanya,"Bagaimana kau bisa berada di sini?"
Maria tersenyum tipis sambil mengangkat kedua bahunya acuh. "Tidak tahu, mungkin saat tidur aku mengigau sambil berjalan?" Saat Alon mendengar jawaban konyol Maria, pria itu langsung tersenyum samar. "Konyol."
Maria tidak lagi menjawab, wanita itu segera berdiri dan berkata,"Aku akan mandi di kamar mandi lainnya dulu, kau tunggu di sini. Aku juga akan memasak sarapan ringan untuk hari ini, kau mungkin merasa bosan karena seharian penuh berada di dalam kamar mandi. Maka dari itu, aku akan membawamu sarapan di luar seperti hari sebelumnya. Tentunya tidak akan begitu lama, agar kau tidak terkena dehidrasi untuk yang kedua kalinya."
Alon tidak menjawab, dia hanya mengangguk ringan sambil menatap kepergian Maria.
Sebenarnya saat bangun dari tertidurnya dua jam lalu, dia terkejut ketika melihat Maria berada di sampingnya. Duduk di lantai kamar mandi sambil menyenderkan kepalanya di pinggiran bathtub, wanita itu memejamkan matanya dan tertidur lelap.
Dua jam lamanya Alon berdiam diri di kamar mandi untuk menunggu Maria, pria itu hanya bersender di bathtub dengan tatapan matanya yang dingin. Raut wajah Alon seolah menjelaskan bahwa dia tengah memikirkan sesuatu yang tidak diketahui siapa pun, Alon larut di dalam pikirannya sendiri. Mengenang waktu yang sudah tertutup debu zaman. Entah siapa dan apa yang dia kenang, tidak ada yang tahu.
"Alon, ayo kita keluar!" Maria tiba-tiba muncul, membuyarkan lamunan Alon. Alon menoleh ke arah Maria, kemudian mengangguk singkat sebagai jawaban. Maria kini muncul dengan pakaian dan look yang berbeda. Maria menggunakan celana levis pendek dan tanktop berwarna putih. Rambut panjang Maria dikepang dua, Maria tetap terlihat menawan walaupun memakai outfit baju seadanya.
Maria masuk sambil mendorong troli, kemudian dia beralih mendekati Alon dan membantu pria itu keluar dari bathtub. Setelah Alon duduk tenang di atas troli, Maria langsung memutar troli dan berjalan keluar dari kamar mandi. Mereka berdua pergi menuju salah satu tempat bersantai di kapal.
Ketika mereka berhasil ke luar dari ruangan dalam kapal, Alon melihat meja makan berukuran sedang dengan dua kursi makan yang saling berhadapan sudah tertata rapih. Menu makanan baru yang Maria buat, lagi-lagi menarik perhatiannya.
"Tanganmu," ucap Maria, meminta tangan Alon agar dia mudah membantu pria itu duduk di kursi makan.
Selesai membantu Alon berpindah tempat ke kursi, kini giliran Maria yang duduk di kursinya. Mereka duduk saling berhadapan dengan makanan yang hangat di piring masing-masing. Maria sudah mulai sibuk memakan sarapannya, menu kali ini adalah mie instan! Memang terlihat biasa saja, tetapi rasa yang dimiliki oleh mie instan tidak pernah mengecewakan lidah seseorang.
Maria sempat melirik ke arah Alon, bibirnya tersenyum samar kala melihat Alon sangat menikmati makanannya. Sepuluh menit berlalu, mie instan yang ada di piring mereka telah habis. Maria meneguk air putih yang sudah dia siapkan di gelas sebelum makan, lalu menghela napas lega karena puas memakan mie instan.
"Bagaimana rasanya?" tanya Maria, matanya menatap Alon. Alon tidak langsung menjawab, pria itu menelan lebih dulu mie instannya dan baru menjawab,"Ya... Lumayan." Maria yang mendengar ini segera mencibir,"Padahal kau terlihat sangat menikmatinya barusan."
Alon tidak membalas ucapan Maria dan hanya diam.
Tanda kepemilikan Alon yang memiliki pola rumit di d**a Maria terlihat sedikit, Alon yang menyadari ini segera berkata,"Gunakan kain atau penutup lain untuk menutupi tanda kepemilikan itu." Maria yang mendengar ini segera menunduk dan menatap ke arah dadanya sekilas, lalu Maria kembali menatap Alon dan bertanya,"Apa masalahnya? Bukankah kau yang memberikan tanda kepemilikan ini?"
Alon mengangguk. "Benar, tetapi aku tidak mau jika para Siren lainnya melihat letak di mana tanda kepemilikan itu berada."
Maria menaikkan alis kirinya bingung. "Memangnya kenapa jika melihat ini?" Alon memejamkan matanya sambil bersender di kursi. "Intinya aku memintamu untuk menutupi tanda itu agar para Siren lain tidak dapat melihatnya, bahkan Zale termasuk Siren yang tidak boleh tahu di mana letak tanda kepemilikan itu."
Maria semakin bingung, mengapa Alon memintanya untuk menyembunyikan tanda kepemilikan ini? Dan lagi, bukankah pria itu sendiri yang memberikan tanda pola rumit ini?
Alon yang melihat raut wajah bingung Maria segera berkata,"Kau tidak perlu menyembunyikan fakta bahwa aku sudah memberikanmu tanda kepemilikanku, yang perlu kau sembunyikan adalah letak tanda kepemilikan itu."
"Apa ada yang salah tentang letak tanda kepemilikan ini di diriku?" tanya Maria. Alon mengangguk. "Ya, seharusnya tanda itu diberikan di punggung makhluk atau benda yang ingin secara mutlak menjadi milik sang pemilik tanda."
Maria mengangguk mengerti. "Oh, aku mengerti. Lalu, bagaimana jika di d**a? Apakah itu mengubah faktanya? Atau akan ada kesalahan teknis?" Alon yang mendengar ini mengangguk lagi. "Ya, dan cukup sampai di situ. Jangan bertanya lagi, aku tidak mau menjawabnya."
Maria yang mendengar jawaban ketus Alon memutar bola matanya malas, mengapa pria itu selalu menyembunyikan sesuatu darinya? Dan lagi, tanda kepemilikan ini 'kan menyangkut dirinya, mengapa dia tidak boleh tahu? Apa jika Alon memberitahukan jawabannya kepadanya akan membuat Poseidon murka sampai membuat tsunami? Tidak 'kan?
Maria membereskan bekas makan mereka berdua, sedangkan Alon seperti biasa menunggu Maria selesai melakukan pekerjaannya. Seperti tuan dan bawahan, ya... Kira-kira pemandangannya terlihat seperti itu....
Alon duduk menghadap ke arah laut, angin sepoi-sepoi dengan lembut menyapa rambut panjang pria itu. Mata Alon berubah menjadi lebih dingin saat berada di luar seperti ini, tidak seperti saat-saat dirinya berada di dalam ruangan kapal yang setidaknya masih terlihat sedikit ramah walaupun kebenarannya tetap tidak terlihat ramah sama sekali.
****
Jauh di bawah laut saat kedalamannya sudah menyentuh ratusan ribu kilo meter, diam-diam berdiri kota megah di luar sepengetahuan makhluk penguasa bumi, Manusia. Mereka yang mendiami kota ini memiliki paras yang menawan, namun terkadang mereka juga bisa berubah menjadi mengerikan. Bagian atas tubuh mereka memiliki bentuk yang sama dengan manusia pada umumnya, namun, bagian bawah tubuh mereka memiliki bentuk ekor ikan. Mereka adalah tokoh dari legenda Yunani kuno, makhluk setengah manusia dan setengah ikan yang memiliki suara merdu. Merekalah, sang Siren.
Di tengah-tengah kota megah tersebut terdapat pula bangunan yang sangat megah, bangunan itu disebut dengan 'Siren Sea Kingdom'. Kota megah yang dipimpin oleh satu Siren yang memiliki kedudukan tinggi yang disebut 'Kepala suku'.
"Duke Alon sudah melanggar peraturan yang paling sakral dari semua peraturan dan larangan. Bagaimana bisa seorang 'Duke' dari Kerajaan Siren, bangsawan terhormat dengan gelar tinggi yang seharusnya menjadi teladan para Siren lainnya malah melindungi manusia?"
"Benar, saya setuju. Walaupun memang tidak semua manusia jahat, tetapi perlindungan dan kebaikan yang Tuan Alon berikan terlalu besar. Dari leluhur pertama yang paling agung, tidak pernah dibenarkan untuk kita para kaum Siren bergaul kepada manusia tanpa batasan."
Saat ini sedang terjadi rapat besar yang diadakan oleh kepala suku Siren untuk membahas kasus Alon yang melindungi manusia. Zale yang menghadiri rapat besar tersebut untuk menggantikan Alon hanya diam sambil memasang ekspresi bosan, dia memaki para bangsawan lain yang berusaha mencari cari kesalahan Alon. Belum lagi masalah tentang perseteruan antara kaum Siren dan Mermaid, rapat kali ini benar-benar sangat panas. Zale hanya bisa menghela napas dan menerima nasibnya, ingin sekali dia menemui Dewa laut Poseidon untuk meminta sangat Dewa merubah takdirnya yang s**l ini.
"Tidak hanya itu, bahkan Tuan Alon sampai melakukan perlawanan tidak main-main kepada para Siren yang mencoba mendekati kapal. Ada sekitar lima Siren yang terluka parah, mereka semua mendapatkan luka itu dari Tuan Alon. Saya juga merasa heran mengapa Tuan Alon sangat bersikukuh seperti ini, tetapi mungkin Tuan Zale yang berperan sebagai tangan kanan kepercayaan, sekaligus adik sepupu Tuan Alon dapat menjawab pertanyaan saya?" Ketika kalimat tajam ini dikeluarkan, semua tatapan mata langsung tertuju kepada Zale. Zale menatap kesal ke arah Irvetta, yang mengatakan kalimat menjengkelkan itu barusan adalah dia.
Zale mengambil napas dalam-dalam untuk memenangkan emosi hatinya, kemudian memperbaiki posisi duduknya menjadi lebih tegak dan bermatabat layaknya seorang bangsawan. Zale beralih menatap kepala suku, bibir pria itu tersenyum manis.