"Tidak hanya itu, bahkan Tuan Alon sampai melakukan perlawanan tidak main-main kepada para Siren yang mencoba mendekati kapal. Ada sekitar lima Siren yang terluka parah, mereka semua mendapatkan luka itu dari Tuan Alon. Saya juga merasa heran mengapa Tuan Alon sangat bersikukuh seperti ini, tetapi mungkin Tuan Zale yang berperan sebagai tangan kanan kepercayaan, sekaligus adik sepupu Tuan Alon dapat menjawab pertanyaan saya?" Ketika kalimat tajam ini dikeluarkan, semua tatapan mata langsung tertuju kepada Zale. Zale menatap kesal ke arah Irvetta, yang mengatakan kalimat menjengkelkan itu barusan adalah dia.
Zale mengambil napas dalam-dalam untuk memenangkan emosi hatinya, kemudian memperbaiki posisi duduknya menjadi lebih tegak dan bermatabat layaknya seorang bangsawan. Zale beralih menatap kepala suku, bibir pria itu tersenyum manis.
**
Kepala suku kaum Siren saat ini adalah seorang wanita, umurnya sudah lebih dari tujuh ratus tahun, namun wanita itu masih kuat berdiri bahkan memimpin hubungan politik kerajaan yang rumit. Zale terkadang penasaran dengan ramuan apa yang kepala suku konsumsi sehingga panjang umur begitu.
Zale meletakkan tangan kanannya di d**a kirinya sebagai bentuk penghormatan kepada kepala suku. “Salam saya, Zale, Baginda.” Kepala suku mengangguk singkat, matanya menatap Zale, menunggu kira-kira jawaban apa yang akan Zale keluarkan. Zale menggeser tatapannya lagi ke arah Irvetta. “Untuk menjawab pertanyaan Nona Irvetta, itu sangat sulit. Karena walaupun saya berperan sebagai tangan kanan kepercayaan sekaligus adik sepupu Duke Alon, itu tidak menjamin bahwa saya seratus persen dapat membaca pola pikir milik sang Duke.”
Para bangsawan yang mendengar ini menghela napasnya dengan perasaan tidak puas. Jika Zale yang berperan aktif selalu berada di sisi Alon dan melakukan sesuatu yang banyak berhubungan langsung dengan Alon saja tidak tahu, apa lagi mereka yang sulit untuk mendekati sang Duke?
Irvetta yang mendengar jawaban dari Zale segera membalas,”Jika begitu, setidaknya anda mengetahui sedikit, bukan? Tuan Zale, bukankah anda sempat menemui Tuan Duke Alon kemarin? Tidakkah sang Duke mengatakan sesuatu kepada anda?”
Zale mengangguk singkat menanggapi ucapan Irvetta, lalu dia langsung menjawab,”Anda sendiri bukankah pernah menemui Tuan Duke Alon di atas kapal? Saat itu kalau tidak salah ada rumor yang mengatakan bahwa anda sendiri mencoba menghancurkan pagar pembatas yang dibuat oleh Duke Alon untuk wanita itu. Lalu anda naik ke permukaan dan menemui Duke Alon, anda tentu langsung bertanya dan Tuan Duke menjawabnya, bukan? Apa jawaban Tuan Duke atas pertanyaan anda?” Saat Irvetta hendak menjawab, Zale langsung mengangkat telapak tangan kanannya ke arah Irvetta. “Tidak perlu dijawab, karena saya sudah tahu jawabannya. Nona Irvetta, perlu anda ketahui, jawaban Tuan Duke atas pertanyaan anda dan saya adalah sama. Tuan Duke mungkin saja memiliki alasan yang tidak bisa dia beritahukan kepada sembarang kaum Siren begitu saja. Sekian, hanya ini jawaban yang bisa saya berikan. Saya tidak tahu apa jawaban saya dapat menghilangkan rasa bingung milik para bangsawan lain yang terhormat atau tidak, karena saat ini kita sama-sama sedang dilanda kebingungan.” Zale kemudian kembali duduk dengan tenang di kursinya dan diam. Ekspresi bosannya kembali muncul.
Terlihat kepala suku yang duduk di kursi paling tinggi memijit keningnya pelan, mungkin dia merasa lelah karena keadaan kaumnya yang sedang tidak baik-baik saja. Perseteruan antara kaum Siren dan Mermaid masih panjang dan belum selesai, namun kini muncul keponakannya, Alon, malah membuat masalah dengan bermain-main kepada manusia. Kepala suku menghela napas gusar, lalu memperbaiki postur dudunya dan berkata sambil menatap Zale. “Terimakasih banyak, Zale. Anak itu… Benar-benar….”
“Kepala suku! Masih ada sesuatu yang mengganjal di hati saya, dan saya merasa hal ini harus segera saya katakan di depan para tetua dan bangsawan lain!” Tiba-tiba dari salah satu barisan meja bangsawan terdengar suara pria yang berseru mengutarakan isi hatinya dengan ragu-ragu. Zale melirik Siren yang berseru itu dengan malas, kemudian menghela napas lagi secara daim-diam. Ternyata orang yang berseru mengutarakan isi hatinya itu adalah Marquees Iaros.
Marquees Iaros adalah salah satu bangsawan tinggi di kerajaan ini, Siren Sea Kingdom. Marquees Iaros adalah salah satu bangsawan yang menentang Alon. Walaupun Marquees Iaros dan Alon sama-sama beridiri mendukung kepala suku, namun itu bukan berarti hubungan mereka baik. Masalah yang menyebabkan hubungan mereka tidak akur adalah mending Duchess sebelumnya, atau bisa disebut istri Alon di masa lalu yang telah meninggal. Marquees Iaros adalah ayah kandung dari sang mendiang Duchess.
“Katakan, Marquees, apa keluhan yang mengganjal hatimu?” tanya kepala suku. Marquees Iaros mengangguk, kemudian berdiri dan meletakkan telapak tangan kanannya di d**a kirinya, persis seperti apa yang dilakukan Zale sebelumnya. “Sebelumnya, izinkan saya, Marquees Iaros, memberi salam kepada Baginda.” Kepala suku yang mendengar ini langsung mengangguk singkat.
Marquees Iaros beralih menatap Zale. “Jika saya tidak salah dengar, Tuan Zale tadi mengatakan bahwa manusia yang dilindungi oleh sang Duke adalah seorang wanita?” Zale yang mendengar pertanyaan Marquees Iaros tersenyum tipis, dia tahu ke mana Marquees Iaros akan membawa percakapan ini. Zale mengangguk. “Benar, Tuan Marquees.”
Raut wajah Marquees Iaros langsung berubah suram saat mendengar ini, kemudian pria tua itu kembali bertanya,”Apa jangan-jangan sang Duke tertarik dengan manusia wanita itu?” Tepat setelah pertanyaan sang Marquees diluncurkan, seluruh bangsawan menjadi ribut dengan berbisik-bisik. Irvetta yang mendengar ini langsung berkata,”Jika memang sang Duke jatuh hati kepada manusia, Dewa Poseidon tidak akan mungkin merestui. Dan lagi, seharusnya Tuan Duke harus membicarakan hal ini lebih dulu kepada kepala suku dan juga Tuan Marquees Iaros. Hal ini dilakukan untuk menghormati mendiang sang Duchess!” Sangat terlihat sekali bahwa Irvetta saat ini tengah dilanda emosi karena mendengar ucapan Marquees Iaros.
Irvetta, adalah bangsawan dengan gelar kebangsawanan ‘Count’. Saat ini dia adalah kepala keluarga di keluarga besarnya, dia otomatis menyandang gelar ‘Countess’. Irvetta dulunya adalah teman dekat mendiang Duchess, dia masuk ke dalam barisan orang paling setia kepada keluarga Duke Alon, namun hal itu hanya terjadi ketika mendiang Duchess menikah dengan Alon sampai sang Duchess mati. Ada kisah terlarang di tengah-tengah kemegahan Siren Sea Kingdom, kisah itu tentang tragedi kematian sang Duchess. Dan salah satu alasan mengapa sampai saat ini Irvetta tidak pernah dipanggil menggunakan gelar bangsawannya adalah untuk mengenang kepergian sang Duchess. Dia merasa gelar bangsawannya yang tinggi tidak pernah berguna untuk sang Duchess, maka dari itu dirinya sendiri ikut mengubur gelar bangsawannya bersama jasad sang Duchess.
Gilanya, dahulu Irvetta sempat mengajukan permohonan kepada kepala suku agar gelar kebangsawannya dicabut, dia merasa bersalah karena tidak bisa melindungi nyawa sang Duchees. Namun permohonannya ini dibantah oleh seluruh keluarga besar sang Count dan juga kepala suku. Oleh karena itu, kepala suku mengambil jalan tengah untuk Irvetta yang terlihat putus asa. Seluruh kaum Siren tidak perlu memanggil gelar bangsawannya, cukup panggilan ‘nona’ untuk formalitas. Bisa disimpulkan bahwa gelar Irvetta memb***h gelar kebangsawannya sendiri untuk mendiang Duchess.
Zale terkekeh pelan melihat raut wajah emosi Irvetta. “Tenang dulu, Nona Irvetta. Bukankah hal itu masih hanya tebakan Tuan Marquees? Tidak ada yang tahu kebenarannya seperti apa, jadi tolong jangan sembarangan mengambil kesimpulan. Saya adalah orang paling dekat dengan sang Duke, sudah seratus lima puluh tahun saya bersama beliau, saya sangat meyakini bahwa beliau bukanlah tipe orang yang mengambil tindakan tanpa berpikir. Apa pun yang sang Duke lakukan pasti memiliki alasan yang tepat.” Tatapan mata Zale berubah dingin di dua kalimat terakhir, senyum ramah di wajahnya hilang. Zale sudah muak menghadapi para bangsawan.
Irvetta menggertakan giginya kesal, hatinya merasa gelisah. Begitu juga dengan Tuan Marquees Iaros, pria tua itu merasa dingin di hatinya. Jika memang benar Alon tertarik kepada manusia tersebut dan kemudian berniat menikahinya, Alon tidak hanya menentang Dewa Poseidon, tetapi juga telah melupakan putrinya. Setidaknya pria itu harus memberi penghormatan kepada putrinya jika ingin menikah lagi. Bagaimana pun juga, putrinya adalah seorang Duchess walaupun dia sudah tiada.