20. Maria Dan Mariana

1200 Kata
Badai besar seperti sedang mengacak-ngacak seisi lautan. Pria dari kaum Siren berdiri di tengah-tengah kekacauan tersebut, tangannya menggenggam kalung indah dengan liontin berlian unik. Matanya yang sedingin es, menatap lurus ke depan, dia berenang berdiam diri si tengah badai, seolah badai bukanlah hal yang dapat membuatnya gentar. "Duke Alon! Apa yang sedang anda lakukan di tengah-tengah badai besar seperti ini?!" Seru seorang pria, membuat pria yang dipanggil namanya menoleh. "Zale, kembalilah. Aku sedang ingin berdua dengan laut." "Anda gila, Duke! Duchess Mariana sudah tenang di langit!" balas Zale, dia sampai menggertakkan giginya marah melihat Alon malah berdiam diri di tengah badai dan kini dengan entengnya menyuruhnya kembali. Badai ini sangat berbahaya, seisi lautan kini dibuat berantakan. Tidak ada makhluk lautan dari kaum atau jenis apa pun di sini kecuali mereka berdua yang seperti orang gila berdiri di tengah-tengah kekacauan badai. "Benarkah? Bagaimana bisa aku mempercayai kata-katamu yang barusan, Zale?" tanya Alon, matanya menatap dingin Zale. Zale berdecak kesal. "Ck, bagaimana mungkin Mendiang Nyonya Duchess tidak tenang di langit?! Beliau adalah orang baik, Duke! Sekarang-!" belum selesai Zale berbicara, Alon sudah memotong,"Cukup, Zale! Kembali ke tempatmu dan jangan ganggu aku! Apa kau pikir badai ini mampu memb***hku?!" "Tapi-!" Zale yang ingin mengucapkan sesuatu, lagi-lagi Alon potong. "Kembali, Zale! Ini perintah dariku!" Zale menghela napas gusar, matanya menatap Alon dengan penuh rasa iba. Zale tahu bahwa Alon sedang mengalami patah hati yang sangat dalam karena kematian Duchess Mariana kemarin. Ditambah ada orang bodoh seperti Irvetta yang mengatakan bahwa kematian Duchess Mariana adalah kesalahan Alon yang tidak mampu melindungi sang mendiang Duchess, membuat Alon semakin terpukul ditambah beban rasa bersalah. Alon bahkan tidak lagi berbicara kepada siapapun setelah jasad mendiang Duchess Mariana dikuburkan, bahkan Kepala suku ikut masuk ke dalam daftar orang-orang yang tidak ingin dia ajak bicara. Dan sekarang sekalinya dia berbicara, pria itu malah berbicara di tengah bahaya badai. Entah badai dari mana, tiba-tiba datang dan mengacak-ngacak seisi lautan. Zale sekarang mau tidak mau kembali, pendirian hati Alon tidak bisa diubah mau sebanyak apa pun dia membujuk pria itu. Kembali lagi ke Alon, pria itu kini seperti semula berdiam diri menatap lurus ke depan di tengah-tengah badai yang mengamuk. Rambut panjang Alon berkibar, berenang di air dengan abstrak. "Aku Alon, ingin bertanya kepada Dewa laut Poseidon dan lautan!" tiba-tiba Alon membuka mulutnya dan berseru demikian. Tentu tidak akan ada yang membalas, namun setelah itu dia tetap melanjutkan,"Mengapa kalian merampas sesuatu yang sangat berharga di dalam hidupku?! Mariana-ku tidak berdosa dan akulah yang berdosa! Mengapa kau mengambil nyawanya, tetapi tidak nyawaku?!" Mata Alon menatap laut yang sedang acak-acakan disertai angin kencang di dalam laut dengan penuh emosi. Kedua bola mata pria itu memerah, hatinya terasa sesak dan tenggorokannya juga terasa tercekat. Alon menatap liontin kalung milik mendiang istrinya sendu, pria itu kemudian mencium liontin kalung tersebut. Alon kembali menatap ke depan, lalu berteriak,"Aku Alon, meminta laut untuk menepati janjinya! Dan aku Alon, meminta Dewa laut Poseidon membuktikan kebenaran atas apa yang dia ucapkan melalui tulisannya di buku sakral kaum Siren! Seratus tahun, dua ratus, tiga ratus, bahkan satu juta sekalipun! Aku tetap akan di sini, menunggu laut menepati janjinya! Janji lautan!" Kemudian Alon mengucapkan suatu mantra ke liontin kalung tersebut, lalu setelah selesai, Alon melemparkan kalung itu ke depan. Kalung dengan liontin indah itu menghilang ditelan badai, entah kemana badai itu akan membawanya. "Pergilah, dan temukan Mariana untukku," gumam Alon, matanya menatap lurus ke depan tanpa berkedip. Tanpa ada yang sadar satu makhluk laut pun, termasuk Alon, diam-diam ada wanita yang berdiri tak begitu jauh dari sampingnya. Wanita itu tidak memiliki ekor ikan di kakinya seperti para Siren lain, dia hanya mempunyai dua kaki manusia. Manusia itu adalah Maria. Maria menatap Alon, dia ada di sini dari sebelum Zale datang dan membujuknya untuk kembali. Jangan tanyakan bagaimana caranya Maria bisa ada di sini, karena Maria sendiri juga tidak tahu. Dia merasa seperti menjadi hantu di sini, Alon, Zale, dan makhluk laut lainnya tidak bisa melihat dirinya, seolah dia adalah ghaib. Benar atau tidak, Maria tebak dirinya saat ini tengah berasa di dalam mimpi. Lagi-lagi mimpi aneh yang muncul, memimpikan Alon beserta kejadian yang tidak dia mengerti. Ketika Alon hendak berbalik, tiba-tiba mata mereka bertemu. Maria terkejut, begitu juga Alon. Ekspresi wajahnya seperti syok, membuat Maria bingung ingin melakukan apa. Apa yang harus dia lakukan? Dan lagi, bagaimana bisa Alon melihatnya? Bukankah tadi tidak bisa?! "Mariana?!" seru Alon ketika melihat wajahnya, pria itu hendak berenang lebih dekat dengannya. Namun, saat Alon melihat ke bagian bawah tubuhnya, Alon mengurungkan niatnya. Dengan tatapan kecewa yang tajam, Alon menatap wajahnya. "Kau bukan Mariana! Siapa kau?!" bentak Alon begitu melihat kaki manusia Maria. Saat Maria hendak menjawab, tiba-tiba liontin kalungnya keluar dari dalam bajunya, liontin itu samar-samar mengeluarkan cahaya putih yang redup. Alon yang melihat itu segera membelalakkan matanya. "Kalung itu-?!" lalu dia menoleh ke samping, ke arah dia melempar kalung mendiang istrinya. Saat Alon sedang menoleh itu, Maria tiba-tiba merasakan sesak di dadanya. Kepalanya tidak pening, namun sesak. Rasa sesaknya sama ketika dia bermimpi aneh menjadi wanita bernama Mariana itu. Alon kembali menatap Maria, lalu bertanya,"Apa kau Mariana namun dalam wujud berbeda setelah reinkarnasi? Karena kalung itu-" belum selesai Alon bicara, Maria tiba-tiba memuntahkan seteguk darah. Maria panik, mengapa dia tiba-tiba memuntahkan darah? Dia tidak memiliki riwayat penyakit yang dapat menyebabkan hal seperti ini terjadi. Tangan kanan Maria menutup mulutnya yang terus memuntahkan darah, sedangkan tangan kirinya terjulur ke arah Alon, Maria meminta senderan sejenak, karena rasanya dia akan terisap ke dalam laut. "Al-!" saat Maria hendak menyebutkan nama Alon, tiba-tiba laut berguncang keras. Bunyi bising yang membuat telinga serta kepala sakit tiba-tiba muncul, bunyi itu seperti drumb yang dipukul secara kasar. Maria spontan memejamkan matanya. Ketika Maria membuka matanya lagi, dia terkejut karena dia sekarang berada di dalam ruangan. Ruangan yang sama saat dia masuk ke dalam tubuh Mariana. Keterkejutan Maria bertambah lagi kala darah bekas dia muntah darah barusan itu menghilang, tangannya bersih, seolah dia tidak pernah memuntahkan darah tersebut. Dan rasa terkejutnya tak kunjung berakhir, sesuatu yang membuatnya geleng-geleng kepala tidak mengerti. Saat ini di hadapannya hadir Alon yang menggenggam tangan kanan wanita cantik di atas kasur. Maria melihat wajah wanita sangat mirip dengan dirinya, yang membuatnya berbeda hanyalah bola matanya. Bola mata wanita itu berwarna biru dongker, seperti warna kedalaman laut yang gelap namun indah. Maria menatap wajah Mariana yang sekarat, dia tidak berkata-kata apa pun lagi. Suara Alon yang memohon dan mengucapkan bahwa dia sangat mencintai wanita yang tengah berbaring di atas kasur tersebut kembali Maria dengar, kalimat-kalimatnya sama persis dengan apa yang Maria dengar ketika memasuki tubuh Mariana. Liontin kalung Maria tiba-tiba berkedip-kedip seperti barusan sebelum dia datang kemari, dan bersamaan dengan itu, cahaya kedip-kedip yang sama muncul dari kalung yang Mariana gunakan. Maria menatap kalung milik Mariana, dia tertegun kala menyadari kalung itu sama persis seperti miliknya. Maria sibuk memperhatikan kalung Mariana, lalu matanya tak sengaja beralih menatap wajah Mariana yang pucat pasih. Maria sekali lagi dibuat terkejut ketika melihat mata sayu Mariana menatapnya. Tatapan mata mereka bertemu, untuk seperkian detik baik dirinya maupun Mariana tidak ada yang mengambil tindakan. Mereka saling bertukar tatapan dengan bisu, tetapi kemudian tiba-tiba bibir Mariana tersenyum ke arahnya. Maria pastikan itu, Mariana tersenyum bukan untuk Alon, tetapi dirinya! Maria membatu menatap senyum Mariana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN