17. Adelino

1202 Kata
"Jika laut mengabaikan janjinya padamu, apakah kau akan menghabiskan waktu dengan sia-sia untuk merindukannya?” Alon yang mendengar pertanyaan Maria mengangguk, lalu menjawab,”Merindukanmu lebih baik dari pada tidak sama sekali.” ____ Maria tertegun, untuk sesaat suasana menjadi hening setelah Alon membalas pertanyaan seperti itu. Tak lama kemudian Maria memutus tatapan mata mereka, kemudian berkata,”Sulit untuk percaya hal seperti itu. Namaku Maria, bukan Mariana. Dan lagi, aku merasa Mariana tidak mirip denganku sama sekali. Jangan samakan aku dengan mantan istrimu yang sudah tiada.” Alon yang mendengar ini tersenyum tipis, membuat Maria kembali menatapnya dengan bingung. Alon mengambil pelan liontin kalung Maria, lalu mencium liontin tersebut. Setelah Alon menciumnya, tiba-tiba cahaya putih yang sangat terang muncul dari kalungnya. Bersamaan dengan itu, terdengar Alon berkata,”Biarkan laut yang menjelaskan semuanya, Maria.” Kedua mata Maria langsung terpejam karena tidak kuat dengan cahaya putih yang tiba-tiba muncul dari kalungnya. Sensasi seperti dibawa terbang tinggi, lalu dijatuhkan begitu saja kembali muncul. Ketika rasanya Maria sudah sampai di penghujung kejatuhannya, Maria tersentak kaget dan segera membuka matanya. Kala kedua mata Maria terbuka, Maria mendapati dirinya tengah duduk di atas kasur. Tubuh Maria lagi-lagi basah disebabkan oleh keringat seperti malam sebelumnya. Maria memijit keningnya, dia menghela napas gusar karena mengalami mimpi yang aneh lagi malam ini. Maria turun dari kasurnya, kemudian dia berjalan ke luar kamar. Tenggorokannya terasa kering, dia menyesal karena lupa membawa air minum sebelum beranjak tidur sebelumnya. Ketika dirinya melewati kamar mandi yang ditempati oleh Alon, langkah kaki Maria segera berhenti. Maria menatap pintu kamar mandi yang ditutup rapat, kepalanya kembali mengingat kejadian mimpi barusan. Mimpi malam ini dan yang kemarin terasa begitu nyata, sangat sulit bagi Maria untuk melupakannya. Banyak perkataan dan momen di dalam mimpi yang Maria tidak mengerti, terutama tentang Mariana, Janji lautan, dan kalimat yang mengatakan bahwa ucapan Dewa laut Poseidon tidak mungkin keliru. Ketika terbangun dari mimpi juga mata Maria selalu sembab, tubuhnya basah kuyup karena keringat, napasnya terengah-engah seperti telah berlari puluhan kilo meter. Terlalu banyak rahasia di dunia ini, membuat Maria sakit kepala. Tidak bisakah dia menjadi wanita biasa yang hidup bahagia dana man bersama keluarga kecil dan jika memungkinkan bisa ditambahkan oleh kekasihnya? Tidak, Maria tidak memiliki kekasih. Namun, wanita mana yang tidak pernah mendambakan seorang kekasih impian? Maria menghela napasnya gusar sekali lagi, lalu kemudian melanjutkan perjalannya menuju dapur kapal. Selesai membasuh tenggorokannya dengan air segar, Maria bergegas kembali menuju kamarnya. Namun saat sedang melewati jendela kapal yang mengarah langsung ke luar, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang melolong. Tunggu, tidak bisa disebut melolong juga, tetapi… Entahlah, Maria tidak tahu, yang pastinya suara ini bukanlah suara nyanyian Siren. Suara itu berbunyi seperti… “Whhooo!” “Hooo!” “Hooo!” Suara seperti sedang memanggil sesuatu, dia juga memiliki nada yang khas, membuat Maria menjadi penasaran. Maria berjalan ke luar dari ruangan dalam kapal, lalu berjalan ke pembatas kapal dan celingak celinguk ke kanan dan ke kiri untuk mencari sumber suara tersebut. Maria tidak melihat apa pun, sangat sulit karena minim pencahayaan. Satu-satunya cahaya di sini adalah lampu-lampu yang ada di kapalnya. Maria memutuskan untuk mengambil teleskop di ruang kemudi kapal, lalu menggunakannya untuk mencari ke sudut-sudut yang tidak dijangkau oleh cahaya. Saat teleskopnya sudah Maria gunakan, Maria mencari sumber suara dengan cekatan. Ketika dia megarahkan teleskopnya ke daerah pantai, Mata Maria segera terbelalak karena melihat makhluk manusia setengah ikan yang terdampar di tepi pantai dengan jaring nelayan raksasa melilit ekornya. Maria dengan cepat meninggalkan teleskopnya dan mengambil senter, kemudian berlari turun dari kapal dan berlari mendekati sosok manusia setengah ikan tersebut. Maria tidak begitu tahu sosok itu bagian dari Siren atau Mermaid, dia tidak terlalu memikirkannya, karena yang pasti manusia setengah ikan itu sedang membutuhkan bantuan. Ketika kira-kira jarak mereka sudah lumayan dekat, Maria mengganti langkah lari cepatnya dengan berjalan hati-hati, dia khawatir sosok manusia setengah ikan itu akan ketakutan dan terkejut melihat kehadirannya. Saat si manusia setengah ikan menyadari kehadiran Maria, dia terkejut dan berusaha untuk kabur ke dalam laut, namun gagal karena ekor ikannya terlilit jaring raksasa nelayan. Ekornya tidak bisa digerakkan, dia membatu dengan perasaan takut menatap Maria. Maria yang menyadari ketakutannya segera berkata,”Tenang, tidak perlu takut, aku tidak mempunyai niat buruk.” Selepas Maria berbicara demikian, sosok manusia setengah ikan itu makin terlihat garang, dia tiba-tiba menyodorkan telapak tangan kanannya ke arah Maria dan mengeluarkan sihir kecil. Sosok itu berusaha menyakiti Maria! Maria yang melihat cahaya keluar dari telapak tangan sosok manusia setengah ikan berkelamin pria itu terkejut, dia hendak menghindar namun terlambat. Maria memejamkan matanya, namun dia tidak merasakan serangan atau rasa sakit apa pun, justru suara ‘boom!’ tiba-tiba terdengar dengan sangat jelas di telinganya. Maria membuka matanya, lalu terkejut kala melihat dadanya yang memiliki tanda kepemilikan Alon menyala berkedip-kedip. Cahaya berwarna biru itu muncul dari tanda kepemilikan Alon dan terlihat indah. Maria memutus rasa terkejutnya, lalu menatap sosok manusia setengah ikan itu lagi yang terlihat terkejut. Maria tersenyum tipis, lalu berkata,”Ada apa? Tenang, aku benar-benar tidak memiliki niat jahat apa pun padamu. Percaya padaku, aku hanya ingin membantumu.” Sosok manusia setengah ikan itu menatap ragu ke arah Maria, Maria tetap mempertahankan senyumnya dan kemudian berjalan mendekati sosok manusia setengah ikan tersebut. Maria berjongkok di depannya, menatap wajah pria itu. Bola matanya berwarna merah darah, dan rambutnya berwarna emas. Benar-benar tampan, tetapi Maria kesampingkan hal itu lebih dulu. Maria beralih menatap ekor pria itu, kemudian berkata,”Benar-benar menjengkelkan, mengapa masih ada manusia yang tidak bertanggung jawab seperti ini? Membuang sampah sembarangan ke laut tanpa ragu, apakah benar dia pelaut sejati? Pelaut atau nelayan sejati seharusnya menghargai lautan.” Maria mengeluarkan pisau cutter yang tadi sempat dia ambil bersamaan dengan senter, kemudian mulai menyayat tali jaring raksasa tersebut sampai jaring tersebut benar-benar putus dan lepas dari ekor ikan pria itu. Butuh waktu sekitar sepuluh menit untuk Maria membebaskan pria itu dari jaring raksasa nelayan, setelah selesai Maria segera menaruh jaring tersebut di sampingnya untuk dia simpan di dalam kapal. Tidak mungkin dia buang kembali ke lautan, itu sama saja. Maria menatap mata merah pria itu yang ternyata sudah memperhatikannya sedari tadi saat sedang fokus memotong tali jaring. Maria tersenyum tipis. “Apa sudah terasa lebih baik?” Saat Maria tersenyum dan bertanya demikian, tiba-tiba pipi pria itu memerah. Manusia setengah ikan itu memalingkan wajahnya, malu menatap Maria. Maria terkejut melihat sikap malu-malu manusia setengah ikan di hadapannya, terlebih lagi sosok ini adalah seorang pria. Malu-malu padanya? Astaga… Sangat lucu sekali! Mungkin dia terkejut karena belakangan ini manusia setengah ikan yang berada di kapalnya selalu memasang wajah datar tanpa ekspresi. “Siapa namamu? Ah… Ya, salam kenal, namaku Maria,” ucap Maria sambil menyodorkan tangan kanannya ke arah pria itu. Pria itu segera menoleh dengan wajah yang masih merona malu dan menatap tangan kanan Maria, dia dengan ragu membalas uluran tangan Maria dan berkata,”Adelino.” Maria menganggukkan kepalanya mengerti, lalu menarik uluran tangannya dan kembali bertanya. “Maaf, jika aku boleh tahu, dari kaum mana kamu berasal?” Adelino menatap bola mata cokelat Maria yang indah, kulit putih bersih yang dimiliki Adelino benar-benar indah. Ditambah saat ini pipi Adelino sedang memerah, menambah ketampanan dan juga hal imut tersendiri untuknya. “Mermaid,” jawab Adelino.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN