Irvetta diam-diam naik ke permukaan laut, dia sekali lagi ingin melihat kapal pesiar milik manusia yang Alon lindungi. Sebenarnya bukan sang kapal yang ingin dia lihat, yang ingin dia lihat adalah Maria, manusia yang menjadi topik hangat di Siren Sea Kingdom. Saat dia mengintip dari permukaan laut, Irvetta melihat seorang wanita memanjat anak tangga dan hendak naik ke atas atap suatu ruangan. Irvetta tidak tahu ruangan apa itu, dia juga tidak terlalu peduli, dia sibuk memperhatikan wanita tersebut.
Bola mata Irvetta yang berwarna cokelat terus menerus memperhatikan Maria secara diam-diam. Posisi mereka adalah Maria yang memunggungi Irvetta, hal ini membuat Irvetta kesulitan melihat wajah Maria. Namun, ketika berusaha untuk secara sembunyi-sembunyi melihat wajah Maria dari arah lain, tiba-tiba Irvetta teringat akan sesuatu. Postur tubuh belakang Maria mengingatkannya kepada seseorang, membuat Irvetta menegang.
Irvetta yang tadinya ingin mengubah posisinya berada untuk melihat wajah Maria menjadi terdiam dan mematung di tempatnya. Apa lagi saat mendengar Maria menggerutu frustasi, membuat Irvetta semakin terasa tegang. Postur tubuh saat dilihat dari belakang, warna kulit, dan bahkan suara milik Maria sangat mengingatkan Irvetta kepada sahabat sekaligus atasannya yang sudah tiada.
“Duchess…,” gumam Irvetta tanpa sadar, matanya menatap Maria tanpa berkedip, seolah takut jika dia berkedip sekali saja, sosok di depannya akan hilang secara misterius. Ketika melihat Maria bangkit dari posisi duduknya, Irvetta langsung memasang raut wajah sedih. Tanpa sadar dia melupakan apa tujuannya naik ke permukaan secara diam-diam.
Saat Maria memutar tubuhnya ke samping untuk turun menggunakan anak tangga, Irvetta tidak bisa melihat wajah Maria dengan jelas, hal ini disebabkan karena pantulan cahaya yang dibuat oleh suatu benda seperti kaca.
Irvetta berusaha keras agar dapat melihat wajah Maria, namun sangat sulit. Yang Irvetta liat saat memaksakan pengelihatannya adalah sebuah liontin kalung yang terlihat tidak asing baginya. Liontin yang dia lihat seratus tahun lalu dan sampai saat ini menghilang entah ke mana, pergi dan lenyap begitu saja dari lautan seperti sang Duchess-nya.
Saat cahaya terang yang menyorot matanya hilang, pengelihatan Irvetta menjadi sedikit buruk. Namun ini tidak serius, hanya sedikit buram dan muncul warna biru dari pengelihatannya. Ini biasa dia rasakan saat sedang tidak sengaja menatap cahaya yang sangat terang.
Irvetta kembali menyelam ke dalam laut dengan pikiran kosong, perasaan hatinya kini menjadi campur aduk. Sebenarnya apa yang dia barusan lihat? Apakah barusan dirinya berhalusinasi? Tetapi… Dia sudah memperhatikan Maria selama satu jam, tidak mungkin halusinasinya terjadi begitu lama di keadaan sadar. Diam-diam di hati serta otak Irvetta muncul pertanyaan,”Apa mungkin ucapan Dewa Poseidon tulis di buku sakral untuk kaum Siren adalah nyata?” Irvetta benar-benar linglung, dia bahkan berenang dengan tatapan kosong. Raut wajah Irvetta terlihat dingin, sehingga para Siren yang bertemu dengannya tidak ada yang berani menyapa.
Ditengah-tengah lamunannya, Irvetta dikejutkan oleh tepukan di bahu kirinya. “Irvetta!” Suara itu menyapanya dengan akrab. Irvetta yang merasa jengkel dan sedang tidak ingin diganggu segera menjawab ketus,”Ada apa? Saat ini aku sedang tidak ingin diganggu. Jika apa yang ingin kamu bicarakan tidaklah penting, lebih baik tutup mulutmu dan segera menjauh dariku.” Tatapan mata Irvetta terlihat tajam dan mengancam.
Siren yang tadi menyapa Irvetta tersenyum tipis, lalu membalas,”Mengapa saat ini suasana hatimu terkesan buruk, Irvetta? Apa ada sesuatu yang telah terjadi? Dari arah kau kembali, sepertinya baru saja kau diam-diam naik ke permukaan, ya?” Pria dengan perawakan seperti Alon namun memiliki warna kulit yang eksotis tengah mempermainkan perasaan jengkel Irvetta.
“Hali, jika kau ingin menyampaikan sesuatu, maka cepat sampaikan,” ujar Irvetta sambil menahan emosi di hatinya.
Hali, dia adalah Siren pria yang memiliki hubungan keluarga dengan Irvetta. Hali yang berperan sebagai asisten pribadi kepala suku sekaligus adik sepupu dari Irvetta juga menjadi salah satu Siren yang disegani di dalam laut. Kulit pria itu berwarna cokelat, senyumnya sangat manis dan menawan. Kedua bola mata Hali berwarna ungu cerah, sedangkan warna rambut pria itu memiliki warna yang sama seperti Irvetta, Cokelat.
Di dalam laut, khususnya kaum Siren, Siren pria yang dianggap rival seorang Hali adalah Zale. Zale dan Hali sama-sama memiliki perawakan tubuh yang sama, mereka juga mempunyai paras wajah serta senyuman yang sangat manis. Perbedaan yang ada pada diri mereka hanyalah warna kulit, mata, serta rambut. Keduanya sama-sama memiliki gelar bangsawan dan posisi tinggi, membuat para Siren wanita tidak bisa berhenti melirik mereka berdua. Satu-satunya Siren wanita yang memandang muak ke wajah mereka berdua adalah Irvetta.
Hali tertawa ringan, senyum tawa pria itu sangat manis. “Baiklah, aku juga mempunyai kesibukan lain. Kepada Nona Irvetta yang terhormat, kepala suku memanggil anda ke Istana.” Ucap Hali. Irvetta yang mendengar ini langsung menaikkan sedikit alis kirinya bingung. “Untuk apa? Bukankah saat ini sudah tidak perlu ada yang dibahas? Dan lagi, masalah dengan kaum Mermaid sudah ditangani oleh Tuan Marquees Iaros.
Hali mengangguk. “Benar, namun Nona, apakah harus ada masalah genting yang terjadi lebih dulu sehingga Kepala suku baru bisa memanggilmu?” Saat Irvetta hendak menjawab, tiba-tiba Hali menarik lengan Irvetta dan berenang cepat menuju Istana sambil berkata,”Tidak baik membuat Baginda menunggu, jadi cepat kita bergegas. Pekerjaanku masih sangat banyak, tidak hanya fokus padamu.”
Ketika mereka sudah sampai di Istana, Irvetta segera memasuki ruangan kerja kepala suku dan duduk sopan di depan wanita itu. Sedangkan Hali, dia berdiri di belakang kursi yang diduduki oleh kepala suku.
“Nona Irvetta, saya tahu ke mana barusan anda pergi,” ucap sang kepala suku. Irvetta yang mendengar ini langsung beranjak berdiri dan membungkuk. “Saya menyadari kesalahan saya, tidak seharusnya saya sembarangan naik ke permukaan.” Kepala suku yang mendengar ini tersenyum tipis. “Santailah, Nona Irvetta. Aku tidak mempermasalahkan ke mana kamu pergi, karena aku tahu kau adalah Siren wanita yang cerdas. Anda tidak mungkin sembarangan menunjukkan wujud anda kepada para manusia,” ujar kepala suku.
Irvetta menegakkan lagi tubuhnya, kemudian memaksakan senyum dan kembali duduk di kursinya. Setelah itu, Irvetta segera bertanya,”Lalu apa yang ingin anda ketahui, Baginda?”
Kepala suku yang mndengar pertanyaan Irvetta segera menghilangkan senyum di wajahnya, lalu menjawab,”Apa yang kau lihat di kapal itu? Apa kau melihat manusia yang rumornya membuat Duke Alon terikat?” Irvetta yang mendengar ini terdiam sejenak, dia tidak langsung menjawab. Irvetta kembali teringat dengan apa yang dia lihat di kapal itu. Manusia yang mengingatkannya kepada sang mendiang Duchess.
Irvetta diam-diam merasa dilemma, haruskah dia ceritakan kepada kepala suku apa yang telah dia lihat? Jika dia mencoba menceritakan semuanya, apakah kepala suku akan percaya? Walaupun memang di buku sakral yang diberikan oleh Dewa Poseidon kepada kaum Siren tertulis seperti itu, namun jarang ada bukti langsungnya. Pada akhirnya, kalimat yang Dewa Poseidon tulis itu banyak dihiraukan atau tidak dianggap serius oleh para kaum Siren.
Melihat Irvetta terdiam lama, kepala suku segera bertanya untuk menyadarkannya. “Nona Irvetta?”
Irvetta segera tersadar dan memperbaiki postur duduknya. Dengan tatapan mata yang serius, Irvetta bertanya,”Baginda, apakah anda percaya dengan janji laut serta ucapan Dewa laut Poseidon yang menjelaskan tentang adanya kehidupan selanjutnya?”