“Mermaid,” jawab Adelino.
____
Senyum wajah di Maria luntur saat mendengar ini, kemudian dia mengangguk pelan. Mermaid? Kalau begitu jangan sampai Adelino bertemu dengan Alon, atau nanti akan ruyam suasananya.
Maria mengembalikan lagi senyumnya, lalu berkata,”Oh, ternyata apa yang diceritakan oleh dongeng kanak-kanak adalah asli.” Adelino yang mendengar ini mengerutkan keningnya bingung. “Hm? Memangnya apa yang diceritakan oleh dongeng?”
Maria terkekeh pelan. “Aku sama sekali tidak ada niatan untuk menggodamu, tetapi aku mengatakan faktanya. Di dalam cerita dongeng kanak-kanak, Mermaid digambarkan sebagai makhluk yang sangat indah, dan sekarang aku membenarkan cerita tersebut.”
Pipi Adelino kembali memerah saat mendengar apa yang dikatakan oleh Maria. Adelino kembali membuang tatapan matanya ke arah lain agar tidak bertemu dengan tatapan mata Maria. Maria yang melihat ini merasa gemas, Adelino benar-benar tipe pria yang lembut dan manis, astaga!
Maria menggeser tatapan matanya ke arah laut. “Kau tidak ingin langsung kembali?” Adelino yang mendengar ini malah balik bertanya. “Mengapa kau bertanya demikian?”
Maria mengangkat kedua bahunya pelan. “Aku mendengar rumor bahwa kaum Siren dan Mermaid sedang mengalami perseteruan sengit. Jika kau terlalu lama di sini, aku khawatir kau akan bertemu dengan para Siren. Setahuku ini daerah ini adalah tempat bagi para kaum Siren sering muncul ke permukaan. Saranku-“ belum selesai Maria bicara, Adelino langsung menyelak tanpa permisi. “Kau tahu semua itu dari mana?”
Maria kembali menatap Adelino, lalu menjawab,”Aku pernah bertemu salah satu Siren di sini, dia juga cukup dekat denganku.” Adelino yang mendengar jawaban Maria segera membalas,”Jika kau teman dekatnya, bukankah seharusnya kau menangkapku dan menyerahkanku ke teman Siren-mu itu?”
Maria menggelengkan kepalanya pelan. “Aku adalah seorang manusia, bukan dari kalangan kaum Siren atau Mermaid. Masalah hubungan rumit dari kedua kaum manusia setengah ikan tidak ada hubungannya denganku, karena aku hanya menginginkan lautan yang damai. Daratan sudah terasa begitu sesak untukku, laut adalah satu-satunya tempat yang aku rasa damai. Aku mencintai laut, dan aku ingin perseteruan antara kaum Siren dan Mermaid segera selesai, sebab aku sangat mendambakan laut yang damai.” Maria tersenyum di penghujung kalimatnya.
Adelino terdiam sejenak, memikirkan apa yang barusan Maria katakana. Adelino kemudian bertanya lagi,”Lalu mengapa kau bisa sampai kemari?”
Senyum di wajah Maria langsung menghilang, membuat Adelino yang menyadari ini jadi kebingungan. Maria memejamkan matanya sebentar, lalu membukanya lagi sambil memaksakan sebuah senyuman tulus. “Itu luka lama yang diberikan oleh lautan ini, aku tidak mau mengingatnya lagi.”
Adelino mengangguk mengerti, namun kemudian bertanya lagi,”Jika laut memberikanmu luka, lalu mengapa sebelumnya kau mengatakan bahwa kau mencintai laut?”
Maria tidak langsung menjawab, wanita itu terdiam sejenak sambil memasang senyum tipis yang kini terlihat tulus. Maria menyelipkan helai rambutnya ke belakang telinga. “Entahlah, ada banyak alasan mengapa aku tidak bisa membenci laut padahal laut telah memberikanku luka yang sangat besar. Mungkin ini tentang janji lautan.”
Adelino yang mendengar ‘janji lautan’, tertegun. Kemudian dia bertanya,”Dari mana kau mengetahui istilah janji lautan?”
Maria memperdalam senyumnya, kemudian menjawab,”Temanku, dia selalu berbicara tentang janji lautan. Lautan selalu menepati janjinya, jika dia memberimu luka, maka dia akan berjanji menyembuhkan lukamu lagi. Sebenarnya janji lautan itu terdengar konyol, tetapi aku merasa senang ketika mendengarnya. Kau tahu, Adelino, lautan tidak akan pernah mengingkari janjinya.”
Adelino tertegun lagi, kemudian pria itu mengangguk dan membalas senyuman Maria. Matahari terlihat hendak terbit, sepertinya Maria beruntung hari ini karena dapat melihat fajar yang indah.
“Benar, lautan tidak akan pernah mengingkari janjinya,” ucap Adelino, pria itu mengulangi lagi penggalan akhir dari kalimat Maria, lalu melanjutkan,”Apa yang kau katakana benar, Maria. Laut memang tidak pernah mengingkari janjinya. Namun, bagaimana jika laut melupakan janjinya padamu?”
Maria yang mendengar ini segera menjawab,”Merindukan sesuatu yang dijanjikan oleh laut untuk dikembalikan, lebih baik dari pada tidak sama sekali.”
Adelino memperdalam senyumannya, Mermaid pria itu terlihat lebih asik dan santai sekarang dari pada sebelumnya. Sepertinya dia juga nyaman dan senang bebricara dengan Maria. Setelah tiga sampai lima kalimat selanjutnya, Adelino memutuskan untuk kembali ke lautan sebelum matahari benar-benar terbit.
Maria melambaikan tangannya dan mengucapkan salam perpisahan untuk Adelino, setelah Adelino sudah benar-benar menyelam, Maria langsung mengambil senter dan jaring raksasa nelayan, kemudian lari sekencang mungkin ke atas kapal. Jujur, ia merasa takut saat sendirian di pantai seperti ini saat tidak ada cahaya matahari.
Setelah Maria menyimpan kembali senter dan menaruh jaring raksasa nelayan ke gudang, wanita itu bergegas kembali masuk ke dalam ruangan kapal dan memilih untuk mandi di pagi buta seperti ini. Selesai mandi, Maria lanjut menggunakan pakaian dan mengikat simple rambut panjangnya. Langit di tempatnya berada kini mulai terlihat berwarna biru, kegelapan pekat sisa-sisa di malam hari perlahan menghilang.
Sebelum Maria menginjak lantai dapur kapal untuk memasak sarapan pagi, Maria memutuskan untuk mengunjungi Alon lebih dulu. Entah bagaimana kondisi pria itu sekarang, Maria harap sudah kembali normal seperti semula. Maria membuka pintu kamar mandi santai, kemudian berjalan mendekati bathtub. Terlihat Alon langsung membuka matanya ketika mendengar pintu kamar mandi terbuka.
“Kau sudah bangun?” tanya Maria. Alon menoleh ke arahnya dan menjawab pertanyaan Maria dengan mengangguk singkat. Melihat sikap Alon yang kembali cuek seperti biasa, Maria merasa lega. Dia segera menarik senyum dan mengulurkan tangan kanannya ke arah Alon. "Ingin sarapan bersama?"
Alon melirik telapak tangan Maria, kemudian menggenggamnya dan mengangguk. "Ya."
Maria seperti biasa langsung membantu Alon keluar dari bathtub menuju troli, setelah itu dia mendorong troli tersebut hingga keluar kamar mandi menuju ruang makan yang ada di kapal. Ketika telah sampai, Maria segera mengulurkan tangannya lagi untuk membantu Alon berpindah tempat, tetapi Alon mendadak tidak membalas uluran tangannya dan malah bertanya,"Kau belum memasak makanannya?"
Maria mengangguk. "Iya, aku baru ingin memasaknya setelah ini."
"Kalau begitu aku ikut," balas Alon langsung, Maria yang mendengar permintaan Alon mengangguk mengerti. Dia memilih untuk menuruti permintaan Alon dari pada harus bertanya, perut laparnya sudah tidak kuat untuk berbicara panjang lebar dengan Alon.
Maria segera mendorong troli yang Alon tumpangi menuju dapur, kemudian dia menunggu di pojok dapur sambil menonton Maria memasak.
"Jika kau mempunyai sepasang kaki manusia, pasti pekerjaanku terasa lebih mudah," ujar Maria, dia mengatakan ini tidak didasari maksud apa pun. Hanya ingin memecah kesunyian.
"Kaki?" tanya Alon. Maria mengangguk. "Benar."
"Jika aku mempunyai kaki, apakah kau akan merasa senang?" tanya Alon lagi. Maria yang mendengar ini terkekeh. "Tentu, mengapa tidak? Pekerjaanku menjadi lebih ringan nantinya, dan tentunya sebuah kehormatan bagiku dapat dibantu oleh Tuan Duke Alon yang terhormat."
Alon terdiam sejenak, merenung. Kemudian pria itu berkata,"Kalau begitu aku berjanji akan memiliki sepasang kaki manusia untuk membantumu."
Maria menoleh ke arah Alon dengan senyum khasnya yang terlihat hangat. "Oh, benarkah? Apa janjimu setepat janji lautan?"
Alon yang mendengar 'janji lautan' keluar dari mulut Maria tertegun, wajah pria itu berubah menjadi lebih serius. "Dari mana kau tahu tentang 'janji lautan'?"
Maria menaikkan alis kirinya sedikit. "Bukankah kau yang mengatakan kalimat itu kemarin?" Maria balik bertanya. Alon terdiam, namun kemudian dia membalas,"Apakah kau tahu arti dari 'janji lautan'?"
Maria mengangguk pelan. "Tentu, tetapi aku tidak tahu apakah ini benar atau tidak."
"Katakan," ujar Alon, meminta Maria untuk mengatakan apa yang dia tahu. Tidak peduli salah atau benar. Maria kembali menatap ke arah kentang yang sedang dia kupas, dia kini menjawab pertanyaan Alon sambil memunggungi pria itu.
"Janji lautan tidak mungkin ingkar. Lautan memberikan luka, namun lautan juga akan berjanji menyembuhkan luka. Jika lautan merampas sesuatu darimu, maka lautan akan otomatis berjanji akan memberikan gantinya."
"Kurang tepat," ucap Alon dengan tegas, Maria segera menoleh dan bertanya,"Lalu apa?"
Alon yang mendengar Maria bertanya segera menjawab,"Kalimat awalmu benar, tetapi yang akhir salah. Jika sesuatu milikmu dirampas, maka lautan berjanji akan mengembalikan sesuatu yang telah dia rampas tersebut darimu. Lautan berjanji untuk mengembalikan, bukan mengganti."
Maria menganggukkan kepalanya mengerti dan ber-oh ria, kemudian kembali fokus mengupas kentang. Dia berniat membuat kentang goreng untuk sarapan pagi ini. Namun kemudian Maria meletakkan pisaunya sebentar dan menoleh lagi ke arah Alon. "Bisa kau ceritakan tentang janji lautan padaku selagi aku memasak sarapan? Dan... Ya, bagaimana dengan janjimu? Apakah itu setepat janji lautan?"
Alon mengangguk sebagai jawaban permintaan Maria, kemudian menjawab dengan ucapan untuk pertanyaan Maria. "Janjiku lebih tepat dari janji lautan."