16. Bagaimana Jika Laut Mengabaikan Janjinya?

1157 Kata
“Baginda, apakah anda percaya dengan janji laut dan ucapan Dewa laut Poseidon yang menjelaskan tentang adanya kehidupan selanjutnya?” ____ Kepala suku yang mendengar pertanyaan Irvetta tidak langsung menjawab. Wanita yang berumur lebih dari tujuh ratus tahun itu termenung sejenak. Hali yang mendengar pertanyaan Irvetta yang terdengar konyol di telinganya segera berkata,”Nona Irvetta, apa yang sedang anda bicarakan?” Kali ini dia berbicara kepada Irvetta dengan bahasa yang formal karena kehadiran Kepala suku. Irvetta beralih menatap Hali, lalu menjawab,”Apa yang saya bicarakan? Tentu saja tentang firman Dewa laut Poseidon, Tuan Muda Hali. Di halaman dua ratus sekian dari buku sakral kaum Siren terdapat firman Dewa laut Poseidon mengenai kehidupan kedua untuk para Siren. Tidak mungkin anda tidak tahu ‘kan?” Saat Hali hendak membalas ucapan Irvetta, kepala suku sudah lebih dulu bicara kepada Irvetta. “Selama jutaan tahun yang lalu belum ada bukti dari kebenaran kehidupan selanjutnya yang diterima oleh para Siren. Namun, karena hal itu tertulis di buku sakral kaum Siren yang diberikan oleh Dewa Poseidon, tentu itu pasti tidak akan pernah salah. Karena Dewa Poseidon tidak mungkin keliru atau berbohong. Dan… Lalu, apa hubungannya kehidupan selanjutnya dengan Duke Alon?” Irvetta kembali terdiam, hatinya merasa ragu untuk membicarakan tentang apa yang dia lihat barusan saat naik ke permukaan. Irvetta mengambil napas dalam, kemudian menatap kepala suku dengan tatapan matanya yang tajam. “Jika saya mengatakan bahwa manusia yang Duke Alon lindungi adalah reinkarnasi dari mendiang Duchess Mariana, apakah anda akan percaya?” Zale dan kepala suku terdiam, menatap Irvetta penuh dengan tanda tanya. Mengapa Irvetta tiba-tiba mengatakan hal seperti itu? Jika Siren lain yang mengatakannya, mungkin akan sulit untuk dipercaya, namun sayangnya yang mengatakan hal ini adalah Irvetta langsung. Salah satu bangsawan yang pernah mengabdi kepada mendiang Duchess Mariana dengan rasa setia tak terbatas. *** “Mariana….” “Mariana….” “Mariana…!” Maria membuka matanya, dadanya lagi-lagi terasa sangat sesak. Maria berusaha memperhatikan keadaan ruangan sekitar, kepalanya terasa pening dan tatapan matanya terlihat buram. Suara Alon yang memanggil nama ‘Mariana’ terdengar, Maria kembali merasa kebingungan. Apa saat ini dia sedang berada di dalam mimpi? Lalu mengapa rasa sesak di d**a serta pening di kepalanya terasa sangat nyata? Seolah ini bukan mimpi. Pemandangan Alon yang menangis, memohon dirinya untuk tidak pergi meninggalkannya lagi-lagi Maria lihat. Semua kejadian di sini persis seperti mimpi yang dia alami kemarin. “Bertahanlah, Mariana. Aku bersumpah atas nama Dewa Poseidon, aku tidak akan membiarkanmu mati! Laut tidak boleh merampasmu dariku!” seru Alon di sampingnya sambil meneteskan air mata, tangan pria itu yang menggenggam tangan kanannya erat terasa dingin. Seluruh emosi dan apa yang Maria lihat sekarang benar-benar terasa nyata, bahkan rasanya dia juga ingin menangis. Ketika Maria masih terdiam dan hanya menatap penuh iba ke Alon, idia terkejut karena tiba-tiba bibirnya bergerak sendiri. “Janji… Janji lautan,” ujar bibirnya, Maria juga merasa terkejut dan heran. Suaranya persis miliknya, dan dia sadar bahwa yang berbicara itu adalah bibirnya. Namun, itu bukan dirinya! Maria yang masih kebingungan terdiam dengan perasaan sesak serta pening, dia sudah tidak bisa berbicara lagi. Dia merasa tubuhnya dikendalikan sesuatu, Maria akhirnya hanya pasrah dan membiarkan semuanya berjalan begitu saja. Alon mencium punggung telapak tangan Maria, air mata pria itu kini turut membasahi punggung telapak tangannya. “Benar, janji lautan. Ucapan Dewa Poseidon tidak mungkin keliru, dan janji lautan tidak mungkin ingkar.” Kemudian pria itu mengangkat kepalanya dan menatap Maria. “Aku mencintaimu untuk kehidupan ini, lalu, dan selanjutnya.” Ketika Alon selesai berbicara demikian, Maria merasakan bahwa tangan kanannya yang digenggam oleh Alon bergerak sendiri. Tangan kanan Maria bergerak menangkup dan mengelus pipi Alon. Jari-jari lentiknya dengan lembut menghapus air mata Alon. “Aku akan menunggumu selamanya, Mariana. Jika lautan sungguh menepati janjinya, bahkan setelah seribu tahun, aku akan tetap setia menunggumu,” ucap Alon lagi. Maria menggertakkan giginya diam-diam, dia ingin bicara dan mengatakan sesuatu kepada Alon, namun mengapa mulutnya sulit sekali untuk bebricara?! Ketika Maria masih sibuk berusaha membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu kepada Alon, tiba-tiba matanya terasa berat. Rasa kantuk menyerangnya, Maria kesusahan untuk menjaga kesadarannya. Maria menggenggam erat tangan Alon, bersamaan dengan itu Alon langsung berseru sambil menarik tubuhnya lembut ke dalam pelukannya. “Cepat panggil tabibnya! Bagaimana mungkin sampai saat ini dia belum datang?! Di mana Irvetta?!” “Mariana! Aku mohon, untuk diriku, bertahanlah Mariana!” ucap Alon sambil mengguncang bahunya pelan. Maria sudah tidak kuat lagi, matanya benar-benar terasa berat. Saat ini matanya perlahan mulai tertutup rapat, namun telinganya masih mampu untuk mendengar kebisingan di sekitar. Tetapi beberapa saat kemudian, pendengarannya pun mulai menghilang. Yang dapat Maria rasakan saat ini hanyalah kegelapan, kesunyian, dan rasa pengap. Maria lalu merasakan tubuhnya seperti melayang ke atas, kemudian dijatuhkan lagi ke bawah dengan kecepatan tinggi. Maria sudah membuka matanya saat kebisingan barusan menghilang, namun yang dapat dia lihat hanyalah kegelapan dan kejatuhan dirinya yang tiada ujung. Bunyi yang dapat memekakkan telinga terdengar, suara itu seperti drumb yang dipukul kuat. Maria menutup kedua telinganya, suara bising itu benar-benar mengganggu telinganya, kepalanya bahwa dibuat pusing. Seperti selesai terjatuh dari ketinggian dan mendarat kasar, Maria terkejut bukan main. Namun posisinya saat ini tidak seperti terjatuh dari ketinggian pada umumnya. Maria mendapati dirinya berdiri, lalu di belakangnya ada Alon yang berdiri tegak menggunakan kedua kaki manusia, bukan ekor ikan. Alon merangkul bahunya, tatapan mata pria itu lurus ke depan dengan tajam dan dingin. Maria menyadari bahwa mereka berdua berdiri di posisi yang sama seperti mimpinya kemarin. Alon tiba-tiba meliriknya, membuat Maria terkejut sebentar karena kontak mata yang tiba-tiba. “Lautan tidak pernah mengingkari janjinya, Dewa Poseidon juga tidak pernah keliru,” ucap Alon. Maria terdiam sambil menatap Alon, dia tidak punya kata-kata untuk menjawab, tetapi dia mempunyai segudang kata-kata untuk bertanya. Maria membenarkan postur berdirinya, lalu berbalik menghadap Alon, menatap sepasang mata dingin milik pria itu tanpa ragu. “Jika laut mengingkari janjinya, dan ucapan Dewa Poseidon keliru, apa yang akan kau lakukan?” Maria mencoba berani bertanya dan menanggapi ucapan Alon yang sebenarnya tidak dia mengerti. Alon menjawab tanpa menggeser tatapannya ke arah lain, pria itu tetap fokus menatap sepasang mata Maria yang terlihat hangat. “Aku tidak percaya bahwa laut melakukan ingkar janji, dan aku juga tidak percaya bahwa Dewa Poseidon keliru atas ucapannya.” Maria tersenyum tipis melihat keseriusan di tatapan serta nada bicara Alon. “Benarkah? Aku sangat tersanjung dengan keyakinanmu. Namun, aku selalu bertanya-tanya, tentang apa yang telah laut janjikan padamu?” “Dirimu. Laut menjanjikanmu dirimu,” balas Alon langsung, membuat Maria mengerutkan keningnya. “Apa kau mudah keliru? Maria dan Mariana, bukanlah orang yang sama,” tegas Maria. Alon menggelengkan kepalanya pelan. “Kau mungkin tidak akan paham sekarang, biarkan lautan sendiri yang akan menjelaskannya padamu.” Maria menganggukkan kepalanya pelan, lalu kemudian dia berkata,”Jika laut mengabaikan janjinya padamu, apakah kau akan menghabiskan waktu dengan sia-sia untuk merindukannya?” Alon yang mendengar pertanyaan Maria mengangguk, lalu menjawab,”Merindukanmu lebih baik dari pada tidak sama sekali.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN