Maria berdiam diri di dalam kamarnya merenungkan sikap aneh Alon yang barusan. Bukankah sikap Alon yang barusan terasa sangat aneh? Mengapa pria yang biasanya terlihat selalu begitu tenang, namun barusan tiba-tiba berubah menjadi terlihat berbeda? Ketenangan yang selalu menyelimuti Alon menghilang dalam sekejap, Maria tidak bisa mengerti Alon sama sekali.
Sampai akhirnya siang hari, Maria mencoba untuk mengunjungi Alon dengan niat mengajaknya makan siang, namun tidak seperti biasanya, Alon kini menolaknya, bahkan melihat ke arahnya pun tidak. Maria menghela napas gusar, sebenarnya apa yang terjadi? Kesalahan apa yang telah dia perbuat yang mungkin dia lakukan tanpa sadar? Atau apakah ada momen di mana dia melewatkan hal penting yang membuat Alon seperti ini? Maria benar-benar memikirkannya. Bahkan saat sedang memasak, wanita itu berulang kali berdecak kesal tanpa sadar.
Maria perjalan pergi ke atap ruang kemudi kapal untuk menenangkan pikirannya. Terik matahari secara langsung mengenai permukaan kulitnya, Maria tidak terlalu memperdulikannya, sekarang dia hanya ingin ketenangan untuk hatinya. Maria berdiam diri di atas atap ruang kemudi selama satu jam, namun hatinya tak kunjung terasa tenang. Kesal, itu yang dia rasakan.
“Argh! Bikin gila saja!” rutuk Maria sambil memijit kening kepalanya. Semakin dia ingin ‘bodo amat’, semakin pula dia susah untuk ‘bodo amat’. Benar-benar memuakkan, mengapa Alon tiba-tiba bersikap seperti ini?
Maria bangkit dari duduknya, lalu berjalan turun dari atas atap ruang kemudi menggunakan tangga. Karena terlalu sibuk dengan pikirannya, Maria tidak sadar bahwa dari pertama kali dia duduk di atas atap ruang kemudi, ada sepasang mata berwarna cokelat yang memperhatikannya secara intens. Tatapan mata itu berasal dari dalam laut, dia hanya memunculkan bagian kepalanya sampai sepasang mata cokelatnya. Pemilik tatapan itu juga turut kembali menyelam ke dalam laut kala Maria memutuskan untuk turun dari atas atap ruang kemudi kapal.
Maria mmutuskan untuk mengunjungi Alon dan bertanya secara langsung, wanita itu tidak peduli dengan respon dingin atau ketus yang akan Alon berikan padanya nanti. Maria tanpa permisi langsung membuka pintu kamar mandi keras, kedua sudut alisnya menyatu dan tatapan matanya memancarkan tekad keberanian.
“Alon!” seru Maria sambil membuka pintu kamar mandi keras, mengagetkan Alon yang tengah seperti biasa merenungkan sesuatu yang Maria tidak ketahui. Alon tidak menjawabnya dan hanya menatap penuh tanda tanya ke arah Maria.
Maria tidak mempedulikan raut wajah bingung bercampur kesal milik Alon karena sudah dia buat terkejut, Maria langsung melanjutkan dialognya. “Sudah menumpak, berperilaku tidak jelas, menyebalkan, sok pemimpin, merepotkan, dan sekarang tiba-tiba tanpa alasan yang jelas mengacuhkanku, argh! Rasanya kepalaku ingin sekali pecah!”
Alon tidak menjawab dan hanya diam, matanya yang dingin memperhatikan raut wajah marah Maria. Maria sekali lagi tidak peduli dan melanjutkan,”Aku tahu kau telah menolong dan melindungiku, tetapi tidak seharusnya kau memperlakukan aku seperti ini. Sepanjang hari akum eras bersalah padamu dengan alasan yang tidak aku ketahui. Aku sudah merenung di atas atap ruang kemudi kapal di tengah teriknya matahari namun juga tak kunjung mendapatkan ketenangan dan jawaban. Kau-!”
Saat Maria masih ingin terus melanjutkan ocehannya tentang keluh kesah dan resah hatinya selama ini, tiba-tiba Alon tertawa sambil menatap dirinya. Tatapan mata pria itu tidak sedingin sebelumnya, kali ini terlihat lebih hangat. Maria yang melihat Alon malah tertawa, merasa bingung. Ada apa? Apa yang lucu? Apa dia akan tertawa gila lagi seperti sebelumnya? Tetapi… Tatapan mata pria itu saat sedang tertawa terlihat sedikit berbeda.
“Apa yang sedang kau tertawakan?” tanya Maria dengan raut wajah jengkel, kali ini dia sedang berada di mode serius. Mode yang dia gunakan untuk menggantikan acara meeting ayahnya bersama para klien perusahaan. Alon yang melihat raut wajah jengkel Maria, menggelengkan kepalanya pelan. “Seratus tahun… Seratus tahun aku menunggu laut menepati janjinya, Maria. Seratus tahun.”
Maria yang mendengar Alon malah membicarakan sesuatu yang tidak dia mengerti segera mengerutkan keningnya bingung. Kali ini apa lagi yang pria ini maksud? Sungguh, terlalu banyak rahasia yang Alon miliki. Jika pria itu ingin mengatakan sesuatu tentang rahasianya, setidaknya beritahukan dulu dirinya agar Maria paham. Tetapi Alon tidak, pria itu langsung mengucapkan sesuatu tanpa perkenalan topik lebih dulu.
“Aku tidak tahu apa yang kau maksud dan aku tidak tahu janji laut apa yang kau tunggu, aku sama sekali tidak paham. Alon, lebih baik sekarang berterus terang dengan apa yang kau maksud, atau setidaknya pengenalan topik lebih dulu sebelum berbicara,” ujar Maria dengan nada bicara emosi. Ayolah… sekarang lebih baik saling terbuka.
Melihat Alon hanya diam dan tidak menggubrisnya, kekesalan Maria bertambah. Dan lagi, pria itu kini tersenyum ke arahnya dengan tidak jelas, membuat Maria jengkel. Kali ini aapa lagi yang sedang pria itu pikirkan? Bukankah sebelumnya dia terlihat tidak ingin diganggu, ketus, dan dingin? Mengapa sekarang terlihat berbeda? Sangan berbending terbalik dengan sebelumnya.
“Apa kau benar-benar tidak ingat siapa aku sebelum kita bertemu? Apa semua ingatanmu dihapus setelah reinkarnasi?” tanya Alon lagi, membuat Maria semakin bingung. Maria memijit pilipis kepalanya. “Alon, jika kau sudah gila karena persoalan barusan, lebih baik sekarang kau kembali ke laut dan menemui… Siapa? Apa sebutannya?... Ya… Kepala suku! Jangan pedulikan aku dan tidak perlu khawatir, kemungkinan terburuk yang akan terjadi padaku setelah kau pergi mungkin hanya kematian.” Maria mengucapkan semua itu sambil tersenyum jengkel ke arah Alon.
Alon tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya pelan, lalu berkata,”Janji laut dan perkataan Dewa laut Poseidon tidak pernah keliru. Tetapi sepertinya mereka tidak mempertahankan semuanya, salah satunya adalah ingatan.” Setelah mengatakan ini, perlahan senyum di wajah Alon memudar. Pria itu memperbaiki posisi menyendernya agar terasa lebih nyaman, kemudian dia memejamkan matanya. Kali ini Alon terlihat seperti manusia yang sedang putus cinta setelah sebelumnya tersenyum manis karena cinta.
Maria menatap Alon dengan tatapan tidak mengerti, sepertinya berbicara kepada Alon sekarang adalah usaha yang sia-sia. Maria menghela napasnya gusar, kemudian berbalik dan berjalan keluar dari kamar mandi. Namun sebelum berbalik, wanita itu sempat berkata,”Aku tidak tahu apa yang sedang kau bicarakan, aku yakin bahwa seorang Duke dari kaum Siren tidak mungkin mengalami gejala sakit jiwa begitu saja. Jadi aku harap di lain waktu kau mau menceritakan semuanya. Dan satu lagi, jangan mengacuhkan aku. Aku tahu ucapanku terdengar ambigu, tetapi sungguh, hatiku terasa tidak nyaman saat melihat kau mengacuhkan aku seperti ini.”
Begitu pintu kamar mandi Maria tutup, Alon membuka matanya yang tadi terpajam dan menatap intens kea rah pintu. Alon tersenyum tipis, namun senyumnya terlihat sedikit kecut tetapi juga tulus. “Aku harap Dewa Poseidon mengembalikan dirimu kepadaku. Baik Maria atau Mariana, aku yakin kau adalah orang yang sama. Orang yang aku cintai di kehidupan ini, sebelumnya, atau pun selanjutnya. Janji laut tidak pernah ingkar, dan perkataan Dewa Poseidon tidak pernah keliru.”