13. Janji Poseidon Dan Lautan

1270 Kata
Maria duduk di samping Alon, mereka menikmati angin sejuk bersama-sama. Maria menoleh ke arah Alon, menatap pria itu yang sepertinya sedang sibuk dengan pikirannya sendiri. Maria tersenyum tipis, lalu entah dapat dorongan dari mana, dia bertanya,”Apa kau tidak merasa rindu kepada laut?” Alon yang mendengar pertanyaan Maria segera menoleh dan balas menatap maria, kemudian menjawab,”Rindu? Untuk apa?” Maria mengangkat kedua bahunya acuh. “Mana aku tahu, itu ‘kan perasaanmu. Tetapi, bukankah setidaknya kau memiliki sesuatu di dalam laut yang amat berharga? Tidakkah kau rindu dengan yang ‘amat berharga’ itu?” Alon terdiam sejenak, pria itu tidak langsung menjawab. Alon kembali menatap ke depan. “Ya… Di dalam laut aku memiliki sesuatu yang amat berharga.” Maria yang mendengar ini tersenyum tipis lagi. “Benarkan? Aku juga memiliki sesuatu yang sangat berharga.” Lalu Maria menyentuh liontin kalungnya yang dia sembunyikan di balik kain tanktop. Alon memejamkan matanya dan kemudian berbicara sambil menikmati sejuknya angina pagi. “Semua orang pasti memiliki sesuatu yang amat berharga.” “Kalau begitu, apa yang sangat amat berharga milikmu itu?” tanya Maria, matanya masih menatap Alon. Alon lagi-lagi terdiam lebih dulu dan tidak langsung menjawab, tatapan mata pria itu berubah menjadi lebih dingin namun juga samar-samar terlihat kesedihan di dalamnya. “Laut. Sesuatu yang amat berharga untukku adalah laut, namun laut juga menyimpan luka tersendiri untukku. Laut menghadirkan sesuatu yang amat berharga itu, kemudian merampasnya dariku begitu saja. Aku tidak bisa melakukan apa pun saat laut merampasnya, aku juga tidak bisa membenci laut karena laut lah yang menghadirkan sesuatu yang amat berharga itu. Selama seratus tahun, yang bisa aku lakukan adalah menunggu sampai laut menepati janjinya. Janji buku sakral Dewa Poseidon.” Maria tertegun saat mendengar ucapan Alon, dari ucapan serta tatapan pria itu, entah mengapa hati Maria ikut terasa terenyuh. Dia tidak tahu masa lalu apa yang Alon miliki, tetapi sepertinya masa lalu itu sangat pahit. Karena baru pertama kali ini Maria melihat raut wajah Alon yang seperti ini, dingin namun sendu. “Bagaimana denganmu?” tanya Alon tiba-tiba, membuat Maria kembali menatap lurus ke depan kea rah laut sambil tetap memasang senyuman, walaupun senyuman itu terlihat getir. Maria menyentuh liontinnya lagi yang berada di balik tanktop putihnya sambil berkata,”Kenangan bersama kedua orang tuaku. Seperti dirimu, Alon, aku tidak bisa membenci laut walaupun laut lah yang telah menyakitiku. Laut telah mengambil nyawa kedua orang tuaku, tetapi laut juga melindungiku. Jika kamu memiliki sesuatu yang amat berharga dari sang laut, aku juga memiliki pelindung seperti dirimu dari sang laut. Oleh karena itu, aku tidak bisa membenci laut. Yang harus aku lakukan adalah percaya bahwa kejadian ini adalah takdir dan berharap laut menjadi tempat peristirahatan kedua orang tuaku dengan damai. Memang konyol, sebenarnya aku benci mengatakan bahwa tragedi kematian kedua orang tuaku adalah takdir, tetapi mau disangkal sekuat apa pun, memanglah takdir jawabannya.” Alon bertanya lagi,”Apa rencanamu selanjutnya?” Maria yang mendengar ini kembali menatap Alon dengan senyum ketirnya yang masih bertahan. “Aku tidak memiliki rencana, Alon. Jika ada, aku tidak begitu yakin bahwa rencanaku akan berhasil. Keluar dari pulau ini saja aku tidak yakin, bagaimana mungkin aku berani memimpikan rencanaku kedepannya? Satu-satunya rencana yang ada di otakku saat ini hanyalah, ‘bagaimana caranya mati dengan damai’ di sini. Aku ingin menjalani hidup yang damai sebelum aku mati, dan aku sangat bersyukur kau hadir di sini dan menjadi teman bicaraku.” Alon mengangguk mengerti, kemudian melirik ke arah liontin Maria. “Lalu apa yang kau sentuh sedari tadi? Apa itu salah satu barang berharga milikmu?” tanya Alon. Maria yang mendengar ini segera menundukkan kepalanya untuk melihat kea rah liontin kalungnya. Maria menghilangkan senyum ketirnya, kemudian mengangguk. “Benar, ini adalah barang sekaligus kenangan dari kedua orang tuaku yang aku punya. Ini sangat berharga, bahkan aku menyayanginya lebih dari lautan ini.” Deg! Alon yang mendengar kalimat terakhir Maria sedikit membelalakkan matanya, otaknya langsung berkelana ke ingatan masa lalu. Ingatan di mana Duchess-nya dirampas oleh laut secara paksa. Kalimat yang saat itu dia katakana tepat di depan sang Duchess yang sedang sekarat. "Aku mencintaimu lebih dari lautan ini." Dada Alon tiba-tiba terasa sesak karena mengingat Duchess-nya, Alon langsung membuang tatapannya ke samping agar tidak dilihat Maria. Sedangkan Maria, wanita itu tidak memperhatikan ekspresi Alon, dia mulai larut di dalam perasaannya. Maria mengeluarkan lionton kalungnya untuk pertama kali di hadapan Alon. “Aku berharap laut menjadi tempat peristirahatan yang damai untuk kedua orang tuaku dan driku nanti yang akan menyusul tidak lama lagi.” Kemudian Maria menoleh kea rah Alon lagi, keningnya mengerut bingung karena melihat Alon seperti sedang menyembunyikan ekspresinya. Maria yang melihat sikap aneh Alon langsung bertanya,”Ada apa?” Alon yang mendengar ini segera menoleh kembali ke arah Maria, namun lagi-lagi dia dibuat terkejut. Mata Alon terbelalak, tubuh pria itu menegang. Maria yang melihat ini merasa sangat kebingungan, sebenarnya Alon ini kenapa? Maria dibuat terkejut kala Alon tiba-tiba meremas kedua bahunya, membuat Maria semakin bingung dan akhirnya jengkel. “Ada apa?! Katakanlah sesuatu, Alon!” Alon menatap liontin kalung Maria, kemudian kembali menatap Maria dan bertanya,”Dari mana kamu mendapatkan liontin kalung tersebut?” Maria yang mendengar ini hendak menjawab, namun tiba-tiba Alon memotongnya. “Aku tahu ini adalah barang pemberian kedua orang tuamu, namun dari mana mereka mendapatkan ini? Jawab aku dengan jujur, Maria.” Maria pertama-tama melepaskan dulu cengkeraman tangan Alon dari bahunya, kemudian baru menjawab,”Untuk itu aku tidak tahu apa pun, ini adalah jawaban jujurku. Kemudian, kini akum au balik bertanya, ada apa denganmu?” Mata Maria menatap Alon dingin, dia merasa bahwa Alon memiliki rahasia yang tidak dia ketahui. Rahasia besar yang bisa saja bersangkutan pada kalung liontin – laut – dan ‘sesuatu yang amat berharga’ itu. Karena tidak mungkin Alon tiba-tiba langsung bersikap aneh tanpa alasan setelah melihat liontin kalungnya. Melihat Alon diam saja, Maria sekali lagi bertanya,”Sebenarnya ada apa, Alon? Kau bertingkah aneh saat melihat ‘Maria Diamond’.” Alon yang mendengar nama liontin kalung Maria segera bertanya,”Namanya adalah Maria Diamond?” Maria mengerutkan keningnya lagi dengan kesal. “Ya, aku mendapatkan ini di pesta ulang tahunku yang ketujuh, kedua orang tuaku yang memberikannya, kau puas?” Alon tidak membalas lagi ucapan Maria, pria itu juga langsung menarik pandangannya dari Maria Diamond, Alon kembali menatap lurus ke depan kea rah lautan. Alon meletakkan telapak tangan kanannya di keningnya, kemudian tertawa. Tawa Alon pertama-tama pelan, namun kemudian lama-lama menjadi besar. Pria itu seperti tertawa di tengah kesedihan, membuat Maria menjadi semakin bingung. Alon menoleh lagi kea rah Maria, kemudian berkata,”Bantu aku kembli ke bathtub sekarang.” Mendengar ini Maria segera mengngguk dan memilih untuk tidak peduli lagi dengan sikap aneh Alon. Maria sejujurnya merasa penasaran, namun menurut otaknya lebih baik dia tidak perlu mencari tahu. Maria lebih memilih memendam kebingungannya. Maria membantu Alon duduk di atas troli, lalu dia segera mendorong troli itu ke dalam kapal menuju kamar mandi luas tempat Alon sebelumnya. Setelah Alon sudah kembali masuk ke dalam bathtub, Maria memilih langsung beranjak pergi tanpa mengucapkan permisi. Lagi pula, ekspresi Alon terlihat dingin, syok, dan seperti tidak ingin diganggu. Raut wajah pria itu terlihat seperti campur aduk, Maria sulit menentukan perasaan yang sedang pria itu rasakan. Entah sedih, marah, atau bahagia, Maria tidak dapat membacanya. Setelah kepergian Maria, Alon berada sendirian di bathtub. Pria itu menyenderkan tangan kirinya di pinggiran bathtub sambil memijit keningnya pelan, kepala Alon sedikit tertunduk, wajahnya terlihat sedang melamunkan sesuatu. Namun tiba-tiba Alon mengangkat kepalanya, pria itu tersenyum kecut dan bergumam,”Dewa Poseidon, inikah balasan atas janjimu dan lautan?” "Tetapi... Apakah benar?" sambung Alon.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN