Ibumu sedang menenangkan Mila. Cepat kamu temui mereka!" Tak ayal lagi aku lekas menyudahi makan pagi. Mengisi kotak makan dengan bubur itu untuk sarapan Ibu dan Kamila. Sempat mendapat teguran dari Paman karena aku membawa dua kotak makan. "Bawakan juga untuk Sabir! Kasihan dia." Perintah Paman seolah tahu isi pikiranku yang sengaja membawa sedikit makanan karena memang tidak mau berbagi dengan Kak Sabiru. "Jangan terlalu menuruti dendam. Dendam hanya akan menyakiti hatimu. Maafkan Sabir, Bila," nasihat Paman sembari mengusap pucuk kepalaku. "Kak Sabir yang telah menghancurkan masa depanku. Pantas kalo aku membencinya. Dan ... kenapa dia tidak diadili setelah kalian tahu kejahatannya?" protesku sedikit emosi. "Tenangkan dirimu, Bila. Wanita hamil tidak boleh stress." Paman mengingatk

