19. 'Maria' Atau 'Mariana'?

1088 Kata
Setelah selesai sarapan bersama, Maria seperti biasa langsung membersihkan piring kotor bekas makan mereka berdua. Alon menunggu di kursi makan, sedangkan Maria mencuci piring di dapur. Tidak membutuhkan waktu lama untuk Maria menyelesaikan cucian piringnya, setelah itu mereka langsung bergegas pergi ke ruang kemudi kapal. Entahlah, karena bingung ingin pergi ke mana lagi, akhirnya Maria memilih ruang kemudi kapal untuk dia kunjungi bersama Alon. Alon memperhatikan ruang kemudi kapal dengan matanya, banyak benda-benda yang menurutnya aneh. Maria menjelaskan satu persatu secara rinci jika Alon bertanya. “Apa saat pertama kali aku mendengar nyanyianmu di malam itu, kau sudah melihatku sebelumnya?” Alon yang mengerti maksud dari pertanyaan Maria segera menjawab singkat,”Ya.” Maria menganggukkan kepalanya, kemudian bertanya lagi. “Kapan tepatnya kau melihatku pertama kali?” Alon terdiam sejenak, pria itu tidak langsung menjawab. Maria terus menatap Alon dengan rasa penasaran. “Kau ingin aku menjawab versi-mu yang kau anggap logis, atau versiku yang kau anggap tidak logis namun sebuah kenyataan?” “Maksudnya?” tanya Maria, matanya menatap Alon bingung. “Jawab saja,” ujar Alon. Maria tersenyum tipis. “Bukankah aku yang bertanya padamu? Seharusnya kau yang menjawab.” Alon mengalihkan tatapannya sejenak ke arah jendela kapal yang ada di ruang kemudi, kemudian kembali menatap Maria. “Bagaimana jika aku menjawabnya seratus lima puluh tahun yang lalu?” Maria yang mendengar jawaban Alon menaikkan alis kirinya, raut wajahnya terlihat sedikit terkejut. Seratus lima puluh tahun yang lalu? Dirinya bahkan belum lahir saat itu! Maria tertawa, kemudian bertanya,”Kau sedang tidak bercanda ‘kan? Aku bahkan belum lahir di seratus lima puluh tahun yang lalu.” Alon terdiam sejenak, lalu menjawab,”Jika kau baru mengenalku selama kurang lebih tiga hari, maka aku telah mengenalmu lebih dari seratus lima puluh tahun.” Maria sedikit tertegun, namun kemudian dia tersenyum tipis ke arah Alon yang memiliki suatu makna tersirat. “Yang kau kenal itu ‘Maria’, atau ‘Mariana’, Alon?” Ketika Maria bertanya demikian, kini gentian Alon yang tertegun. Mata mereka saling bertukar pandangan. Tatapan mata Maria yang dingin namun terlihat membara, dan tatapan mata Alon yang dingin namun terlihat kesulitan. Alon memutus tatapannya dan membuangnya ke samping. “Mengapa kau selalu membuat hal-hal mudah menjadi sulit?” “Dan itu tidak berbeda jauh denganmu yang gemar membuat hal-hal mudah menjadi rumit,” balas Maria, dia tetap menatap Alon dan tidak memindahkan tatapannya secenti pun. Alon kembali menatap Maria, lalu berkata,”Maria atau Mariana, yang aku tahu kalian adalah orang yang sama. Laut-“ belum selesai Alon bicara, Maria sudah langsung memotong dengan nada bicara yang cukup tinggi. “Jangan ungkit laut untuk kali ini!” Alon mengerutkan keningnya bingung kala melihat Maria marah, pria itu hendak kembali bicara, namun lagi-lagi Maria menggagalkan niatnya. “Jika bagimu Maria dan Mariana adalah orang yang sama, tetapi bagiku tidak demikian. Aku berkata seperti ini karena aku adalah Maria, aku dapat menjamin jika Mariana bukanlah diriku. Kau terus-terusan membicarakan janji laut dan ucapan Dewa laut Poseidon-mu itu, sebagai manusia modern, sebenarnya aku sulit menerima semua itu dengan logis.” Alon memperhatikan Maria yang berbicara dengan perasaan emosi di hatinya, Alon dapat melihat jelas emosi yang sedang bergejolak di dalam hati Maria. Ada sedih dan marah, saat melihat ini, Alon merasa kebingungan. Mengapa Maria harus merasa sedih dan marah? Apa penyebabnya? “Jika kau menganggap aku dan mantan kekasihmu yang bernama Mariana itu adalah orang yang sama, apa alasannya? Apakah mungkin karena aku memiliki wujud fisik yang sama dengannya? Jika jawabannya adalah iya, maka ada kemungkinan besar orang di luar sana yang juga memiliki wajah serupa denganku ada. Ketika orang-orang itu saat ini bergabung di satu tempat di hadapanmu, apa semuanya akan kau anggap Mariana?” Maria menatap Alon dengan raut wajah serius, hatinya mulai merasa tidak nyaman, ada sesuatu yang mengganjal perasaannya. Melihat Alon justru malah hanya terdiam sambil menatapnya tanpa mengucapkan apa pun, Maria merasa semakin jengkel. “Mengapa kau diam saja? Apakah kata-kataku terlalu benar sehingga tak dapat kau bantah?” Alon yang mendengar ini tiba-tiba tersenyum tipis, membuat Maria menjadi bingung. Maria menaikkan alis kirinya. “Apa yang lucu?” Alon menatap mata Maria dalam, lalu membalas,”Dari mana kau tahu nama Mariana? Dan dari mana kau tahu jika Mariana adalah mantan kekasihku?” Maria yang mendengar ini terdiam, dia langsung tersadar akan sesuatu. Benar juga, Alon tidak pernah mengucapkan nama ‘Mariana’ di hadapannya, Maria mendengar nama ‘Mariana’ hanya ketika dia sedang tertidur pulas dan mendapatkan mimpi aneh itu. Alon yang melihat Maria terdiam segera kembali bertanya. “Aku tanya, dari mana kau mengetahui nama ‘Mariana’?” Maria yang tadi menatap mata Alon dengan percaya diri, kini segera mengalihkannya ke arah lain. Bagaimana seharusnya dia menjawab? Apakah Maria lebih baik menceritakan mimpinya yang aneh belakangan ini? Tetapi apakah Alon akan percaya? Jika iya percaya pun, bagaimana reaksinya nanti? Apakah dia akan bertingkah aneh dan sulit di mengerti seperti kemarin? “Maria, aku bertanya sekali lagi padamu. Dari mana kau mengenal nama ‘Mariana’?” tanya Alon lagi, kini tangan kanan pria itu menarik pelan lengan Maria sehingga jarak mereka menjadi sangat pendek. Alon menatap wajah Maria dengan serius, kini situasinya menjadi berbanding terbalik dari yang sebelumnya. Maria menarik napas santai untuk menenangkan dirinya lebih dulu, kemudian menatap Alon lagi dan menajwab,”Zale. Zale sempat menceritakan wanita bernama ‘Mariana’ yang sempat menjadi istrimu.” Maria memilih berbohong, dia tidak tahu pilihannya untuk berbohong tepat atau tidak. Alon yang mendengar jawaban Maria segera memasang raut wajah kecewa, pria itu membuang wajahnya ke samping dan berkata,”Aku ingin kembali ke bathtub. Sepertinya ini batasku untuk berada cukup lama di daratan.” Maria yang mendengar ini segera mengangguk. “Ya.” Dia segera membantu Alon pindah ke troli. Maria mendorong troli Alon menuju bathtub. Tidak seperti biasanya yang selalu disertai obrolan santai, kini keduanya justru terdiam seperti saat di mana Alon bertingkah aneh. Maria larut di dalam pikirannya sendiri, begitu juga dengan Alon yang larut di dalam pikirannya sendiri. Sebenarnya saat mendengar jawaban Maria, Alon sudah langsung tahu bahwa Maria telah berbohong padanya. Alon mengenal Zale, Zale tidak mungkin mengatakan sesuatu, apa lagi menceritakan sesuatu yang menyentil privasi dan hal sensitifnya. Alon tidak tahu apa alasan Maria berbohong padanya, dia sebenarnya sangat merasa penasaran, namun entah mengapa malas membahas hal ini dengan Maria. Alon lebih memilih untuk menunggu Maria siap bercerita dengannya. Sedangkan Maria, wanita itu tahu bahwa Alon telah mengetahui kebohongannya. Zale terlihat sangat dekat dengan Alon, tidak mungkin Alon tidak mengetahui jika dirinya telah berbohong menggunakan nama Zale.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN